Naskah ini tidak pernah diterbitkan Schopenhauer semasa hidupnya. Isinya diambil seluruhnya dari kertas-kertas peninggalannya, dikeluarkan oleh sahabat sekaligus pelaksana wasiatnya, Julius Frauenstädt, beberapa tahun sesudah ia meninggal, lalu diterjemahkan ke Inggris oleh Thomas Bailey Saunders pada 1896 (hal 2, 4). Mungkin karena tidak pernah dimaksudkan untuk dibaca orang, isinya setelanjang ini.
Titik berangkatnya satu pembedaan. Logika mengurus apa yang benar. Dialektika mengurus siapa yang menang. Dua-duanya berpisah karena satu kenyataan yang ia tulis tanpa sopan santun: manusia dari sananya keras kepala. Begitu sebuah pendapat keluar dari mulut kita di depan orang, kita membelanya, mau pendapat itu bertahan atau tidak. Dialektika, katanya, seni beranggar dengan pikiran, dan guru anggar tidak peduli siapa yang benar waktu perselisihan berujung duel (hal 17). Maka ia menyusun tiga puluh delapan jurusnya.
Kitab aturan lama harus disebut dibaca sebagai apa, dan yang ini saya baca sebagai katalog untuk mengenali, bukan panduan, sebagaimana The 48 Laws of Power saya baca. Bedanya, kali ini alasannya disediakan penulisnya sendiri:
"The science of Dialectic, in one sense of the word, is mainly concerned to tabulate and analyse dishonest stratagems, in order that in a real debate they may be at once recognised and defeated."
Ilmu dialektika, dalam satu artinya, terutama mengurus pendaftaran dan pembedahan akal-akalan yang curang, supaya dalam perdebatan sungguhan akal-akalan itu langsung dikenali dan dipatahkan.
Satu halaman sebelumnya ia menulis kebalikannya: orang yang benar pun harus tahu akal-akalan ini, dan sering harus memakainya sendiri supaya bisa memukul musuh dengan senjatanya (hal 16). Ia tidak pernah memilih di antara keduanya. Saya memilih yang pertama, dan alasannya ada di ujung catatan ini.
Tiga puluh delapan, dan nomornya sendiri sudah bercerita
Nomor satu, melebarkan: tarik pendapat lawan sampai lebih jauh dari yang ia ucapkan, lalu bantah versi yang sudah melar itu, dan pada saat yang sama sempitkan pendapatmu sendiri sesempit mungkin (hal 28). Nomor dua, kata bermakna ganda. Nomor delapan, bikin dia marah, dengan berlaku tidak adil kepadanya berulang-ulang (hal 45), sebab orang marah tidak bisa lagi melihat letak untungnya. Nomor dua belas, pilih kiasan yang menguntungkan pihakmu sebelum lawan sempat memilih (hal 53). Nomor empat belas, yang ia sendiri sebut akal yang kurang ajar: sesudah beberapa pertanyaan dijawab tanpa hasil, umumkan saja kesimpulanmu seolah sudah terbukti (hal 57). Nomor dua puluh delapan, yakinkan penonton, bukan lawan: lontarkan keberatan yang cuma ahli tahu keliru, dan penonton bukan ahli (hal 85). Nomor tiga puluh, sandarkan ke wibawa, dan alasannya ia tulis telak:
"There is no opinion, however absurd, which men will not readily embrace as soon as they can be brought to the conviction that it is generally adopted."
Tidak ada pendapat, sekonyol apa pun, yang tidak akan segera dipeluk orang begitu ia diyakinkan bahwa pendapat itu dianut umum.
Nomor tiga puluh lima, yang menurutnya membuat semua yang lain tidak perlu: jangan garap akalnya, garap kepentingannya, sebab setengah ons kemauan lebih mempan daripada setengah kuintal pengertian (hal 103). Dan nomor tiga puluh delapan: tinggalkan pokok soalnya, seperti meninggalkan permainan yang sudah kalah, lalu serang orangnya (hal 110). Ia taruh paling belakang karena ini yang tersisa kalau semua sudah habis.
Urutannya bukan urutan bahaya. Urutan makin putus asa.
