Buku dengan judul paling sinis di rak ini ternyata yang paling percaya pada tolong-menolong.

Sebelum buku ini, kelakuan hewan diterangkan orang dengan satu kalimat: demi kelangsungan jenisnya. Burung yang berteriak memperingatkan kawanan, lebah yang mati waktu menyengat, semuanya dianggap pengorbanan untuk kebaikan bersama.

Dawkins bilang itu keliru, dan menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih dingin.

"We are survival machines — robot vehicles blindly programmed to preserve the selfish molecules known as genes."

Kita mesin bertahan hidup, kendaraan robot yang diprogram secara buta untuk menjaga molekul egois yang disebut gen.

Alasannya sederhana. Badan mati, gen tidak. Salinannya jalan terus. Jadi dalam rentang waktu yang panjang, yang bertahan bukan jenis yang paling mulia, bukan pula individu yang paling kuat, tapi gen yang paling pandai membuat salinan dirinya sendiri.

Gennya egois, hewannya justru bisa murah hati

Ini bagian yang hampir selalu terlewat orang, dan justru ini isi bukunya.

Kata "egois" cuma menerangkan kelakuan gennya, bukan kelakuan makhluknya. Dan gen yang berkelakuan begitu sering menghasilkan makhluk yang berkorban.

Ibu yang mempertaruhkan nyawa untuk anaknya, dari sudut pandang gen, bukan sedang berkorban. Tiap anak membawa separuh gennya. Gen yang membangun ibu yang melindungi anak akan lebih banyak salinannya daripada gen yang tidak. Logika yang sama menerangkan kenapa kita menolong adik, sepupu, dan kerabat, dan kenapa makin dekat hubungan darahnya makin kuat tarikannya.

Namanya seleksi kerabat, dan akibatnya berlawanan dengan yang disangka orang. Buku ini bukan senjata buat yang sinis. Buku ini justru bantahannya. Tolong-menolong ternyata punya dasar yang keras, bukan cuma nasihat moral yang ditempelkan belakangan.

Orang yang mengutip judulnya untuk membenarkan keserakahan salah baca sejak halaman pertama.

Tarikan yang umurnya jutaan tahun

Di catatan The WEIRDest People in the World saya menulis bahwa ikatan kerabat di sini melindungi dan membebani lewat orang yang sama, dan tidak bisa dipisah.

Buku ini menyodorkan mesinnya, dan mesinnya tua sekali.

Itu mengubah sesuatu buat saya. Kalau tarikan ke kerabat memang berumur jutaan tahun, melawannya habis-habisan itu pekerjaan sia-sia. Yang masuk akal mengakuinya dulu, lalu mengaturnya.

Bedanya besar dalam praktik. Orang yang menyangkal punya kecenderungan itu akan tetap menuruti kecenderungannya, cuma sambil merasa objektif. Orang yang mengakuinya bisa memasang pagar: aturan yang berlaku juga ke keponakan sendiri, keputusan yang dibuat waktu yang bersangkutan tidak ada di ruangan.

Mengakui itu bukan menyerah. Menyangkal yang justru menyerah tanpa sadar.

Dan bagaimana dengan orang yang sama sekali asing

Bukunya juga menerangkan kerja sama di luar kerabat, lewat hitungan balas-membalas. Menolong sekarang karena kemungkinan besar akan ditolong nanti. Itu jalan selama pertemuannya berulang dan yang curang bisa diingat.

Pertanyaannya, cukupkah itu menerangkan orang yang menyerahkan uang ke orang yang belum pernah ia temui.

Menurut saya cukup, cuma bentuknya yang berubah. Mesinnya tetap balas-membalas. Yang berganti perantaranya: dulu ingatan orang sekampung, sekarang lembaga, nama baik, catatan transaksi, dan riwayat yang bisa dilihat siapa saja. Kita tidak berhenti menghitung. Kita cuma menyewa orang lain untuk mengingat hitungannya.

Bahan lengkapnya justru ada di buku lain di rak ini, The Evolution of Cooperation, yang menguji hitungan itu sampai ke angkanya.

Bab terakhir, dan kenapa justru itu yang paling kepakai

Bab penutupnya memperkenalkan satu kata yang sekarang dipakai semua orang dengan arti yang lain sama sekali: meme.

Maksud Dawkins bukan gambar kucing pakai topi. Meme itu satuan terkecil yang disalin dalam budaya. Gagasan, lagu, kebiasaan, cara berpikir, yang berpindah dari kepala ke kepala lewat tiru-meniru, persis seperti gen berpindah lewat keturunan.

Dan mereka bersaing, karena tempatnya terbatas. Supaya sebuah gagasan menang, perlu tiga hal: cepat menyebar, sanggup diteruskan tanpa berubah bentuk, dan berumur panjang.

Perhatikan tidak ada "benar" di daftar itu.

Itu sebabnya jingle iklan obat masuk angin yang tayang waktu kita SD masih hafal sampai sekarang, sementara materi ujian minggu lalu sudah lupa. Dan itu sebabnya kabar bohong di grup keluarga menyebar jauh lebih cepat daripada bantahannya. Bukan karena orangnya bodoh, tapi karena kabar bohong itu memang berbentuk gampang diteruskan: pendek, mengagetkan, dan cocok dengan yang sudah dipercaya duluan. Bantahannya panjang, membosankan, dan menyakitkan.

Sekarang bagian yang tidak enak. Lima puluh tahun sesudah katanya dicetuskan, memetika tidak pernah tumbuh jadi ilmu. Tidak ada cara mengukur satu meme, tidak ada cara memisahkan satu meme dari meme sebelahnya, dan tidak ada ramalan yang bisa ditarik lalu dicek. Jurnal khususnya sempat terbit pada 1990-an lalu tutup. Dan dalilnya berputar: meme yang kuat dikenali dari menyebarnya, dan menyebarnya diterangkan oleh kekuatannya.

