Nilai yang mengikat memang nyata. Yang tidak ditanyakan Haidt cuma satu: mengikat siapa.

Haidt menyodorkan satu cerita pendek ke orang-orang yang ia wawancarai. Julie dan Mark, kakak beradik, sama-sama mahasiswa, berlibur berdua di Prancis. Satu malam mereka memutuskan mencoba tidur bersama, sekali saja, memakai dua pengaman sekaligus, dan sepakat menyimpannya sebagai rahasia berdua. Tidak ada yang hamil, tidak ada yang tahu, dan keduanya merasa hubungan mereka justru makin dekat.

Cuma dua puluh persen yang bilang itu boleh. Sisanya bilang salah, lalu mulai mencari alasannya. Bahaya cacat pada anak? Mereka pakai pengaman. Nanti ada yang terluka? Tidak ada, dan mereka sendiri bilang begitu. Satu per satu alasannya patah, dan jawabannya tetap sama: tidak tahu kenapa, tapi tetap salah.

Rekan Haidt di kampus, Dan Wegner, memberinya nama: moral dumbfounding, kebuntuan moral. Putusannya sudah keluar sebelum alasannya sempat disusun, dan waktu alasannya habis, putusannya tidak ikut habis.

Haidt masuk ke bidang ini, katanya sendiri, sebagai anak muda yang sangat liberal dan jengkel pada Reagan. Bukunya jadi menarik justru karena ia berakhir di tempat yang tidak ia rencanakan. Saya membacanya sebagai buku yang bagian mekanismenya hampir tidak bisa dibantah, dan bagian kesimpulannya berhenti satu pertanyaan terlalu awal.

Penunggang yang mengira sedang memegang kendali

Gambaran pokoknya penunggang dan gajah. Gajah itu naluri dan perasaan, penunggangnya pikiran sadar yang pandai bicara. Dan tugas penunggang bukan mengarahkan gajah. Tugasnya membela ke mana pun gajah sudah condong.

"Conscious reasoning functions like a press secretary who automatically justifies any position taken by the president."

Penalaran sadar kerjanya seperti juru bicara istana yang otomatis membenarkan sikap apa pun yang sudah diambil presidennya.

Di catatan kakinya Haidt menyebut sendiri bahwa gajahnya Sistem 1 dan penunggangnya Sistem 2 dari Thinking, Fast and Slow. Yang ia tambahkan satu hal. Penalaran manusia memang tidak dibangun untuk mencari yang benar. Ia mengutip Mercier dan Sperber: penalaran itu alat untuk memenangkan perdebatan, dan begitu dilihat dari situ, semua kekacauan yang selama ini disebut bias jadi masuk akal.

Cocokkan dengan rapat mana pun. Keputusannya sudah dipegang atasan sejak masuk ruangan, lalu satu jam dipakai orang-orang di meja itu untuk menyusun alasan kenapa keputusan itu memang yang terbaik. Tidak ada yang berbohong. Semuanya juru bicara, dan juru bicara yang percaya pada rilisnya sendiri. Soal motif yang disembunyikan bahkan dari diri sendiri ini belakangan diperluas ke hampir seluruh kelakuan manusia oleh The Elephant in the Brain.

Enam rasa, dan tiga di antaranya sudah kita hafal sejak TPA

Haidt membagi rasa moral jadi enam jalur: peduli pada yang lemah, adil, bebas dari penindasan, setia pada kelompok, hormat pada yang di atas, dan menjaga yang suci. Semua orang punya keenamnya, takarannya yang beda.

Bagian ini ia temukan bukan di laboratorium, tapi di Bhubaneswar, India, waktu tinggal tiga bulan meneliti soal suci dan najis. Ia berangkat cuma membawa dua jalur pertama. Makan bersama laki-laki yang istrinya diam melayani lalu mundur ke dapur, diberi tahu supaya lebih keras pada pembantu, dan harus melangkah hati-hati di antara kotoran sapi. Beberapa bulan kemudian, tulisnya, ia mulai merasakan sendiri soal suci-najis itu, bukan cuma memahaminya.

Buat pembaca di sini bagian itu tidak butuh tiga bulan. Membasuh diri sebelum salat, memisahkan yang halal dari yang tidak, tidak menaruh Alquran di lantai, menunduk sedikit waktu lewat di depan orang tua: semuanya diajarkan sebelum kita bisa membaca. Tiga jalur yang di Barat dianggap kolot itu di sini justru tata krama paling dasar. Haidt sendiri mengutip Henrich dan kawan-kawannya: yang aneh justru orang kampus Barat yang cuma memakai dua jalur, dan bukunya, The WEIRDest People in the World, ada di rak ini.