Yang jalan tanpa suara di ruang rapat
Daftar ini biasa dipasang ke beranda media sosial, dan memang pas. "Harga beras naik" dibalas "jadi kamu mau menjatuhkan pemerintah" itu nomor satu, dan "emang kamu siapa" itu nomor tiga puluh delapan. Tapi tempat daftar ini paling sering dipakai justru yang tidak ada suaranya, di ruang rapat, dan di sana nomor yang keluar lain.
"Teorinya bagus, tapi di lapangan lain." Itu nomor tiga puluh tiga, dan Schopenhauer menerangkan cacatnya dalam satu kalimat: yang benar dalam teori harus jalan dalam praktik, dan kalau tidak jalan berarti ada yang salah di teorinya, jadi tunjukkan letak salahnya (hal 99). Salahnya tidak pernah ditunjukkan. Yang dikatakan cukup "di lapangan lain", dan rapat pindah ke soal berikutnya.
"Ini sudah arahan pimpinan." Nomor tiga puluh, dan itu mengakhiri perdebatan lebih cepat daripada bukti mana pun. "Saya orang awam, tolong yang praktis saja." Nomor tiga puluh satu, menyatakan diri tidak sanggup mengerti, dan ia menambahkan kapan akal ini boleh dipakai: cuma kalau kamu yakin penonton lebih menghargaimu daripada lawanmu; seorang profesor, misalnya, bisa mencobanya kepada mahasiswa (hal 95). Di rapat, yang boleh mengaku tidak paham cuma yang duduk paling atas. "Penyesuaian tarif" untuk kenaikan dan "efisiensi" untuk pemecatan itu nomor dua belas. Slide yang penuh istilah Inggris yang tidak seorang pun di ruangan berani minta diterangkan, nomor tiga puluh enam, dan mekanismenya ia sebut: orang mengira di balik kata pasti ada arti (hal 106).
Yang menutup semuanya nomor tiga puluh lima: "kalau ini jalan, anggaran bagian Bapak yang dipotong." Sesudah kalimat itu tidak ada lagi yang membahas teori.
Bukan watak, tapi penonton
Di sini saya berhenti ikut, dan keberatannya ke dalil pokoknya.
Schopenhauer menerangkan semua ini dari watak: kebusukan bawaan sifat manusia (hal 13), kesombongan bawaan yang tidak sudi mengakui pendapat pertama kita salah. Menurut saya keterangannya salah alamat, dan buktinya ada di daftarnya sendiri. Nomor dua puluh delapan bicara tentang penonton. Nomor empat belas cuma jalan kalau ada yang menyaksikan. Nomor tiga puluh delapan diambil waktu kelihatan akan kalah, dan kalah cuma ada artinya kalau ada yang melihat.
Orang yang sama, di ruang tertutup berdua, mengaku salah dengan gampang. Orang yang sama, di kolom komentar dengan tiga ratus orang membaca, tidak akan pernah. Wataknya tidak berubah dari satu ruangan ke ruangan lain. Yang berubah harga mengaku salah, dan harga itu ditetapkan aturan mainnya, bukan orangnya. Itu sebabnya daftar ini makin hidup, bukan makin lapuk. Penontonnya dulu beberapa orang di ruang tamu, sekarang ribuan, dan ongkos mundur di depan ribuan orang jauh lebih mahal daripada yang pernah ia bayangkan.
Schopenhauer sendiri sempat menyodorkan keterangan yang lebih adil daripada kesombongan, lalu meninggalkannya. Di halaman 19 ia menulis: kalau ia melepas pendirian yang sudah lama dipikirkannya begitu lawannya kelihatan benar, bisa jadi ia tertipu kesan sesaat dan melepas kebenaran demi menerima kekeliruan. Bertahan sebentar itu kadang cara menjaga jawaban yang benar sampai buktinya ketemu. Keterangan itu tidak butuh kebusukan siapa pun, dan ia cuma memberinya satu catatan kaki.
Haidt sampai ke tempat yang sama seratus delapan puluh tahun kemudian dengan alat lain: yang menimbang lebih dulu perasaan, dan pikiran datang belakangan sebagai pengacara. Catatannya ada di The Righteous Mind. Yang Schopenhauer lihat tanpa laboratorium: pengacaranya paling giat waktu ada yang menonton.
