Naskah yang sama menopang setidaknya empat bacaan, dan keempatnya saling bertentangan. Rancangan negara, dan begitulah Popper membacanya sebelum menghantamnya. Kajian tentang jiwa, dengan kotanya cuma bagan yang digambar cukup besar supaya kelihatan. Sindiran panjang, waktu Socrates sengaja membangun kota yang mustahil. Atau pembelaan filsafat, ditujukan kepada kota yang baru saja menghukum mati gurunya.
C.D.C. Reeve, yang terjemahannya saya pakai, merumuskan pilihan itu di pengantarnya dengan terus terang:
"Is the Republic a totalitarian work, a hymn to freedom properly conceived, or a reductio ad absurdum of the very argument it seems to be advancing?"
Apakah Republik karya totaliter, nyanyian pujian untuk kebebasan yang dipahami dengan benar, atau pembuktian lewat kemustahilan atas argumen yang tampaknya sedang ia ajukan sendiri?
Buat saya ini renungan tentang jiwa, dan renungan cuma diukur dari satu hal: pengarangnya bertahan sampai akhir atau tidak. Bocornya ternyata ada di tempat yang bisa ditunjuk, dan justru di situ bukunya paling berguna.
Huruf yang lebih besar
Socrates ditanya keadilan pada diri seorang manusia itu apa. Jawabannya: satu orang terlalu kecil untuk dibaca, jadi bangun kota dulu, sebab hal yang sama kalau ditulis dengan huruf lebih besar jadi lebih gampang dilihat. Semua yang menyusul berpangkal pada diterimanya perumpamaan itu.
Kotanya punya tiga golongan karena jiwa punya tiga bagian: yang menalar, yang bersemangat dan ingin dihargai, dan yang menginginkan. Keadilan di dalam kota berarti tiap bagian mengerjakan tugasnya sendiri, maka keadilan di dalam orang artinya sama. Seluruh buku Fukuyama tentang pengakuan dibangun dari bagian tengah itu, thymos, dan catatannya ada di Identity.
Yang jarang diceritakan: Socrates sampai ke perumpamaan itu sesudah kalah. Di Buku Satu Thrasymachus bilang keadilan itu kepentingan yang lebih kuat, sebab yang berkuasa yang menulis aturannya, dan orang yang dididik mematuhi aturan itu sedang memegang nilai yang menguntungkan penguasanya, bukan dirinya. Reeve mencatat bantahan Socrates tidak dianggap cukup, bahkan oleh kawan-kawannya sendiri di percakapan itu, dan sesudah Buku Satu cara bertanya-jawab yang biasa dipakai Socrates ditinggalkan sama sekali. Glaucon lalu mengulang tantangannya lewat cincin Gyges: kalau bisa tidak kelihatan, tidak ada yang mau adil kecuali dipaksa.
Seluruh kota itu dibangun untuk menjawab Thrasymachus. Dan Thrasymachus, menurut saya, separuh benar: tiap nilai memang ada yang diuntungkan. Yang tidak ikut dari situ cuma kesimpulan bahwa nilai itu karenanya palsu.
Kapal yang nakhodanya disebut tukang menatap bintang
Buku Enam memuat perumpamaan yang jauh lebih jarang dikutip daripada gua, dan jauh lebih kepakai.
"The sailors are quarreling with one another about captaincy. Each of them thinks that he should captain the ship, even though he has not yet learned the craft and cannot name his teacher or a time when he was learning it."
Para awak bertengkar soal siapa yang jadi nakhoda. Tiap orang merasa dialah yang pantas, meski belum pernah mempelajari ilmunya dan tidak bisa menyebut siapa gurunya atau kapan ia belajar.
Pemilik kapalnya lebih besar dan lebih kuat dari semua orang, tapi agak tuli, agak rabun, dan pengetahuannya soal pelayaran sepadan dengan itu. Awak yang paling pandai membujuk pemilik kapal yang pegang kemudi, dan orang yang benar-benar tahu musim, langit, dan angin dipanggil tukang menatap bintang, tukang mengoceh, dan tidak berguna.
