Pada 1940-an Kurt Lewin mencoba membuat ibu-ibu rumah tangga Amerika mau memasak jeroan, karena daging langka di masa perang. Sebagian diceramahi soal pentingnya. Sebagian diajak mencari alasannya sendiri dalam kelompok kecil. Dari yang diceramahi, tiga persen benar-benar memasaknya. Dari yang menemukan alasannya sendiri, tiga puluh tujuh persen (hal 31).
Seluruh buku ini berdiri di atas selisih itu. Tiga puluh enam teknik (hal 14), dipinjam dari perundingan sandera, dari cara mengeluarkan orang dari sekte, dari teater dadakan, dan semuanya mengerjakan satu hal yang sama: membuat orang di seberang meja yang menghasilkan sendiri alasannya untuk berubah. Orang menolak pesan yang diantar. Orang menerima gagasan yang dikiranya miliknya.
Ini buku panduan, jadi saya menimbangnya dengan ukuran buku panduan, ditambah satu pertanyaan yang jarang diajukan ke buku semacam ini: bisa dijalankan orang yang duduk di kursi bawah?
Yang jalan, dan mesin di belakangnya
Biarkan teman salah. Contohnya Phil Vischer, pencipta VeggieTales, serial anak yang memang dibuat untuk menanamkan keyakinan Kristen, sahabat dekat Boghossian yang seumur hidup membantah keyakinan seperti itu. Seluruh percakapan pembuka mereka:
"Boghossian: You know I think that's [the alleged resurrection of Jesus] silly, right? Vischer: [laughing] Yeah."
Boghossian: Kamu tahu kan menurutku itu konyol? Vischer, sambil tertawa: Iya.
Bangun jembatan emas. Tanyakan ke diri sendiri: kalau kita yang sedang merasa bodoh, terpojok, atau ketahuan salah, kita ingin diberi jalan keluar yang seperti apa. Sediakan itu, dan jangan hukum orang yang menyeberang. Kadang, tulis mereka, seluruh jembatannya cuma satu kata, "oke" (hal 89).
Buang "tapi", pakai "dan". "Iya, dan ini bagaimana enaknya?" membuka. "Iya, tapi ini bagaimana?" membatalkan pengakuan yang baru saja diucapkan (hal 135).
Jangan bawa fakta. Ini yang paling melawan naluri, dan mereka menaruhnya sebagai aturan, bukan saran. Fakta yang disodorkan ke orang yang keyakinannya menyangkut jati diri hampir tidak pernah mengubah apa-apa, dan sering justru mengeraskan (hal 114). Yang ditanggapi orang itu bukan faktanya, tapi pernyataan bahwa ia keliru.
Tanya sampai ke rinciannya. Keil dan Rozenblit menamainya ilusi kedalaman penjelasan pada 2001, dan buku ini menyebutnya efek perpustakaan yang tidak dibaca (Unread Library Effect, hal 46): kita mengira tahu karena bukunya ada di rak. Minta orang menerangkan cara kerjanya sampai ke anggaran dan siapa yang mengerjakan, dan pendapatnya melunak sendiri, tanpa dibantah (hal 49).
Lima itu satu mesin. Semuanya memindahkan pekerjaan menghasilkan alasan ke seberang meja, dan itu sebabnya kelimanya jalan.
Jembatan emas, dilihat dari kursi bawah
Bukunya jadi lain waktu dibaca dari kantor yang jamnya bukan milik kita.
Jembatan emas bukan hal baru di sini. Menyediakan jalan keluar supaya atasan tidak kehilangan muka itu keahlian paling tua di kantor mana pun di negeri ini, dikerjakan tanpa nama sejak hari pertama masuk kerja. "Biarkan teman salah" ke atas bukan teknik, itu bawaan. "Jangan bawa fakta" ke atas juga sudah refleks, sebab fakta yang menyalahkan atasan di depan orang lain ongkosnya semua orang tahu.
Jadi separuh buku ini menerangkan sebagai teknik apa yang orang di sini kerjakan sebagai naluri, dan gunanya justru di situ: naluri tidak bisa dipilih. Yang diajarkan bukunya membangun jembatan yang sama ke samping dan ke bawah, ke orang yang tidak bisa memecat kita, dan itu yang jarang dikerjakan siapa pun.
Bertanya, yang mereka andalkan, harganya lain di kursi bawah. Pertanyaan "bagaimana ini akan dijalankan?" ke atasan di depan rapat terbaca sebagai tantangan, bukan rasa ingin tahu. Bentuk yang lolos di sini pertanyaan yang dibungkus "saya belum paham": sama isinya, beda siapa yang kelihatan kurang.
