Judulnya tidak berpura-pura. Buku panduan untuk diktator, lengkap dengan lima aturan yang diberi nomor. Saya membacanya persis seperti membaca The Prince: sebagai panduan, terang-terangan, cuma dari kursi yang lain. Bukan kursi orang yang mau berkuasa, tapi kursi orang yang tiap lima tahun disuruh memilih, lalu heran kenapa hasilnya begitu-begitu saja.
Dalilnya satu kalimat. Pemimpin berbuat apa yang dibutuhkan untuk bertahan di kursinya, dan yang dibutuhkan itu ditentukan oleh berapa orang yang harus dia jaga, bukan oleh baik buruk hatinya.
"And yet it's vital that we remember that this is a story about politics, not personality."
Dan penting sekali untuk diingat bahwa ini cerita tentang politik, bukan tentang watak orangnya.
Kalimat itu ada di halaman 15, sebelum satu pun diktator disebut, dan tokoh pembukanya seorang manajer kota kecil di pinggiran Los Angeles.
Empat ratus tujuh puluh tiga suara
Bell, California, penduduknya sekitar 36.600 orang, seperempatnya hidup di bawah garis miskin. Robert Rizzo diangkat jadi manajer kota pada 1993 dengan gaji 72.000 dolar setahun. Tujuh belas tahun kemudian gajinya 787.000 dolar, dan empat dari lima anggota dewan kotanya menerima hampir 100.000 dolar setahun untuk jabatan yang di kota sebanding dibayar 4.800 dolar.
Tidak ada koper uang. Yang ada pemilihan khusus pada 2005 yang melepaskan Bell dari batas gaji negara bagian, disahkan oleh 354 pemilih. Sesudah itu tinggal hitungannya. Pada 2009, dari 9.395 orang yang terdaftar, 2.235 datang memilih, dan satu kursi dewan cukup diamankan dengan 473 suara.
Tiga angka itu tiga lingkaran yang menopang seluruh bukunya, dan namanya gampang diingat: yang bisa diganti, yang berpengaruh, dan yang tidak bisa ditinggalkan.
Buku ini satu keluarga dengan Why Nations Fail: sama-sama menaruh sebab di aturan main, bukan di watak bangsa. Bedanya, lembaga yang menyedot susah ditakar, sedangkan 473 bisa dihitung, dan yang bisa dihitung bisa dibantah.
Yang tersisa dari bab ini satu kebiasaan menghitung. Kalau mau tahu seorang bupati sebenarnya melayani siapa, jangan hitung pemilihnya. Hitung orang yang kalau besok berhenti mendukung, dia tidak bisa maju lagi. Ketua partai di daerah, dua tiga penyandang dana, kontraktor yang selalu menang, satu dua tokoh yang bisa mengerahkan massa, dan tidak jarang beberapa di antaranya keluarga bupatinya sendiri, gejala yang sudah punya catatannya di The Origins of Political Order. Angkanya jarang lewat dua puluh, dan dua puluh orang jauh lebih murah dijaga daripada dua ratus ribu.
Lima aturan, dan yang kedua pernah kita jalani tiga puluh tahun
Lima aturannya ditaruh di halaman 47 dan 48, berurutan seperti resep. Jaga lingkaran pendukung sekecil mungkin. Jaga jumlah yang berhak memilih sebesar mungkin. Kuasai aliran uang. Bayar pendukung utama secukupnya supaya tetap setia, jangan lebih. Dan jangan ambil uang dari kantong pendukungmu untuk memperbaiki hidup rakyat.
Aturan kedua bunyinya berlawanan dengan yang kita kira. Kenapa penguasa yang cuma butuh segelintir orang justru repot-repot menyelenggarakan pemilu yang boleh diikuti semua orang?
"Bravo to Vladimir Ilyich Lenin for introducing universal adult suffrage in Russia's old rigged election system. Lenin mastered the art of creating a vast supply of interchangeables."
