Machiavelli menulis dua buku besar pada periode yang kurang lebih sama, dan yang terkenal cuma satu.
The Prince dikirim kepada keluarga Medici yang baru berkuasa, waktu penulisnya baru dipecat, disiksa, dan dibuang ke desa. Discourses on Livy dipersembahkan kepada Zanobi Buondelmonti dan Cosimo Rucellai, dua kawannya sendiri, orang yang tidak bisa memberinya pekerjaan apa pun.
Kalau harus menebak mana yang lebih dekat ke pendapat Machiavelli sendiri, saya pilih yang tidak sedang dikirim ke calon majikan.
Judul panjangnya Discourses on the First Decade of Titus Livius. Bentuknya ulasan atas sepuluh buku pertama sejarah Romawi karya Livius, 142 bab dalam tiga jilid, dan kesimpulannya berlawanan dengan buku yang membuat namanya terkenal.
Bab yang judulnya terdengar seperti salah ketik
Jilid pertama, bab keempat: perpecahan antara rakyat dan Senat justru membuat republik Roma merdeka dan kuat.
Bukan meskipun ada perpecahan. Justru karena.
Kedengarannya seperti pembelaan atas kekacauan, dan Machiavelli tahu itu. Makanya ia tidak berhenti di judulnya. Ia menaruh rantainya:
"...for good examples result from good education, good education from good laws, and good laws from those tumults which many inconsiderately condemn."
Contoh yang baik lahir dari pendidikan yang baik, pendidikan yang baik dari undang-undang yang baik, dan undang-undang yang baik dari kegaduhan yang dicela banyak orang tanpa dipikir lebih dulu.
Perhatikan arahnya. Kegaduhan bukan tujuan. Kegaduhan bahan baku. Yang menentukan ia jadi sesuatu atau tidak cuma satu hal: apakah ia berakhir jadi aturan.
Di Roma pertengkaran itu melahirkan lembaga Tribun, jabatan yang sengaja dibuat untuk berdiri di tengah antara rakyat dan Senat, dan untuk menahan keangkuhan kaum bangsawan. Wadahnya jadi, dan sesudah itu pertengkaran berikutnya punya tempat mendarat.
Jadi syarat yang wajar kita tuntut, bahwa ribut cuma sehat kalau ada yang menampungnya, tidak perlu ditambahkan dari luar. Syarat itu sudah ada di dalam kalimat Machiavelli sendiri.
Dan itu ukuran yang bisa dipakai. Waktu ada keributan besar, yang perlu ditanya bukan seberapa ributnya, tapi apa yang tersisa sesudahnya. Kalau yang tersisa cuma kelelahan dan daftar korban, itu bukan kegaduhan yang ia maksud. Kalau yang tersisa aturan baru yang juga mengikat pihak yang tadinya diserang, itu yang ia bicarakan.
Ukuran itu bisa dicoba ke kejadian yang belum lama.
Akhir Agustus 2025 orang turun ke jalan memprotes tunjangan anggota DPR. Sesudah seorang pengemudi ojek daring tewas terlindas kendaraan taktis polisi pada 28 Agustus, protesnya membesar ke puluhan kota dan sebagiannya berubah jadi kerusuhan. Komnas HAM mencatat sedikitnya sepuluh orang meninggal.
Ada yang tersisa. Dalam hitungan hari DPR menghentikan tunjangan perumahan anggotanya, memangkas beberapa tunjangan lain, dan menunda kunjungan kerja ke luar negeri. Itu mendekati syarat bab empat, tapi belum sampai: yang memutuskan dan yang bisa mencabutnya lagi pihak yang sama.
Untuk tuntutan yang menyangkut kepolisian, yang lahir sebuah komisi bentukan pemerintah yang melapor kepada presiden. Bandingkan bentuknya dengan yang lahir di Roma. Tribun itu jabatan tetap yang berdiri di antara rakyat dan Senat, dan orang yang punya keperluan bisa mendatanginya langsung. Komisi melapor ke atas; tribun dipanggil dari bawah.
Untuk kematian pengemudi itu, yang keluar sidang etik. Komandan di kendaraan yang melindasnya diberhentikan tidak dengan hormat pada 3 September 2025, sopirnya didemosi tujuh tahun, dan keduanya mengajukan banding. Itu sanksi atas orang per orang, bukan aturan yang mengikat cara menghadapi orang banyak di jalan.
