Maksud yang Dennett nyatakan sendiri sederhana. Agama salah satu gejala alam terbesar dalam hidup manusia, dan mestinya diteliti seperti gejala lain mana pun. Mantra yang mau ia patahkan bukan agamanya, tapi pantangan untuk menelitinya.
Itu yang ia katakan, dan saya menerimanya apa adanya selama bukunya masih memungkinkan. Bukunya sendiri yang menyulitkan, sejak halaman pertama.
Ia membuka dengan seekor semut di padang rumput yang memanjat sehelai rumput, jatuh, memanjat lagi, sampai berkali-kali. Semut itu tidak sedang mencari apa-apa. Otaknya dikendalikan cacing kecil yang butuh masuk ke perut domba untuk berkembang biak, dan cara paling gampang masuk ke perut domba adalah menunggu di pucuk rumput. Lalu:
"We often find human beings setting aside their personal interests, their health, their chances to have children, and devoting their entire lives to furthering the interests of an idea that has lodged in their brains."
Kita sering menjumpai manusia yang mengesampingkan kepentingan pribadinya, kesehatannya, kesempatannya punya anak, dan mengabdikan seluruh hidupnya untuk kepentingan sebuah gagasan yang bersarang di otaknya.
Contoh pertama yang ia sebut sesudah kalimat itu: rukun Islam, lima-limanya. Sebuah buku yang meminta agar agama diteliti dulu sebelum disimpulkan dibuka dengan gambar semut yang dikendalikan parasit. Kesimpulannya sudah ada di halaman tiga.
Percaya bahwa percaya itu perlu
Sumbangan terbesarnya satu pembedaan, dan pembedaan ini layak dibawa pulang siapa pun.
"The stewardship of religious ideas creates a powerful phenomenon: belief in belief, which radically transforms the content of the underlying beliefs, making rational investigation of them difficult if not impossible."
Pengurusan gagasan agama melahirkan gejala yang kuat: percaya pada percaya, yang mengubah habis isi keyakinan di bawahnya dan membuat pemeriksaan yang masuk akal atasnya jadi sulit, kalau bukan mustahil.
Mempercayai sesuatu, dan mempercayai bahwa sesuatu itu memang harus dipercaya, dua hal yang sering tidak jalan bersama. Banyak orang yang kalau ditanya menyebut dirinya beragama, dan kalau diperiksa lebih dekat sedang memegang yang kedua. Mereka tidak yakin betul soal ajarannya. Yang mereka yakini betul: ajaran itu seharusnya dipegang, oleh mereka, dan terutama oleh orang lain.
Di sini itu gampang sekali dilihat. Tiap KTP punya kolom agama yang harus diisi salah satu dari enam, dan semua orang tahu itu bukan catatan tentang keyakinan. Ada banyak sekali orang yang ibadahnya jarang, yang kalau ditanya isi ajaran di kartunya tidak sanggup menerangkan, dan yang tetap akan bilang tanpa ragu bahwa negeri tanpa agama pasti hancur dan anaknya harus dibesarkan dalam agama. Itu bukan kemunafikan. Itu percaya bahwa percaya itu perlu, dipegang dengan tulus, dan yang dibela sebuah tatanan, bukan pernyataan tentang dunia.
Rupiah juga begitu, dan tidak ada yang menyebutnya munafik
Dennett menyodorkan perbandingan yang lebih tajam daripada yang ia sadari. Uang, katanya, jenis barang yang aneh: cuma ada pada satu spesies, rancangannya diwariskan lewat budaya, dan bertahan dengan memancing kita mencetak salinannya terus-menerus. Koin dan kertas aus, dan kalau tidak ada yang mencetak lagi seluruh sistemnya punah. Coba saja beli perahu dengan setumpuk kulit kerang.
Selembar seratus ribu tidak berharga karena kertasnya. Berharga karena tiap orang percaya orang lain masih mau menerimanya. Tidak ada yang percaya pada kertasnya. Yang dipercaya kepercayaan orang lain, dan itu persis pembedaan Dennett, dijalankan setiap hari oleh seluruh negeri tanpa ada yang merasa sedang berpura-pura. Saya ingat 1998 sebagai anak sekolah: yang runtuh waktu itu bukan kertasnya, tapi keyakinan bahwa besok orang lain masih mau menerimanya.
