Delapan puluh satu bab, sebagian besar lebih pendek dari satu halaman, dan seluruhnya cuma lima ribuan kata. Naskah-naskah yang beredar berbeda hitungannya, dari 5.227 sampai 5.722 kata, dan pembagian jadi delapan puluh satu bab itu buatan belakangan, kira-kira abad pertama sebelum Masehi, dipilih karena sembilan kali sembilan punya arti dalam tradisi Cina. Di beberapa tempat potongannya masuk akal, di tempat lain tidak sama sekali.
Yang disapa naskah ini bukan petani. Orang bijaknya memerintah, mengatur negeri, memimpin perang, dan bab-bab yang paling tegas isinya cara memegang kuasa tanpa memaksa. Saya membacanya sebagai nasihat untuk orang yang memegang kuasa, karena begitulah bunyinya, dan karena nasihat menerima keadaan selalu harus diperiksa satu hal: siapa yang disuruh menerima.
Nama pengarang yang lebih tua dari orangnya
Tidak ada yang tahu siapa penulisnya. Lao Tzu artinya Guru Tua, dan gelar itu sendiri bagian dari perkaranya. Riwayat hidupnya baru dicatat sekitar 90 SM oleh Ssu-ma Ch'ien, berabad-abad sesudah ia konon hidup, lengkap dengan adegan bertemu Konfusius dan memberinya pelajaran yang nyaris mempermalukan. Yang lebih tua dapat kedudukan lebih tinggi. Adegan itu terbaca persis seperti apa adanya: satu mazhab sedang mengaku lebih dulu ada daripada mazhab sebelah.
Holloway di A Little History of Religion memberinya tahun lahir dan tahun mati, sekitar 600 SM sampai 524 SM. Penerjemah edisi yang saya pegang menulis bahwa belum bisa dipastikan orangnya pernah ada. Dua buku di rak yang sama, dan yang satu memberi tanggal kematian kepada orang yang menurut yang lain belum tentu lahir.
Lubang di tengah roda
Wu wei biasanya diterjemahkan tidak berbuat, dan itu menyesatkan. Lebih dekat ke tidak memaksa: bergerak ke arah yang memang sudah dituju keadaannya, berhenti begitu selesai. Contohnya air, yang paling lembek dan paling sanggup mengikis yang keras, karena tidak pernah melawan langsung dan tidak pernah terburu-buru.
Versi yang paling bisa dipegang ada di bab sebelas:
"Thirty spokes are joined in the wheel's hub. The hole in the middle makes it useful. Mold clay into a bowl. The empty space makes it useful. Cut out doors and windows for the house. The holes make it useful. Therefore, the value comes from what is there, But the use comes from what is not there."
Tiga puluh jari-jari bertemu di pusat roda. Lubang di tengahnya yang membuatnya berguna. Bentuk tanah liat jadi mangkuk. Ruang kosongnya yang membuatnya berguna. Lubangi dinding jadi pintu dan jendela. Lubang-lubangnya yang membuat rumah bisa dipakai. Jadi nilainya dari yang ada, gunanya dari yang tidak ada.
Bab ini yang paling awet, dan tidak butuh tafsir. Yang mengerjakan tugas sering bukan yang bisa ditunjuk. Di kantor mana pun ada satu orang yang tidak punya jabatan apa-apa di bagan, dan begitu ia cuti dua minggu semua urusan berhenti.
Bab delapan belas, dan pertengkaran yang belum selesai
"When the great Tao is abandoned, Benevolence and righteousness arise. When wisdom and knowledge appear, Great pretense arises. When family ties are disturbed, Devoted children arise. When people are unsettled, Loyal ministers arise."
Waktu Tao yang agung ditinggalkan, muncullah kebaikan hati dan kebenaran. Waktu kepandaian dan pengetahuan muncul, muncullah kepura-puraan besar. Waktu ikatan keluarga terguncang, muncullah anak-anak yang berbakti. Waktu rakyat gelisah, muncullah menteri-menteri yang setia.
Dalilnya: sebuah keutamaan baru diberi nama dan dipuji-puji persis sesudah keutamaan itu berhenti jadi hal biasa. Bakti dirayakan waktu keluarga mulai berantakan. Kesetiaan jadi keutamaan waktu negaranya sudah bermasalah. Bab tiga puluh delapan menutup urutannya: waktu Tao hilang tinggal kebajikan, waktu kebajikan hilang tinggal kebaikan hati, lalu kebenaran, lalu tata cara, dan tata cara itu ujung dari kesetiaan dan awal kekacauan.
