Tidak ada batasan istilah, tidak ada argumen yang disusun berurutan, tidak ada sistem. Yang ada percakapan: Konfusius dengan seorang murid tertentu, dalam keadaan tertentu, dan jawabannya berubah menurut siapa yang bertanya. Kadang jernih, kadang berputar, ada kesal, ada lelucon, ada sindiran.
Ini kumpulan renungan, jadi yang ditanya kekonsistenan pengarangnya. Cuma ada satu kesulitan. Pengarangnya bukan satu orang, dan bukan Konfusius.
Dua puluh buku tanpa urutan
Konfusius wafat 479 SM. Naskahnya, menurut Burton Watson yang menerjemahkan edisi ini, disusun bertahap sekitar abad keempat SM oleh pengikutnya, dalam dua puluh Buku yang nyaris tanpa urutan yang bisa diterangkan. Karena disusun dalam waktu panjang oleh beberapa kelompok murid yang berbeda, isinya tidak selalu sejalan. Ada dua versi utama, yang Watson sebut teks Lu dan teks Ku, dan penomoran ayatnya berbeda-beda antar-edisi.
Satu contoh ketidaksejalanan itu Watson tunjuk sendiri. Kata ren, yang ia terjemahkan sebagai kemanusiaan dan yang jadi gagasan terpenting seluruh naskah, muncul di mana-mana. Tapi di 9:11 tertulis bahwa Sang Guru jarang bicara soal kemanusiaan.
Lalu ada babak yang menentukan nasibnya. Beberapa abad kemudian Kaisar Wu dari wangsa Han, yang memerintah 141 sampai 87 SM, menetapkan ajaran Konfusius sebagai doktrin resmi negara. Sejak itu naskah percakapan ini jadi buku pegangan kekaisaran selama dua ribu tahun.
Jadi uji konsistensinya harus dibagi dua: apa yang konsisten di dalam percakapannya, dan apa yang tersisa sesudah negara memilih bagian mana yang dipegang.
Anjing dan kuda juga diberi makan
Kata yang biasanya diterjemahkan tata cara, li, paling gampang disalahpahami sebagai sopan santun. Ayat 2:7 memperlihatkan bahwa Konfusius sendiri sudah menghadapi salah paham itu:
"Nowadays it's taken to mean just seeing that one's parents get enough to eat. But we do that much for dogs or horses as well. If there is no reverence, how is it any different?"
Sekarang berbakti dikira cuma memastikan orang tua cukup makan. Tapi anjing dan kuda pun kita beri makan. Kalau tidak ada rasa hormat, apa bedanya?
Dalilnya: wujud lahiriah dan rasa di dalamnya saling menopang. Lepaskan wujudnya, cepat atau lambat rasanya ikut keluar.
Kita punya contoh yang bagus. Sungkem. Lutut ditekuk, badan direndahkan, tangan orang tua diambil, kepala didekatkan. Beberapa detik. Kalau ditanya gunanya, jawaban yang gampang: itu adat, yang penting kan hatinya.
Kalimat "yang penting hatinya" benar hanya selama wujudnya masih dijalankan. Begitu wujudnya dilepas, tidak ada lagi saat dalam setahun ketika seorang anak yang sudah dewasa, punya penghasilan sendiri, mungkin lebih besar daripada penghasilan orang tuanya, menaruh badannya di posisi yang lebih rendah. Rasa hormat yang tidak pernah punya bentuk lama-lama tidak punya tempat berpijak, bukan karena orangnya berubah jahat, tapi karena tidak ada lagi saat yang memaksanya diperbarui. Tingkatan bahasa yang berganti menurut lawan bicara jalan dengan cara yang sama, dan yang melepasnya biasanya baru sadar sesudah beberapa tahun apa yang ikut lepas.
Lao Tzu menyerang persis di titik ini. Bab delapan belas Tao Te Ching: anak berbakti baru muncul waktu ikatan keluarga terguncang, menteri setia baru muncul waktu negeri kacau. Keutamaan diberi nama justru sesudah berhenti jadi hal biasa.
Yang jarang disebut, Konfusius setuju dengan diagnosisnya. Ayat 2:7 tadi keluhan tentang zaman yang sudah kehilangan isinya, dan Watson mencatat ia yakin Jalan tidak lagi berlaku di masanya. Bedanya di obatnya. Lao Tzu berhenti memberi nama. Konfusius mempertahankan bentuknya, supaya waktu isinya kembali masih ada tempat untuk pulang.
Separuh yang kurang laku
Untuk tiap nilai yang dipuji, pertanyaan yang saya bawa selalu sama: nilai ini menahan siapa, dan yang menyerukannya ikut kena atau tidak.
