Hananto Prawiro mendengar derit pintu, dan yang muncul di kepalanya bukan tentara.
Terdengar derit pintu. Kenapa aku selalu saja lupa meminyaki engsel itu.
Empat lelaki berpakaian preman sudah berdiri di ruang depan, memanggilnya dengan sopan, mengaku sepupu dari Jawa Tengah. Tanggal 6 April 1968. Hananto melirik pergelangan tangannya dan baru ingat arlojinya sudah ia kirimkan ke Dimas, jadi yang tersisa cuma belang di kulit. Sebelum naik ke jip Toyota kanvas, ia menyapu Jalan Sabang sekali lagi: gerobak kue putu, sate Pak Heri, warung bakmi godog, lampu neon Tjahaja Foto yang berkelap-kelip.
Adegan terkuat novel ini ada di tiga halaman pertamanya, dan kekuatannya bukan pada penangkapan itu. Yang menguatkannya justru engsel pintu. Orang yang sudah tiga tahun diburu, yang tahu persis apa artinya pintu itu dibuka malam-malam, masih sempat kesal pada dirinya sendiri soal pekerjaan rumah yang belum dikerjakan.
Tahun 1965 bukan ingatan saya, itu bacaan. Novel ini menempel bukan gara-gara tahun itu.
Negara tidak butuh mereka berbuat apa-apa
Dimas Suryo wartawan yang kebetulan sedang di luar negeri waktu semuanya pecah, dan paspornya dicabut selagi ia masih di sana.
Lalu jatuhlah bom berikutnya: paspor Indonesia kami dicabut. Kami menjadi sekelompok manusia stateless. Sekelompok orang tanpa identitas.
Ia tidak pernah memutuskan jadi orang buangan. Keputusan itu diambil tentang dirinya, waktu ia tidak ada di ruangan.
Empat orang senasib akhirnya membuka restoran di Rue de Vaugirard dan menamainya Tanah Air, lalu memasak makanan dari negeri yang tidak satu pun boleh mereka masuki. Tiap tahun Dimas mengajukan permohonan visa. Risjaf entah bagaimana dapat, Dimas tidak pernah, dan alasannya tidak pernah diberikan.
Orang-orang ini bukan pejuang yang sedang bersembunyi. Mereka menghadiri rapat yang salah, menulis di koran yang salah, atau sekadar kenal seseorang. Perbuatan mereka tidak dibutuhkan. Yang dibutuhkan cuma daftar.
Novel ini tidak menerangkan partai yang jadi alasan daftar itu disusun, dan memang bukan tugasnya. Kajian yang memperlakukan partai itu sebagai pokok penelitian biasa, bukan sebagai peringatan, ada di Indonesian Communism Under Sukarno.
Kenapa novel ini menutup dirinya dengan daftar istilah
Di halaman 454, sesudah ceritanya habis, ada bagian berjudul Beberapa Catatan Akhir. Isinya keterangan istilah, dan salah satunya begini. Bersih Diri dikenakan kepada orang yang dianggap terlibat Gerakan 30 September. Bersih Lingkungan dikenakan kepada anggota keluarga orang yang sudah dicap komunis. Yang tidak lolos dilarang jadi anggota TNI atau Polri, guru, pendeta, dan sejumlah pekerjaan lain yang dianggap bisa mempengaruhi masyarakat. Bekas tahanan politik diberi cap ET di kartu tanda penduduknya, dan calon pegawai harus melewati litsus, singkatan dari penelitian khusus.
Sebuah novel Indonesia terbitan 2012 merasa perlu menerangkan itu kepada pembaca Indonesia. Bukan menerangkan Paris, bukan cuma menerangkan Mei 1968 di Prancis, tapi menerangkan aturan yang berlaku di negerinya sendiri sampai dua puluh tahun sebelum bukunya naik cetak.
Buku ajar Adrian Vickers, A History of Modern Indonesia, menjalankan seratus tahun sejarah kita lewat hidup dan tulisan Pramoedya. Buat mahasiswa di luar itu pilihan yang masuk akal. Dibaca dari sini artinya lain: yang menyimpan bagian yang tidak masuk buku pelajaran memang novelnya, dan novelnya sampai sekarang masih harus membawa kamusnya sendiri.
Di dalam ceritanya, keterangan itu keluar dari mulut anak SMA yang sedang jengkel pada abangnya.
e.T. itu bukan singkatan extra-Terrestrial, juga bukan entertainment Tonight. e.T. itu... eks Tapol.
