Hari paling berdarah dalam sejarah tentara Roma jatuh pada 9 Agustus 378, di luar tembok Adrianopel. Kaisar Valens ikut mati di sana bersama pasukan lapangan timurnya. Korban di pihak Roma, hitung Harper, paling banyak dua puluh ribu orang.
Dari tiga wabah besar yang menghantam kekaisaran itu, yang paling ringan menurut taksirannya membunuh sekitar tujuh juta.
"the lesson of the comparison is all the same: germs are far deadlier than Germans."
Pelajaran dari perbandingan itu tetap sama: kuman jauh lebih mematikan daripada orang Jermanik.
Harper sejarawan zaman kuno yang menulis bukunya dengan bahan yang bukan bahan sejarawan: inti es Greenland, cincin tahun pohon, dan genom kuman yang digali dari kuburan. Sebab keruntuhan Roma ia geser dari watak dan keputusan orang Roma ke keadaan. Buat saya di situ bobotnya, sebab keadaan bisa diukur ulang orang lain sedangkan watak bangsa tidak pernah bisa.
Dua abad cuaca bagus, dan tagihannya
Harper membagi seribu tahun itu jadi tiga musim iklim (hal 33). Roman Climate Optimum, musim iklim terbaik yang pernah didapat Roma, kira-kira 200 sebelum Masehi sampai 150 Masehi. Masa peralihan sampai sekitar 450. Lalu yang mulai disebut orang Late Antique Little Ice Age, zaman es kecil di ujung masa kuno, kira-kira 450 sampai 700.
Kekaisaran itu tumbuh persis di musim pertama. Hangat, cukup hujan, dan di atas semua itu bisa diandalkan. Gandum tumbuh di tempat yang belakangan tidak bisa lagi ditanami gandum.
Musim ketiga dibuka satu peristiwa yang tanggalnya jelas. Pada 536 matahari redup berbulan-bulan di seluruh belahan bumi utara, dan orang zaman itu mencatatnya sebagai tahun tanpa musim panas. Penyebabnya letusan gunung berapi besar, disusul letusan lagi pada 540 dan 541, gugusan letusan yang tidak ada tandingannya dalam tiga ribu tahun terakhir. Gunung mana yang meletus pada 536 sampai sekarang belum diketahui (hal 331).
Kita tidak perlu membayangkan seperti apa rasanya. Letusan terbesar yang pernah tercatat orang terjadi di kepulauan ini, April 1815, Tambora di Sumbawa. Abunya menutup lahan di Sumbawa, Lombok, dan Bali, dan yang mati kelaparan sesudahnya jauh lebih banyak daripada yang mati kena awan panas. Satu kelompok penduduk hilang seluruhnya berikut bahasanya, dan yang tersisa dari bahasa Tambora cuma daftar kata pendek yang sempat dicatat orang sebelum gunungnya meletus.
Setahun kemudian salju turun di New England pada bulan Juni dan panen gagal di Eropa barat. Tidak seorang pun di sana tahu kenapa, dan sambungan antara musim panas yang tidak datang itu dan sebuah gunung di Sumbawa baru dibuat orang seabad sesudahnya.
Jadi arah cerita Harper bisa dibalik dan tetap berdiri. Iklim ikut menjatuhkan Roma, dan iklim belahan bumi utara pernah dijatuhkan oleh gunung yang berdiri di sini.
Kumannya datang dari hutan, bukan dari kandang
Keterangan yang sudah lama kita pegang menaruh asal kuman besar di kandang. Plagues and Peoples menyusunnya pada 1976: pertanian mendekatkan manusia dengan hewan ternak, tiap peradaban menumbuhkan kumpulan penyakitnya sendiri, lalu kumpulan-kumpulan itu bertemu. Guns, Germs, and Steel memakai rangka yang sama dan menghitung ternaknya: empat belas mamalia besar yang berhasil dijinakkan, tiga belas di antaranya Eurasia.
Harper menyebut buku McNeill mahakarya yang tidak terbantah untuk zaman sebelum ada biologi molekuler (hal 103), lalu memindahkan asalnya.
Kerabat terdekat virus cacar bukan penyakit sapi. Yang paling dekat virus cacar unta, dan yang paling dekat dengan itu virus yang hidup pada seekor hewan pengerat padang rumput Afrika, Gerbilliscus kempi, yang wilayahnya membentang dari Guinea sampai selatan Etiopia. Ketiganya berpisah dari satu nenek moyang yang sama, dan nenek moyang itu virus hewan pengerat (hal 126-127).