Salut untuk Lenin yang memasukkan hak pilih semua orang dewasa ke sistem pemilu Rusia yang hasilnya sudah diatur. Lenin menguasai seni menciptakan persediaan besar orang yang bisa diganti.
Makin banyak yang bisa diganti, makin murah kesetiaan yang harus dibeli. Tiap orang di lingkaran dalam tahu ada ribuan yang antre menggantikannya, jadi dia tidak berani menawar.
Kita pernah menjalankan resep ini lebih dari tiga puluh tahun. Tiap lima tahun hampir semua orang dewasa datang ke bilik suara, lalu yang menentukan siapa presiden sebuah sidang yang hasilnya sudah diketahui sebelum dibuka. Negara yang bentuknya lengkap sampai desa tapi yang benar-benar menentukan cuma segelintir, yang di catatan The Narrow Corridor disebut negara kertas, di buku ini cuma aturan nomor dua yang dijalankan dengan rapi.
Caesar, Castellano, dan kantong siapa yang boleh diambil
Dua tokoh disandingkan di halaman 187, dan pasangannya sengaja dibikin ganjil: Julius Caesar dan Paul Castellano, bos keluarga Gambino di New York. Caesar memindahkan beban dari rakyat ke para pemungut pajak dan pemberi utang, orang-orang yang hidup dari susunan lama. Castellano menggeser urusan keluarganya dari jalanan yang menghidupi anak buahnya. Dua-duanya dihabisi orang dalam.
"It is fine for leaders to enrich the people's lives, but it has to come out of the leader's pocket, not the coalition's."
Boleh saja pemimpin memperbaiki hidup rakyat, asal uangnya keluar dari kantong pemimpinnya sendiri, bukan dari kantong koalisinya.
Machiavelli sudah menulis dua aturan yang serupa lima ratus tahun lebih dulu. Buku ini mengutip Discourses on Livy di halaman 23: siapa yang mau berkuasa harus mengangkat segelintir orang paling berambisi jadi bangsawan sungguhan, dengan benteng, harta, dan rakyat. Dari The Prince ada yang lebih pendek: di atas segalanya jangan sentuh milik orang. Buku ini mempersempitnya, dan persempitannya yang pahit. Milik rakyat boleh disentuh. Yang tidak boleh disentuh milik lingkaran dalam.
Pola yang sama kelihatan tiap kali ada kepala daerah yang dipuji media karena membereskan tender dan memangkas setoran. Yang menjatuhkannya hampir tidak pernah pemilih, tapi partainya sendiri, di musim pencalonan berikutnya, dengan alasan yang bunyinya selalu soal elektabilitas.
Uang yang tidak perlu diminta dari rakyat
Bab pajak dan bab bantuan luar negeri sebenarnya satu bab, dan intinya di halaman 142. Bahkan penguasa yang paling kikir terpaksa menyediakan jalan, sekolah, dan pengobatan secukupnya, sebab rakyat yang sakit dan tidak bersekolah tidak menghasilkan pajak. Kecuali kalau uangnya tidak perlu dari rakyat. Kecuali ada minyak, atau ada donor.
Nigeria contohnya, dengan angka. Dari 1970 sampai 2000 negeri itu menerima 350 miliar dolar dari minyak. Pendapatan per orang turun dari 1.113 dolar jadi 1.084 dolar, dan yang hidup di bawah satu dolar sehari naik dari 36 persen jadi hampir 70 persen. Sumbernya disebut, Bank Dunia dan kertas kerja NBER.
Bantuan luar negeri dibaca dengan kacamata yang sama.
"Aid is decidedly not given primarily to alleviate poverty or misery; it is given to make the constituents in donor states better off."
Bantuan jelas tidak diberikan terutama untuk mengurangi kemiskinan atau penderitaan. Bantuan diberikan supaya pemilih di negara pemberi lebih untung.
Sersan Doe di Liberia menerima 500 juta dolar dari Amerika dalam sepuluh tahun, dan Amerika mendapat pangkalan militer. Penguasa yang cuma menjaga segelintir orang justru penerima yang paling enak: murah dibeli, dan tidak perlu izin siapa pun untuk berubah haluan.
