Yang pertama perlu disebut: ini bukan sebuah buku, dan edisi yang saya pegang mengakuinya di halaman katalognya sendiri. Di situ tertulis satu kata: Selections, pilihan.
Dipilih dari berapa pun tidak diketahui, kata pengantarnya. Sepuluh di antaranya disebut yang utama karena Shankara, pertapa abad kedelapan, memilih sepuluh itu untuk ditafsirkan. Edisi ini memuat sebelas, ditambah empat naskah kecil. Daftar yang lebih muda menyebut seratus delapan. Lapisan tertuanya ditulis berabad-abad sebelum Masehi oleh orang-orang yang tidak meninggalkan nama, dan Holloway di A Little History of Religion menaruh penyelesaiannya sekitar 300 SM sambil menerjemahkan kata Upanishad dengan enak: duduk dekat guru. Bentuknya memang itu, percakapan seorang guru dengan satu murid, bukan risalah.
Yang diurus percakapan itu soal yang sama dengan yang diurus Marcus Aurelius di tendanya: mati, dan apa yang harus dikerjakan sebelum itu. Jalannya berlawanan. Marcus bilang yang sekarang satu-satunya yang bisa dirampas. Naskah ini bilang yang bisa dirampas itu bukan kamu.
Soalnya saya urus juga. Jawaban keduanya tidak saya ikuti.
Garam, dan tiga kali tiga puluh dua tahun
Chandogya Upanishad membuat dalilnya bisa dipegang. Uddalaka menyuruh anaknya, Shvetaketu, melarutkan garam ke air dan meninggalkannya semalam. Pagi harinya garamnya tidak kelihatan. Cicipi di atas, di tengah, di dasar: asin semua. Lalu kalimat yang diulang tradisi ini sampai sekarang, dan di edisi ini diulang terus dalam satu bab:
"You are that, Shvetaketu; you are that."
Engkau adalah itu, Shvetaketu, engkau adalah itu.
Cerita yang lebih jarang dikutip ada di bab berikutnya, dan menurut saya lebih terus terang soal cara kerja ajaran ini. Indra dari pihak dewa dan Virochana dari pihak asura datang berguru kepada Prajapati. Tiga puluh dua tahun mereka tinggal di situ. Lalu Prajapati menyuruh keduanya bercermin di air dan bertanya apa yang mereka lihat. Diri yang berpakaian bagus, jawab mereka. Itulah Diri, kata gurunya. Dua-duanya pulang puas.
Virochana berhenti di situ. Ajaran bahwa diri itu badan dibawanya pulang ke kaum asura. Indra di tengah jalan ragu, balik lagi, dan disuruh tinggal tiga puluh dua tahun lagi, lalu tiga puluh dua tahun lagi.
Gurunya sengaja memberi jawaban yang salah lebih dulu, dan membiarkan yang puas pergi. Itu cara mengajar yang cerdik dan tidak adil sekaligus, dan naskahnya tidak berpura-pura adil. Posisi yang saya pegang, bahwa yang selesai itu memang selesai, di buku ini dapat jatah asura. Tidak apa-apa. Naskahnya terus terang soal siapa yang dianggapnya salah.
Seribu ekor sapi, dan orang bijak yang mengaku menginginkannya
Raja Janaka menggiring seribu sapi ke kandang, tiap tanduknya diikatkan sepuluh keping emas, dan mengumumkan sapi itu untuk yang paling bijak di antara para brahmana yang hadir. Tidak ada yang berani bergerak. Yajnavalkya menoleh ke muridnya: bawa pulang sapinya, Nak.
Waktu ditanya apakah ia sungguh merasa paling bijak:
"I salute the wisest, but I want those cows."
Aku hormat kepada yang paling bijak, tapi sapi-sapi itu aku mau.
Kalimat ini tidak pernah masuk ke buku motivasi, dan justru ini yang bikin sisanya bisa dipercaya. Naskah yang bicara tentang melepas diri memuat orang bijaknya sendiri mengaku ingin seribu sapi, di depan umum, lalu memenangkan perdebatan. Gargi, seorang perempuan, yang menutup perdebatan itu dengan dua pertanyaan dan menyatakan tidak ada yang bisa mengalahkannya.
Ada satu lagi yang seimbang dengan itu. Yajnavalkya hendak pergi meninggalkan rumah dan mau membagi hartanya kepada dua istrinya. Maitreyi bertanya: kalau seluruh kekayaan di bumi jadi milikku, apa aku jadi kekal? Tidak, jawab suaminya. Kalau begitu untuk apa. Dan yang ia minta diajarkan justru yang paling berat: sesudah ikatan dengan badan lepas, tidak ada lagi diri yang terpisah. Maitreyi menjawab ia bingung. Naskahnya membiarkan kebingungan itu tertulis.