Jadi di sini saya berpisah dari Dennett, bukan pada pembedaannya, tapi pada vonisnya. Ia memperlakukan percaya-pada-percaya sebagai cacat yang menghalangi pemeriksaan. Padahal itu cara kerja tiap tatanan yang dipegang bersama, uang, hukum, bendera, dan agama cuma yang paling tua di antaranya. Yang bertahan dari agama, seperti kata Holloway di A Little History of Religion, bukan pertanyaan besarnya tapi urusan lahir, mati, menikah, dan tetangga yang datang jam dua pagi. Orang yang bilang anaknya harus beragama sedang percaya pada pengurusnya, dan pengurus itu memang ada dan memang datang.
Yang tahu itu ustaz, kita cukup percaya padanya
Dennett punya satu bab lagi yang bagus, tentang apa yang ia sebut pembagian kerja dalam mempercayai. Tidak semua orang perlu mengerti isi keyakinannya. Cukup ada yang mengerti, dan sisanya percaya bahwa orang itu mengerti. Ia menaruh semboyan dari kelompok pemulihan pecandu di kepala babnya: pura-pura dulu sampai jadi sungguhan.
Di sini bab itu tidak perlu diterangkan. Jawaban paling pamungkas dalam obrolan tentang agama di rumah mana pun: kata ustaz. Tahlilan hari ketujuh, keempat puluh, keseratus, dijalankan rapi tanpa seorang pun di ruangan itu perlu bisa menerangkan hitungannya, dan memang tidak perlu. Yang perlu tahu satu orang, dan ia sudah ada di depan.
Dennett menyebut ini sebagai hal yang mempersulit pemeriksaan, dan itu benar. Ia lupa menyebut bahwa ia sendiri memakai pembagian yang sama beberapa bab sebelumnya, waktu bilang kita semua percaya pada ahli untuk banyak hal dan mereka yang memutuskan soal evolusi juga cuma percaya pada ahli yang lain. Tradisi ini bahkan punya nama sendiri untuk gejala itu, taklid, dan sudah berabad-abad berdebat sampai mana itu boleh. Percaya pada yang tahu bukan penemuan agama, dan bukan kelemahannya saja.
Dari kenduri ke cabang kecamatan
Bab yang paling kepakai justru bab yang jarang dikutip: bagaimana agama rakyat berubah jadi agama yang terorganisasi.
Agama rakyat, dalam batasan Dennett, agama tanpa kredo tertulis, tanpa teolog, tanpa hierarki pengurus. Perubahannya jadi agama terorganisasi disamakannya dengan perubahan musik rakyat jadi musik terorganisasi: muncul pemusik profesional, notasi, aturan, gedung konser, kritikus, agen. Ia mengutip satu kalimat tentang orang Nuer yang menyimpulkan seluruh cara kerjanya: mengorbankan sapi jantan itu paling baik, tapi karena sapi mahal, mentimun pun jadi, hampir selalu.
Kenduri kita begitu. Kalau tidak ada kambing, ayam jadi. Kalau tidak ada ayam, nasi dan doa jadi. Itu agama rakyat, dan agama rakyat itulah yang dijalani hampir semua orang hampir sepanjang waktu.
Lalu, kata Dennett, orang-orang yang bergabung mulai bertanya bagaimana cara mempertahankan dan memperbesar perkumpulannya, dan sejak saat itu tekanan seleksinya berubah. Yang lahir perusahaan, waralaba, merek. Di sini bentuknya organisasi dengan cabang sampai kecamatan, sekolah, rumah sakit, dan daftar siapa yang berhak bicara atas nama siapa. Bukan cara kerja baru. Marvin Harris di Cows, Pigs, Wars, and Witches sudah bertanya siapa yang untung dari sebuah larangan, jauh sebelum Dennett menamai pertanyaan itu cui bono. Yang baru cuma Dennett memakainya untuk pengurusnya, bukan untuk aturannya.
Ilmunya yang tipis, dan nadanya
Dennett mengusulkan bahwa agama sebagian besar hasil sampingan perlengkapan pikiran yang berkembang untuk keperluan lain, terutama kebiasaan mendeteksi pelaku di mana-mana. Gemerisik di rumput lebih aman dianggap harimau daripada angin. Gagasan itu sudah jadi arus utama, dan gagasan itu bukan miliknya. Ia menyebut sendiri daftar perangkatnya dari Pascal Boyer, dan Boyer mengerjakannya dengan bukti jauh lebih banyak di Religion Explained. Ia juga bersandar pada meme, dan dua puluh tahun kemudian meme tetap kata yang kepakai sehari-hari tanpa pernah jadi ilmu, seperti sudah terasa sejak The Selfish Gene. Ia mengaku di kata pengantarnya cuma cukup tahu tentang Kristen Amerika, dan itu kelihatan. Seorang filsuf yang menyerukan penelitian, bukan melaporkannya.
