Ia menamai kekeliruan itu, lalu melakukannya sendiri, dan ia juga yang mengumumkannya.

Ada percobaan terkenal. Penonton diminta menghitung berapa kali bola dioper di sebuah video. Di tengah video, orang berkostum gorila masuk ke lapangan, berhenti, memukul dada, lalu pergi. Separuh penonton tidak melihatnya.

Yang lebih menohok bukan itu. Yang tidak melihat gorilanya yakin sekali gorilanya memang tidak ada. Mereka tidak bisa membayangkan melewatkan hal sebesar itu.

"...we can be blind to the obvious, and we are also blind to our blindness."

Kita bisa buta pada hal yang sudah jelas, dan kita juga buta pada kebutaan kita sendiri.

Kalimat keduanya yang jadi soal. Kebutaan yang pertama masih bisa dibetulkan orang lain. Yang kedua tidak, karena dari dalam ia tidak terasa seperti buta. Rasanya justru seperti sedang melihat dengan sangat jelas.

Otopilot dan pilot yang ketiduran

Kahneman membagi kepala jadi dua watak. Sistem 1 cepat, jalan sendiri, main pola dan perasaan. Sistem 2 pelan, butuh tenaga, logis, tapi malas dan gampang dikelabui.

Perumpamaannya otopilot pesawat. Alat itu bisa menerbangkan pesawat dengan mulus, menahan guncangan kecil, tanpa pilotnya menyentuh apa pun. Hemat tenaga, sangat berguna, nyala terus. Satu hal saja yang tidak bisa ia kerjakan: berhenti sebentar lalu bertanya apakah jalurnya sudah melenceng. Yang bisa begitu cuma pilotnya, dan pilotnya sering ketiduran.

Angka yang tidak ada hubungannya tetap menempel

Kahneman dan Amos Tversky pernah mencurangi roda undian. Rodanya bertanda nol sampai seratus, tapi dibuat supaya cuma bisa berhenti di angka sepuluh atau enam puluh lima.

Mahasiswa menyaksikan sendiri roda itu diputar di depan mereka. Lalu mereka ditanya, kira-kira berapa persen negara Afrika di antara anggota PBB.

Yang melihat angka sepuluh menjawab rata-rata dua puluh lima persen. Yang melihat enam puluh lima menjawab rata-rata empat puluh lima persen.

Angkanya keluar dari roda undian, di depan mata mereka sendiri, dan jelas tidak ada hubungannya dengan Afrika. Tetap saja selisih jawabannya dua puluh angka.

Namanya efek jangkar, dan ini bias yang paling gampang dikenali di sekitar kita. Harga coret di label diskon itu jangkar. Angka pertama yang disebut penjual waktu tawar-menawar juga jangkar, dan itu sebabnya siapa yang menyebut harga duluan sering menang. Anggaran tahun ini yang disusun dari anggaran tahun lalu, jangkar juga, dan itu sebabnya angka yang salah bisa hidup bertahun-tahun.

Kalau rugi seratus, untungnya harus dua ratus

Coba tanya diri sendiri: kalau ada undian yang kemungkinan menang dan kalahnya sama besar, dan kalahnya berarti kehilangan seratus ribu, untung berapa yang bikin kamu mau ikut?

Kebanyakan orang menjawab sekitar dua ratus ribu. Dua kali lipat. Kahneman menyebut perbandingan itu berkisar antara satu setengah sampai dua setengah kali.

Artinya rugi terasa dua kali lebih berat daripada untung yang besarnya sama. Bukan karena orang bodoh berhitung, tapi karena rasanya memang begitu.

Ini menerangkan banyak hal yang kelihatannya tidak masuk akal. Kenapa orang menahan tanah yang harganya sudah turun bertahun-tahun, menunggu balik ke harga beli, padahal uangnya lebih berguna di tempat lain. Kenapa proyek yang sudah jelas tidak jalan tetap diteruskan, karena menghentikannya berarti mengakui yang sudah keluar itu hilang. Dan kenapa menaikkan sesuatu selalu lebih gampang daripada menurunkannya, entah itu tunjangan, jabatan, atau kebiasaan di rumah.

Rugi punya sifat lain lagi, dan sifat ini membuat orang berani bertaruh. Contohnya sedang berjalan di jaminan kesehatan nasional. Sampai April 2026 rasio klaimnya 108,72 persen: yang dibayarkan ke rumah sakit lebih besar daripada iuran yang masuk. Iuran pesertanya tidak naik selama enam tahun, dan Menteri Kesehatan memastikan tahun ini juga tidak.