Ini gambaran paling tepat yang pernah saya baca tentang cara jabatan menyaring orang. Jabatan menyaring keyakinan diri, bukan kecakapan, sebab keyakinan diri bisa dilihat dari geladak dan kecakapan tidak. Yang cakap melihat rumitnya lalu ragu, dan ragunya dibaca sebagai tidak siap. Plato melihat itu dua ribu empat ratus tahun lalu, dan menuliskannya lebih telak daripada buku kepemimpinan mana pun.
Jawabannya yang jadi soal. Kalau nakhoda dipilih dengan cara itu, katanya, kota tidak akan pernah beres:
"cities will have no rest from evils, my dear Glaucon, nor, I think, will the human race."
Kota-kota tidak akan pernah lepas dari kejahatan, Glaucon, dan menurut saya umat manusia juga tidak. Sampai, dan ini syaratnya, filsuf memerintah sebagai raja, atau raja jadi filsuf.
Dan siapa yang memerintah? Buku Tujuh: kota yang paling baik dan paling bebas dari perpecahan kota yang calon penguasanya paling tidak ingin memerintah. Mereka yang sudah keluar dari gua harus dipaksa turun lagi untuk memegang jabatan.
Di sini bocornya, dan bocornya kelihatan karena Plato sendiri yang memasang ukurannya. Penyaringan yang salah ia gambarkan dengan benar. Obatnya bukan menyaring dengan cara lain, tapi meniadakan pemilihan sama sekali: penguasa dibesarkan dari kecil, disaring pendidikan, lalu dipaksa. Siapa yang memaksa mereka, dan siapa yang menyaring penyaringnya, tidak pernah dijawab. Awak kapal cuma diganti dengan pengasuh, dan pengasuhnya tidak ada yang mengawasi.
Obat yang cuma boleh diracik penguasa
Buku Tiga menetapkan bohong itu obat, dan obat cuma boleh dipegang dokter:
"a lie is really useless to the gods, but useful to human beings as a form of drug, it is clear that it must be assigned to doctors, whereas private individuals must have nothing to do with it."
Bohong tidak ada gunanya bagi dewa, tapi berguna bagi manusia sebagai obat, jadi jelas harus diserahkan kepada dokter, dan orang biasa tidak boleh menyentuhnya sama sekali.
Yang boleh berbohong penguasa, demi kota. Lalu di akhir buku yang sama Socrates menyusun bohongnya: para penjaga diberi tahu mereka dibentuk di dalam bumi, dan dewa mencampurkan emas ke sebagian, perak ke sebagian lain, besi dan perunggu ke sisanya. Campuran itu yang menentukan siapa memerintah.
Di sini pertanyaan yang biasa dibawa ke tiap nilai jadi tajam sekali: nilai ini menahan siapa, dan yang menyerukannya ikut kena atau tidak. Cerita emas dan perak menahan yang diperintah. Socrates tahu itu, dan ia mencoba menutup lubangnya dengan kata-katanya sendiri:
"a single noble lie that would, preferably, persuade even the rulers themselves; but, failing that, the rest of the city?"
Satu kebohongan mulia yang, kalau bisa, meyakinkan para penguasanya sendiri juga; kalau tidak bisa, ya sisa kotanya.
Kalau bisa. Lalu kalimat berikutnya: ini tidak pernah terjadi di zaman kita, dan ia tidak tahu apakah bisa terjadi. Yang diusulkan sebuah nilai yang harus menahan penguasa juga, dan pengusulnya sendiri tidak tahu apakah penguasanya bisa dibuat percaya. Itu pengakuan yang jujur, dan pengakuan itu membatalkan separuh bangunannya: cerita yang cuma dipercaya yang di bawah persis jenis cerita yang dituduhkan Thrasymachus di Buku Satu.
Dalil di bawahnya tetap pahit dan tetap berdiri: tidak ada kota yang bertahan cuma dengan argumen. Tiap kota butuh cerita tentang asal usulnya, dan cerita itu tidak harus benar untuk bisa jalan.
