Empat puluh delapan aturan yang datang lengkap dengan enam puluh pintu keluarnya sendiri.

Buku ini biasanya dibaca dengan salah satu dari dua cara. Ada yang membacanya seperti menemukan kunci jawaban, daftar rahasia yang selama ini disembunyikan. Ada juga yang membacanya sambil ngeri, lalu menutupnya dengan kesimpulan bahwa Greene biang segala kebusukan di kantor mana pun.

Greene sendiri sudah menyiapkan jawaban untuk golongan kedua. Ia menyebut mereka denier, orang yang menyangkal, dan menempatkannya sejajar dengan orang yang main kuasa tapi ceroboh:

"If the game of power is inescapable, better to be an artist than a denier or a bungler."

Kalau permainan kuasa memang tidak bisa dihindari, lebih baik jadi seniman daripada jadi penyangkal atau jadi orang yang main asal-asalan.

Tidak satu pun dari ketiga golongan itu cocok. Buat saya buku ini bukan panduan dan bukan cermin. Ini katalog.

Enam puluh pintu keluar untuk empat puluh delapan aturan

Alasannya bukan soal moral. Alasannya soal bentuk.

Hukum pertama: jangan pernah menutupi atasan. Buat orang di atasmu selalu merasa nyaman lebih unggul, dan jangan kelewatan memamerkan kemampuanmu.

Hukum keenam: cari perhatian dengan segala cara. Jangan sampai tenggelam di keramaian. Menonjollah, mencoloklah, apa pun ongkosnya.

Dua-duanya tidak bisa dijalankan bersamaan di ruangan yang sama.

Dan itu bukan kelalaian menyusun. Greene menutup hampir tiap hukum dengan bagian bernama Reversal, yang menerangkan kapan kebalikan dari hukum tadi yang berlaku. Kata itu muncul enam puluh kali untuk empat puluh delapan hukum. Tiap aturan datang lengkap dengan pintu keluarnya sendiri.

Aturan yang begitu tidak bisa dipakai memutuskan apa pun sebelum kejadian. Ia cuma bisa dipakai menerangkan apa pun sesudah kejadian. Apa pun yang kamu lakukan, ada hukumnya yang membenarkan; kalau gagal, ada Reversal-nya yang bilang mestinya kamu pakai yang sebaliknya.

Panduan memberi tahu apa yang harus dikerjakan. Ini memberi tahu apa yang bisa dikatakan belakangan.

Tapi menyebutnya cermin juga tidak jujur

Cermin tidak menyuruh. Buku ini menyuruh, dan menyuruhnya terang-terangan, dari kata kerja perintah di tiap judul hukumnya sampai kalimat tadi soal seniman dan penyangkal.

Jadi menyebut buku ini "sekadar cermin yang memperlihatkan kenyataan" itu cara halus untuk memegangnya tanpa mengaku sedang memegangnya. Lebih jujur menyebutnya apa adanya.

Katalog itu daftar barang. Gunanya untuk mengenali, bukan untuk dijalankan satu per satu. Dan mengenali bukan kemampuan kecil, sebab hampir semua langkah di buku ini baru bekerja selama sasarannya tidak tahu sedang dikenai apa.

Tempat kerjanya juga bukan istana Prancis. Rapat yang keputusannya sudah selesai sebelum rapatnya dibuka. Grup WhatsApp kantor yang sebagian isinya memang tidak dimaksudkan dibaca semua anggotanya. Arisan keluarga besar menjelang tanah warisan dibagi. Musim mutasi, waktu orang yang biasanya diam mendadak rajin menyapa di lorong.

Langkah yang mendarat di meja yang salah

Katalog ini baru kepakai waktu ada langkah yang bisa dikenali. Dan yang paling gampang dikenali langkah yang sedang dipasang ke kita sendiri.

Adegannya begini. Cara kerja lama diganti. Yang menyetujui penggantinya orang yang kursinya paling tinggi di ruangan itu, dan dia ikut duduk di rapat waktu keputusannya diambil. Hari itu tidak ada yang bersuara.

Keberatannya datang tiga minggu kemudian, di rapat lain, waktu orang itu tidak ikut. Bunyinya bukan "saya tidak setuju cara kerja kita diganti". Bunyinya "aplikasinya masih ribet, angkanya kadang tidak cocok".

Dua kalimat itu maksudnya sama. Yang pertama berhadapan dengan orang yang menyetujui. Yang kedua cuma menyentuh barangnya, dan yang membuat barangnya tidak bisa tersinggung, sebab yang disampaikan kedengaran seperti masukan.

Greene punya sekumpulan aturan soal cara menjaga diri di dekat orang yang lebih berkuasa. Di kantor mana pun kumpulan itu jalan juga dari arah sebaliknya. Kalau melawan keputusan atasan itu mahal, yang dilawan barangnya.

Ini bukan berarti tiap keluhan sedang menyiasati sesuatu. Sebagian besar orang yang mengeluh memang cuma jengkel, dan jengkel tidak butuh rencana.

Yang berubah cuma satu hal, dan gampang dicek. Keberatan yang sama pernah diucapkan di rapat waktu keputusannya diambil, atau tidak pernah. Kalau tidak pernah, dan selalu muncul sesudahnya, yang perlu dibereskan bukan aplikasinya. Yang perlu dibereskan daftar siapa saja yang diundang waktu keputusan itu diambil.