Jadi semuanya berhenti di tengah: keputusan yang bisa dicabut pembuatnya, komisi yang melapor ke atas, dan sanksi untuk orang per orang. Bab empat cuma menyediakan dua kemungkinan, jadi aturan atau tidak jadi apa-apa, dan yang terjadi tidak masuk ke keduanya.
Bab yang kelihatannya membela orang banyak
Jilid pertama, bab lima puluh delapan. Judulnya: orang banyak lebih bijak dan lebih teguh daripada seorang penguasa tunggal.
Dibaca sepintas ini seperti pujian buat suara rakyat, dan saya tidak mau ikut menandatanganinya. Orang banyak gampang digiring, dan sekarang jauh lebih gampang digiring daripada di zaman Machiavelli.
Tapi bukan itu yang ia tulis.
Ia membuka babnya dengan menyebut pendapat lawannya lebih dulu: tidak ada yang lebih goyah dan lebih tidak tetap daripada orang banyak, kata Livius dan semua sejarawan lain. Ia bahkan mengaku sedang membela perkara yang berat dan penuh kesulitan.
Lalu argumennya datang, dan sasarannya bukan yang kita kira:
"...anyone who is not controlled by the laws, will make the same errors as a loose multitude."
Siapa pun yang tidak dikendalikan undang-undang akan berbuat salah persis seperti gerombolan yang lepas.
Itu bukan perbandingan antara rakyat dan raja. Itu perbandingan antara yang terikat dan yang tidak. Penguasa tunggal punya cacat yang sama persis dengan yang ditimpakan para penulis kepada orang banyak, dan bedanya cuma satu: penguasa tunggal jauh lebih gampang lepas dari ikatannya.
Machiavelli bahkan menyodorkan uji yang adil. Jangan bandingkan raja yang terikat hukum dengan gerombolan yang lepas. Bandingkan rakyat yang terikat hukum dengan raja yang terikat hukum, dan kebaikan yang sama akan kelihatan di kedua-duanya.
Jadi judul babnya menyesatkan. Bukunya tidak sedang memuji orang banyak. Bukunya sedang bilang bahwa pertanyaan siapa yang memerintah jauh kurang penting daripada pertanyaan apakah yang memerintah bisa dikenai aturan.
Dividen yang pindah ruangan
Kalimat bab lima puluh delapan itu enak sekali dipakai menilai orang, dan karena itu gampang meleset. Ikatan yang dimaksud Machiavelli bukan watak dan bukan janji. Sepanjang sejarah, ikatan yang paling konkret selalu berupa satu hal: keharusan meminta lebih dulu sebelum membelanjakan.
Parlemen di banyak negeri lahir dari situ, bukan dari cita-cita. Raja butuh uang, uangnya ada di tangan orang lain, dan orang lain itu mau memberi asal boleh ikut bertanya. Hak bertanya itu yang pelan-pelan mengeras jadi lembaga.
Di sini ada satu perpindahan yang lewat tanpa terlalu diributkan. Sejak Maret 2025, dividen badan usaha milik negara tidak lagi dicatat sebagai penerimaan negara bukan pajak dan tidak lagi disetorkan ke kas negara. Pengelolaannya pindah ke Danantara, badan yang dibentuk beberapa minggu sebelumnya.
Perpindahan itu tidak mengubah jumlah uangnya. Yang berubah daftar orang yang harus dimintai izin sebelum uang itu dipakai. Uang yang masuk anggaran negara harus melewati pembahasan, mata anggarannya dibuka satu per satu, dan ada orang yang boleh bertanya kenapa pos ini besar dan pos itu kecil. Uang yang tidak masuk ke sana tidak melewati ruangan itu.
Tidak ada yang perlu berniat begitu supaya susunannya jadi begitu. Cukup satu keputusan yang masuk akal dari sisi kecepatan, dan kecepatan memang alasan yang paling susah dibantah di ruangan mana pun.
Sepanjang 2026 arahnya berbalik sebagian. Sebagian dividennya direncanakan kembali masuk anggaran negara. Dari arah sebaliknya, Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2026 yang diteken 8 April membuka jalan bagi anggaran negara masuk ke holding investasi di bawah badan itu sebagai penyertaan modal, untuk penugasan layanan publik.
Uangnya bisa bolak-balik. Pertanyaan bab lima puluh delapan tetap sama: waktu sebuah keputusan diambil, siapa yang berhak menahannya.
Satu bab yang berani, dan masih berani sampai sekarang
Machiavelli menyalahkan Gereja Roma atas terpecahnya Italia. Bukan karena ajarannya, tapi karena kedudukannya: cukup kuat untuk mencegah siapa pun menyatukan semenanjung itu, tidak cukup kuat untuk menyatukannya sendiri. Akibatnya Italia terpecah dan lemah, lalu jadi rebutan siapa saja yang mau menyerbunya.
