Janji berubah jadi utang bukan waktu diberi angka, tapi waktu ada yang bisa menagihnya dengan paksa.

"Ya jelas utang harus dibayar."

Graeber mendengar kalimat itu di sebuah pesta di taman Westminster Abbey, dari seorang pengacara yang justru bekerja untuk lembaga amal. Mereka sedang membicarakan penghapusan utang negara-negara termiskin, dan perempuan itu menutup perkaranya seperti orang menutup pintu: mereka kan meminjam uangnya.

Beberapa hari kemudian Graeber menemukan kenapa kalimat itu begitu kuat. Kalimat itu bukan pernyataan ekonomi, tapi pernyataan moral. Memberi orang apa yang jadi haknya, memenuhi kewajiban: itu bunyi hampir semua ajaran moral mana pun.

Lima ratus halaman lebih dipakai untuk membongkar satu kalimat itu. Saya membacanya sambil memegang cicilan sendiri, jadi yang saya cari bukan usulan di ujungnya, tapi bongkaran-bongkarannya di jalan.

Uang beredar karena ada yang menagihnya

Di kelas ekonomi urutannya begini: manusia purba tukar-menukar barang, repot, lalu menciptakan koin, dan belakangan muncul kredit. Menurut bukti yang Graeber kumpulkan, urutannya terbalik. Catatan utang di tablet tanah liat sudah jalan di Mesopotamia ribuan tahun sebelum ada koin, dan barter justru muncul belakangan, di tempat sistem uangnya runtuh dan orang yang tidak saling percaya terpaksa bertransaksi.

Itu pembetulan catatan sejarah. Yang langsung kepakai ada di halaman lain: pasar uang itu dibuat, bukan tumbuh sendiri.

Tahun 1901, sesudah penaklukan Madagaskar selesai, Jenderal Gallieni memungut pajak kepala. Pajaknya tinggi, dan cuma boleh dibayar dengan franc Malagasi yang baru dicetak. Jadi pemerintahnya mencetak uang, lalu mewajibkan seluruh penduduk menyetorkan sebagiannya kembali. Namanya pun sudah disiapkan:

"It was referred to as the 'impôt moralisateur,' the 'educational' or 'moralizing tax.'"

Pajak itu disebut impôt moralisateur, pajak yang mendidik.

Yang dididik penduduknya, supaya mengenal nilai kerja. Jatuh temponya diatur sesudah panen, dan cara termudah membayarnya cuma dua: menanam kopi untuk dijual, atau mengirim anak bekerja ke perkebunan.

Bentuk yang sama sudah lebih dulu jalan di Jawa. Sewa tanah ditagih dalam uang dari petani yang memegang gabah, lalu tanam paksa datang menyediakan jalan keluarnya: sebagian tanah wajib ditanami tanaman yang laku di Eropa, dan pajaknya dianggap lunas dari situ. Tidak ada petani yang memutuskan masuk ke pasar dunia. Mereka dimasukkan lewat tagihan.

Jadi uang tidak menyebar karena orang menemukan kepraktisannya. Uang menyebar karena ada yang menagih dalam uang itu dan tidak mau menerima yang lain.

Buku catatan di meja kondangan

Bahasa kita sudah lama menyimpan pembedaan yang jadi inti bukunya. Ada utang budi, ada utang uang.

Utang budi tidak punya angka, tidak punya jatuh tempo, tidak punya bunga. Tetangga yang menunggui rumah waktu kita mudik, saudara yang menalangi biaya rumah sakit. Beratnya justru karena tidak bisa dilunasi.

"A debt is just the perversion of a promise. It is a promise corrupted by both math and violence."

Utang cuma janji yang dibengkokkan. Janji yang dirusak oleh dua hal sekaligus, hitungan dan kekerasan.

Perhatikan Graeber menyebut dua, bukan satu, dan yang kedua itu yang lebih menentukan.

Di meja penerima tamu waktu kondangan ada buku dan pulpen. Tiap amplop dibuka, isinya dihitung, lalu dicatat lengkap dengan nama dan alamatnya. Bukunya disimpan bertahun-tahun, dan waktu giliran keluarga itu punya hajat, catatan tadi dibuka lagi supaya yang dikembalikan tidak kurang dari yang dulu diterima. Utang budi sudah punya angka di situ, sampai ke rupiahnya.

Dan tetap belum berubah jadi utang uang. Tidak ada yang bisa menyita apa pun kalau amplopnya tidak pernah dibalas. Penagihnya cuma rasa sungkan dan bisik-bisik di kampung, dan tagihan macam itu bisa ditunda seumur hidup. Angkanya sendiri ternyata tidak menggigit. Yang menggigit orang yang berdiri di belakangnya dengan kemampuan memaksa.

Begitu bagian kedua dipasang, bentuknya langsung kelihatan. Sertifikat rumah yang sudah dipegang rentenir kampung. Nomor kontak seluruh keluarga yang disebar penagih pinjaman daring karena telat tiga hari. Di banyak peradaban kuno, catat Graeber, orang yang gagal membayar menyerahkan anaknya kepada yang berpiutang, dan itu bukan penyimpangan di pinggiran, tapi cara sistemnya berjalan. Yang berganti sejak Mesopotamia cuma alat penagihnya.