Pembunuh besar Roma, tulis Harper, pendatang dari luar kekaisaran (hal 38). Mereka masuk lewat perdagangan Laut Merah dan Samudra Hindia yang sedang ramai-ramainya. Waktu giliran pes tiba pada 541, kalimatnya lebih telanjang lagi: perdagangan sutra sudah siap mengantarkan paketnya (hal 285). Jalur yang di The Silk Roads dibaca sebagai urat nadi pertukaran dunia memang mengangkut apa saja yang ditaruh di atasnya.
Bedanya bukan cuma urusan sejarawan. Kalau kuman besar lahir di kandang, yang perlu diawasi peternakan. Kalau kumannya lahir di hutan lalu menumpang jalur dagang, yang perlu diawasi tepi hutan dan pelabuhan.
Jawaban Roma atas paceklik ada di laut
Harper menghitung juga apa yang dikerjakan Roma dengan benar, dan bagian itu hampir selalu hilang waktu bukunya diringkas orang.
Ketahanan pangan jadi urusan politik nomor satu, dan ukuran bangunan lumbungnya membuktikan itu. Pada abad kedua sekitar dua ratus ribu warga kota Roma menerima lima modii gandum sebulan, dan untuk jatah itu saja dibutuhkan delapan puluh ribu ton gandum setahun. Untuk memberi makan sejuta mulut ibu kota, laut dipenuhi armada kapal gandum berlambung dalam. Konon Septimius Severus mengurus pasokan itu begitu telaten sampai waktu ia meninggal persediaannya cukup untuk tujuh tahun.
Bukan tanahnya yang paling menentukan, tapi letaknya. Harper mengutip seorang penulis kuno:
"Cities on the sea coast easily endure a shortage of this kind, importing by sea the things of which they are short. But we who live far from the sea profit nothing from our surplus, nor can we produce what we are short of, since we are able neither to export what we have nor import what we lack."
Kota di tepi laut gampang menanggung kekurangan semacam itu, tinggal memasukkan lewat laut apa yang kurang. Sedangkan kami yang tinggal jauh dari laut tidak mendapat apa-apa dari kelebihan kami, dan tidak bisa mengadakan yang kurang, sebab kami tidak bisa mengeluarkan yang kami punya dan tidak bisa memasukkan yang kami butuhkan.
Tiap kali harga beras naik di sini, perdebatannya hampir selalu dibawa ke sawah: luas tanam, pupuk, benih, cetak sawah baru. Padahal harga di pasar bulan depan biasanya sudah diputuskan di tempat lain, yaitu kapan kapalnya berangkat dan dari mana. Bulog berdiri persis di tempat kaisar berdiri, bukan menanam tapi menyimpan dan mendatangkan. Dan kalau keputusan itu terlambat, yang paling cepat kena bukan kota pelabuhannya.
Satu sebab yang dipakai ke dua arah
Sampai di situ saya berhenti mengikuti.
Sepanjang bukunya, satu hal yang sama dipakai ke dua arah berlawanan. Jaringan kota, jalan, dan pelayaran yang bikin Roma kaya itu juga yang mengantarkan wabahnya, dan Harper menuliskannya terang-terangan:
"The Roman Empire prepared the way for the pandemic, building new gateways for germ migration into the empire and new highways for transmission within its territorial boundaries."
Kekaisaran Roma sendiri yang menyiapkan jalan buat wabah itu, membangun gerbang-gerbang baru untuk kuman masuk dan jalan-jalan raya baru untuk penyebarannya di dalam.
Keterangan yang bentuknya begitu susah sekali keliru. Roma makmur, sebabnya tersambung. Roma runtuh, sebabnya tersambung juga. Pertanyaan yang mestinya ikut dijawab: seandainya wabahnya tidak pernah datang, bagian mana dari dalil ini yang gugur?
Harper melihat bahayanya sendiri dan menyebutnya sekali. Begitu iklim dan penyakit jadi mesin penggeraknya, keputusan manusia berubah jadi cuaca.
Bandingkan dengan The Grand Strategy of the Roman Empire, yang membaca kekaisaran yang sama sebagai tiga susunan pertahanan yang dirancang. Para pengkritiknya menunjuk bahwa Roma tidak punya markas perencanaan, peta yang bisa dipakai, atau arsip siasat. Harper memutar setirnya ke ujung yang berlawanan, sampai tidak ada lagi tangan yang memegang.