Suharto ada di daftarnya, dan selisih yang tidak ditarik bukunya
Halaman 190 menyusun daftar juara kleptokrat: Suharto, Mobutu, Marcos, Bashir. Untuk Suharto yang dikutip taksiran Transparency International, sampai 35 miliar dolar, dan bukunya sendiri memakai kata alleged.
Dua kalimat sesudahnya lebih layak dibaca.
"Mobutu stole billions and lived the high life, whereas Suharto lived more modestly considering his alleged means."
Mobutu mencuri miliaran dan hidup mewah, sedangkan Suharto hidup lebih sederhana dibanding harta yang dituduhkan padanya.
Lalu di halaman berikutnya, Suharto disebut berhasil mengendalikan pertumbuhan penduduk, hal yang gagal dilakukan Marcos.
Menurut model bukunya sendiri, dua orang itu mestinya berbuat sama: koalisinya sama kecil, sama-sama punya uang yang tidak perlu diminta dari rakyat, dan dekade minyak 1970-an mestinya membuat sekolah dan puskesmas jadi tidak perlu. Yang terjadi kebalikannya. SD Inpres di hampir tiap desa, puskesmas sampai kecamatan, program KB yang sampai sekarang jadi bahan kuliah. Mobutu, dengan kartu yang sama, membangun vila di Swiss dan lapangan terbang untuk dirinya sendiri.
Di sini saya berhenti mengikuti bukunya sepenuhnya. Aturan main menerangkan lantainya: dua-duanya menjaga segelintir orang, bertahan tiga puluh tahun, tidak pernah diadili. Di atas lantai yang sama masih ada selisih, dan selisih itu justru yang dirasakan orang yang sekolahnya berdiri dekat rumah. Aturan tidak mengharuskan selisih itu ada. Orangnya yang memilih. Buku ini menyediakan bahannya sendiri, lalu tidak menjadikannya perkara.
Yang bukunya terangkan dengan sangat baik justru ujungnya. Halaman 53 menerangkan jatuhnya Mubarak: bantuan Amerika dipotong, ekonomi macet, koalisinya tidak terbayar, tentara membiarkan orang turun ke jalan. Ganti namanya dengan yang jatuh pada Mei 1998, dan urutannya tidak perlu diubah. Rupiah rontok, uang untuk menjaga lingkaran habis, dan orang yang tiga puluh tahun tidak pernah berdemo mendadak ada di jalan. Waktu itu yang saya rasakan cuma sekolah diliburkan. Urutannya baru kelihatan dari buku ini.
Daftar yang belakangan diumumkan sendiri
Bukunya menyuruh menghitung orang yang tidak bisa ditinggalkan, sambil mengeluh bahwa angka itu selalu disembunyikan. Sejak Oktober 2024 sebagian angkanya justru diumumkan.
Kabinet yang dilantik hari itu isinya empat puluh delapan menteri, lima pejabat setingkat menteri, dan lima puluh enam wakil menteri. Seratus sembilan orang, dan jumlah wakil menterinya terbanyak sepanjang sejarah kabinet di sini. Di DPR, tujuh partai pendukung pemerintah memegang 470 dari 580 kursi. Yang tinggal di luar satu partai, dengan 110 kursi.
Dibaca cepat, itu kelihatan membantah bukunya: lingkaran yang dibayar bukan mengecil, malah membesar. Dibaca pelan, hasilnya kebalikan. Seratus sembilan orang di antara dua ratus juta lebih tetap lingkaran yang kecil sekali. Dan memasukkan hampir seluruh kursi parlemen ke dalam justru cara mengecilkan lingkaran yang benar-benar berbahaya: kalau semua sudah di dalam, tidak ada lagi tempat buat orang yang ingin keluar. Yang bertambah jumlah yang dibayar. Yang berkurang jumlah orang yang membelotnya masih ada artinya.