Dari sisi yang berutang, tarikannya jauh lebih sederhana daripada semua ini: barangnya ada hari ini, tagihannya bulan depan. Itu sudah cukup buat orang yang susah menunda, dan saya tidak sedang menulis dari luar golongan itu.

Koin lahir di kas tentara

Kalau kredit sudah jalan ribuan tahun, kenapa koin muncul sama sekali?

Jawabannya susunan yang ia sebut military-coinage-slavery complex, gabungan tentara, koin, dan perbudakan. Tentara bayaran tidak bisa dibayar dengan catatan utang: mereka bergerak terus, dan tidak ada yang mau memegang janji dari orang yang besok sudah pergi. Yang mereka terima cuma logam yang nilainya ada pada bendanya sendiri. Jadi negara mencetak koin, membayar tentara, lalu menagih pajak dalam koin yang sama supaya koinnya kembali ke kas. Tentaranya menjarah, sebagian jarahannya berupa manusia, dan manusia itu dikirim ke tambang untuk menggali logam berikutnya. Tambang perak di Laurium, catatnya, mempekerjakan sepuluh sampai dua puluh ribu budak.

Lingkaran itu menerangkan hal yang aneh kalau uang dianggap lahir dari kebutuhan berdagang. Koin dan pasar menyebar paling cepat bukan di jalur dagang yang paling ramai, tapi di jalan yang paling sering dilewati tentara.

Kita muncul di dalam bukunya sekali, di tempat yang tidak diduga: penyelam mutiara di Kepulauan Aru, satu mata rantai dalam rantai utang yang ia tarik dari pialang saham di London sampai ke ujung-ujung dunia. Yang dicatatnya bukan bunganya, tapi kepercayaan yang membuat pinjamannya diperbarui terus. Laut punya istri, dan istri laut tidak menyerahkan isinya kalau tidak dirayu dengan hadiah yang dibeli berutang di toko. Utangnya diambil sendiri, tiap musim, dan memang tidak dirancang untuk selesai.

Lingkaran lima ribu tahun

Sesudah membongkar cerita asal-usul uang yang dikarang mundur dari keadaan sekarang, Graeber menyusun ceritanya sendiri, dan bentuknya lingkaran.

Lima ribu tahun sejarah Eurasia, tulisnya, bergantian antara zaman uang catatan dan zaman logam. Mesopotamia memakai catatan. Zaman koin dimulai bersama Zaman Aksial, dari sekitar 800 SM. Abad Pertengahan kembali ke kredit. Sekitar 1450 dunia berbalik lagi ke emas dan perak. Lalu 1971 Nixon memutus dolar dari emas, dan zaman uang tanpa wujud dimulai lagi.

Penggeraknya satu, dan bagian ini saya terima penuh:

"The single most important factor would appear to be war. Bullion predominates, above all, in periods of generalized violence."

Faktor tunggal yang paling menentukan tampaknya perang. Logam berkuasa terutama di masa kekerasan yang merata.

Sebabnya bisa diperiksa sendiri. Koin emas bisa dirampas dan tidak menyimpan riwayat pemiliknya, sementara catatan utang cuma berlaku selama ada lembaga yang menjaganya dan orang-orang yang masih saling kenal. Begitu kekerasan naik, yang dipakai orang barang yang bisa dibawa lari.

Yang tidak saya bawa cara empat pergantian itu disusun jadi giliran. Kalau batasnya digeser sedikit, jumlahnya bisa jadi tiga atau enam, tergantung tanggal mana yang dianggap penting, dan tanggalnya dipilih sesudah semuanya lewat. Dalio menyusun urutan yang hampir sama dari kursi yang berlawanan di The Changing World Order. Yang layak diambil dari dua-duanya cara kerjanya, bukan gilirannya.

Bentuk yang sama muncul di bab terakhirnya. Sejak 1971, pembeli terbesar surat utang Amerika justru bank sentral negara-negara yang jadi tempat pangkalan militer Amerika. Hubungannya nyata. Yang ia tambahkan sendiri niatnya: aliran itu ia sebut upeti, dan upeti mengandaikan ada yang memungut dengan sadar. Pertanyaan yang lebih murah tidak ia ajukan lebih dulu: bank sentral Jepang yang memegang tumpukan dolar sebenarnya punya pilihan apa lagi? Kalau jawabannya tidak banyak, kekurangan pilihan sudah cukup menerangkan polanya.

Yang diserang lalu ditagih

Graeber tinggal di dataran tinggi Madagaskar hampir dua tahun, dan wabahnya pecah tidak lama sebelum ia datang. Malaria di sana sudah lama diberantas sampai habis, dan justru itu yang membuat wabahnya ganas. Sesudah dua generasi tanpa penyakitnya, tidak ada lagi yang punya kekebalan. Yang tersisa dari program lama tinggal pemantauan dan penyemprotan, dan biayanya kecil. Program itu yang dipotong, karena pengetatan anggaran yang diminta IMF. Sepuluh ribu orang meninggal.