Dan yang paling pelan justru yang paling tinggal. Om Aji, lulusan Teknik Industri ITB dan adik kandung Dimas, cuma menuliskan nama Samiaji S. di kartu tanda penduduknya. Ia memilih pekerjaan di laboratorium pengolahan material supaya tidak perlu berurusan dengan dunia luar yang bawel. Kariernya aman. Tidak melejit, tidak juga terhalang.
Itu bukan penjara dan bukan penyiksaan. Itu orang yang memendekkan namanya sendiri, lalu memilih ruangan yang tidak ada jendelanya.
Susunan seperti itu bukan barang baru di sastra kita. Bumi Manusia berdiri di atas hal yang sama dengan kop surat Hindia Belanda, dan Chudori memindahkannya ke abad kedua puluh tanpa perlu mengubah bentuknya. Yang berganti cuma nama kantor yang menerbitkan.
Bentuknya juga belum hilang, cuma pindah ke tempat yang lebih rapi. Borang lamaran kerja yang masih menanyakan pekerjaan orang tua. Surat keterangan catatan kepolisian yang harus diperbarui tiap kali orangnya melamar apa pun. Bukan hukumannya yang paling awet dari susunan semacam ini, tapi kebiasaan menyaring orang lewat kolom yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan yang sedang dilamar.
Dua stoples di ruang tamu, dan pemanah yang jarinya dipotong
Di ruang tamu apartemen Paris itu berdiri dua stoples. Yang satu penuh cengkih, yang satu bubuk kunyit. Bukan di dapur, bukan di kamar tidur. Di ruang tamu, dijepit buku-buku, di bawah wayang kulit Bima dan Ekalaya yang tergantung di tembok.
Karena bukunya memang berbahasa kita, dua benda itu bisa dibicarakan apa adanya. Cengkih dan kunyit di sini bukan lambang yang ditempelkan penulisnya dari luar. Dua-duanya bumbu yang harus dibeli kering di Belleville dan mahal di Paris, dan dua-duanya juga perempuan yang ditinggalkan Dimas di Jakarta. Vivienne yang menyadari itu lebih dulu, dan Vivienne juga yang kemudian minta berpisah.
Lalu Ekalaya. Ayah menceritakan lakonnya kepada Lintang sepotong-sepotong dan menahan bagian akhirnya lama sekali: pemanah yang ditolak jadi murid Dorna, belajar sendirian di depan patung gurunya, jadi lebih jitu daripada Arjuna, lalu diminta menyerahkan ibu jarinya sebagai bayaran guru. Ia menyerahkannya.
Kesimpulan Lintang, waktu umurnya menjelang dua belas:
ayah tahu, dia ditolak oleh pemerintah Indonesia, tetapi dia tidak ditolak oleh negerinya. dia tidak ditolak oleh tanah airnya.
Kuatnya karena sebab yang sama dengan adegan pembuka. Yang diceritakan bukan peristiwanya, tapi apa yang dikerjakan kepala seseorang supaya masih bisa berdiri di dalam peristiwa itu. Seorang eksil butuh satu cerita yang menerangkan kenapa ia masih boleh menyebut dirinya orang Indonesia, dan cerita yang ia pilih cerita wayang, bukan cerita politik.
Paris yang terlalu hangat
Pembuangan di novel ini berisi kerinduan, masakan, dan urusan asmara. Kebosanannya kurang. Kemiskinannya kurang. Rasa curiga terus-menerus yang menimpa orang tanpa kewarganegaraan hampir tidak ada, padahal justru itu yang paling menghabiskan orang.
Urusan asmaranya juga memakan tempat jauh lebih banyak daripada porsi yang pantas. Ada beberapa pasangan yang harus diselesaikan dulu sebelum novelnya boleh berakhir, dan sebagian tidak menambah apa-apa pada perkara utamanya.
Lintang itu jalan masuk yang pas: wajahnya wajah ayahnya, ingatannya bukan ingatan ayahnya, dan semua yang ia tahu harus diberitahukan orang lain kepadanya. Itu memungkinkan zamannya diterangkan tanpa juru cerita yang serba tahu. Itu sekaligus kelemahannya. Di beberapa tempat Lintang berhenti jadi orang dan berubah jadi alasan untuk menerangkan sesuatu, dan jahitannya kelihatan.