Yang berhadapan di situ dua rugi. Buat yang memutuskan, menaikkan iuran itu rugi yang pasti: punya tanggal, punya angka, dan marahnya datang dari semua peserta pada hari yang sama. Membiarkan defisit cuma rugi yang mungkin: bisa ditutup anggaran negara, bisa jatuh di masa jabatan orang lain. Di halaman 277 Kahneman menulis apa yang terjadi kalau rugi yang pasti disandingkan dengan rugi lebih besar yang cuma mungkin: orang jadi berani bertaruh, dan memilih yang kedua.

Selisihnya tidak hilang, cuma pindah ke tempat yang tidak tercatat sebagai kenaikan apa pun.

Instruktur yang menarik pelajaran yang salah dari pengalamannya sendiri

Ini bagian yang paling saya pikirkan, dan kejadiannya di ruang kelas.

Kahneman sedang mengajar para instruktur penerbang Angkatan Udara Israel. Ia menyampaikan satu asas dalam melatih orang: memuji perbaikan lebih mempan daripada menghukum kesalahan.

Salah satu instruktur membantah. Katanya kira-kira begini. Sudah sering saya memuji taruna yang manuvernya bersih, dan berikutnya mereka biasanya lebih buruk. Sudah sering juga saya membentak taruna yang manuvernya jelek, dan berikutnya mereka biasanya lebih baik. Jadi jangan bilang memuji lebih mempan.

Instruktur itu tidak berbohong. Yang ia lihat memang terjadi. Cuma sebabnya bukan yang ia kira.

Manuver yang luar biasa bagus itu di atas kemampuan rata-rata orangnya, jadi berikutnya hampir pasti turun mendekati rata-rata, dipuji atau tidak. Manuver yang luar biasa jelek ada di bawah rata-ratanya, jadi berikutnya hampir pasti naik, dibentak atau tidak.

Jadi orang yang memuji akan merasa pujiannya merusak, dan orang yang membentak akan merasa bentakannya menolong. Dua-duanya salah, dan dua-duanya punya pengalaman bertahun-tahun sebagai buktinya.

Coba pikirkan berapa banyak atasan yang yakin sekali marah itu yang bikin anak buahnya bergerak. Mereka bukan mengarang. Mereka melihatnya sendiri, berkali-kali, selama bertahun-tahun. Pengalaman yang panjang ternyata tidak menolong kalau yang dibaca cuma urutan kejadiannya.

Yang paling kepakai justru bukan daftar biasnya

Bias sudah telanjur populer, sudah jadi bahan pamer di media sosial. Yang justru tinggal di kepala satu singkatan: WYSIATI, dari What You See Is All There Is. Apa yang kelihatan itulah seluruhnya.

Otak tidak menunggu keterangan lengkap sebelum menyimpulkan. Ia langsung menyusun cerita yang rapi dari bahan seadanya, lalu percaya pada ceritanya sendiri. Anehnya, makin sedikit yang kita tahu, makin gampang kita merasa yakin. Tidak ada apa pun yang membantah, jadi ceritanya mulus.

Ini menerangkan kenapa satu tangkapan layar tanpa konteks bisa membakar grup WhatsApp keluarga dalam sepuluh menit, dan semua yang di dalamnya merasa sudah paham duduk perkaranya. Kenapa yang paling keras suaranya di kolom komentar biasanya yang paling sedikit bacanya.

Kita tidak merasa sedang tidak tahu. Yang terasa cuma cerita yang sudah rapi.

Bukan lapar, tapi rapat beruntun

Temuan paling terkenal dari buku ini soal delapan hakim pembebasan bersyarat di Israel. Mereka memeriksa permohonan sepanjang hari, rata-rata enam menit satu perkara, dan kemungkinan dikabulkan naik turun mengikuti jadwal makan.

Buat saya bingkainya meleset. Yang menguras bukan perut kosong. Yang menguras berapa banyak keputusan yang sudah diambil sebelumnya di hari yang sama.

Keputusan kelima belas hari itu tidak diambil oleh orang yang sama dengan yang mengambil keputusan pertama, meski namanya sama dan mejanya sama. Yang membedakan bukan lapar. Yang membedakan sudah berapa kali ia dipaksa memilih.

Bedanya penting, karena obatnya lain. Kalau soalnya lapar, jawabannya makan. Kalau soalnya jumlah, jawabannya menyusun ulang jadwal, dan itu jauh lebih susah karena jadwal sering bukan milik orang yang menjalaninya.

Bagian yang longsor sesudah bukunya dicetak

Cerita hakim tadi juga dibantah, dan bantahannya mengenai kalimat yang Kahneman tulis sendiri. Di bukunya tertulis perkaranya disodorkan dalam urutan acak. Menurut yang membantah, urutannya justru tidak acak: perkara yang pengacaranya hadir cenderung dijadwalkan lebih awal di tiap sesi.