Soal nada, Dennett setidaknya tidak menyembunyikan dirinya:
"They will see me as just another liberal professor trying to cajole them out of some of their convictions, and they are dead right about that—that's what I am, and that's exactly what I'm trying to do."
Mereka akan melihat saya sebagai profesor liberal yang mencoba membujuk mereka melepas sebagian keyakinannya, dan mereka benar sekali: itulah saya, dan itulah persis yang sedang saya coba.
Itu jujur, dan itu juga yang membuat kalimat pembukanya soal cuma ingin meneliti tidak bisa dipegang. Lalu ada usulnya supaya orang tak beragama menyebut diri brights, yang ditertawakan orang dan memang layak. Dan ada Sinterklas, yang ia sandingkan dengan Tuhan lebih dari sekali. Di titik itu bukunya berhenti meneliti dan mulai mengolok, dan yang diolok bukan gagasannya tapi orang yang memegangnya.
Bab tentang anak-anak lebih serius. Ia menulis bahwa kalau sebuah iman harus menutup mata anak-anaknya supaya mereka tetap beriman waktu dewasa, iman itu pantas punah, dan ia menuntut penelitian soal apa yang boleh diajarkan ke anak. Anak-anak TK pulang membawa doa sebelum makan yang dihafal dari gurunya. Mereka juga pulang membawa lagu kebangsaan dan cara hormat bendera. Tidak satu pun dari itu mereka setujui lebih dulu, dan Dennett cuma keberatan pada yang pertama.
Peringatan terakhirnya, dan uang lagi
Dennett meninggal 19 April 2024, umur delapan puluh dua.
Setahun sebelumnya ia menulis di The Atlantic tentang apa yang ia sebut orang palsu: mesin yang sanggup lewat sebagai manusia di layar. Ia menyebutnya benda buatan paling berbahaya dalam sejarah manusia, dan yang ia takutkan bukan mesin yang jadi lebih pintar dari kita, tapi mesin yang jadi sangat pandai berbohong.
Usul yang ia ajukan menarik justru karena tempat ia mengambilnya. Ia minta tiap keluaran mesin diberi tanda yang susah dipalsukan, dan contoh yang ia pakai benang serta cetakan tersembunyi di uang kertas, ditambah hukuman berat bagi perusahaan yang produknya menyamar jadi orang.
Bagian tentang rupiah di atas tadi datang lagi ke kepala saya waktu membaca itu. Uang kertas jalan karena semua orang percaya semua orang akan menerimanya, dan yang menjaga kepercayaan itu benang, tinta, dan lembaga yang bisa dituntut kalau kecolongan. Dennett menghabiskan satu buku menjelaskan bahwa yang dipegang orang beragama sering keyakinan tentang perlunya ada keyakinan. Di ujung hidupnya ia mengurus soal yang bentuknya sama, dan yang ia minta pengurusnya, bukan dalilnya.
Ia tidak sempat menyambungkan sendiri dua hal itu, jadi sambungan ini punya saya, dan tidak ada yang bisa saya tanyai lagi apakah sambungannya betul.
Buku ini meninggalkan satu pertanyaan sungguhan, dan bukan yang ia pakai untuk menghabiskan sebagian besar halamannya.
Kalau sebagian besar dari yang kelihatan seperti keyakinan beragama sebenarnya keyakinan tentang perlunya ada keyakinan, maka berdebat soal ajaran dengan orang seperti itu berarti berdebat soal yang salah. Yang dibela bukan dalilnya, tapi pengurus yang datang jam dua pagi, dan tidak ada dalil yang bisa mengalahkan itu.
Dennett tahu itu, menamainya, lalu tetap berdebat soal dalil. Saya sudah cukup sering menonton perdebatan yang begini untuk curiga bahwa yang diributkan biasanya memang bukan yang jadi soal, dan belum tahu perdebatan macam apa yang mestinya menggantikannya.
Susunan bukunya: bagiannya apa saja, mana jantungnya, mana yang boleh dilewat.
Bentuknya
Tiga bagian, dan tugasnya berbeda-beda. Bagian satu meyakinkan pembaca bahwa agama boleh dan perlu diteliti seperti gejala alam lain. Bagian dua menyusun dugaan tentang bagaimana agama tumbuh. Bagian tiga menimbang akibatnya bagi masyarakat sekarang.