Satu resep yang jalan dari kursi mana pun: aturan Rapoport (hal 111). Ulangi pendapat lawan bicara sampai ia bilang "iya, persis itu", sebut yang kamu setujui, sebut yang kamu pelajari darinya, dan baru sesudah itu boleh membantah. Ini jalan dari bawah karena begitulah orang di sini sudah biasa bicara ke atas. Yang berubah cuma satu: urutan itu jadi disengaja, dan tidak berhenti di langkah ketiga.
Penyakit kita kebalikannya
Boghossian dan Lindsay menulis untuk masyarakat yang penyakitnya terlalu berani berdebat. Orang berhadapan, saling potong, saling merasa paling benar, dan buku ini datang untuk menurunkan suhunya.
Di sini soalnya lebih sering kebalikannya. Ketidaksetujuan jarang keluar di ruangan tempat seharusnya keluar. Di rapat semua kepala mengangguk. Yang tidak setuju diam, karena menyela di depan orang lain berarti mempermalukan yang sedang bicara, dan itu ongkosnya lebih mahal daripada keputusan yang salah. Lalu ketidaksetujuan itu tetap ada, cuma pindah tempat: sesudah rapat bubar, di parkiran, di grup yang isinya sebagian orang saja. Keputusannya jalan di atas kertas, dan tidak ada yang benar-benar menjalankannya.
Kalau begitu keadaannya, sebagian teknik di buku ini berbahaya kalau dipakai apa adanya. Jembatan emas dibangun untuk orang yang sudah telanjur berdiri di satu posisi di depan umum. Di sini orangnya belum berdiri di mana-mana, dan menawarkan jalan keluar sebelum ia menyatakan pendapat cuma bikin ia makin tidak menyatakannya. Yang lebih dibutuhkan kebalikan dari seluruh buku ini: cara membuat orang berani menyebut ketidaksetujuannya di ruangan yang sama, selagi masih ada gunanya.
Satu teknik mereka kebetulan pas untuk itu, dan bukan yang mereka anggap penting: bertanya. Pertanyaan tidak menuntut orang mengambil sikap, jadi lebih gampang dijawab apa adanya. Batasnya ketahuan waktu pertanyaannya diulang. Rapat penagihan janji mingguan yang pernah saya jalankan bertumpu pada pertanyaan yang sama ke orang yang sama tiap pekan, dan pada pekan kesepuluh jawabannya sudah hafalan. Bukunya ditulis untuk satu percakapan. Tentang percakapan kesepuluh dengan orang yang sama, isinya cuma satu baris: catat, saring, buang, ulangi (hal 102).
Yang tipis, diperiksa ulang
Bukunya menganggap pembacanya pihak yang waras. Tiap contoh menempatkan pembaca dalam keadaan tenang dan lawan bicaranya yang keras kepala. Soal kebalikannya bukunya punya satu kalimat, bukan satu bab: kalau kamu mendapati dirimu menggambarkan orang yang tidak setuju denganmu hampir seluruhnya dengan kata-kata yang merendahkan secara moral, kemungkinan besar kamulah ideolognya, dan yang perlu diintervensi dirimu sendiri (hal 188). Kalimat itu benar, dan tidak ada petunjuk untuk menjalankannya.
Tekniknya dibangun untuk dua orang di satu meja. Untuk perselisihan di depan penonton, tempat mengaku salah berarti kehilangan kedudukan, jawaban bukunya cuma satu: jangan berdebat di media sosial. Twitter itu panggung, dan orang tidak berdebat dengan yang berteriak dari bangku belakang (hal 62). Nasihat yang benar, dan bukan teknik.
Lalu ada teknik yang mereka sendiri sebut abu-abu: altercasting, menempatkan lawan bicara ke sebuah peran supaya ia berbuat sesuai peran itu (hal 156). Mereka mengakuinya berpotensi manipulatif (hal 158), lalu tetap mengajarkannya. Garis antara menolong orang berpikir dan menggiringnya tipis di seluruh buku, dan di bab ini garisnya hilang.
Lalu perkara penulisnya. Boghossian dan Lindsay paling dikenal lewat kelakar akademik bertahun-tahun, bersama Helen Pluckrose, yang seluruh cara kerjanya menipu penyunting jurnal yang bekerja dengan niat baik. Itu tidak membuat nasihatnya salah. Tapi buku yang seluruhnya soal ketulusan, ditulis orang yang terkenal karena tipuan yang rapi, memang lebih susah ditelan mentah-mentah.