Di dalam percakapannya, jawabannya mengejutkan. Kesetiaan dan bakti di naskah ini nyaris selalu dua arah. Waktu Adipati Jing dari Qi bertanya soal pemerintahan, jawabannya di 12:11: biarlah penguasa jadi penguasa, pejabat jadi pejabat, ayah jadi ayah, anak jadi anak. Penguasa disebut lebih dulu, dan syaratnya sama. Waktu Ji Kangzi mengeluh soal pencuri di 12:18, jawabannya tidak menyentuh pencurinya sama sekali: kalau Anda tidak rakus, orang tidak akan mencuri meski diberi hadiah. Yang dituding keinginan di puncak, bukan tangan di bawah.
Dan waktu Zigong bertanya di 12:7 mana yang boleh dilepas dari tiga syarat memerintah, urutannya tegas: lepaskan senjata dulu, lalu makanan.
"From times past, everyone has to die. But without the trust of the common people, you get nowhere."
Sejak dulu semua orang toh mati. Tapi tanpa kepercayaan rakyat, tidak ada yang bisa dikerjakan.
Konfusius juga membayar sendiri harganya. Ran Qiu, muridnya, jadi pemungut pajak keluarga Ji yang sudah lebih kaya dari Adipati Zhou dan tetap memperkaya mereka; Konfusius menyuruh murid-murid lain memukul genderang dan menyerangnya. Di 14:1 ia bilang menerima gaji dari negara yang tidak menjalankan Jalan itu memalukan, dan di 18:4 ia benar-benar pergi dari Lu waktu Ji Huanzi menerima hadiah rombongan penyanyi perempuan dari Qi lalu tiga hari tidak muncul di balairung.
Separuh itu yang jauh kurang laku daripada separuh tentang anak menuruti ayah. Bukan karena disembunyikan, tapi karena sejak Kaisar Wu yang memilih bagian mana yang diajarkan adalah pihak yang paling diuntungkan oleh separuh satunya. Nilai yang lahir dua arah berubah jadi satu arah begitu jarak antara yang menyerukan dan yang menjalankan melebar sampai ke istana.
Bandingkan dengan Kautilya di The Arthashastra, yang mengandaikan tiap pegawai mencicipi kas negara dan memasang mata-mata ke bawah. Konfusius menunjuk ke arah sebaliknya: pencurinya ikut keinginan orang yang mengeluh soal pencuri.
Orang yang mengaku belum sampai
Junzi, yang Watson terjemahkan gentleman dan yang di sini biasa disebut orang budiman, laki-laki dari awal sampai akhir. Watson menegaskannya: perempuan hampir tidak muncul di seluruh naskah. Itu batas yang harus disebut sebelum bagian berikutnya.
Yang menarik dari ukuran junzi itu siapa yang lolos. Konfusius sendiri tidak. Di 7:32 ia bilang dalam urusan kebudayaan ia sebaik orang lain, tapi menjalankan sendiri peran orang budiman, itu belum sanggup. Di 7:25 ia bilang seorang bijak belum pernah ia lihat; bertemu orang budiman sejati saja sudah cukup. Dan ukurannya di Buku Lima Belas: orang budiman gelisah karena kekurangan dirinya sendiri, bukan karena orang lain tidak mengerti dia; ia menuntut dirinya sendiri, orang kerdil menuntut orang lain.
Perhatikan orang macam apa yang digambarkan: yang ragu pada dirinya, yang melihat rumitnya, yang enggan mengaku sudah sampai. Persis jenis orang yang cenderung minggir dari jabatan, karena jabatan menyaring keyakinan diri, bukan kecakapan, dan keyakinan diri jauh lebih gampang dilihat dari luar.
Naskahnya sendiri merekam saringan itu bicara. Di 13:3 Zilu bertanya apa yang akan Konfusius kerjakan pertama kali kalau diberi pemerintahan, dan jawabannya membetulkan nama-nama. Zilu langsung menyahut: itu sebabnya orang bilang Guru tidak menginjak bumi. Konfusius menjelaskan rantainya, nama yang tidak cocok membuat ucapan tidak jalan, ucapan yang tidak jalan membuat pekerjaan tidak selesai. Tapi suara Zilu itu suara yang dipakai tiap ruang rapat untuk menyingkirkan orang yang mau membereskan dasarnya dulu.
Saya pernah memegang rapat mingguan yang namanya penagihan janji. Beberapa minggu jalan, lalu isinya pelan-pelan jadi laporan, sementara namanya tetap. Sejak nama dan isinya tidak cocok, tidak ada satu pun yang benar-benar ditagih. Ayat 13:3 menerangkan kejadian kecil itu lebih baik daripada buku manajemen mana pun, dan tidak menyediakan cara menjawab Zilu.