Itu serangan langsung ke The Analects, yang seluruh isinya menanamkan keutamaan lewat tata cara, dan argumennya sungguhan. Konfusius bilang wujud lahiriah menopang rasa di dalamnya: lepaskan wujudnya, rasanya ikut keluar. Lao Tzu bilang wujud itu yang tersisa waktu rasanya sudah tidak ada.
Menurut saya dua-duanya benar untuk saat yang berbeda. Lao Tzu tepat soal diagnosisnya: nilai memang diberi nama waktu mulai langka, dan seminar antikorupsi paling ramai diadakan di lembaga yang paling sering kena kasus. Tapi obatnya cuma satu kata, kembali, dan kembali itu arah. Tidak ada jalan pulang ke keadaan sebelum keluarga berantakan. Yang bisa dikerjakan sesudah itu justru yang ditulis Konfusius: menjaga wujudnya supaya rasanya punya tempat berpijak. Lao Tzu menang di halaman, Konfusius yang kepakai sesudah halamannya ditutup.
Yang disuruh tidak memaksa, dan yang disuruh diam
Bab tiga dan bab enam puluh lima jarang naik ke poster.
"The sage governs by emptying senses and filling bellies, Curbing strife and strengthening backs, Keeping the people ignorant and without desire"
Orang bijak memerintah dengan mengosongkan indra dan mengisi perut, meredam pertikaian dan menguatkan punggung, menjaga rakyat tetap tidak tahu dan tidak berkeinginan.
Bab enam puluh lima lebih terang lagi: di zaman dulu, yang mengikuti Jalan tidak berusaha memberi rakyat pengetahuan, tapi menjaga mereka tetap tidak tahu, sebab rakyat susah diperintah karena pengetahuannya. Penerjemahnya sendiri tidak berusaha melunakkannya. Di kerajaan seperti Cina kuno, tulisnya, rakyat harus tanpa daya supaya tidak mengganggu rencana penguasa; bukan keadaan yang ideal, tapi Lao Tzu dan orang sezamannya tidak melihat jalan lain.
Di sini bukunya bocor, dan bocornya di dalam, bukan dari luar. Bab lima puluh tujuh berbunyi: aku tidak berbuat, dan rakyat membaik dengan sendirinya. Tapi mengosongkan indra dan menjaga orang tetap tidak tahu itu perbuatan, dan perbuatan yang butuh tenaga terus-menerus. Tidak memaksa untuk yang di atas ternyata mengandaikan pekerjaan besar terhadap isi kepala yang di bawah. Yang disuruh mengalir penguasanya. Yang disuruh diam rakyatnya, dan rakyatnya tidak diberi tahu bahwa ia sedang disuruh.
Bab tiga pernah dijalankan di sini dengan namanya sendiri: massa mengambang. Orang desa dijauhkan dari urusan politik di antara dua pemilu, dan sebagai gantinya dijanjikan pembangunan. Perut diisi, keinginan diredam, dan selama dua puluh tahun lebih negeri ini memang tenang. Buku ini tidak bisa disalahkan atas itu. Tapi orang yang membacanya sebagai nasihat untuk mengalir mestinya tahu bab yang sama juga dibaca dari kursi yang lain, dan di kursi itu bunyinya perintah.
Asal kelakon
Satu ungkapan Jawa paling sering dipakai untuk mengolok orang yang mengucapkannya: alon-alon asal kelakon. Dibaca sebagai alasan malas memang tidak bisa dibela. Tapi bentuknya bukan begitu. Bagian keduanya syarat, bukan pasrah: urusannya tetap harus kelakon. Yang ditolak memaksanya, bukan menyelesaikannya.
Dibaca berdampingan dengan wu wei, ungkapan itu berhenti jadi soal cepat lambat dan berubah jadi soal lain: seberapa besar perlawanan yang pantas diterjang sebelum menyimpulkan bahwa yang didorong ini memang barang yang salah. Tradisi yang sama punya ngeli, ikut arus, yang dibedakan tegas dari hanyut, dan nrimo, yang dalam bentuk rusaknya berarti tidak berbuat apa-apa dan dalam bentuk aslinya berarti tidak menghabiskan diri melawan yang sudah telanjur terjadi.
Tiap satu dari itu bisa membusuk jadi alasan. Wu wei juga, dan sudah, berkali-kali: naskah yang sama dipakai pertapa yang menyingkir dari dunia, dipakai orang yang menolak segala pemerintahan, dan dipakai istana yang membiarkan rakyatnya diurus siapa saja. Bunyinya cukup samar untuk menyetujui apa pun yang sejak awal sudah ingin dikerjakan pembacanya.