Kita punya cerita itu, dan kita tahu persis kapan disusunnya. Tanggalnya jelas, siapa yang berdebat di ruangan mana, tujuh kata yang dicoret pada 18 Agustus, dan siapa yang datang pagi itu memintanya dicoret. Cerita pendirian kita tidak turun dari langit. Ceritanya disusun orang, dalam rapat, di bawah tekanan waktu, dan rekamannya masih ada.
Plato akan bilang cerita seperti itu tidak bisa menahan apa-apa, sebab semua tahu itu buatan. Di sini saya tidak ikut. Cerita yang ketahuan disusun manusia ternyata masih bisa dipegang delapan puluh tahun, dan barangkali justru lebih kuat karena bisa diperdebatkan tanpa yang memperdebatkannya dianggap murtad. Yang ia kira butuh emas dan perak ternyata cukup dengan notulen.
Pertanyaan yang salah susun
Popper menyerang buku ini di The Open Society and Its Enemies, dan tuduhannya yang paling telak bukan soal totaliter. Tuduhannya Plato menaruh pertanyaan yang salah di tengah ilmu politik, siapa yang pantas memerintah, dan dengan begitu, kata-katanya sendiri, soal pengendalian penguasa lewat lembaga tersingkir tanpa pernah sempat diajukan. Pertanyaan penggantinya: bagaimana supaya penguasa bisa diturunkan yang diperintah tanpa pertumpahan darah.
Di titik itu Popper benar, dan bagian kapal tadi buktinya: Plato melihat penyaringan yang rusak lalu menjawab dengan orang yang lebih baik, bukan dengan cara menurunkan orang yang buruk.
Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 135/PUU-XXII/2024, yang dibacakan 26 Juni 2025, menyerempet pertanyaan Popper itu. Mulai 2029 pemilu nasional dan pemilu daerah dipisah, dengan jeda dua sampai dua setengah tahun. Yang diubah bukan siapa yang pantas memerintah, tapi kapan pemilih bisa mengganti orang yang memerintah mereka.
Yang mengubah jadwal itu sembilan hakim, tiga diajukan DPR, tiga oleh presiden, dan tiga oleh Mahkamah Agung. Perkaranya dibawa Perludem, dan pemilih tidak ikut memutuskannya.
Popper keliru di tempat lain. Ia membaca kota itu sebagai rencana, padahal Buku Sembilan menutupnya dengan kalimat yang tidak bisa dibengkokkan:
"It makes no difference at all whether it exists anywhere or ever will."
Sama sekali tidak penting apakah kota itu ada di mana pun atau akan pernah ada.
Kotanya cuma pola di langit, kata Socrates, untuk siapa saja yang ingin menata dirinya sendiri. Bacaan Popper menuntut kalimat itu dianggap main-main, dan tidak ada alasan untuk itu.
Yang tersisa sesudah dua-duanya diterima justru yang paling dekat ke kita. Raja-filsuf itu Ratu Adil dengan gelar Athena: orang yang tidak ingin memerintah, yang datang dari luar lingkaran yang bertengkar, yang akan membereskan semuanya kalau saja ia ditemukan. Kebiasaan menunggunya paling susah diubah, dan Plato ikut memberinya bentuk. Buku Delapan malah sudah menerangkan ke mana penantian itu biasanya berakhir: rakyat selalu mengangkat satu orang sebagai pemimpin istimewa dan membesarkannya, dan dari kedudukan pemimpin rakyat itulah, dan hanya dari situ, tiran tumbuh.
Sepuluh buku, dan tiap penerjemahnya mengaku menafsir
Terjemahan Reeve terbit 2004 dari teks Yunani baku yang baru, sesudah ia sendiri merevisi terjemahan Grube belasan tahun sebelumnya. Kalimatnya di pengantar layak dipegang untuk semua naskah setua ini: tiap terjemahan, bahkan yang paling sengaja membudak pada aslinya, sedikit banyak tafsir, dan tidak ada jalan menghindarinya.
Bentuknya sepuluh buku, seluruhnya percakapan yang diceritakan ulang Socrates, dengan nomor halaman Stephanus di pinggirnya supaya kutipan bisa dicari di edisi mana pun. Yang tiga bacaan lainnya tadi temukan bukan sisa tafsir yang belum dibersihkan. Semuanya ada di naskahnya sendiri, dan Reeve menaruh pertanyaannya di kalimat pertama pengantar justru karena ia pun tidak menutupnya.
