Seorang politisi Papua Nugini bernama Yali pernah menyudutkan Jared Diamond dengan satu pertanyaan, di tepi pantai, puluhan tahun lalu:
"Why is it that you white people developed so much cargo and brought it to New Guinea, but we black people had little cargo of our own?"
Kenapa kalian orang kulit putih bisa membikin begitu banyak barang lalu membawanya ke Papua Nugini, sementara kami orang kulit hitam punya begitu sedikit barang buatan sendiri?
Diamond memakai satu buku tebal untuk menjawabnya. Tapi saya membacanya sebagai orang yang sudah memegang pertanyaan itu duluan.
Ganti "Papua Nugini" dengan nama negeri ini, kalimatnya tetap jalan. Cuma barangnya yang berganti. Kenapa rempah yang tumbuh di halaman sendiri harganya diputuskan di bursa orang. Kenapa yang datang selalu kapal orang lain, tidak pernah sebaliknya. Kenapa sampai hari ini yang paling banyak kita kerjakan merakit barang yang dirancang di tempat lain.
Jadi pertanyaan Yali bukan pertanyaan orang jauh. Itu pertanyaan yang sama persis, cuma ditanyakan lebih dulu dan jauh lebih terus terang.
Jawabannya membosankan, dan justru itu senjatanya
Geografi.
Eurasia sudah menang sebelum pertandingannya dimulai, dan bukan karena penduduknya lebih rajin. Di sana, terutama di Bulan Sabit Subur, kebetulan tumbuh tanaman liar paling bergizi di dunia dan berkeliaran hewan yang paling mungkin dijinakkan.
Diamond menghitungnya. Dari empat belas mamalia besar yang berhasil diternakkan manusia sebelum abad kedua puluh, tiga belas berasal dari Eurasia. Amerika dapat satu. Australia dan Afrika di selatan Sahara tidak dapat sama sekali.
Begitu ada tanaman dan hewan, sebuah masyarakat bisa menghasilkan makanan berlebih. Kelebihan itu menghidupi orang yang tidak perlu bertani: juru tulis, tentara, tukang, pendeta. Dari situ lahir tulisan, senjata baja, dan pemerintahan yang terpusat.
Dan dari hewan peliharaan itu lahir sesuatu yang jauh lebih mematikan daripada pedang mana pun.
Bukan pedang yang menghabisi Amerika
Waktu Spanyol tiba, benua itu tidak direbut dengan senjata. Yang merebutnya cacar, campak, influenza, dan tifus, penyakit yang berkembang dari kuman yang menempel di sapi dan babi peliharaan.
Diamond menaksir sembilan puluh lima persen penduduk asli Amerika mati. Sebagian besar bahkan tidak sempat melihat satu pun orang Eropa, sebab penyakitnya berpindah dari suku ke suku jauh mendahului orangnya.
Jadi ironinya begini. Peradaban Eurasia dibangun di atas menjinakkan hewan, lalu hewan-hewan itu tanpa disengaja menyediakan senjata biologis paling mematikan dalam sejarah. Orang memelihara bebek, dan bebek membalas dengan flu yang membunuh jutaan orang di benua yang bahkan tidak tahu bebek itu ada.
QWERTY, dan barang yang tidak pernah diganti
Susunan huruf yang kita pakai mengetik disusun pada 1873, dan disusun bukan supaya orang mengetik cepat. Diamond menyebutnya karya anti-rekayasa. Huruf yang sering berpasangan sengaja dijauhkan supaya tuas mesin tiknya tidak saling menyangkut.
Mesin tiknya sudah lama tidak ada. Pada 1932 orang menguji susunan huruf yang memang dirancang untuk kecepatan, dan hasilnya kecepatan mengetik bisa dua kali lipat dengan tenaga jauh lebih sedikit. Di bagian lain bukunya Diamond menyebut nama susunan itu: papan ketik Dvorak, yang ia bilang jauh lebih efisien.
Dvorak tetap kalah, dan yang mengalahkannya sama sekali bukan bantahan teknis. Ratusan juta orang sudah telanjur hafal susunan yang lama, dan di belakang mereka berdiri guru mengetik, pabrik mesin tik, serta para penjualnya.
Bagian ini yang paling sering saya ingat dari bukunya, dan bukan gara-gara papan ketik.
Coba hitung sudah berapa kali kita menyerahkan fotokopi KTP dan kartu keluarga, berlembar-lembar, untuk urusan yang datanya sudah lama tersimpan di komputer negara. Semua orang di ruangan itu tahu lembaran tadi tidak menambah keterangan apa pun. Petugasnya tahu, kita juga tahu, dan tahun depan lembarnya tetap diminta.
Tidak ada yang membela lembaran itu. Yang menahannya cuma satu hal: yang harus repot mengganti dan yang nanti menikmati hasilnya bukan orang yang sama, dan yang pertama harus repot lebih dulu.
Tiga bantahan yang berat
Buku ini menang Pulitzer dan dihantam sejarawan dari banyak arah sekaligus.