Naskah yang keluar dari kuburan
Sampai 1973 naskah tertua yang ada berasal dari abad ketiga Masehi, dan yang paling dipakai susunan Wang Pi, yang jadi dasar hampir semua terjemahan Inggris. Lalu dua naskah sutra ditemukan di makam Mawangdui yang ditutup tahun 168 SM, lima ratus tahun lebih tua, dan bedanya kecil. Yang besar cuma satu: kedua bagiannya terbalik. Di situ buku ini berakhir di bab tiga puluh tujuh, tentang keheningan tempat dunia menata dirinya sendiri.
Pada 1993 keping bambu ditemukan di Guodian, seratus tahun lebih tua lagi, sekitar 300 SM, dan tidak lengkap. Naskah itu milik guru seorang pangeran, dan penerjemah edisi ini menunjuk satu hal: bab-bab yang paling terang bicara soal pemimpin yang tidak becus justru tidak ada di situ, begitu juga bab yang memuji yang perempuan di atas yang laki-laki. Guru seorang pangeran, tulisnya, tentu harus hati-hati.
Ceritanya rapi, dan yang rapi harus dicurigai dulu. Penerjemahnya sendiri, di bab lain, mengingatkan bahwa satu naskah tua tidak bisa dijadikan bukti, sebab penyalinnya bisa saja melompati baris karena alasan apa pun. Sebelum menuduh gurunya menyunting, periksa dulu apakah salinan yang sobek sudah cukup menerangkan. Dua-duanya masuk akal, dan naskahnya tidak memberi tahu mana.
Yang lebih kecil dan lebih telak: kalimat paling terkenal dari buku ini, yang tahu tidak bicara, yang bicara tidak tahu, di naskah Guodian dan Mawangdui punya objek. Yang tahu itu tidak membicarakannya. Dengan objeknya, kalimat itu berhenti jadi sindiran tentang orang cerewet dan kembali jadi kalimat tentang Tao.
Terjemahan cetak pertamanya baru 1842, ke bahasa Prancis, dan Inggris pada 1891. Yang saya pegang terjemahan Stefan Stenudd, orang Swedia, guru aikido tingkat tujuh, yang berkenalan dengan naskah ini dari guru aikidonya dan pertama-tama menerjemahkannya ke bahasa Swedia untuk mengisi kepala bab novelnya sendiri. Ia mencatat sendiri bahwa satu versi Inggris yang paling laku dibuat tanpa tanda-tanda mengenal naskah Mawangdui. Buku yang seluruhnya soal yang tidak kelihatan ternyata paling banyak ditentukan oleh hal yang paling kelihatan: siapa yang menyalinnya, dan tahun berapa kuburannya dibuka.
Berbaring rata, dan kantor yang tersinggung
Sejak 2021 ada kata yang menyebar di antara anak muda Cina: berbaring rata. Artinya berhenti mengejar. Tidak ikut lomba kerja yang jamnya tidak habis-habis, tidak mengambil pekerjaan yang bayarannya besar tapi menguras, cukup bekerja secukupnya untuk hidup.
Latarnya bisa dihitung. Pengangguran anak muda umur enam belas sampai dua puluh empat, di luar yang masih sekolah, di kisaran enam belas sampai tujuh belas persen sepanjang beberapa tahun terakhir.
Tanggapan pemerintahnya yang paling menarik buat kitab ini.
September 2025 badan yang mengurus ruang siber di sana menjalankan pembersihan terhadap isi yang dianggap menyebarkan rasa pesimis berlebihan, dengan sasaran orang yang menulis bahwa bekerja keras itu percuma. Belakangan kementerian keamanan negaranya menyebut kecenderungan berbaring rata itu sesuatu yang dirancang pihak luar.
Kitab ini lahir di tanah yang sama, dan menganjurkan hal yang bunyinya mirip: jangan memaksa, jangan mengejar, kosong itu yang berguna. Dan pemerintah di sana sedang mengangkat kebudayaan lamanya sendiri sebagai bahan pemersatu.
Dua hal itu ternyata tidak bisa berjalan bersama begitu saja. Bagian yang dianjurkan kitab ini kepada penguasa memang tidak memaksa. Bagian yang dianjurkan kepada rakyat tidak banyak menginginkan, dan itu yang saya sebut di atas tadi.
Yang tidak terbaca oleh siapa pun waktu bab-bab itu ditulis: rakyat yang benar-benar berhenti banyak menginginkan ternyata bikin repot juga.
Sesudah semuanya, justru bab-bab yang paling bisa dipegang yang tinggal: pusat roda, mangkuk, ruangan, air. Satu hal yang mereka nyatakan selamat dari semua kesamaran di sekelilingnya. Bagian yang mengerjakan tugasnya sering bukan bagian yang bisa ditunjuk.