Kereta, dan tiga bagian jiwa
Katha Upanishad memberi gambaran yang paling sering dipinjam. Diri itu penumpang, badan keretanya, akal budi kusirnya, pikiran tali kekangnya, pancaindra kudanya, dan keinginan jalan yang dilalui kuda-kuda itu.
Gambaran ini hampir selalu dijejerkan dengan kereta Plato, dan catatan kaki edisi ini menyebutkan tempatnya dengan benar: Phaedrus, bukan The Republic. Di Republik yang ada tiga bagian jiwa tanpa kereta, akal, semangat, dan keinginan, dan keadilan berarti tiap bagian mengerjakan tugasnya. Persamaannya cuma di jumlah. Plato mengurus bagian-bagian yang bertengkar. Katha mengurus penumpang yang tidak mengerjakan apa pun dan jadi alasan seluruh perjalanannya ada.
Yang paling terkenal dari cara naskah ini, neti neti, bukan ini bukan ini, menolak tiap gambaran tentang yang tidak bisa digambarkan, justru tidak ada di edisi ini. Dicari, dan kata itu tidak muncul sekali pun. Penerjemahnya memilih bagian yang hangat dan bergambar. Yang keras dan menyangkal ditinggal.
Tidak ada celah untuk kebetulan
Di sini argumennya bocor, dan bocornya bukan di naskah tuanya tapi di kata penutup edisi ini.
Penulis kata penutupnya, Michael Nagler, menerangkan ajaran kelahiran kembali dengan satu kalimat yang bagus:
"According to this view of rebirth there is not a hairline crack for chance; we go to the destiny we have shaped by our thoughts and desires."
Menurut pandangan ini tentang kelahiran kembali, tidak ada celah serambut pun untuk kebetulan; kita menuju nasib yang sudah kita bentuk sendiri lewat pikiran dan keinginan kita.
Di situ saya berhenti. Kebetulan itu nyata dan besar. Panen gagal dua tahun berturut-turut, kapal tenggelam, anak lahir di rumah yang salah. Sebuah tatanan yang tidak menyisakan celah serambut untuk itu menerangkan segalanya, dan justru karena itu tidak bisa diperiksa: nasib buruk selalu bisa dibilang bentukan sendiri, dari kehidupan yang tidak ada saksinya.
Nagler juga menulis bahwa Gandhi, satu orang kecil, mengalahkan Kerajaan Inggris di puncak kejayaannya dengan rahasia yang sama, tanpa kekerasan. Itu hasil yang dipakai sebagai bukti ajaran. Perang dunia yang menguras kas Inggris, dan tentara India yang pulang dari perang itu, tidak ikut dihitung. Judul kata penutupnya, "Agama untuk Zaman Modern", memberi tahu ke mana arahnya sejak awal.
Terjemahannya sendiri mengumumkan pilihannya. Eknath Easwaran mendirikan pusat meditasi di Berkeley pada 1961, dan pengantarnya dibuka dengan kisahnya sendiri: hidup yang serba cukup, lalu haus akan sesuatu yang lebih, lalu perpustakaan, lalu naskah ini. Hangat, penuh rasa bakti, dan bagian yang sulit dilicinkan. Terjemahan yang lebih kering, seperti Patrick Olivelle, memberi buku yang lain sama sekali.
Dua jalan ke Jawa, satu jalan ke Eropa
Ini bukan bahan asing di sini. Kata yang kita pakai tiap hari datang dari lapisan itu: jiwa, raga, guru, karma, budi, sengsara, duka. Di Bali penurunannya tidak pernah putus, dan tat tvam asi diajarkan di pelajaran agama Hindu sekolah-sekolah di sini sebagai asas kesusilaan paling dasar: yang kamu perbuat kepada orang lain, kamu perbuat kepada dirimu sendiri.
Jalan kedua lebih ganjil. Kebatinan Jawa punya ajaran manunggaling kawula Gusti, menyatunya hamba dengan Tuhannya, yang dalam tradisi dikaitkan dengan Syekh Siti Jenar. Kalau dilihat susunannya, itu dalil yang sama. Dan dalam cerita yang sampai ke kita, ia dihukum mati karenanya. Peristiwanya masih diperdebatkan sejarawan. Yang tidak diperdebatkan: ceritanya terus diceritakan di sini.