Tempat saya berdiri
Dalil pokoknya dipinjam dari Sokrates lewat Meno: orang tidak dengan sadar menginginkan yang buruk (hal 33). Yang keliru, menurut bukunya, kurang keterangan, bukan busuk hatinya.
Saya menerima itu sebagai aturan kerja, bukan sebagai kebenaran tentang manusia. Sebelum menuduh orang licik, periksa dulu apakah ia cuma tidak tahu, dan hampir selalu itu sudah cukup menerangkan. Yang tidak saya terima nada pastinya soal apa yang terjadi sesudah orang itu diberi ruang berpikir. Buku ini sendiri mengutip Haidt untuk bab penyusunan ulang moralnya (hal 189), dan Haidt di The Righteous Mind menulis hal yang lebih murung: yang menimbang lebih dulu perasaan, dan pikiran datang belakangan sebagai pengacara. Kalau begitu, pertanyaan yang paling rapi pun cuma memberi pengacara itu lebih banyak waktu.
Adam Grant menimba dari sumur yang sama, wawancara motivasional, dan menuliskannya di Think Again. Di tempat kita bertanya memang lebih mempan daripada membantah, dan bukan karena orangnya lebih terbuka. Membantah di depan orang menutup pintu sebelum kalimat kedua, sedangkan bertanya membiarkan orang berubah tanpa satu saat pun kelihatan kalah. Yang menolong bukan psikologinya. Aturan mainnya.
Buku kebalikannya, tiga puluh delapan cara memenangkan perdebatan tanpa peduli siapa yang benar, ada di The Art of Being Right. Membaca keduanya berurutan membuat satu hal kelihatan: beberapa teknik di sini alat yang sama dengan akal-akalan Schopenhauer, bertanya untuk memancing pengakuan, memilih kata yang menguntungkan, cuma niatnya dibalik. Yang membedakan bukan alatnya, tapi apakah orangnya dibiarkan sampai ke mana pun ia akan sampai.
Salah satu penulisnya mengerjakannya ke pihaknya sendiri
Dua penulis buku ini terkenal duluan lewat sebuah percobaan: mereka mengirim makalah karangan yang isinya sengaja dibuat mengada-ada ke jurnal bidang tertentu, dan beberapa di antaranya diterbitkan. Waktu itu sasarannya kalangan akademik yang mereka sebut terlalu longgar memeriksa apa pun yang bunyinya sesuai keyakinan mereka.
November 2024 Lindsay mengulanginya, dan sasarannya berganti.
Ia menulis ulang sebagian Manifesto Komunis, menyisipkan sedikit keluhan tentang kalangan liberal, dan mengirimkannya ke sebuah majalah daring Kristen konservatif memakai nama pena Marcus Carlson, orang yang jejaknya nol di internet. Tulisannya terbit. Waktu ia mengumumkan sendiri apa yang ia lakukan, salah satu pendiri majalahnya menjawab terus terang bahwa mereka memang kena. Nama Lindsay ditambahkan ke tulisannya, dan tulisannya tidak ditarik.
Buat buku ini, kejadian itu bukan gosip. Seluruh isi bukunya bertumpu pada dalil bahwa orang menerima keterangan menurut apakah ia terdengar cocok dengan pihaknya, bukan menurut apakah ia benar. Yang biasa dikeluhkan pemakai dalil semacam ini, dalilnya nyaris selalu ditodongkan ke seberang.
Kali ini dua-duanya diuji orang yang sama, dengan cara yang sama, dan hasilnya sama.
Itu juga yang membuat saya masih membaca bukunya, meski tekniknya kebanyakan. Orang yang mau menembak pihaknya sendiri memakai peluru yang ia buat sendiri jarang, dan hal yang jarang itu justru yang paling susah diajarkan lewat tiga puluh enam teknik.
Kalimat paling berguna di seluruh bukunya justru yang paling pendek:
"Differences of opinion, even moral opinions, are not necessarily moral failings."
Berbeda pendapat, bahkan soal benar dan salah, belum tentu berarti orangnya cacat moral.
Itu kalimat yang paling gampang disetujui dan paling susah dijalankan, dan saya tidak yakin tiga puluh enam teknik menolong di bagian yang susah itu. Bagian yang susah bukan waktu bicara dengan orang yang keliru. Bagian yang susah waktu yang keliru ternyata kita, dan untuk itu buku ini cuma menyisakan satu kalimat.