Plato sampai di tempat yang sama dari arah lain: kota yang paling baik, katanya di The Republic, kota yang penguasanya paling tidak ingin memerintah. Dua-duanya menggambarkan pemimpin yang tidak akan pernah lolos saringan yang ada.
Ketahuan, lalu menyebutnya beruntung
Bagian yang saya simpan justru waktu ia sendiri bocor.
Seorang pejabat bertanya apakah Adipati Zhao, penguasa negeri Konfusius sendiri, mengerti tata cara. Konfusius menjawab ya. Padahal sang adipati menikahi perempuan semarga, pelanggaran tata cara yang jelas, dan Konfusius, menurut catatan Watson, memilih memberi jawaban yang salah daripada mengakui kesalahan penguasanya di depan orang negeri lain. Kesetiaan mengalahkan kebenaran, di mulut orang yang seluruh ajarannya soal nama yang harus cocok dengan isinya.
Teguran itu sampai ke telinganya. Jawabannya di 7:30:
"How fortunate I am! If I make a mistake, someone is certain to let me know."
Beruntung sekali saya. Kalau saya berbuat salah, pasti ada yang memberi tahu.
Ia tidak membela jawabannya dan tidak mencari alasan. Dua hal yang paling saya hormati pada siapa pun ada di situ sekaligus: menanggung akibat pilihannya, dan tidak menyalahkan orang lain untuk pilihan itu. Kebocorannya nyata, dan cara ia menutupnya justru yang membuat seluruh naskah ini bisa dipercaya.
Kolom agama di kartu penduduk
Konfusius menjaga jarak dari yang gaib, dan itu kata-katanya sendiri: hormati roh dan dewa tapi jaga jaraknya, 6:22; kalau melayani manusia saja belum tahu caranya, bagaimana melayani roh, 11:12. Watson menyimpulkan perhatiannya hampir seluruhnya pada penyakit masyarakat, bukan pada iman.
Dari 1967 sampai 2000, di negeri ini ajaran itu tidak termasuk agama yang diakui, dan orang yang memegangnya harus menulis agama lain di kartu penduduknya. Baru pada 2000 pengakuannya dipulihkan, dan Imlek kemudian jadi hari libur nasional. Watson tidak menyebut Indonesia, dan tidak ada alasan ia harus.
Sudut pandang kita sendiri atas kasus kita justru lebih menarik daripada sekadar mencatat pembatasannya. Negara ini menyediakan satu kolom yang wajib diisi, dan kolom itu cuma menerima agama. Maka sebuah kumpulan percakapan tentang cara membawa diri di antara manusia, yang penulisnya sengaja menjauhkan roh dan dewa, harus mengambil bentuk agama supaya bisa diisikan. Bentuk yang tersedia menentukan apa yang dipegang, dan itu persis dalil Konfusius tentang li, cuma kali ini dijalankan negara.
Dipakai lagi, dan kali ini oleh negara yang dulu melarangnya
Naskah ini pernah dijadikan bahan ujian negara selama seribu tiga ratus tahun, dan bagian atas tadi sudah menyebut apa yang terjadi pada sebuah naskah begitu dipakai begitu.
Yang menambah lapisannya, hal itu terjadi dua kali kepada naskah yang sama.
Pada masa Mao, Konfusius jadi sasaran kampanye resmi; ajarannya disebut sisa masa lalu yang harus dibuang. Beberapa dasawarsa kemudian arahnya dibalik. Pada peringatan dua ribu lima ratus enam puluh lima tahun kelahirannya, Xi Jinping berpidato dan menyebut meneliti Konfusius sebagai jalan penting untuk mengenali watak bangsanya. Ratusan lembaga bahasa dan kebudayaan yang memakai namanya dibuka di banyak negeri.
Jadi dalam satu abad, satu naskah yang sama dipakai negara untuk dua pekerjaan yang berlawanan: dibuang untuk menandai putusnya dengan masa lalu, lalu dipanggil lagi untuk menandai sambungannya.
Isi naskahnya tidak berubah sebaris pun di antara dua kejadian itu.
Dan itu justru menguatkan cara membacanya yang saya pakai di atas. Naskah yang isinya hampir selalu jawaban untuk orang tertentu di perkara tertentu memang gampang sekali diambil sebagiannya. Yang diambil pihak yang membuang dan pihak yang memanggil kembali kebetulan bukan bagian yang sama.
Yang diminta naskah ini bukan persetujuan. Cuma satu: perhatikan bahwa Konfusius hampir tidak pernah menjawab pertanyaan secara umum, lalu timbang apakah perkara yang paling sulit buat kita sulit karena asasnya belum jelas, atau karena perkara di depan mata kita yang belum jelas.