Bab-bab Mei 1998 paling terasa begitu. Sebagian besar berbentuk surat elektronik Lintang kepada ayahnya, dan isinya laporan: penembakan mahasiswa Trisakti, empat jenazah yang disemayamkan di kampus Grogol, mimbar bebas, gedung DPR yang penuh. Chudori wartawan, dan di bagian ini bukunya terbaca seperti reportase yang bagus dengan tokoh ditempelkan di atasnya.
Satu lagi yang menurut saya terlalu dipoles. Kalimat Lintang tentang memetik Indonesia dari I.N.D.O.N.E.S.I.A. berulang beberapa kali, dan Chudori sendiri menyebut sumbernya di catatan akhir, syair Rumi tentang memetik mawar dari M-A-W-A-R. Enak dikutip, dan itu memang persoalannya: kalimat itu dipasang untuk dikutip.
Kegaduhan yang tidak berakhir jadi aturan
Tahun 1998 itu satu-satunya bagian novel ini yang saya kenal bukan dari buku.
Novelnya berakhir dengan pemakaman. Dimas mati justru pada saat pulang akhirnya jadi mungkin, dan ia dikubur di Karet, satu tanah dengan Chairil Anwar, persis seperti yang berkali-kali ia minta kepada anaknya. Sebagai penutup cerita, itu memuaskan. Sebagai penutup untuk perkaranya, tidak.
Machiavelli punya ukuran untuk keributan besar, dan ukuran itu ada di Discourses on Livy. Kegaduhan baru menghasilkan sesuatu kalau ujungnya jadi aturan. Kalau yang tersisa cuma kelelahan dan daftar korban, itu bukan kegaduhan yang ia maksud.
Dipakai ke Mei 1998, jawabannya campur, dan bagian yang belum beres justru yang diurus novel ini. Kolomnya sudah banyak yang dicabut dan capnya sudah tidak dibubuhkan lagi. Untuk apa yang terjadi pada 1965 dan 1966 sendiri, tidak pernah ada pengadilan, tidak pernah ada daftar nama, dan tidak pernah ada keterangan resmi tentang siapa yang menyusun daftar yang pertama.
Sesudah menutup novel ini, yang tinggal di kepala saya bukan restoran di Paris dan bukan pemakaman di Karet.
Yang tinggal engsel pintu tadi. Orang yang sudah tiga tahun diburu masih sempat menyalahkan dirinya sendiri karena lupa meminyakinya. Ia tidak sedang memikirkan sejarah. Ia sedang memikirkan pekerjaan rumah yang belum selesai, dan sesudah malam itu tidak ada lagi waktu untuk mengerjakannya.
Sisanya diurus formulir.
Yang ditawarkan negara kepada orang-orang seperti mereka
Tokoh-tokoh di novel ini orang yang paspornya dicabut waktu mereka sedang berada di luar negeri, dan sesudah itu tidak bisa pulang. Sebagian orang seperti itu masih hidup, sudah sangat tua, dan pada 2023 negara akhirnya menawarkan sesuatu kepada mereka.
Isi tawarannya perlu disebut lengkap. Mereka diberi tiga pilihan soal kewarganegaraan: tetap jadi warga negara asing, kembali jadi warga negara Indonesia, atau diberi kemudahan berkunjung. Kemudahan itu berupa pengurusan visa, izin tinggal, dan izin keluar masuk berkali-kali, tanpa biaya. Syaratnya satu: harus punya surat rekomendasi dari kementerian koordinator yang menyatakan yang bersangkutan korban pelanggaran hak asasi berat masa lalu.
Sebagian dari mereka menolak. Alasannya, yang mereka tuntut pemulihan hak sebagai warga negara, bukan layanan keimigrasian, dan tawaran itu mereka sebut jalan pintas.
Novel ini sudah menerangkan kenapa penolakan itu masuk akal, dan letaknya di bagian atas tadi. Yang dikerjakan negara kepada keluarga yang tertinggal juga tidak pernah berupa hukuman yang diucapkan. Yang ada tanda di kartu, dan sisanya dikerjakan sendiri oleh sekolah, kantor, dan tetangga.
Sekarang bentuknya berbalik arah, dan mesinnya tetap mesin yang sama. Yang ditawarkan bukan pernyataan bahwa mereka tidak pernah bersalah. Yang ditawarkan surat, yang harus diurus, ke kantor, oleh orang yang umurnya sudah delapan puluh lebih.
Sisanya, lagi-lagi, diurus formulir.
Susunan bukunya: bagiannya apa saja, mana jantungnya, mana yang boleh dilewat.