Yang tidak bisa dipakai sebagai panduan
Beberapa akalnya tumpang tindih; tiga puluh delapan lebih rapi daripada isinya. Sikap moralnya menggantung, dan sepertinya sengaja. Getirnya kental, dan buat yang tidak sepandangan, kesimpulannya terasa berlebihan walau pengamatannya satu per satu kena.
Dan daftarnya tidak setua yang dikira, sekaligus jauh lebih tua. Nomor satu, dua, tujuh, dan sebagian besar bahan dasarnya ia ambil dari Topika dan Sanggahan Sofistik Aristoteles, dan ia mencantumkan sendiri rujukannya (hal 28, 31, 37, 112). Jadi yang beredar sebagai daftar Schopenhauer dua abad lalu sebenarnya daftar berumur dua puluh tiga abad, dan pasangan lurusnya, daftar cara meyakinkan orang yang ditulis Aristoteles sendiri, ada di On Rhetoric.
Alasan saya tidak memakainya sebagai panduan bukan soal pantas. Alasannya mekanis. Hampir semua jurus di sini cuma mempan selama sasarannya tidak tahu sedang dikenai apa. Begitu punya nama, jurusnya bisa ditunjuk. Begitu ditunjuk di depan penonton yang sama, jurusnya kehilangan hampir seluruh kekuatannya, dan yang memakainya kelihatan sedang memakai. Katalog berisi senjata yang mati begitu dikenali cuma berguna untuk mengenali.
Daftar yang sekarang bisa dijalankan tanpa orangnya
Schopenhauer menyusun tiga puluh delapan jurus dengan satu andaian yang tidak pernah ia tulis: yang menjalankannya orang, dan orang itu capek, gengsian, dan cuma bisa mengurus satu lawan pada satu waktu.
Andaian itu sekarang bisa dilepas.
Sebuah percobaan yang terbit 2025 mengadu orang berdebat pendek melawan manusia atau melawan program bahasa. Kalau programnya diberi keterangan pribadi lawan bicaranya, ia lebih meyakinkan pada 64,4 persen kesempatan. Tanpa keterangan itu, hasilnya setara manusia. Jadi yang memberi kelebihan bukan susunan alasannya, tapi kesanggupan menyesuaikan diri dengan orang yang sedang dihadapi.
Menyesuaikan diri dengan lawan bicara ada di daftarnya, di beberapa nomor. Yang tidak ada di bukunya kesanggupan mengerjakannya kepada satu juta orang sekaligus, masing-masing dengan versinya sendiri, tanpa lelah dan tanpa gengsi.
Kejadian itu pas ditaruh di sini, dan bukan karena bukunya berubah. Buku ini memang tidak pernah menjanjikan kebenaran. Ia menjanjikan cara menang di depan penonton, dan ia jujur soal itu.
Yang berubah ongkos menjalankannya. Selama tiga puluh delapan jurus itu butuh orang yang mau repot, jumlahnya terbatas oleh berapa banyak orang yang mau repot. Sekarang tidak lagi.
Ada satu ujian yang adil untuk catatan seperti ini: pasang daftarnya ke naskahnya sendiri.
Bagian yang menyalahkan penonton tadi, kalau diperiksa, memuat nomor satu. Schopenhauer dilebarkan sampai seolah tidak melihat penonton, lalu versi yang sudah melar itu yang dibantah. Padahal ia melihatnya, dan menaruhnya di nomor dua puluh delapan. Yang benar cuma ini: ia melihat penonton sebagai satu jurus, sementara di catatan ini penonton dibaca sebagai keadaan yang membuat semua jurus lain perlu.
Kalau mau buku yang sebaliknya, yang mengajari orang berubah pikiran tanpa pernah kelihatan kalah, catatannya ada di How to Have Impossible Conversations. Dua buku itu memakai alat yang hampir sama. Yang satu tahu itu, yang satu lagi tidak mau tahu.
Susunan bukunya: bagiannya apa saja, mana jantungnya, mana yang boleh dilewat.