Tukang menatap bintang yang sekarang berbentuk program
Perumpamaan kapal itu punya bentuk barunya sekarang, dan bentuknya tidak seperti yang dibayangkan siapa pun.
Di banyak kantor pemerintah, termasuk di sini, sebagian pekerjaan menimbang sudah diserahkan ke program: menyaring penerima bantuan, menyusun daftar prioritas, menaksir risiko, sampai menyusun rancangan aturan. Yang diserahkan bukan keputusannya, kata semua orang. Yang diserahkan cuma bahannya.
Plato akan mengenali susunan itu. Ia ingin kapal dipegang orang yang mengerti bintang, dan keberatan orang sezamannya bukan bahwa orang itu keliru, tapi bahwa ia tidak bisa dimintai pertanggungjawaban dengan cara biasa.
Program punya keunggulan yang tidak dimiliki tukang menatap bintang: ia tidak punya kepentingan sendiri, tidak punya keponakan, dan tidak ingin naik jabatan. Ia juga punya kelemahan yang jauh lebih besar: ia tidak bisa ditanya kenapa, dan jawaban yang ia berikan waktu ditanya kenapa tidak dijamin ada hubungannya dengan cara ia sampai ke situ.
Jadi yang kita dapat bukan raja filsuf. Yang kita dapat penasihat yang tidak punya kepentingan dan juga tidak punya alasan, dan awak kapalnya tetap tidak bisa memeriksanya.
Pertanyaan yang saya tinggalkan di bawah nanti jadi lebih pendek karenanya. Dulu soalnya bagaimana membuat orang mau mendengarkan yang mengerti. Sekarang soalnya bagaimana mengetahui apakah yang bicara memang mengerti.
Kapal itu yang tertinggal. Awak yang bertengkar soal kemudi, pemilik yang agak tuli, dan orang yang tahu jalan dipanggil tukang menatap bintang.
Plato benar soal saringannya, dan itu sudah lebih banyak daripada yang diberikan kebanyakan buku tentang memimpin. Yang tidak ia sediakan, dan yang belum saya temukan di mana pun, cara membuat awak kapal mau mendengarkan orang yang sedang menatap bintang, tanpa harus lebih dulu membohongi mereka soal dari mana orang itu berasal.
Susunan bukunya: bagiannya apa saja, mana jantungnya, mana yang boleh dilewat.
Bentuknya
Sepuluh buku, seluruhnya berbentuk percakapan, dan seluruhnya diceritakan ulang oleh satu orang yang mengaku sedang mengingat percakapan kemarin malam. Jadi tidak ada satu kalimat pun di dalamnya yang datang langsung dari Plato sendiri; semuanya lewat mulut tokoh.
Alurnya berangkat dari satu pertanyaan kecil dan melebar sampai ke mana-mana. Mula-mula ditanya apa itu adil bagi seorang manusia. Karena manusia dianggap terlalu kecil untuk dilihat, pertanyaannya diperbesar jadi apa itu adil bagi sebuah kota, dengan alasan yang disebutkan terang-terangan: yang kecil lebih gampang dibaca kalau ditulis dengan huruf yang lebih besar.
Seluruh sisa bukunya adalah pembesaran itu, dan di ujungnya dikembalikan lagi ke orangnya.
Buku 1 dan 2: pertanyaannya
Buku 1 berbentuk perdebatan yang tidak selesai, dan di situ muncul lawan bicara yang paling keras: orang yang menyatakan adil itu tidak lain kepentingan pihak yang lebih kuat. Bantahannya tidak pernah benar-benar tuntas, dan sembilan buku sesudahnya bisa dibaca sebagai usaha panjang untuk menjawabnya.
Buku 2 memulai pembesarannya, dan mendirikan kota di dalam percakapan.
Buku 3 dan 4: kota dan jiwa
Kota yang dibangun dibagi tiga golongan, dan jiwa manusia juga dibagi tiga bagian yang bersesuaian. Adil, menurut jawabannya, adalah keadaan waktu tiap bagian mengerjakan bagiannya sendiri dan tidak mencampuri yang lain.