Menurut saya yang benar ada di antara keduanya, dan tidak di tengah. Sebelum menuduh ada yang merancang, periksa dulu apakah kelalaian dan kebetulan sudah cukup menerangkan. Untuk Roma, dua-duanya menerangkan banyak sekali. Tapi cukup menerangkan tidak sama dengan satu-satunya yang menerangkan, dan buku yang sebabnya cuma satu jenis akan selalu terlihat lebih rapi daripada kejadiannya.
Yustinianus, dan bukti yang tidak ketemu
Bantahannya besar, dan hampir semuanya menumpuk di satu tempat: wabah tahun 541.
Kematian sebesar yang diceritakan Harper bersandar pada sedikit sekali sumber tertulis. Prokopius menulis kira-kira separuh penduduk mati. Yohanes dari Efesus menulis tidak sampai satu dari seribu yang selamat, dan angka kedua itu ditolak Harper sendiri sebagai tidak masuk akal (hal 303). Buang yang paling ekstrem, sisanya tetap tulisan orang yang punya alasan sendiri untuk menggambarkan kiamat.
Sesudah bukunya terbit, Lee Mordechai dan John Haldon menyusun bantahan dari arah lain. Kalau kematian sebesar itu benar terjadi, bekasnya mestinya ada di penggalian, di dokumen papirus, dan di catatan perundangan. Menurut mereka bekas itu tidak ada.
Penunjuk iklimnya kena juga. Inti es dan cincin tahun pohon diambil dari beberapa tempat tertentu, lalu diminta bicara mewakili kekaisaran yang membentang di tiga benua.
Perkaranya belum selesai di kalangan ahlinya, dan pembaca yang cuma memegang bukunya tidak akan tahu bahwa babak terakhirnya sedang ditawar ulang.
Soal waktunya yang paling susah ditelan.
Pukulan itu tidak datang waktu Roma sedang lemah. Wabah Antoninus datang pada 165, di masa Marcus Aurelius, waktu penduduk kekaisaran sedang di titik tertingginya dan upah tukang gali, penggiring keledai, serta pengangkut kotoran pun masih naik lebih cepat daripada harga dan sewa (hal 57).
Kita sudah mencoba versi kecilnya pada 2020. Yang paling cepat memindahkan penyakitnya juga yang paling kita banggakan, yaitu penerbangan murah, pelabuhan yang tidak pernah tidur, dan mudik. Yang akhirnya dilarang bukan penyakitnya, tapi sambungannya. Begitu larangan itu dicabut, semuanya kembali seperti semula tanpa perlu satu rapat pun.
Dua puluh ribu orang yang mati di Adrianopel dalam satu hari punya tanggal, punya nama kaisarnya, dan masuk ke tiap buku sejarah Roma. Tujuh juta yang mati pelan-pelan tidak punya hari peringatan.
Bedanya kita dengan mereka cuma satu: kita tahu lebih dulu. Esnya sudah dibor, genomnya sudah dibaca, dan daftar penyakit yang mungkin datang berikutnya sudah ada di meja orang. Ternyata itu belum mengubah apa-apa. Saya belum tahu bagian mana dari kalimat itu yang keliru.
Bantahan yang datang dari sejarawan lain
Bukunya terbit 2017 dan langsung laris. Yang menyusul sesudahnya kurang laris, dan perlu diketahui pembacanya.
Sekelompok sejarawan dan arkeolog menerbitkan tanggapan bertiga bagian: satu soal iklimnya, satu soal wabahnya, satu soal cara ia menyimpulkan runtuhnya. Keberatan mereka bukan soal apakah iklim dan wabah penting. Keberatan mereka soal takaran.
Yang paling sering disebut angka korban wabah Antoninus. Harper memakai taksiran yang tinggi. Taksiran yang beredar di kalangan peneliti berjarak jauh, dari sekitar satu juta sampai tujuh atau delapan juta, dan yang mana yang benar sampai sekarang belum ada yang bisa memastikan. Keberatan yang sama dipakai untuk sebagian bukti arkeologinya: bahannya sering dipilih yang paling mendukung gambaran yang paling dramatis.
Saya menaruh ini bukan untuk menarik bukunya dari rak. Gagasan pokoknya, bahwa sebuah kekaisaran bisa dijatuhkan hal yang tidak punya niat, tetap berdiri, dan tetap yang paling saya bawa.
Yang berubah cara membaca angkanya. Tujuh juta yang saya sebut di atas tadi angka dari ujung atas rentang, dan yang di ujung bawah juga masih mungkin.
Dan itu justru memperkuat penutup di atas tadi. Kalau soal wabah dua ribu tahun lalu, yang datanya sudah dikumpulkan berpuluh tahun, selisih taksirannya masih tujuh kali lipat, maka daftar penyakit yang mungkin datang berikutnya yang katanya sudah ada di meja orang perlu dibaca dengan kepala yang sama dinginnya.