Bentuknya
Sangat tipis, dan bentuknya tiga lapis. Ada pengantar pendek yang membedakan cara berpikir yang lurus dari cara berdebat yang tujuannya menang. Ada bagian dasar yang menerangkan kenapa dua hal itu memang harus dipisah. Lalu bagian utamanya: tiga puluh delapan siasat, bernomor, masing-masing satu sampai dua paragraf.
Naskahnya tidak pernah diterbitkan Schopenhauer semasa hidup, dan baru ditemukan orang sesudah ia meninggal. Itu terasa: sebagian siasatnya tumpang tindih, sebagian cuma satu kalimat, dan urutannya tidak menanjak menurut apa pun.
Pengantar dan bagian dasar
Bagian ini yang paling sering dilewat, dan justru di situ letak seluruh alasan bukunya ada. Dalilnya, manusia berdebat untuk mempertahankan yang sudah telanjur diucapkannya, bukan untuk menemukan yang benar, dan itu berlaku juga pada orang yang jujur. Karena itu, kata Schopenhauer, perlu ada ilmu tersendiri tentang cara memenangkan perdebatan, terlepas dari benar atau tidaknya pendapat yang dibela.
Tiga puluh delapan siasat
Kalau dikelompokkan menurut apa yang dikerjakannya, siasat-siasat itu jatuh ke beberapa kumpulan.
- Menggeser sasaran. Melebarkan pernyataan lawan sampai jadi gampang dipatahkan, atau menyempitkan pernyataan sendiri sampai tidak bisa diserang.
- Bermain di kata. Memakai satu kata dalam dua arti, atau memilih kiasan yang sejak awal sudah memihak.
- Mengatur urutan. Mengajukan pertanyaan tidak berurutan supaya lawan tidak tahu ke mana arahnya, lalu menarik kesimpulan dari jawaban yang sudah telanjur diberikan.
- Menyerang orangnya. Memindahkan perkara dari pendapatnya ke pribadinya.
- Bermain untuk penonton. Menyatakan menang meski kalah, memakai istilah yang terdengar berilmu, dan menyudutkan lawan sampai marah.
Siasat terakhir, nomor tiga puluh delapan, yang paling terkenal: kalau semua sudah gagal, hina orangnya.
Yang jadi jantungnya
- Pengantarnya, karena tanpa itu daftarnya cuma jadi kumpulan trik.
- Siasat yang bermain untuk penonton. Itu kumpulan yang paling terpakai di ruang rapat dan di kolom komentar, dan paling gampang dikenali sesudah diberi nama.
- Siasat menggeser sasaran, karena itu yang paling sering dijalankan orang tanpa niat curang sama sekali.
Yang boleh dilewat
- Sebagian besar siasat yang bergantung pada perdebatan bergaya kuliah abad kesembilan belas, yang mengandaikan dua orang berdiri saling berhadapan dengan aturan yang disepakati.
- Beberapa siasat yang isinya sama dengan siasat lain dengan kata yang berbeda.
- Pengantar penerjemah di sebagian terbitan, yang sering lebih panjang daripada naskahnya.
Yang jangan ditelan bulat-bulat
Schopenhauer menerangkan seluruh daftarnya dengan menyalahkan watak manusia yang katanya memang licik dan sombong. Daftarnya sendiri menunjuk ke arah lain. Hampir semua siasat di situ cuma berguna kalau ada yang menonton. Tidak ada gunanya menyatakan menang padahal kalah, atau memakai istilah yang terdengar berilmu, kalau di ruangan itu cuma ada dua orang yang sama-sama tahu duduk perkaranya. Jadi yang menghidupi daftar ini bukan watak orangnya, tapi penontonnya, dan itu keterangan yang jauh lebih berguna.
Buku ini menerangkan cara membaca perdebatan, bukan cara menjalaninya. Dipakai sebagai panduan, ia akan membuat pemakainya menang beberapa kali lalu berhenti diajak bicara.
Kalau buru-buru
Seluruhnya, karena memang cuma beberapa puluh halaman. Satu saja pesannya: baca pengantarnya lebih dulu, jangan langsung ke daftar nomornya. Yang langsung ke daftar akan membawa pulang kumpulan trik; yang membaca pengantarnya lebih dulu akan membawa pulang cara mengenali apa yang sedang dikerjakan orang di seberang meja.