Yang ia tulis sesudahnya lebih dingin daripada kemarahan. Di mana-mana ganti rugi ditagihkan kepada pihak yang menyerang. Utang negara-negara termiskin berjalan persis terbalik: yang berutang hampir seluruhnya negara yang dulu diserang dan ditaklukkan, dan sebagian tagihannya justru ongkos penaklukan itu sendiri. Kedaulatan pada 1949 diserahkan dengan syarat Republik menanggung utang Hindia Belanda, termasuk ongkos serangan Belanda ke Republik pada 1947 dan 1948. Hitungannya, berikut empat kali negeri ini tercatat gagal bayar, ada di This Time Is Different.

Lalu 1998, dan untuk yang satu ini kata kejutan tidak saya pakai. Utang dolar jangka pendek tanpa perlindungan kurs, kurs yang dijaga tanpa pernah diumumkan dijaga, bank yang meminjamkan ke kelompok usaha pemiliknya sendiri: semuanya ada di laporan dan bisa dijumlahkan sebelum kejadiannya. Yang datang tagihan atas hal yang sudah lama terlihat. Foto direktur IMF berdiri bersedekap mengawasi presiden meneken kesepakatan jadi gambar yang paling diingat orang, dan gambar itu menutupi bagian yang lebih menentukan: subsidi dicabut, harga melonjak, dan yang menanggung bukan yang meneken. Sesudahnya bank yang diambil alih negara dijual jauh di bawah nilai bukunya kepada yang kebetulan memegang uang tunai, dan Harvey menghitung babak itu sebagai cara modal tumbuh dengan mengambil, di The Enigma of Capital.

Tidak ada niat jahat yang perlu diandaikan di situ. Yang ada urutan yang dipilih dengan sadar lalu diucapkan dengan istilah yang terdengar bertanggung jawab: kewajiban didahulukan, sisanya menyesuaikan.

Penagih yang sekarang punya jam kerja

Graeber mati pada 2020, jadi bagian ini tidak pernah sampai ke tangannya.

Sampai Maret 2026 pinjaman daring yang beredar di sini 101 triliun rupiah, tumbuh dua puluh enam persen dalam setahun. Paylater 28,3 triliun dengan 30,81 juta pemakai. Yang telat lebih dari sembilan puluh hari naik dari 2,78 persen jadi 4,54 persen dalam setahun, dan hampir separuh macetnya ditanggung orang berumur sembilan belas sampai tiga puluh empat.

Buat buku ini, penagihnya yang penting, bukan angkanya. Aturannya sekarang rinci sekali. Penagih wajib membawa surat tugas dan sertifikat, cuma boleh menagih antara jam delapan pagi dan jam delapan malam, tidak boleh di hari libur, tidak boleh merendahkan, dan tidak boleh menagih ke nomor kontak darurat. Aplikasinya cuma boleh minta kamera, mikrofon, dan lokasi, tidak boleh seluruh buku telepon.

Semua larangan itu ditulis karena semuanya pernah terjadi. Dan begitu ditulis, hasilnya persis yang dilacak Graeber sepanjang lima ribu tahun: kewajiban yang tadinya urusan antarorang berubah jadi angka yang bisa dipindahtangankan, lalu diberi alat penagih yang sah, berjadwal, dan bersertifikat.

Bandingkan dengan tagihan yang lebih besar di bagian atas. Utang yang diwariskan pada 1949 dan tagihan yang datang pada 1998 tidak pernah punya aturan jam kerja, dan tidak pernah ada yang bisa dilapori kalau cara menagihnya keterlaluan. Yang dibuatkan tata krama justru tagihan yang paling kecil, kepada orang yang paling muda.

Menjelang akhir, sesudah semua bongkaran itu, Graeber menaruh kalimatnya yang paling telak.

"As it turns out, we don't 'all' have to pay our debts. Only some of us do."

Ternyata bukan kita semua yang harus membayar utang. Cuma sebagian dari kita.

Usul yang ia pasang sesudahnya penghapusan utang menyeluruh, lalu mulai lagi dari nol. Apa yang dipasang sebagai gantinya tidak ia tulis, dan jawaban yang lebih baik juga belum ada di sini.

Yang tersisa satu pertanyaan yang bisa dibawa ke tagihan mana pun: siapa yang bisa menagih ini dengan paksa. Buku catatan di meja kondangan tidak punya siapa-siapa, jadi angkanya berhenti jadi angka. Cicilan punya. Utang dolar tahun 1997 punya.

Perempuan di pesta taman itu tidak keliru soal faktanya. Ia memakai satu kata untuk tiga hal yang cara menagihnya sama sekali berbeda, sama seperti kita semua, dan belum ada kata lain yang enak dipakai untuk memisahkannya.

Infografis

Infografis Debt: The First 5,000 Years bahasa Indonesia Buka ukuran penuh

Baca berikutnya