Bentuknya
Novel, dan satu-satunya cara membaca petanya adalah lewat susunannya, bukan lewat bab. Bagian-bagiannya dinamai menurut tokoh atau tempat, dan penceritanya berganti-ganti: kadang orang yang di Paris, kadang yang di Jakarta, kadang lewat surat.
Waktunya juga bolak-balik. Dua tanggal jadi tiang: Mei 1968 di Paris, dan April 1998 di Jakarta. Di antara keduanya, cerita melompat mundur ke 1965 dan tahun-tahun sesudahnya.
Ini bukan novel yang menceritakan peristiwa besar. Peristiwa besarnya selalu di luar bingkai. Yang diceritakan orang yang tidak bisa pulang, dan anak-anak mereka yang tidak pernah punya tempat yang bisa disebut pulang.
Dua tempat, dua keturunan
Sebagian besar bukunya berdiri di atas dua jalur yang berjalan bersamaan.
Jalur pertama, beberapa orang Indonesia yang sedang berada di luar negeri pada 1965 dan mendadak tidak bisa kembali karena paspornya dicabut. Mereka akhirnya menetap di Paris dan membuka restoran, dan restoran itu jadi rumah pengganti sekaligus tempat mereka menjaga hal-hal yang tidak boleh hilang.
Jalur kedua, anak-anak mereka, yang lahir dan besar di sana, yang bahasa ibunya bukan bahasa ibu orang tuanya, dan yang datang ke Indonesia untuk pertama kali sebagai orang asing di negeri sendiri.
Di dalam negeri ada jalur ketiga yang lebih pendek tapi paling berat: keluarga yang tertinggal, dan apa yang terjadi pada mereka selama puluhan tahun sesudahnya.
Yang jadi jantungnya
- Bagian-bagian tentang keluarga yang tertinggal di Jakarta. Di situ letak bagian yang paling menerangkan, dan yang paling jarang diceritakan: negara tidak perlu memenjarakan siapa pun untuk membuat sebuah keluarga tidak punya masa depan. Cukup tanda di kartu penduduk, dan sisanya dikerjakan tetangga, sekolah, dan kantor.
- Bagian-bagian di restoran Paris, karena di situ terlihat apa yang orang bawa waktu tidak bisa membawa apa-apa.
- Bagian April 1998, tempat dua jalur ceritanya bertemu.
Yang boleh dilewat
- Tidak ada bagian yang perlu dilewat, karena ini novel dan potongannya saling menopang.
- Yang boleh dibaca cepat: bagian-bagian percintaan di Paris, yang porsinya cukup besar dan yang paling lemah dibanding sisanya.
Cara membacanya
Nama tokohnya banyak dan berganti-ganti penyebutan, dan bagian-bagiannya tidak urut waktu. Pegang dua pertanyaan saja: siapa yang sedang bercerita, dan tahun berapa. Sisanya akan menyusun dirinya sendiri.
Novel ini juga memakai nama-nama dari wayang untuk sebagian tokohnya, dan pilihan itu tidak kebetulan. Salah satunya seorang pemanah yang belajar sendiri lalu diminta memotong ibu jarinya oleh guru yang tidak pernah mengajarinya, supaya tidak melebihi murid resmi. Sekali cerita itu dikenali, sebagian bab terbaca berbeda.
Bagian yang perlu diketahui
Novel ini menutup dirinya dengan daftar istilah dan keterangan di belakang, dan itu pilihan yang jarang untuk sebuah novel. Alasannya masuk akal: sebagian besar pembacanya, termasuk pembaca di negeri sendiri, memang tidak diajari peristiwa yang jadi latarnya.
Cerita ini disusun dari satu sisi, yaitu sisi orang yang kehilangan, dan itu perlu ditimbang sendiri. Itu sah untuk sebuah novel, dan tetap perlu disadari kalau yang dicari gambaran utuh tentang tahun-tahun itu. Untuk itu, buku sejarah yang lain di rak ini lebih pantas dipakai.
Kalau buru-buru
Novel ini tidak muat dalam satu malam, dan memotongnya merusak. Tapi kalau memang harus dipilih, bagian-bagian tentang keluarga yang tertinggal di Jakarta bisa dibaca lebih dulu dan berdiri cukup kuat sendiri. Di situ ada hal yang paling terpakai dari seluruh novelnya: tiga huruf di kartu penduduk mengerjakan apa yang tidak perlu lagi dikerjakan penjara.