Karena itu peta politiknya tidak bisa dipindah begitu saja. Di Amerika Haidt menemukan kaum liberal memakai tiga jalur dan konservatif memakai enam. Di sini nyaris semua orang memakai enam. Yang berbeda cuma jalur mana yang menang waktu bertabrakan, dan tabrakannya kelihatan tiap kali satu pihak bicara soal hak dan pihak lain bicara soal kepantasan. Dua-duanya sedang bermoral. Cuma jalurnya beda, dan masing-masing tidak sadar jalur yang lain ada.

Gajah bisa digeser, asal bukan lewat debat

Untuk bagian ini Haidt cuma menyediakan beberapa halaman, padahal justru ini yang paling ingin saya tahu.

Paxton dan Greene menyodorkan cerita Julie dan Mark ke mahasiswa Harvard. Separuh diberi alasan bagus kenapa itu boleh, separuh diberi alasan konyol. Hasilnya sama. Mutu alasan tidak berpengaruh.

"The elephant leaned as soon as subjects heard the story."

Gajahnya sudah condong begitu ceritanya selesai dibaca.

Lalu ada tambahannya. Sebagian peserta dipaksa komputer menunggu dua menit sebelum boleh menjawab. Rasa jijik yang sekilas tidak bertahan dua menit, dan di jeda itu alasan yang bagus mulai didengar. Haidt menaruhnya di bawah judul kecil bahwa gajah kadang terbuka pada nalar, dengan dua syarat: ada waktu, dan alasannya datang dari orang yang disukai.

Itu persis yang dikerjakan cara bertanya di Think Again: tidak membantah, tapi bertanya lalu diam, supaya orangnya menemukan alasannya sendiri. Di sini bantahan langsung hampir selalu mengunci, karena yang dibela bukan lagi pendapatnya, tapi mukanya di depan orang lain. Siapa pun yang pernah mengirim tautan ke grup keluarga menjelang pemilu tahu hasilnya. Gajah tidak membaca tautan.

Mengikat siapa, dan siapa yang tidak ikut terikat

Bagian ketiga bukunya soal kelompok. Kita, tulisnya, sembilan puluh persen simpanse dan sepuluh persen lebah. Ada tombol di dalam diri yang kalau tertekan membuat orang larut ke sesuatu yang lebih besar dari dirinya: barisan tentara yang berbaris berbulan-bulan, paduan suara, khotbah yang didengar beramai-ramai. Kalau dibawa ke sini, salat berjamaah dan tahlilan. Agama ia baca sebagai olahraga beregu, dan dewa-dewanya sebagai tiang yang dikelilingi penari: tiangnya sendiri tidak penting, yang penting orang-orangnya jadi bergerak serempak.

Sampai di sini saya ikut. Nilai yang mengikat memang lahir dari kebutuhan bertahan sebagai makhluk yang tidak bisa hidup sendirian, dan karena itu nyata. Buktinya tidak perlu dicari jauh. Masjid kampung yang berdiri tanpa satu rupiah dari negara. Tetangga yang datang malam-malam ke rumah duka tanpa dijadwalkan dan tanpa ditanya seberapa kenal. Coba bangun kepercayaan sebesar itu dari nol dengan aturan tertulis.

Di sini saya berhenti mengikuti. Haidt membela tiga jalur yang mengikat itu sebagai modal moral yang perlu dijaga. Yang tidak ia tanyakan: nilai itu mengikat siapa. Hormat pada yang di atas, di sini, hampir selalu berarti yang di bawah menahan diri. Yang di atas jarang ikut terikat oleh apa pun, dan kata yang sama, hormat, sopan, jangan bikin malu, dipakai untuk menyuruh diam. Kesetiaan yang tadinya timbal balik pelan-pelan jadi kewajiban satu arah.

Haidt sendiri sudah menyediakan alat untuk memeriksa ini, walau tidak ia pakai ke arah itu. Ia memuji Glaucon sepanjang buku: orang berbuat baik karena takut ketahuan, dan ia menganjurkan menyewa Glaucon sebagai konsultan waktu merancang lembaga. Kalau itu benar, nilai yang mengikat cuma jalan selama semua orang bisa dilihat. Di kampung yang gotong royongnya jalan, semua saling lihat. Begitu yang menyerukan nilai itu duduk di tempat yang tidak kelihatan dari kampung, nilainya tetap diucapkan, cuma mengerjakan pekerjaan lain.

Yang tipis kalau diadu ke halamannya sendiri

Tiga hal.