Perbandingan porsinya perlu diketahui sejak awal: bagian satu panjang sekali untuk sebuah pembukaan, dan bagian dua yang seharusnya jadi isi utamanya justru paling tipis buktinya. Dennett sendiri berkali-kali menyebut bahwa yang ditawarkannya dugaan yang menunggu diuji, bukan hasil penelitian.
Bagian Satu: boleh atau tidak diteliti
Bab-bab pembuka yang isinya menjawab keberatan sebelum keberatan itu diajukan. Bisakah ilmu meneliti agama, bolehkah, dan apa ruginya kalau tidak. Bagian ini yang paling terikat pada perdebatan di Amerika awal dua ribuan, dan paling cepat terasa jauh dari pembaca di sini.
Bagian Dua: bagaimana tumbuhnya
Bagian yang paling banyak isinya. Dennett menyusun dugaan bertahap: mula-mula kepala manusia punya kecenderungan menganggap ada niat di balik kejadian, lalu dari situ tumbuh kepercayaan pada makhluk yang tidak kelihatan, lalu kepercayaan itu dipelihara dan diatur orang, lalu sebagian jadi agama yang punya pengurus, ajaran resmi, dan kantor.
Di bagian ini juga ada gagasan yang paling terpakai dari seluruh buku, dan bisa dipakai tanpa menerima dugaan besarnya: percaya bahwa percaya itu perlu. Banyak orang tidak benar-benar yakin pada isi ajarannya, dan tetap sungguh-sungguh yakin bahwa keyakinan itu perlu ada dan perlu dijaga. Dennett menyebut kedua hal itu tidak sama, dan pembedaan itu menerangkan banyak hal.
Ada juga pengamatan yang menyertainya: sebagian besar orang tidak merasa harus tahu isi ajarannya sendiri, karena mereka merasa cukup ada orang yang tahu, dan cukup mempercayai orang itu.
Bagian Tiga: sesudahnya
Bab-bab tentang apa yang harus dikerjakan sekarang: pendidikan, kebijakan, dan hubungan antara agama dan negara. Nadanya paling berhati-hati, dan isinya paling sedikit.
Yang jadi jantungnya
- Bagian tentang percaya bahwa percaya itu perlu. Andai cuma satu bagian yang bisa dibaca, ambil yang ini, karena isinya bisa diperiksa sendiri di sekeliling kita.
- Bab tentang pembagian kerja dalam beragama, yaitu kenyataan bahwa kebanyakan orang mempercayai orang yang tahu, bukan mempercayai ajarannya langsung.
- Bab tentang perpindahan dari kepercayaan yang tidak punya pengurus ke agama yang punya kantor, karena perpindahan itu yang paling banyak menerangkan bentuk agama hari ini.
Yang boleh dilewat
- Sebagian besar bagian satu. Isinya membujuk pembaca supaya mau membaca sisanya, dan pembaca yang sudah mau membaca sisanya tidak butuh dibujuk.
- Bagian tiga hampir seluruhnya, yang isinya usulan kebijakan untuk Amerika.
- Bagian yang bertengkar dengan penulis lain, yang porsinya cukup besar.
Yang jangan ditelan bulat-bulat
Judulnya menjanjikan penjelasan, dan isinya sebagian besar dugaan. Itu diakui penulisnya sendiri, dan pengakuan itu perlu ikut dibaca supaya bukunya tidak dikira lebih dari yang diklaimnya.
Nadanya juga perlu disebut. Dennett berkali-kali menyatakan hendak berbicara kepada orang beragama, dan susunan kalimatnya sering mengandaikan pembacanya sudah setuju lebih dulu. Itu membuat sebagian bagiannya terbaca seperti sedang menerangkan orang lain kepada orang yang sudah sepakat, bukan sedang berbicara kepada orang yang diterangkannya.
Satu hal yang justru menarik dan tidak ia tarik sendiri: kalau percaya bahwa percaya itu perlu dianggap gejala yang perlu diterangkan, hal yang sama berlaku untuk uang. Selembar uang jalan persis dengan cara itu, dan tidak ada yang menyebut pemakainya sedang berpura-pura.
Kalau buru-buru
Bab tentang percaya bahwa percaya itu perlu, bab tentang pembagian kerja dalam beragama, dan bab tentang lahirnya agama yang punya pengurus. Tiga potong, dan bentuk bukunya sudah kelihatan: pembedaan antara meyakini isi ajaran dan meyakini bahwa keyakinan itu perlu ada, kenyataan bahwa kebanyakan orang mempercayai orang yang tahu, dan perpindahan dari kepercayaan tanpa kantor ke agama yang punya struktur.