Susunan bukunya: bagiannya apa saja, mana jantungnya, mana yang boleh dilewat.
Bentuknya
Tujuh bab, ditambah prolog dan penutup, dan susunannya urut menurut waktu dari abad kedua sampai abad ketujuh. Tipis untuk buku sejarah Roma, dan itu karena bukunya tidak mengulang cerita politik yang sudah diceritakan puluhan buku lain.
Yang ditambahkannya satu jenis bukti yang dulu tidak tersedia: catatan iklim dari lingkaran tahun pohon dan inti es, serta jejak kuman dari tulang dan dari susunan genetiknya. Jadi ini buku sejarah yang sebagian besar buktinya baru ada dalam beberapa dasawarsa terakhir.
Dalilnya, yang menghabisi Roma iklim yang berbalik dan tiga wabah besar, bukan terutama musuh di perbatasan.
Prolog dan bab 1 dan 2: zaman terbaiknya
Bab 1 memasang alat dan buktinya. Bab 2 menggambarkan zaman keemasan Roma pada abad kedua, dan di situ dijelaskan sesuatu yang jadi kunci seluruh buku: kemakmuran itu sebagian berdiri di atas cuaca yang luar biasa baik selama dua abad, dan di atas jaringan dagang yang menghubungkan seluruh Laut Tengah sampai ke India.
Jaringan itu yang membuat Roma kaya, dan jaringan itu juga yang nanti mengantarkan kumannya.
Bab 3 sampai 5: tiga wabah
- Bab 3 soal wabah besar pertama pada abad kedua, yang datang justru waktu kekaisaran sedang di puncaknya.
- Bab 4 soal iklim yang mulai berbalik, dan soal krisis abad ketiga.
- Bab 5 soal wabah kedua di abad ketiga dan akibatnya pada penduduk dan pasukan.
Di bagian ini Harper berhati-hati sekali membedakan apa yang benar-benar bisa dibuktikan dari apa yang cuma bisa diduga. Untuk sebagian wabah, kuman penyebabnya masih diperdebatkan, dan ia menyebutkan itu.
Bab 6 dan 7: wabah terakhir
Dua bab tentang abad keenam, wabah besar pada masa Yustinianus, dan pendinginan iklim yang menyertainya. Ini bagian yang paling banyak dibantah sesudah bukunya terbit, terutama soal seberapa besar sebenarnya korbannya.
Yang jadi jantungnya
- Bab 2, karena di situ diterangkan bahwa kemakmuran Roma berdiri di atas dua hal yang tidak bisa dikendalikan siapa pun: cuaca dan jaringan dagang.
- Bab 3, karena di situ dalilnya paling jelas dan paling kuat buktinya: kumannya masuk lewat jalan yang sama dengan gandum dan rempahnya.
- Prolognya, tempat seluruh cara kerjanya dijelaskan dalam beberapa halaman.
Yang boleh dilewat
- Bagian-bagian yang merinci pergantian kaisar dan perang perbatasan, yang ada seperlunya saja tapi tetap bisa dilewat.
- Lampiran teknis tentang data iklim, kecuali kalau memang tertarik pada cara datanya dibaca.
- Catatan belakang yang sangat banyak.
Yang jangan ditelan bulat-bulat
Buku ini memakai satu sebab besar untuk menerangkan naik dan turunnya sekaligus: cuaca yang baik membuat Roma kaya, cuaca yang buruk membuatnya runtuh. Sebab yang bisa dipakai ke dua arah selalu perlu diperiksa lagi, karena ia hampir tidak bisa salah.
Angka korban wabah abad keenam yang dipakai bukunya sudah dibantah beberapa penelitian sesudahnya, yang menemukan lebih sedikit jejak wabah itu di lapangan daripada yang diharapkan dari angka sebesar itu. Perdebatannya belum selesai.
Satu hal berdiri kokoh: jaringan dagang yang menghasilkan kekayaan itu jaringan yang sama yang mengantarkan penyakit, dan itu berlaku juga untuk zaman sekarang.
Kalau buru-buru
Prolog, bab 2, dan bab 3. Tiga potong, dan seluruh dalilnya sudah terbaca: kekayaan Roma berdiri di atas cuaca yang kebetulan baik dan jaringan dagang yang luas, dan jaringan yang sama itu yang mengantarkan wabah pertama tepat waktu kekaisaran sedang paling kuat.