Angkanya datang dari YourMorals.org, seratus tiga puluh dua ribu orang yang mengisi kuesioner di sebuah situs tentang moral. Orang yang datang ke situs seperti itu bukan orang sembarang. Dan teorinya bergerak mengikuti keberatan pengunjungnya: sesudah dikomplain kaum konservatif bahwa "adil" versi mereka soal proporsi dan bukan soal sama rata, Haidt menambah jalur keenam dan menyebutnya sendiri sementara. Enam itu bukan angka yang ditemukan, tapi angka yang disepakati sampai ada komplain berikutnya.

Kedua, semprotan bau kentut. Untuk membuktikan rasa jijik menggeser penilaian moral, seorang mahasiswa pascasarjana menyemprotkan bau busuk di dekat orang yang sedang mengisi angket, dan Haidt salah satu penulis penelitiannya. Catatan kakinya sendiri berbunyi:

"All four judgments went in the predicted direction, although not every comparison was statistically significant."

Keempat penilaian bergerak ke arah yang diramalkan, walau tidak semua perbandingannya bermakna secara statistik. Hasilnya baru bermakna sesudah empat ceritanya digabung. Ini keluarga penelitian yang sama dengan bab priming yang ambruk sesudah 2011, dan yang penulis Thinking, Fast and Slow tarik sendiri dari bukunya.

Ketiga, seleksi kelompok. Untuk sepuluh persen lebahnya Haidt perlu seleksi yang berjalan di tingkat kelompok, gagasan yang diusir Williams dan Dawkins pada 1970-an dan yang ia sebut salah vonis. Ia mengutip Dawkins, "Let us try to teach generosity and altruism because we are born selfish," mari kita ajarkan kemurahan hati dan kesediaan berkorban justru karena kita lahir egois, lalu menjawabnya dengan dua kata, I disagree. Sampai sekarang pendapat Haidt masih pendapat sebagian kecil ahli. Tapi bagian bukunya yang berguna tidak butuh seleksi kelompok. Balas-membalas ditambah takut ketahuan, dua hal yang sudah ada di The Selfish Gene, sudah cukup membawa hampir semua yang ia gambarkan. Judulnya yang terdengar sinis itu justru yang paling sering salah dibaca; isinya bantahan buat yang sinis.

Gajahnya sendiri, dua belas tahun kemudian

Pada 2024 Haidt menerbitkan The Anxious Generation. Dalilnya, kesehatan jiwa remaja rontok mulai awal 2010-an karena masa kecil pindah dari bermain di luar ke layar sentuh.

Candice Odgers menulis tinjauannya di Nature, dan kalimatnya pendek: Haidt pencerita yang berbakat, tapi ceritanya masih mencari buktinya. Ratusan peneliti sudah mencari akibat sebesar yang ia gambarkan, dan yang mereka dapat campuran antara tidak ada, kecil, dan tidak jelas arahnya. Kenaikan pemakaian layar dan penurunan kesehatan jiwa memang berjalan bersamaan; mana yang menarik mana belum terjawab.

Sesudah itu bukunya jalan terus, dan jalannya kencang sekali. Australia melarang anak di bawah enam belas punya akun media sosial mulai 10 Desember 2025, yang pertama di dunia. Malaysia menyusul 1 Januari berikutnya. Menurut UNESCO, seratus enam negara sekarang melarang ponsel di ruang kelas.

Saya tidak sedang bilang larangan itu salah. Mungkin saja benar, dan sebagian alasannya sudah cukup tanpa perlu menunggu bukti soal kesehatan jiwa. Yang saya catat urutannya. Sebuah cerita yang terasa benar buat orang tua bergerak dari buku ke undang-undang di beberapa negara dalam waktu di bawah dua tahun, sementara buktinya masih diperdebatkan di jurnal.

Itu persis mesin yang dipasang Haidt di buku ini. Gajahnya bergerak duluan, penunggangnya menyusul membawa alasan, dan kali ini penunggangnya kebetulan pembuat undang-undang.

Yang tidak enak, saya tidak punya cara memeriksa apakah saya sedang menagih ini karena alasannya kuat, atau karena senang melihat orang kena alatnya sendiri.

"Morality binds and blinds."

Moralitas mengikat sekaligus membutakan.

Yang mengikat orang jadi satu rombongan, entah agama, partai, atau kubu di kolom komentar, itu juga yang bikin rombongan itu tidak sanggup mencerna apa pun yang datang dari luar. Dan ini berlaku ke semua arah, termasuk ke orang yang paling merasa dirinya jernih.

Saya belum menemukan cara memeriksa gajah sendiri. Yang paling dekat cuma satu kebiasaan kecil: mencatat kapan putusannya sudah ada sebelum alasannya. Kalau alasannya habis dan putusannya masih berdiri, itu belum tentu tanda benar. Lebih sering itu tanda juru bicaranya sedang sibuk.

Infografis

Infografis The Righteous Mind bahasa Indonesia Buka ukuran penuh

Baca berikutnya