Soal ini sudah disinggung juga di Breaking the Spell, yang bertumpu berat pada gagasan ini dan ikut menanggung kelemahannya.

Tapi begini. Sebagai ilmu, memetika memang tidak jadi. Sebagai kacamata untuk memahami kenapa satu kabar bohong bisa mengalahkan sepuluh bantahan, sampai sekarang saya belum ketemu yang lebih pas.

Dua hal itu bisa benar bersamaan, dan tidak perlu salah satunya dibuang.

Memberontak, dan ongkosnya

Dawkins menutup begini: kita dibangun sebagai mesin gen dan dibesarkan sebagai mesin meme, tapi kita punya kuasa untuk berbalik melawan pembuat kita. Kita, satu-satunya di bumi, bisa memberontak terhadap tirani penyalin yang egois.

Di catatan belakang bukunya ia mencatat sendiri bahwa nada optimis penutup itu menuai keraguan dari para pengkritiknya.

Buat saya justru kalimat itu yang paling penting di seluruh bukunya. Tanpa kalimat itu, tiga ratus halaman sebelumnya berubah jadi alasan untuk menyerah: kita cuma kendaraan, jadi buat apa berusaha. Dengan kalimat itu, seluruh isinya berubah fungsi jadi keterangan tentang apa yang harus dilawan.

Bedanya bukan soal optimis atau pesimis. Bedanya soal buku itu jadi keterangan atau jadi pembelaan diri.

Perlu ditambahkan satu hal yang tidak ia tulis. Memberontak itu tidak sekali jadi dan tidak gratis. Yang berhenti berusaha otomatis kembali dikendalikan, dan tidak akan merasa sedang dikendalikan.

Penulisnya jadi contoh untuk babnya sendiri

April 2024 Dawkins bilang di radio bahwa ia seorang Kristen kebudayaan. Ia menegaskan tetap tidak percaya, dan menerangkan apa yang ia sukai: nyanyian gerejanya, lagu Natal, dan rasa berada di rumah di dalam kebiasaan itu. Alasannya yang berikutnya lebih terbuka lagi. Ia ingin tinggal di negeri yang kebudayaannya Kristen karena menurutnya di situ perempuan diperlakukan lebih baik dan orang tidak diusik karena orientasinya.

Yang tidak enak buat pendukungnya, kalimat itu justru contoh yang bersih untuk bab bukunya sendiri.

Bab terakhir buku ini memperkenalkan kata yang belakangan dipakai di mana-mana: satuan kebudayaan yang menyalin dirinya dari kepala ke kepala. Yang menentukan sebuah satuan bertahan bukan benar tidaknya, tapi seberapa enak ia disalin dan seberapa kuat perangkat yang menyalinnya. Nyanyian yang menempel, hari raya yang berulang tiap tahun, kebiasaan yang tidak perlu dipikirkan lagi.

Dawkins pada 2024 sedang menerangkan kenapa satuan-satuan itu masih menempel di dirinya lima puluh tahun sesudah ia berhenti percaya, dan memuji akibat-akibatnya. Umurnya delapan puluh lima sekarang, dan rangkaian ceramahnya yang terakhir memang diberi nama pamitan.

Saya tidak sedang bilang ia ketahuan. Yang jadi enak dibaca justru urutannya: orang yang memberi nama gejala itu memakai namanya sendiri untuk menerangkan dirinya, dan tidak ada yang perlu dibantah di situ.

Yang belum terjawab bagian keduanya. Kalau sebuah kebiasaan bertahan karena enak disalin, dari mana datangnya penilaian bahwa akibatnya baik. Bukunya menolak menjawab itu, dan penulisnya di radio sedang menjawabnya.

Cetakan yang umurnya lebih panjang daripada isinya

Syarat ketiga di daftar Dawkins tadi, umur panjang, bisa dilihat tanpa alat ukur apa pun. Kabar bohong satu per satu umurnya pendek, dan yang panjang umurnya cetakannya. Kabar tentang beras plastik, tentang penculik anak, tentang tetangga yang dituduh anggota organisasi terlarang: isinya berganti tiap beberapa tahun, kerangkanya tetap.

Bahannya juga tidak pernah kurang. Masyarakat Antifitnah Indonesia menghitung 1.593 kabar bohong yang beredar di sini antara 21 Oktober 2024 dan 17 Oktober 2025, dan hampir separuhnya, 773, bertema politik.

Dan soal judulnya.

Kata selfish di sampul itu yang bikin berjuta orang menyimpulkan manusia pada dasarnya egois, padahal seluruh isinya justru menerangkan kenapa makhluk bergen egois bisa saling menolong. Dawkins belakangan mengakui judulnya keliru pilih. Mestinya The Immortal Gene, gen yang abadi. Bukan tentang watak, tapi tentang umur.

Satu kata di sampul, dan setengah abad salah paham.

Yang paling ganjil justru ini. Di rak ini ada Machiavelli, ada Greene, ada kitab-kitab yang seluruh isinya soal cara kuasa benar-benar bekerja, dan saya membacanya dengan dingin. Lalu datang buku yang judulnya paling terdengar sinis di antara semuanya, dan isinya ternyata yang paling percaya pada tolong-menolong.

The Prince mengajari cara bertahan di antara orang yang tidak baik. Buku ini menerangkan kenapa orang yang baik tetap ada, dan kenapa mereka tidak punah.

Infografis

Infografis The Selfish Gene bahasa Indonesia Buka ukuran penuh

Baca berikutnya