Di buku 3 juga muncul gagasan tentang cerita yang sengaja disusun untuk membuat orang menerima kedudukannya. Plato menyatakan penguasanya juga sebaiknya mempercayai cerita itu, dan bagian itu jarang ikut disebut.
Buku 5 sampai 7: bagian yang paling terkenal
- Buku 5 memuat usul-usul yang paling mengejutkan pembaca zaman ini, termasuk perempuan yang ikut memerintah dan keluarga yang dibubarkan bagi golongan penjaga.
- Buku 6 memuat perumpamaan kapal, dan itu bagian yang paling menerangkan. Sebuah kapal yang pemiliknya besar tapi tidak paham laut, dengan awak yang ribut memperebutkan kemudi, dan satu orang yang benar-benar tahu arah justru diejek sebagai tukang menatap bintang yang tidak berguna.
- Buku 7 memuat perumpamaan gua, yang paling terkenal dari seluruh naskah, dan yang paling sering dikutip tanpa bagian akhirnya. Bagian akhirnya penting: orang yang sudah keluar dan kembali ke dalam gua akan terlihat bodoh oleh yang di dalam, dan bisa dibunuh kalau mencoba melepaskan mereka.
Buku 8 dan 9: kemerosotan
Dua buku tentang bagaimana sebuah tertib merosot bertahap dari satu bentuk ke bentuk berikutnya, dan berakhir pada kekuasaan satu orang yang paling buruk. Bagian tentang bagaimana kebebasan yang berlebihan berubah jadi kekuasaan tunggal masih paling sering dikutip orang sampai hari ini.
Buku 10: penutup
Bagian tentang penyair yang diusir dari kota, dan sebuah cerita tentang kehidupan sesudah mati. Bagian paling ganjil di seluruh naskah.
Yang jadi jantungnya
- Buku 1, karena keberatan yang paling keras diajukan di situ, dan sisanya cuma masuk akal kalau keberatan itu sudah didengar.
- Buku 6 perumpamaan kapal. Andai cuma satu bagian yang bisa dibaca, ambil yang ini, karena di situ Plato menerangkan sesuatu yang masih terjadi tiap musim pemilihan.
- Buku 8, untuk urutan kemerosotannya.
Yang boleh dilewat
- Sebagian besar buku 3 yang berisi daftar cerita dan musik apa saja yang boleh didengar penjaga kota.
- Buku 10 hampir seluruhnya.
- Bagian-bagian yang membahas ilmu hitung dan ilmu bintang sebagai tangga pendidikan, kecuali kalau memang tertarik.
Yang jangan ditelan bulat-bulat
Perumpamaan kapal di buku 6 memuat pengamatan yang tajam sekali: sebuah cara memilih bisa dengan sendirinya menyaring orang yang salah, dan orang yang paling paham justru yang paling gampang disingkirkan karena tidak pandai berebut. Pengamatannya benar, dan jawabannya yang perlu diperiksa.
Jawaban Plato meniadakan pemilihan sama sekali dan menyerahkan kemudi kepada orang yang dianggap tahu. Yang tidak dijawabnya: siapa yang menentukan orang itu memang tahu, dan apa yang dikerjakan kalau ternyata keliru. Dua ribu tahun sesudahnya, pertanyaan itu masih pertanyaan yang sama, dan sebagian buku lain di rak ini justru mengusulkan supaya pertanyaannya diganti seluruhnya.
Terjemahan juga sangat menentukan di sini. Beberapa kata kunci di naskah ini punya jangkauan arti yang jauh lebih luas daripada padanan mana pun, dan hampir tiap penerjemah mengakui di pengantarnya bahwa ia sedang menafsir, bukan sekadar memindahkan.
Kalau buru-buru
Buku 1, perumpamaan kapal di buku 6, perumpamaan gua di buku 7 sampai bagian akhirnya, dan buku 8. Empat potong, dan bentuk bukunya sudah kelihatan: keberatan paling keras yang harus dijawab, saringan yang meloloskan nakhoda yang salah, orang yang kembali membawa kabar lalu diejek, dan urutan bagaimana sebuah tertib merosot.