Penutupnya tidak memberi ruang. Itu yang kami orang Italia hutangkan kepada Gereja Roma, katanya, dan tidak kepada siapa pun yang lain.
Ditulis orang yang hidup di dalam negeri Katolik, pada abad keenam belas. Ini salah satu sebab kenapa buku ini tidak pernah setenar buku satunya.
Yang berat dari membacanya
Bentuknya sama sepanjang 142 bab: satu peristiwa dari Livius, lalu satu pelajaran yang ditarik darinya. Kalau pelajarannya kuat, itu enak sekali diikuti. Kalau tidak, dan lumayan sering tidak, peristiwanya terasa dipaksa menanggung kesimpulan yang tidak lahir dari situ.
Roma-nya juga terlalu rapi. Machiavelli memilih dari Livius apa yang cocok dengan dalilnya, dan republik yang ia gambarkan jauh lebih tertib daripada yang benar-benar pernah ada.
Ini juga bukan buku yang bisa dibaca lompat-lompat. Bab-babnya saling menumpuk, dan yang paling menentukan sering ada di tempat yang tidak menonjol.
Bab tujuh dan delapan, dan lembaga kita yang mengurus perkara itu
Dua bab berurutan di jilid satu mengurus satu perkara yang jarang ikut dikutip orang. Bab tujuh soal kenapa sebuah republik wajib punya saluran resmi untuk menuduh orang berkuasa. Bab delapan soal apa yang terjadi kalau saluran itu tidak ada: tuduhannya tidak hilang, ia cuma berpindah jadi desas-desus, dan desas-desus merusak tanpa membetulkan apa pun.
Di bab tujuh ada satu kalimat yang menyebut syaratnya, dan syaratnya soal jumlah.
"the accusing of a powerful one before eight judges in a Republic is not enough; it is necessary that the judges be many because the few always judge in favor of the few."
Menuduh orang yang berkuasa di depan delapan hakim di sebuah republik itu tidak cukup; hakimnya harus banyak, sebab yang sedikit selalu memutus demi kepentingan yang sedikit (hal 16).
Kita punya lembaga yang dibuat persis untuk pekerjaan bab tujuh, dan riwayatnya bisa dibaca dengan ukuran bab itu.
Undang-undangnya direvisi pada 2019, dan salah satu yang dipasang sebuah dewan pengawas yang izinnya diperlukan sebelum penyadapan. Mahkamah Konstitusi mencabut bagian izin itu pada Mei 2021; sekarang penyadapannya cukup diberitahukan paling lambat empat belas hari sesudahnya. Jadi keberatan yang paling keras waktu itu sudah dijawab.
Yang tidak ikut kembali skornya. Indeks persepsi korupsi kita mencapai angka tertingginya, empat puluh, pada 2019, lalu turun ke tiga puluh empat pada 2022 dan 2023. Laporan 2025 menyebut penyempitan kebebasan sipil dan akses pada keadilan sebagai bagian yang menekan angka itu.
Machiavelli akan menaruhnya di bab delapan. Kalau saluran resminya melemah, yang bertambah bukan ketenangan. Yang bertambah tuduhan yang beredar tanpa tempat menyelesaikannya.
Yang paling berubah sesudah membaca ini bukan pendapat saya tentang republik, tapi pendapat saya tentang buku satunya.
The Prince menasihati satu orang yang sudah berhasil lepas dari ikatan aturan. Catatannya ada di The Prince, dan saya masih membacanya sebagai panduan.
Discourses memberi tahu apa yang akan terjadi pada orang itu. Ia akan berbuat salah persis seperti gerombolan, sebab yang membuat gerombolan berbahaya bukan jumlahnya. Yang berbahaya lepasnya.
Panduan tadi tetap kepakai. Cuma sekarang jelas ia ditulis untuk keadaan yang penulisnya sendiri anggap penyakit.
Susunan bukunya: bagiannya apa saja, mana jantungnya, mana yang boleh dilewat.
Bentuknya
Buku Machiavelli yang satu lagi, jauh lebih tebal daripada yang terkenal, dan tidak pernah dipersembahkan kepada calon majikan mana pun. Ditulis untuk lingkaran kawan-kawannya sendiri, dan itu terasa: nadanya lebih lepas, lebih panjang, dan lebih sering mengakui keraguan.