Jalan ke Eropa lebih ganjil lagi, dan kata penutup edisi ini cuma menyinggungnya lewat satu kata, "abad ketujuh belas". Yang terjadi di abad itu: Dara Shikoh, putra mahkota Mughal, menerjemahkan lima puluh Upanishad ke bahasa Persia pada 1657. Dua tahun kemudian ia dieksekusi oleh saudaranya sendiri, Aurangzeb, dan salah satu tuduhannya murtad. Dari terjemahan Persia itulah Anquetil-Duperron membuat versi Latin pada awal abad kesembilan belas, dan versi Latin itulah yang dibaca Schopenhauer, yang lalu menulis kalimat yang dikutip edisi ini:
"They have been the consolation of my life, and will be the consolation of my death."
Naskah-naskah itu sudah jadi penghibur hidupku, dan akan jadi penghibur kematianku.
Dua orang yang membawa dalil ini keluar dari ruangannya, satu di Jawa dan satu di Delhi, sama-sama dibunuh. Gagasannya tidak berubah. Ruangannya yang berubah.
Harari di Sapiens meringkasnya jadi satu kalimat: dalam politeisme Hindu ada satu asas, Atman, yang mengatur para dewa. Naskahnya sendiri memakai dua kata, Brahman untuk dasar segalanya dan Atman untuk diri, dan seluruh isinya justru persamaan di antara keduanya. Ringkasan yang menghilangkan tanda sama dengan itu menghilangkan bukunya.
Yang terbawa pulang bukan dalilnya. Yang terbawa Nachiketa, anak yang dikirim ayahnya ke kematian karena menanyakan apa gunanya menyedekahkan sapi yang sudah tidak bisa diperah, lalu duduk tiga malam di depan pintu Yama, dan waktu ditawari harta, umur panjang, dan perempuan supaya berhenti bertanya, menjawab: simpan kuda dan keretamu untukmu sendiri. Pertanyaannya cuma satu, orang mati itu masih ada atau tidak.
Jawaban saya bukan jawaban Yama. Tapi anak itu benar soal sapi yang tidak bisa diperah, dan benar soal kuda dan kereta, dan sebagian kosakatanya sudah ada di mulut saya jauh sebelum asalnya ketahuan.
Naskahnya dipasang jadi mata kuliah wajib
Sejak 2023 pemerintah India mewajibkan tiap mahasiswa mengambil mata kuliah tentang pengetahuan India lama, sekurangnya lima persen dari seluruh bobot studinya. Isinya bermacam-macam: matematika Weda, pengobatan lama, yoga, bahasa Sanskerta, dan aliran-aliran filsafat, termasuk yang berpangkal pada naskah ini. Ada juga sasaran melatih sekitar satu setengah juta pengajar untuk itu.
Alasan resminya masuk akal, dan sebagian dari saya setuju. Naskah setua ini memang tidak pantas dikenal orang cuma lewat ringkasan orang lain, dan itu keluhan saya sendiri di bagian atas tadi soal ringkasan yang menghilangkan tanda sama dengan.
Saya berhenti agak lama di soal apa yang terjadi pada sebuah naskah begitu jadi kewajiban dengan bobot nilai.
Isi naskah ini percakapan. Guru menjawab murid, dan sering jawabannya berbentuk pertanyaan balik atau penolakan menjawab. Nachiketa berhasil bukan karena hafal, tapi karena menolak berhenti bertanya, dan yang ia tolak justru tawaran yang bagus-bagus.
Anak yang mengambil lima persen bobot studinya untuk naskah ini akan diuji, dan yang bisa diuji jawabannya, bukan pertanyaannya. Yang paling gampang dinilai juga yang paling gampang dihafal.
Saya tidak tahu bagaimana ini akan berjalan di sana, dan bukan urusan saya menilainya. Yang saya tahu, di negeri saya sendiri naskah keramat juga masuk ke sekolah, sudah lama, dan yang keluar dari situ hafalan.
Susunan bukunya: bagiannya apa saja, mana jantungnya, mana yang boleh dilewat.
Bentuknya
Ini kumpulan naskah yang ditulis orang berbeda selama beberapa abad, bukan satu kitab, dan sebagian saling bertentangan. Terbitan yang beredar biasanya memuat sebelas sampai tiga belas naskah utama, ditambah beberapa yang lebih pendek, masing-masing berdiri sendiri dan boleh dibaca terpisah.