Dan ada 2:3, yang saya baca ulang tiap kali ada aturan baru dikeluarkan: dipandu dengan perintah dan diatur dengan hukuman, orang akan mencari celah dan tidak merasa malu. Dipandu dengan keutamaan dan tata cara, mereka akan punya rasa malu.
Kalimat itu benar, dan cara menjalankannya di negeri yang kameranya makin banyak dan rasa malunya makin sedikit, belum ketemu. Zilu masih menunggu jawabannya.
Susunan bukunya: bagiannya apa saja, mana jantungnya, mana yang boleh dilewat.
Bentuknya
Dua puluh buku pendek, dan tidak satu pun disusun menurut pokok bahasan. Isinya potongan percakapan, jawaban atas pertanyaan murid, dan kadang cuma satu kalimat tanpa keterangan siapa yang bertanya dan kenapa.
Ini bukan karangan Konfusius. Isinya kumpulan catatan murid dan murid dari murid, dirakit selama beberapa keturunan sesudah ia meninggal, dan sebagian bagiannya lebih muda daripada sebagian yang lain. Akibatnya ada bagian yang bertentangan, dan pertentangan itu bukan salah baca.
Karena bentuknya begitu, tidak ada gunanya membaca berurutan sekali habis. Yang lebih masuk akal, ambil beberapa halaman, endapkan, lalu kembali lagi.
Yang berulang di seluruh dua puluh buku
Kalau seluruh potongan dijejerkan menurut isinya, beberapa hal muncul terus.
- Perlakuan pada orang tua. Salah satu potongan yang paling terkenal menyebut anjing dan kuda pun diberi makan, jadi kalau memberi makan orang tua tanpa rasa hormat, apa bedanya. Yang dituntut bukan pemberiannya, tapi sikapnya.
- Kesetiaan yang dua arah. Ini bagian yang paling sering hilang waktu ajaran ini dikutip. Bawahan memang dituntut setia, dan atasan dituntut memperlakukan bawahannya menurut aturan yang sama mengikatnya. Kewajibannya berpasangan, bukan satu arah.
- Belajar dan berpikir. Belajar tanpa berpikir itu sia-sia, berpikir tanpa belajar itu berbahaya. Salah satu potongan paling pendek dan paling terpakai.
- Nama yang harus benar. Kalau sebutan untuk sesuatu tidak tepat, kalimat jadi tidak masuk akal, dan kalau kalimat tidak masuk akal, urusan tidak jalan. Dari situ ditarik keharusan menyebut sesuatu dengan namanya yang benar.
- Mengaku belum sampai. Konfusius berkali-kali menolak disebut sudah bijak, dan menyebut dirinya cuma orang yang gemar belajar.
Yang jadi jantungnya
- Buku dua dan buku empat, yang paling padat dan paling sedikit memuat urusan upacara.
- Buku dua belas dan tiga belas, tempat pertanyaan soal memerintah paling banyak dijawab, termasuk soal menyebut sesuatu dengan namanya yang benar.
- Buku tujuh, karena di situ Konfusius paling banyak bicara tentang dirinya sendiri, dan yang dikatakannya jauh lebih rendah hati daripada gambaran yang beredar tentangnya.
Yang boleh dilewat
- Buku sepuluh hampir seluruhnya. Isinya perincian cara Konfusius berpakaian, duduk, dan makan, dan hampir tidak ada yang bisa dibawa keluar dari situ.
- Bagian-bagian yang merinci tata cara upacara dan musik kerajaan zaman itu.
- Kata pengantar penerjemah yang sudah lebih dulu memutuskan ajaran ini pada dasarnya tentang kepatuhan. Itu satu bacaan, dan bukan satu-satunya.
Yang jangan ditelan bulat-bulat
Ajaran ini beredar hari ini terutama sebagai ajaran tentang patuh: pada orang tua, pada guru, pada atasan, pada negara. Naskahnya sendiri lebih berimbang dari itu, dan memuat kewajiban yang mengikat ke atas sama kerasnya. Yang membuat separuhnya lebih laku bukan naskahnya, tapi pemakainya: penguasa yang menjadikannya ajaran resmi memilih bagian yang menahan yang di bawah, dan bagian yang menahan yang di atas dibiarkan tidak diajarkan.
Itu bukan tuduhan terhadap Konfusius. Itu keterangan tentang apa yang terjadi pada sebuah naskah begitu dipakai negara.
Kalau buru-buru
Buku dua, empat, tujuh, dan tiga belas. Empat buku pendek, mungkin tiga puluh halaman, dan sisanya boleh ditinggalkan: kewajiban kepada orang tua yang menuntut sikap bukan pemberian, kesetiaan yang berpasangan dua arah, orang yang menolak disebut bijak dan menyebut dirinya cuma gemar belajar, dan keharusan menyebut sesuatu dengan namanya yang benar sebelum apa pun bisa diurus.