Harvey benar soal ke mana uangnya pergi. Yang saya tolak cuma satu kata: harus.

Harvey ahli geografi, dan kerangkanya Marx. Ia tidak menyembunyikannya: seluruh rangka bukunya, tulisnya, dikembangkan dari satu catatan kaki di bab lima belas Capital jilid pertama. Itu perlu diketahui sebelum mulai, karena kerangkanya menentukan apa yang boleh dihitung sebagai keterangan.

Pertanyaannya bukan kenapa krisis terjadi. Pertanyaannya uangnya pergi ke mana.

Pertanyaan itu yang membuat buku dari kerangka yang tidak saya pakai tetap layak dibaca sampai habis, sebab jawabannya bisa dilihat dari jendela, tanpa perlu setuju pada Marx.

Tiga persen, dan apa jadinya kalau dijalankan seratus tahun

Kesepakatan yang beredar di kalangan ekonom dan koran keuangan, tulis Harvey, ekonomi kapitalis yang sehat tumbuh tiga persen setahun. Di bawah itu disebut lesu. Di bawah satu persen, mulai dipakai kata krisis.

Tiga persen kedengaran kecil sampai dihitung majemuk. Waktu kapitalisme masih terkurung di sekitar Manchester dan beberapa titik lain pada 1750, tiga persen majemuk tidak jadi soal. Sekarang angkanya begini: untuk kembali ke tiga persen, dunia harus menemukan tempat menanam modal yang menguntungkan sebesar 1,6 triliun dolar pada 2010, naik mendekati 3 triliun pada 2030. Pada 1950 jumlah yang harus ditanam cuma 0,15 triliun.

Dari situ soal pokoknya. Modal selalu menghasilkan kelebihan, dan persaingan memaksa kelebihan itu ditanam lagi. Tempat menanamnya harus ada, tiap tahun, dan makin besar.

"The crisis tendencies of capitalism are not resolved but merely moved around."

Kecenderungan krisis dalam kapitalisme tidak diselesaikan, cuma dipindah-pindahkan.

Kalimat itu yang paling terpakai dari seluruh bukunya, dan justru kalimat itu yang paling gampang diuji. Tinggal lihat pindahnya ke mana.

Tempat pembuangannya tanah, dan kota yang dibangun dengan utang

Waktu membuat barang tidak lagi cukup menguntungkan, kelebihannya pindah ke dua tempat yang bisa menyerap hampir tanpa batas: tanah dan keuangan. Tanah memang bidang Harvey, dan di sini bukunya paling kuat.

Tanah tidak perlu menghasilkan apa pun untuk menyimpan nilai. Tanahnya diam, harganya naik, dan sekaligus jadi jaminan pinjaman berikutnya. Itu bikin tanah jadi tempat pembuangan yang sempurna buat kelebihan modal, dan sekaligus tempat sumbatannya akhirnya muncul sebagai gelembung. Sejak 2000, tulisnya, Cina menyerap hampir separuh pasokan semen dunia. Dan salah satu pemicu jatuhnya Asia Tenggara pada 1997 ia sebut pembangunan kota yang berlebihan, dibiayai modal asing yang datang untuk berspekulasi, di Thailand, Hong Kong, Indonesia, Korea, dan Filipina.

Dua bentuknya bisa dilihat di sini tanpa perlu ke Shenzhen.

Yang pertama menara. Gedung perkantoran dan apartemen dibangun sebelum ada penyewanya, lalu berdiri bertahun-tahun dengan lampu menyala di beberapa lantai saja. Kalau ukurannya kebutuhan tempat tinggal, itu mubazir. Kalau ukurannya penyerapan kelebihan modal, itu berhasil: uangnya sudah ditaruh, dan gedungnya memang tidak perlu dipakai untuk mengerjakan tugas itu.

Yang kedua sawah di pinggir kota yang berpindah tangan, tidak ditanami, dipagari seng, lalu ditunggu. Pembelinya tidak berniat bertani dan tidak berniat membangun. Yang ia beli waktu. Dua-duanya menerangkan hal yang membingungkan kalau dilihat dengan ukuran biasa: kenapa harga tanah terus naik di tempat yang penduduknya justru pindah keluar.