Berlaku juga untuk bukunya sendiri. Yang mengerjakan tugasnya bukan Lao Tzu, yang mungkin tidak pernah ada, dan bukan delapan puluh satu babnya, yang dipotong orang belakangan. Sisanya lubang, dan tiap zaman memasang porosnya sendiri di situ. Saya memasang punya saya di bab sebelas, dan tahu persis itu pilihan, bukan temuan.
Susunan bukunya: bagiannya apa saja, mana jantungnya, mana yang boleh dilewat.
Bentuknya
Delapan puluh satu bab yang sangat pendek, sebagian cuma beberapa baris. Seluruhnya kira-kira lima ribu aksara dalam bahasa aslinya, jadi kitab ini bisa dibaca habis dalam satu jam dan tetap tidak selesai dalam bertahun-tahun.
Dibagi dua bagian: bagian pertama tentang jalan, bagian kedua tentang keutamaan. Pembagian itu datang belakangan, dan naskah tertua yang ditemukan di makam justru menaruh urutannya terbalik. Jadi urutan bab bukan hal yang perlu dihormati.
Isinya pernyataan, bukan penalaran, sering berpasangan dan sering saling membalik. Tidak ada satu bab pun yang menyangga bab lain, jadi kitab ini memang dibuka di mana saja.
Yang berulang di seluruh delapan puluh satu bab
- Yang kosong yang berguna. Perumpamaan yang paling terkenal: yang membuat roda berguna bukan jari-jarinya tapi lubang di tengahnya, yang membuat periuk berguna bukan tanahnya tapi rongganya, yang membuat rumah berguna bukan dindingnya tapi ruang kosongnya.
- Air. Dipuji berkali-kali karena mengalah pada segalanya dan justru karena itu mengalahkan segalanya. Air yang menang atas batu bukan dengan melawan.
- Tidak memaksa. Gagasan yang paling sering disalahpahami. Yang dimaksudkan bukan berdiam diri, tapi tidak memaksakan sesuatu melawan bentuknya sendiri.
- Kayu yang belum dipahat. Keadaan sebelum sesuatu diberi nama, digolongkan, dan dibentuk. Dipakai sebagai puji-pujian.
- Bab-bab tentang memerintah. Bagian yang paling jarang ikut dikutip, dan porsinya besar sekali. Kitab ini berkali-kali berbicara langsung kepada penguasa, dan menasihatinya supaya rakyatnya tidak terlalu banyak tahu dan tidak terlalu banyak menginginkan.
Yang jadi jantungnya
- Bab pembukanya, yang menyatakan bahwa jalan yang bisa disebutkan bukan jalan yang sebenarnya. Itu peringatan sekaligus kunci untuk delapan puluh bab sesudahnya.
- Bab tentang lubang di tengah roda, karena itu perumpamaan yang paling gampang dibawa keluar dan dipakai di urusan lain.
- Bab-bab tentang air.
- Bab-bab tentang memerintah, justru karena paling jarang dikutip. Membacanya mengubah gambaran tentang kitab ini secara menyeluruh.
Yang boleh dilewat
- Tidak ada bab yang perlu dilewat, karena semuanya pendek. Justru sebagian pengantar penerjemah yang sebaiknya dilewat, karena sering lebih panjang daripada kitabnya dan sudah memutuskan lebih dulu apa artinya.
- Bagian yang membahas perbedaan antarnaskah, kecuali kalau memang tertarik pada urusan naskah.
Yang jangan ditelan bulat-bulat
Kitab ini beredar hari ini terutama sebagai ajaran ketenangan pribadi: mengalir, tidak memaksa, menerima. Naskahnya sendiri lebih dari itu, dan sebagian besarnya justru buku nasihat untuk penguasa.
Sekali dibaca begitu, dua kelompok nasihatnya kelihatan berpasangan. Yang disuruh tidak memaksa itu penguasanya. Yang disuruh tidak banyak menginginkan dan tidak banyak tahu itu rakyatnya. Dua nasihat itu ada di kitab yang sama, dan cuma yang pertama yang beredar.
Tidak ada juga bukti kuat bahwa Lao Tzu pernah ada sebagai satu orang. Nama itu berarti guru tua, dan kitab ini kemungkinan besar tumbuh dari beberapa tangan selama waktu yang panjang.
Kalau buru-buru
Seluruhnya, karena memang cukup untuk satu malam. Satu saja yang perlu dijaga: jangan berhenti di bab-bab yang enak dikutip. Sisihkan waktu untuk membaca bab-bab yang bicara kepada penguasa, karena di situ kitab ini paling terus terang tentang siapa yang sedang diajaknya bicara.