Susunan bukunya: bagiannya apa saja, mana jantungnya, mana yang boleh dilewat.
Bentuknya
Delapan bab, dan susunannya berjenjang seperti buku pelajaran: dasar, pemula, menengah, mahir, ahli, lalu tingkat tertinggi. Tiap jenjang berisi sejumlah cara yang diberi nomor, dari sembilan cara di tingkat pemula sampai dua cara di tingkat tertinggi.
Bentuk berjenjang itu enak dipakai dan sekaligus menyesatkan sedikit, karena kesulitannya tidak benar-benar bertambah selurus itu. Sebagian cara di tingkat mahir justru lebih gampang dijalankan daripada sebagian cara di tingkat pemula.
Bukunya tipis dan seluruhnya praktis. Tidak ada bab yang berisi teori panjang.
Bab 1 dan 2: dasarnya
Bab 1 memasang perkaranya. Bab 2 berisi tujuh hal dasar yang menentukan apakah sebuah percakapan bisa berjalan sama sekali: tujuannya apa, apakah kita benar-benar mendengarkan, apakah kita sanggup menahan diri tidak membantah, dan seterusnya. Ini bab yang paling penting di seluruh buku, dan satu-satunya yang tidak boleh dilewat.
Bab 3 sampai 5: pemula sampai mahir
Bagian tempat sebagian besar cara yang benar-benar terpakai berada.
- Bertanya lebih banyak daripada menyatakan, dan bertanya soal bagaimana orang sampai pada pendapatnya, bukan soal pendapatnya sendiri.
- Menanyakan seberapa yakin, lalu menanyakan apa yang bisa membuat keyakinan itu berubah. Yang menjawab tidak ada sedang mengaku pendapatnya bukan kesimpulan.
- Mengulang pendapat lawan bicara dengan kata-kata kita sampai ia mengakui itu tepat, sebelum apa pun dibantah.
- Menyediakan jalan mundur yang tidak memalukan, supaya berubah pendapat tidak berarti kalah di depan orang.
Bab 6 dan 7: yang tertutup dan yang berideologi
Dua bab terakhir soal orang yang pendapatnya sudah jadi jati dirinya. Nasihat pokoknya, yang bisa dikerjakan cuma menanam pertanyaan yang akan bekerja belakangan, dan berhenti mengharapkan perubahan terjadi di dalam percakapan itu.
Yang jadi jantungnya
- Bab 2. Kalau waktunya cuma cukup untuk satu bab, ambil yang ini.
- Cara menanyakan seberapa yakin dan apa yang bisa mengubahnya. Satu pertanyaan, dan hasilnya kelihatan seketika.
- Gagasan menyediakan jalan mundur yang tidak memalukan, karena di lingkungan yang menjaga muka orang, itu yang paling menentukan apakah sebuah percakapan selesai baik-baik.
Yang boleh dilewat
- Bab 7 kalau tidak sedang berhadapan dengan orang yang pendapatnya sudah jadi jati dirinya. Isinya sempit dan tidak menyangga bab lain.
- Sebagian besar contoh percakapannya, yang isinya perdebatan khas Amerika soal agama, senjata, dan aborsi. Caranya bisa diambil tanpa contohnya.
- Bagian yang mengutip cara juru runding polisi, kecuali kalau memang tertarik.
Yang jangan ditelan bulat-bulat
Buku ini mengandaikan dua orang yang kedudukannya kira-kira setara dan sama-sama boleh bertanya. Sebagian besar percakapan yang benar-benar sulit di sini tidak begitu bentuknya. Ada yang lebih tinggi kursinya, dan yang di bawah tidak punya hak bertanya yang sama.
Yang menarik, separuh tekniknya justru sudah kita jalankan tiap hari tanpa nama: bertanya alih-alih membantah, menyediakan jalan mundur, tidak menyudutkan orang di depan yang lain. Bedanya, di sini itu bukan pilihan yang diambil untuk membuka pikiran orang, tapi keharusan supaya selamat. Bukunya mengajarkan sebagai keterampilan hal yang di sini sudah jadi keadaan.
Kalau buru-buru
Bab 2 dan bab 3. Dua bab, dan hampir semua yang berguna sudah di tangan: syarat supaya sebuah percakapan bisa jalan sama sekali, dan sembilan cara pertama yang bisa dicoba besok pagi tanpa perlu izin siapa pun.