Rem yang dipasang di atas tadi berlaku juga di sini. Susunan begini tidak perlu ada yang merancang. Cukup tidak ada partai yang sanggup menanggung ongkos berada di luar, dan tidak ada orang yang menawarkan alasan kenapa harus mau.
Jadi angka yang dicari bukunya tetap tidak ada di antara semua angka tadi. Seratus sembilan itu daftar orang yang dibayar. Berapa dari mereka yang kalau besok pergi benar-benar bikin repot, belum pernah dihitung siapa pun.
Yang dipegang dari panduan ini, dan dua yang ditolak
Bukunya menjanjikan sesuatu di halaman 13.
"After all, even if politics is nothing more than a game that leaders play, if only we learn the rules, it becomes a game we can win."
Bagaimanapun, kalau politik cuma permainan yang dimainkan para pemimpin, asal kita mempelajari aturannya, permainan itu jadi bisa kita menangkan.
Saya pegang setengah pertamanya. Sekali aturannya dipelajari, jalan kabupaten yang mendadak mulus enam bulan sebelum coblosan tidak perlu lagi diterangkan lewat watak orangnya. Setengah keduanya tidak ditopang apa-apa. Bab terakhirnya berjudul apa yang harus dilakukan, dan nasihat intinya satu: perbesar jumlah orang yang tidak bisa ditinggalkan penguasa. Bagaimana caranya, kalau yang harus memperbesar justru orang yang paling untung kalau lingkarannya tetap kecil, di situ bukunya tipis.
Dua hal lagi yang tidak ikut.
Pertama, nadanya. Tiap aturan ditutup dengan salut untuk Kim Jong Il, Mugabe, Lenin, seolah semuanya ahli yang menghitung dengan sadar. Saya kira sebagian besar tidak menghitung apa-apa. Mereka cuma yang tersisa: yang melanggar aturannya sudah tidak ada, dan yang bertahan kelihatan seperti ahli sesudah kejadian. Bukunya menerangkan saringannya dengan baik, lalu memuji yang lolos seolah mereka yang merancang saringannya.
Kedua, buku ini versi laris dari teori yang bukunya jauh lebih tebal dan penuh rumus, The Logic of Political Survival. Di versi tebalnya penulisnya sendiri menyebut ukuran besar koalisi yang dipakai menguji teorinya kasar dan masih bayi. Kalimat itu tidak ikut pindah ke versi larisnya. Model yang di sini terdengar seperti hukum alam, di sana masih dugaan yang diuji dengan alat yang penulisnya akui kurang. Yang dihaluskan supaya laris justru bagian itu.
Kembali ke hitungan di awal. Kalau untuk satu kursi di Bell cukup 473 orang, berapa untuk satu kursi di sini?
Angkanya tidak ada yang punya, sebab orang-orang itu tidak pernah muncul di daftar pemilih tetap. Yang saya tahu angkanya jauh lebih kecil daripada yang antre di TPS pagi-pagi membawa surat undangan, dan lebih kecil juga daripada dugaan sebelum membaca buku ini.
Yang belum terjawab, di bukunya maupun sesudahnya, bagaimana memperbesar angka itu tanpa menunggu ada yang berbaik hati memperbesarnya.
Infografis
Buka ukuran penuh
Susunan bukunya: bagiannya apa saja, mana jantungnya, mana yang boleh dilewat.
Bentuknya
Sepuluh bab yang mengikuti riwayat hidup seorang penguasa: cara naik, cara bertahan, cara mengambil uang, cara membelanjakannya, apa yang terjadi waktu uangnya habis, lalu jalan keluarnya. Bukan kumpulan esai; tiap bab memakai alat yang dipasang di bab satu.
Alat itu satu-satunya yang perlu dikuasai, dan sesudah itu seluruh buku bisa dibaca cepat. Tiap penguasa berdiri di atas tiga lapis orang: yang boleh memilih, yang suaranya benar-benar dihitung, dan segelintir yang kalau berhenti mendukung ia jatuh hari itu juga. Yang menentukan bentuk sebuah negara bukan namanya, tapi seberapa kecil lapisan ketiga.