Mengambil yang tadinya milik bersama

Bagian keduanya, modal tidak cuma tumbuh dengan membuat nilai baru. Modal juga tumbuh dengan mengambil yang tadinya di luar pasar lalu memasukkannya ke dalam. Tanah bersama dipagari, aset publik dijual, air dimeter, benih dipatenkan. Tidak ada yang baru dibuat. Yang tadinya dipakai bersama berubah jadi dimiliki. Marx menyebutnya penumpukan awal dan menaruhnya di masa lalu; Harvey menyebutnya accumulation by dispossession, penumpukan lewat perampasan, dan menaruhnya di masa kini, sebagai cara tetap yang menguat tiap kali penumpukan biasa macet.

Bentuk yang paling kelihatan di sini hutan. Yang statusnya tanah adat berubah jadi konsesi, dan yang berubah cuma satu hal: yang tadinya dipakai bersama berubah jadi dimiliki.

Bentuk yang lebih pahit ada di daftar krisisnya sendiri. Untuk 1997 dan 1998 ia menulis: kekurangan likuiditas memaksa kebangkrutan besar-besaran, dan itu membuka kesempatan bagi lembaga pemangsa untuk mengambil untung cepat sesudah talangan IMF yang bersifat menghukum, di Korea, Indonesia, Thailand. Di tempat lain ia terangkan cara kerjanya: usaha yang sebenarnya sehat tumbang karena kehabisan uang tunai, modal asing membelinya dengan harga obral, dan waktu keadaan pulih usaha itu dijual kembali dengan untung besar.

Di perbankan sini itu bukan teori. Aset bank yang diambil alih negara sesudah 1998 dijual bertahun-tahun kemudian dengan harga jauh di bawah nilai bukunya, dan yang sanggup membeli waktu itu cuma yang sedang memegang uang tunai, sebagian besar dari luar. Dari seluruh aset yang diambil alih, yang kembali ke kas negara menurut hitungan yang beredar tidak sampai sepertiga. Malaysia, tulis Harvey, melawan arus dengan mengunci modalnya dan selamat. Sesudahnya negara-negara Asia menimbun cadangan devisa besar-besaran, sengaja, supaya tidak dimangsa dua kali. Cadangan besar yang sekarang dibanggakan itu bekas luka.

Graeber menulis sisi lain dari talangan IMF yang sama, di Madagaskar dan di sini, dalam Debt.

Kata yang saya tolak: harus

Sampai di sini Harvey dibaca seperti orang yang menunjuk. Uangnya lari ke tanah, ke kota kosong, ke aset obral. Semua itu bisa diperiksa, dan hampir semuanya kena.

Yang tidak ikut saya bawa cara ia menyambungnya. Modal harus menemukan saluran. Kapitalisme harus tumbuh tiga persen atau mati. Krisis harus datang, sebab sistemnya memang begitu. Di kalimat-kalimat itu benda mati bertingkah seperti orang yang punya kehendak, dan kehendaknya kebetulan selalu sesuai dengan teorinya. Sejarah tidak punya arah, dan "harus" itu arah yang disamarkan jadi hukum.

Ia sendiri memberi bahan untuk keberatannya. Kapitalisme, tulisnya, sejauh ini selamat dari banyak ramalan tentang ajalnya yang sudah dekat. Kalau sebuah sistem selamat dari semua ramalan matinya, mungkin yang keliru bukan sistemnya.

Ada satu lagi. Ia menulis krisis bisa saja dirancang, dikelola, dan dikendalikan untuk merapikan sistem yang tidak rasional, lalu menyebut program pengetatan sebagai contohnya. Kata "bisa saja" itu cepat sekali berubah jadi tuduhan di tangan pembacanya. Sebelum menuduh rancangan, periksa dulu apakah kelalaian sudah cukup menerangkan, dan untuk 1998 di sini kelalaian menerangkan hampir semuanya: kurs yang dipatok tanpa diumumkan, utang dolar jangka pendek yang tidak dilindungi, dan bank yang meminjamkan ke pemiliknya sendiri. Yang datang memangsa sesudahnya nyata. Yang membuka pintunya bukan rancangan siapa-siapa.