Yang lebih besar menyangkut satu bab utuh, bab tentang priming, soal bagaimana kata atau gambar yang lewat sekilas katanya bisa mengubah kelakuan orang beberapa menit kemudian.

Sebagian besar percobaannya gagal diulang peneliti lain. Orang ternyata tidak berjalan lebih pelan sesudah menyusun kalimat berisi kata-kata tentang usia tua. Mencuci tangan tidak membuat penilaian moral jadi lebih lunak. Diminta mengingat Sepuluh Perintah tidak membuat orang lebih jujur. Dilihatkan gambar uang tidak membuat orang lebih pelit.

Pada 2017 Kahneman menulis terbuka bahwa ia terlalu percaya pada penelitian yang pesertanya terlalu sedikit, dan bahwa ia menutup mata sendiri terhadap hasil yang sebetulnya terlalu bagus untuk masuk akal.

Dan di sini bagian yang paling enak dari seluruh perkara ini. Makalah pertama Kahneman bersama Tversky justru tentang kekeliruan mempercayai penelitian bersampel kecil. Ia yang menamai kesalahan itu. Lalu ia melakukannya sendiri, di bukunya sendiri, dan ia juga yang mengumumkannya.

Saya tidak membacanya sebagai buku yang jatuh. Hampir tidak ada penulis sebesar dia yang mau menarik satu bab bukunya sendiri. Buku yang bisa dikoreksi, termasuk oleh penulisnya, jauh lebih bisa dipegang daripada buku yang memang tidak pernah bisa diuji.

Yang tidak ikut longsor justru bagian intinya. Pembagian dua cara kerja, efek jangkar, dan rugi yang terasa dua kali lebih berat, semuanya sudah diuji berkali-kali dan bertahan.

Diri yang mengingat dan diri yang mengalami

Kita tidak hidup untuk merasakan momennya. Kita hidup untuk menumpuk kenangan yang nanti bisa diceritakan, ke orang lain atau ke diri sendiri.

Lihat tempat wisata mana pun sekarang. Antre setengah jam di titik yang sudah dipasangi papan bertuliskan spot foto, ambil dua puluh jepretan, pilih satu, unggah, lalu pergi tanpa benar-benar melihat pemandangannya.

Dan yang ditabung itu pun tidak utuh. Yang tersimpan cuma bagian puncaknya dan bagian akhirnya, bukan sepanjang jalannya.

Keputusan terakhirnya

Kahneman meninggal 27 Maret 2024 pada umur sembilan puluh. Setahun kemudian baru diketahui umum bagaimana: ia pergi ke Swiss dan mengakhiri hidupnya sendiri, di negeri yang mengizinkannya, waktu kesehatannya masih tergolong baik.

Sehari sebelumnya ia mengirim surat kepada kawan-kawannya. Seorang wartawan yang berkawan dengannya hampir tiga puluh tahun menulis bahwa yang ia hindari kemunduran yang panjang, dan yang ia inginkan memiliki kematiannya sendiri. Keluarga dan kawan-kawannya menegaskan sesudahnya bahwa itu pilihan pribadinya, dan ia tidak sedang menganjurkan siapa pun mengikutinya.

Bagian di atas tadi jadi susah dibaca dengan tenang sesudah tahu itu.

Dalilnya: kita tidak hidup untuk merasakan tiap saatnya, kita hidup untuk menumpuk kenangan, dan yang tersimpan dari sebuah pengalaman cuma puncaknya dan ujungnya. Ujungnya menentukan bagaimana seluruhnya diingat.

Orang yang menemukan itu, waktu tiba gilirannya sendiri, memilih menentukan ujungnya.

Saya tidak punya pendapat soal pilihannya, dan saya tidak merasa berhak punya. Yang tidak mau pergi dari kepala saya cuma satu: ia menghabiskan hidupnya menunjukkan bahwa manusia payah sekali dalam mengambil keputusan besar, termasuk dirinya sendiri, dan keputusan terakhirnya justru yang paling rapi mengikuti temuannya sendiri.

Kahneman mengaku di bagian akhir bukunya bahwa mengetahui semua ini tidak membuat keputusannya sendiri jadi lebih baik.

Jadi yang tersisa bukan cara berpikir yang lebih lurus, tapi satu kecurigaan yang menetap. Kalau sebagian besar hidup dijalankan otopilot, dan pilotnya malas, dan pilot yang melek pun masih bisa salah baca:

siapa sebenarnya yang menerbangkan pesawat ini?

Rasa tidak tenang waktu menanyakannya mungkin satu-satunya tanda pilotnya masih bangun.

Infografis

Infografis Thinking Fast and Slow bahasa Indonesia Buka ukuran penuh

Baca berikutnya