Bentuk tiap naskah juga berbeda-beda. Ada yang berupa percakapan antara guru dan murid, ada yang berupa perdebatan di istana raja, ada yang cuma deretan pernyataan pendek. Yang paling terkenal justru yang berbentuk cerita.
Karena tidak ada urutan yang mengikat, tidak ada gunanya membacanya dari depan ke belakang. Lebih masuk akal ambil dua atau tiga yang paling padat, lalu biarkan sisanya.
Yang paling banyak dibaca orang
- Katha. Naskah paling terkenal, dan bentuknya cerita: seorang anak dikirim ayahnya ke rumah kematian, lalu bertanya kepada tuan rumahnya apa yang terjadi sesudah orang mati. Dewa kematian mula-mula menolak menjawab dan menawarkan hal lain, termasuk kekayaan dan umur panjang, dan penolakan anak itu atas tawaran-tawaran tadi yang jadi isi naskahnya. Di sini juga ada perumpamaan kereta: badan sebagai kereta, akal sebagai kusir, panca indra sebagai kudanya.
- Chandogya. Memuat bagian yang paling sering dikutip dari seluruh kumpulan ini, yaitu percakapan seorang ayah dan anaknya tentang garam yang dilarutkan dalam air. Garamnya tidak kelihatan lagi, dan tetap ada di seluruh bagian air itu. Dari situ datang kalimat yang jadi inti seluruh ajaran ini: engkau adalah itu.
- Brihadaranyaka. Paling panjang dan paling beragam. Di dalamnya ada perdebatan terbuka di istana seorang raja, lengkap dengan hadiah seribu ekor sapi bagi yang menang, dan seorang bijak yang terang-terangan mengaku menginginkannya.
- Isha, Kena, Mundaka, Mandukya. Empat naskah pendek, padat, dan paling sedikit ceritanya. Mandukya yang paling pendek di seluruh kumpulan, dan isinya tahap-tahap kesadaran.
Yang jadi jantungnya
- Katha dan Chandogya. Kalau cuma dua yang sempat dibaca, ambil dua ini: satu berbentuk cerita yang bisa diikuti siapa saja, satu memuat kalimat yang jadi inti seluruhnya.
- Bagian perdebatan di istana dalam Brihadaranyaka, karena di situ terlihat bahwa naskah ini lahir di tengah persaingan, bukan di tengah keheningan.
Yang boleh dilewat
- Bagian-bagian yang berisi tata cara upacara dan perincian persembahan, yang jumlahnya cukup banyak terutama di naskah yang lebih tua.
- Naskah-naskah pendek tambahan di sebagian terbitan, yang isinya sebagian besar mengulang.
- Kata pengantar penerjemah yang sudah lebih dulu memutuskan apa artinya. Naskahnya sendiri jauh lebih terbuka daripada sebagian pengantarnya.
Yang jangan ditelan bulat-bulat
Dua hal.
Yang pertama, terjemahan menentukan sekali di sini. Beberapa kata kunci di naskah ini tidak punya padanan yang pas dalam bahasa mana pun, dan pilihan penerjemah bisa mengubah artinya jauh. Kalau ada dua terjemahan, membandingkan bagian yang sama di keduanya jauh lebih berguna daripada membaca satu terjemahan sampai habis.
Yang kedua, ajaran bahwa segala sesuatu pada dasarnya satu terdengar lapang dan menenangkan, dan akibatnya tidak selalu begitu. Kalau semuanya sudah begitu adanya, tidak banyak celah tersisa untuk kebetulan, untuk salah, dan untuk keadaan yang seharusnya diubah. Naskahnya sendiri tidak menarik kesimpulan itu; pembacanya yang sering menariknya.
Satu lagi yang perlu diketahui pembaca di sini: gagasan dari kumpulan naskah ini sampai ke Jawa lewat dua jalan yang berbeda, satu jauh di masa lalu lewat pengaruh India, satu lagi belakangan lewat terjemahan Eropa. Yang sampai lewat jalan kedua sering sudah berganti bentuk di perjalanan.
Kalau buru-buru
Katha dan Chandogya bagian garamnya, lalu Mandukya yang cuma beberapa halaman. Tiga potong, dan sisanya boleh ditinggalkan: pertanyaan tentang apa yang terjadi sesudah mati beserta tawaran-tawaran yang ditolak untuk mendapat jawabannya, perumpamaan garam yang melahirkan kalimat paling terkenal dari seluruh kumpulan ini, dan naskah paling pendek yang isinya tahap-tahap kesadaran.