Kindleberger memperlakukan krisis sebagai pola yang berulang dalam cara kredit berkelakuan, sesuatu yang menimpa sistem. Harvey memperlakukannya sebagai sistem yang mengerjakan tugasnya. Dua-duanya tidak bisa dibuktikan mengalahkan yang lain dari catatan sejarah, dan perselisihannya ada di Manias, Panics, and Crashes. Dalio, dari kursi yang berlawanan dengan Harvey, sampai ke bentuk yang sama: semua mata uang pada akhirnya digerus atau mati. Catatannya di The Changing World Order. Seorang Marxis dan seorang pengelola dana lindung nilai sama-sama menemukan siklus, dan yang diambil dari keduanya sama: angkanya, bukan lingkarannya.

Satu kalimat Harvey punya kembaran di Antifragile, dan dua-duanya tidak saling kenal. Taleb bilang titik api yang selalu dipadamkan tidak hilang, bahan bakarnya menumpuk. Harvey bilang krisis tidak diselesaikan, cuma dipindahkan. Dua kerangka yang tidak mungkin duduk semeja sampai ke kalimat yang sama.

Bab terakhirnya, dan yang dikorbankan selama menunggu

Judul bab terakhirnya pertanyaan Lenin: apa yang harus dikerjakan, dan siapa yang akan mengerjakannya. Jawabannya gerakan yang mengambil alih kendali atas kelebihan itu, dari produksi sampai pembagiannya, lewat tujuh bidang sekaligus. Ia tahu bunyinya:

"Of course this is utopian! But so what! We cannot afford not to be."

Tentu saja ini utopis. Lalu kenapa? Kita tidak sanggup untuk tidak utopis.

Saya berhenti di situ, bukan karena kalimatnya, tapi karena bentuknya. Buku yang membongkar dengan sangat rapi lalu menunda hasilnya ke masa yang tidak ditentukan kapan. Yang tidak ditulis: apa yang dikorbankan orang yang menunggu masa itu, dan menunggu itu tidak bisa diambil kembali. Ini juga cacat semua buku ramalan, dari arah mana pun: kalau meleset, selalu ada "belum waktunya".

Yang bisa dipakai hari ini jauh lebih kecil dari yang ia janjikan, dan itu saja sudah lumayan. Tiap kali harga tanah naik di tempat yang orangnya justru pergi, tiap kali menara berdiri sebelum penyewanya ada, pertanyaan yang benar bukan siapa yang akan tinggal di situ. Pertanyaannya uang itu lari dari mana, dan sesudah ini mau lari ke mana lagi.

Tempat pembuangan yang sekarang, dan siapa yang memilikinya

Harvey menyebut modal selalu perlu tempat baru untuk ditaruh, dan kalau tempatnya belum ada, ia dibikin. Selama dua dasawarsa terakhir tempat itu tanah dan beton. Sekarang ada tempat baru, dan letaknya di kepulauan ini.

Angkanya kira-kira begini. Sekitar sembilan puluh persen pabrik pengolah nikel di Indonesia dikelola perusahaan asal Cina. Nilai investasi Cina di rantai nikel disebut sekitar enam puluh lima miliar dolar. Agustus 2025 Danantara meneken kesepakatan dengan sebuah perusahaan Cina untuk pabrik pengolah senilai 1,42 miliar dolar, sekitar 23,3 triliun rupiah, yang direncanakan jalan tahun ini.

Bentuknya persis yang dibedah Harvey. Modal yang di negeri asalnya sudah susah menemukan tempat menghasilkan tiga persen setahun berangkat ke tempat yang barangnya ada di tanah dan aturannya masih dibuat. Pabriknya berdiri di sini, listriknya dibakar di sini, hutannya dibuka di sini, dan keuntungan atas lapisan yang paling menguntungkan dihitung di neraca yang bukan neraca kita.

Yang tidak pas dengan bukunya justru istilah yang biasa dipakai orang di sini: hilirisasi. Kata itu mengandaikan nilai tambahnya tinggal di dalam negeri. Kalau yang punya pabriknya dari luar, yang tinggal di dalam negeri upah, pajak, dan akibat lingkungannya, dan tiga hal itu tidak berpindah bersama-sama dengan labanya.

Harvey akan menyebut ini babak biasa, dan ia akan benar. Yang tidak ia sediakan tetap bagian sesudahnya: apa yang mestinya dikerjakan negeri yang kebetulan sedang jadi tempat pembuangan, selain menolak dan tetap miskin.

Harvey benar soal ke mana uangnya pergi. Soal ke mana uangnya harus pergi berikutnya, saya belum punya jawaban, dan menurut saya ia juga belum. Bedanya cuma ia menulisnya seolah punya.

Baca berikutnya