Bab 1: aturannya
Bab yang paling penting, dan satu-satunya yang tidak boleh dilewat. Di situ tiga lapis tadi diperkenalkan, lalu diturunkan lima aturan yang jadi tulang seluruh buku: kelompok yang menentukan dibuat sekecil mungkin, kelompok yang boleh memilih dibuat sebesar mungkin, sumber uang dikuasai sendiri, orang yang menentukan dibayar cukup supaya tidak pindah, dan jangan pernah mengambil jatah mereka untuk diberikan ke rakyat.
Bab 2 dan 3: naik dan bertahan
Bab 2 soal cara merebut kekuasaan, dan di situ ada satu pengamatan yang menerangkan banyak hal: kematian seorang penguasa adalah kesempatan terbaik bagi orang berikutnya, dan karena itu penerus selalu jadi urusan yang berbahaya. Bab 3 soal cara bertahan, termasuk kenapa mengangkat orang paling cakap justru berisiko, dan kenapa orang dalam sengaja dibuat tidak pernah merasa aman.
Bab 4 dan 5: uangnya
Bab 4 soal dari mana uang diambil: pajak, penarikan langsung, dan utang. Bab 5 soal ke mana uang itu pergi, dan memuat pembedaan yang paling terpakai di seluruh buku, yaitu antara barang yang dinikmati semua orang dan barang yang cuma dinikmati segelintir. Penguasa yang lapisan ketiganya kecil akan selalu memilih yang kedua, dan itu hitungan yang masuk akal dari kursinya, bukan kejahatan pribadi.
Bab 6 sampai 10: waktu uangnya habis, dan jalan keluarnya
Bab-bab sesudahnya memakai alat yang sama pada urusan yang lebih besar: apa yang terjadi waktu kas negara kering, kenapa bantuan luar negeri sering justru memperkuat penguasa yang buruk, kenapa perang lebih menarik bagi sebagian pemimpin daripada sebagian yang lain, dan kapan sebuah huru-hara benar-benar bisa menjatuhkan seseorang. Bab terakhir berisi jalan keluar, dan itu bagian yang paling lemah di seluruh buku.
Yang jadi jantungnya
- Bab 1. Kalau harus memilih satu bab saja, ambil yang ini, dan sisanya bisa ditebak sendiri.
- Bab 5, untuk pembedaan barang umum dan barang segelintir. Sekali dikenali, susunan anggaran mana pun bisa dibaca dengan cara baru.
- Bab 3, karena di situ diterangkan kenapa orang cakap sering justru disingkirkan, dan itu berlaku juga di perusahaan dan organisasi, bukan cuma di negara.
Yang boleh dilewat
- Sebagian besar contoh Amerika, terutama soal walikota dan anggaran daerah di sana. Alatnya sama, latarnya tidak menyangkut kita.
- Bab penutup soal cara memperbaiki keadaan. Isinya anjuran, dan bukunya sendiri sudah menerangkan kenapa anjuran itu tidak akan dijalankan siapa pun yang diuntungkan keadaan sekarang.
- Bab soal bantuan luar negeri kalau waktunya sempit; gagasannya sudah selesai di beberapa halaman pertama.
Yang jangan ditelan bulat-bulat
Alatnya menerangkan lantainya dengan sangat baik, dan justru karena itu gampang dipakai berlebihan. Dua penguasa yang sama-sama berdiri di atas lapisan ketiga yang kecil bisa meninggalkan negeri dalam keadaan yang sangat berbeda, dan selisih itu tidak dijelaskan bukunya. Bukan berarti alatnya salah, cuma berarti alat itu tidak menerangkan segalanya, dan penulisnya tidak selalu ingat itu.
Kalau buru-buru
Bab 1, 3, 5. Tiga bab, dan seluruh dalilnya berdiri: yang menentukan nasib penguasa cuma segelintir orang, karena itu ia harus membuat mereka tidak pernah aman, dan uang negaranya akan selalu mengalir ke arah segelintir itu selama jumlah mereka tetap sedikit.