Bentuknya juga tidak biasa. Machiavelli mengambil karya sejarawan Romawi bernama Livius, lalu berhenti di bagian-bagian tertentu dan membahasnya. Jadi tiap bab dimulai dari satu kejadian di Roma kuno, lalu melebar jadi pelajaran umum tentang kekuasaan.
Tiga jilid: jilid satu tentang urusan di dalam negeri sebuah republik, jilid dua tentang perluasan wilayah dan perang, jilid tiga tentang orang, keteladanan, dan siasat. Bab-babnya sangat banyak, masing-masing pendek, dan judulnya sudah menyebut isinya.
Jilid Satu: urusan di dalam
Jilid yang paling banyak dibaca orang, dan paling banyak isinya untuk pembaca zaman ini.
Dalil yang paling terkenal ada di sini: perselisihan terus-menerus antara golongan bangsawan dan rakyat kebanyakan di Roma, yang biasanya dianggap kelemahan republik itu, justru menurut Machiavelli yang membuatnya kuat dan bebas. Ribut itu bukan penyakit, tapi tanda bahwa tidak ada satu pihak yang bisa menang sendirian.
Di jilid ini juga ada pembahasan tentang undang-undang, tentang menuduh orang secara terbuka lewat lembaga resmi supaya tidak jadi fitnah gelap, dan tentang bagaimana sebuah tertib harus dikembalikan lagi ke keadaan asalnya dari waktu ke waktu supaya tidak lapuk.
Jilid Dua: perluasan dan perang
Jilid tentang bagaimana Roma tumbuh, sekutu, jajahan, dan cara berperang. Bagian yang paling banyak berisi urusan zaman itu, dan yang paling gampang terasa jauh.
Dua bahasan di jilid ini masih terpakai: kenapa negara yang mengandalkan tentara sewaan selalu rapuh, dan bedanya menang karena kuat dengan menang karena lawannya lemah.
Jilid Tiga: orang dan siasat
Jilid tentang perorangan: pemimpin yang harus berani, pemimpin yang harus berhati-hati, dan kenapa satu orang jarang bisa mengubah wataknya sendiri mengikuti keadaan yang berubah. Di jilid ini juga ada bahasan tentang persekongkolan yang panjang sekali dan sangat rinci.
Yang jadi jantungnya
- Bab-bab awal jilid satu tentang perselisihan yang justru menguatkan. Kalau cuma satu kelompok bab yang sempat dibaca, ambil ini.
- Bab tentang mengembalikan sebuah tertib ke keadaan asalnya dari waktu ke waktu, karena gagasan itu berlaku untuk organisasi apa pun.
- Bab tentang menuduh secara terbuka lewat lembaga resmi, karena di situ diterangkan kenapa saluran pengaduan yang jelas lebih menyelamatkan daripada tidak ada saluran sama sekali.
Yang boleh dilewat
- Sebagian besar jilid dua, kecuali bab tentang tentara sewaan.
- Bab-bab yang membahas perincian siasat pertempuran zaman itu.
- Bab tentang persekongkolan di jilid tiga, yang panjangnya jauh melebihi gunanya untuk pembaca sekarang, kecuali sebagai bacaan yang menarik.
Yang jangan ditelan bulat-bulat
Judul bab di buku ini tidak selalu cocok dengan isinya, dan itu jebakan yang sudah memakan banyak pembaca.
Contohnya bab yang judulnya menyatakan orang banyak lebih bijak dan lebih teguh daripada seorang pangeran. Isinya bukan pembelaan atas orang banyak. Argumennya: siapa pun yang tidak diikat undang-undang akan berbuat kacau, gerombolan maupun raja. Yang dibandingkan bukan rakyat lawan raja, tapi yang terikat lawan yang lepas.
Jadi bab-bab yang judulnya terdengar seperti membela orang banyak perlu dibaca sampai habis sebelum dikutip, karena sebagian besarnya sebenarnya sedang membela undang-undang, bukan orangnya.
Buku ini memuji republik, dan tetap ditulis dari kursi orang yang memikirkan cara sebuah negara bertahan dan tumbuh, bukan cara orang di dalamnya hidup lebih baik.
Kalau buru-buru
Bab-bab awal jilid satu, bab tentang mengembalikan tertib ke keadaan asalnya, dan bab tentang menuduh secara terbuka. Tiga potong pendek, dan yang tersisa cukup: perselisihan yang justru menguatkan, keharusan membersihkan sebuah tertib secara berkala, dan saluran pengaduan resmi sebagai penahan fitnah.