Yang bikin bacaan itu tidak nyaman

Ada langkah yang pernah saya ambil, dan belakangan ternyata persis salah satu hukum di sini. Bukan karena menyalin. Daftarnya belum saya baca waktu itu.

Itu justru yang bikin bacaan katalog terasa masuk akal. Hukum-hukum ini bukan penemuan Greene. Ia cuma mendaftar tingkah yang memang sudah dikerjakan orang sejak lama, sebagian besar tanpa nama dan tanpa nomor.

Orang yang yakin tidak pernah main begituan biasanya cuma belum pernah melihat daftarnya.

Bagian paling tajam, dan batasnya

Ada satu pengamatan di buku ini yang paling susah dilupakan. Orang yang paling lantang menolak main kuasa, yang paling keras bicara soal kepolosan dan keengganan ikut intrik, sering justru pemain yang paling canggih. Memamerkan ketidakberdayaan itu langkah yang mempan justru karena tidak kelihatan seperti langkah.

Saya terima itu. Tapi jangan digebyah uyah.

Ada orang yang memang tulus, dan jumlahnya tidak sedikit. Menuduh semua penolak sedang bermain itu tuduhan yang tidak bisa dibantah dengan cara apa pun, sebab tiap bantahan otomatis dihitung sebagai bagian dari permainannya. Yang begitu bukan ketajaman. Itu bentuk lain dari malas berpikir, dan ongkosnya ditanggung orang yang tidak melakukan apa-apa.

Ukurannya sederhana: lihat ada rebutannya atau tidak. Di tempat yang ada yang diperebutkan, entah kursi, entah jatah proyek, entah nama baik menjelang pemilihan ketua, curiga itu wajar. Di kampung yang tidak ada rebutannya, curiga cuma bikin orang saling menjauh tanpa sebab.

Bahan bakunya

Tiap hukum disusun dari cerita sejarah, dan ceritanya dipilih karena cocok, bukan diuji karena benar. Bentuknya sudah menunjukkan itu: tiap bab berisi contoh orang yang menaati hukum tadi lalu menang, dan contoh orang yang melanggarnya lalu jatuh. Susunan begitu tidak mungkin menghasilkan bantahan.

Yang tidak pernah ditanyakan: berapa banyak orang yang menaati hukum itu lalu tetap jatuh, dan berapa banyak yang melanggarnya lalu tetap selamat. Tanpa dua angka itu, empat puluh delapan hukum tadi lebih dekat ke ramalan bintang daripada ke pengamatan.

Greene mengutip Machiavelli, dan kutipannya sering dipotong tepat sebelum bagian yang penting:

"Any man who tries to be good all the time is bound to come to ruin among the great number who are not good. Hence a prince who wants to keep his authority must learn how not to be good, and use that knowledge, or refrain from using it, as necessity requires."

Orang yang berusaha baik sepanjang waktu pasti hancur di tengah sekian banyak orang yang tidak baik. Karena itu penguasa yang mau mempertahankan kekuasaannya harus belajar cara untuk tidak baik, lalu memakai pengetahuan itu, atau menahannya, menurut apa yang keadaan tuntut.

Bagian keduanya yang membedakan. Machiavelli mengikat semuanya pada satu kata: keadaan menuntut. Ada taruhannya, ada negaranya, dan ada saat ketika jawabannya adalah menahan diri. Catatannya ada di The Prince.

Di buku Greene, kata itu tidak ada. Tidak ada negara, tidak ada taruhan, tidak ada keadaan yang menuntut apa pun. Yang tersisa cuma keinginan untuk menang, dan empat puluh delapan cara mencapainya.

Itu sebabnya The Prince masih saya pegang sebagai panduan, dan yang ini tidak.

Yang saya bawa dari sini cuma daftarnya, dan daftar itu berguna persis sebesar kemampuan mengenali langkahnya waktu sedang dikenakan ke kita. Bukan waktu kita yang mengenakannya.

Dilarang di penjara, dan dipakai jadi bahan promosi

Buku ini termasuk yang paling banyak dilarang masuk penjara di Amerika, dan alasannya masuk akal dari kursi sipir: isinya panduan mengurus kuasa di tempat yang seluruh hidupnya soal siapa berkuasa atas siapa.

Yang enak dicatat apa yang dikerjakan penulisnya dengan larangan itu. Greene memakainya di media sosial sebagai kebanggaan, dan menyebut dirinya penulis yang paling banyak dilarang di penjara Amerika.

Itu langkah yang ada nomornya di bukunya sendiri. Buku ini penuh nasihat tentang membangun nama, memakai perhatian orang apa pun bentuknya, dan memilih musuh yang menguntungkan. Larangan yang dipakai jadi lencana persis salah satu di antaranya.

Ada satu hal lagi yang jarang ikut disebut. Pada 2018 Greene kena stroke, dan sisi kirinya masih terganggu sampai sekarang. Bukunya berikutnya tertunda karena itu.

Saya menaruh dua hal itu berdampingan bukan untuk menjatuhkan siapa pun. Keduanya cuma memperlihatkan batas yang sama. Empat puluh delapan aturan itu semuanya tentang orang lain: cara membaca mereka, mendahului mereka, membuat mereka bergerak. Tidak satu pun tentang hal yang datang tanpa lawan, tanpa siasat, dan tanpa bisa ditawar.

Infografis

Infografis The 48 Laws of Power bahasa Indonesia Buka ukuran penuh

Baca berikutnya