Yang paling telak: jawabannya berhenti terlalu awal. Kalau keunggulan Eurasia memang datang dari tanaman, hewan, dan sumbu timur-barat, mestinya Cina yang menang, bukan Eropa. Cina punya semuanya lebih dulu dan lebih banyak. Kenapa Eropa yang berlayar dan bukan Cina justru tidak terjawab di sini, dan buku-buku sesudahnya menghabiskan ratusan halaman persis di titik itu. Bandingkan dengan Why the West Rules - For Now dan The Great Divergence.
Kedua, ada yang hilang begitu semuanya dikembalikan ke tanah dan iklim. Kalau nasib bangsa sudah ditentukan sejak benihnya tumbuh, lembaga dan hukum dan keputusan orang tinggal jadi hiasan. Penjajahan pun berubah jadi akibat geografi, bukan pilihan yang diambil orang tertentu di tempat tertentu. Diamond menolak dibaca begitu, tapi susunan argumennya memang mengarah ke sana. Why Nations Fail membuka justru dengan menolak iklim dan budaya, dan bentuk bantahannya yang paling telak itu satu semenanjung yang dibelah dua. Korea Utara dan Korea Selatan punya iklim yang sama, tanah yang sama, dan sampai 1945 bangsa yang sama. Tidak ada satu pun gandum atau sapi yang bisa menerangkan jarak keduanya sekarang.
Ketiga, buktinya dipilih. Untuk perkara yang cocok, uraiannya rapat. Untuk yang tidak cocok, uraiannya dipercepat. Jawa contohnya. Tanahnya vulkanik dan termasuk paling subur di dunia, padinya berlipat panennya, penduduknya padat sejak lama, dan lautnya jalur yang diperebutkan tiga benua. Kartu yang dibagikan ke sini bukan kartu jelek. Kenapa hasilnya tetap begini tidak bisa dijawab dengan menghitung jenis gandum.
Ketiganya tidak menyentuh soal kuman. Di situ buktinya kokoh dan sudah diperiksa ulang berkali-kali. Yang perlu diperkecil cuma cakupan klaimnya. Ini jawaban bagus untuk sepuluh ribu tahun pertama, bukan untuk lima ratus tahun terakhir.
Kebetulan yang ia sebut, lalu ia sisihkan
Diamond mengganti ras dengan geografi, dan itu kemajuan besar. Teori tentang watak bangsa susah dipertahankan waktu yang berdiri di depan kita cuma daftar empat belas hewan.
Tapi perhatikan bentuk kedua jawaban itu. Dua-duanya menunjuk sesuatu di luar manusia yang sudah memutuskan lebih dulu. Yang satu darah, yang satu tanah. Rangkanya sama persis.
Yang paling saya cari justru hal ketiga, dan ternyata Diamond sudah melihatnya sendiri. Di bab penutup ia menulis:
"Like cultural idiosyncrasies, individual idiosyncrasies throw wild cards into the course of history. They may make history inexplicable in terms of environmental forces, or indeed of any generalizable causes. For the purposes of this book, however, they are scarcely relevant."
Keanehan perorangan, sama seperti keanehan kebudayaan, melemparkan kartu liar ke jalannya sejarah. Kartu-kartu itu bisa membuat sejarah tidak bisa diterangkan lewat kekuatan lingkungan, atau lewat sebab umum apa pun. Tapi untuk keperluan buku ini, kartu-kartu itu nyaris tidak penting.
Nyaris tidak penting. Kalimat itu yang mengganjal, bukan kelalaiannya. Diamond melihat kartu liarnya, memberi nama, lalu menaruhnya di luar pagar.
Yang ia taruh di luar pagar itu fortuna, dan Machiavelli sudah menamainya lima ratus tahun lebih dulu. Kebetulan itu nyata, besarnya sungguhan, dan bagian yang bisa diurus manusia cuma kesiapannya waktu kebetulan itu lewat. Panen yang gagal dua tahun berturut-turut. Raja yang mati muda dan meninggalkan anak yang belum bisa apa-apa. Kapal yang tenggelam bersama satu-satunya orang yang hafal jalannya. Wabah yang datang sepuluh tahun terlalu cepat.
Buat menerangkan pola sepuluh ribu tahun, menyisihkan hal semacam itu memang masuk akal. Tapi buat orang yang hidup di dalamnya, justru di lapisan itulah hidupnya berlangsung. Dan kalau sebuah negeri bisa kehilangan satu abad gara-gara satu kapal yang tenggelam, ukuran yang cuma menghitung gandum dan sapi akan selalu terlambat menjelaskannya.
Perempuan di gua Sulawesi yang tidak muat ke dua kotak
Buku ini terbit 1997, dan sejak itu ada alat baru yang belum ada waktu Diamond menulis: pembacaan DNA dari tulang purba.
Pada 2021 sebuah tim menerbitkan hasil pembacaan tulang seorang perempuan muda yang mati sekitar tujuh ribu dua ratus tahun lalu di Leang Panninge, Sulawesi Selatan. Penemunya memanggilnya Bessé. Ia dari kebudayaan Toala, pemburu peramu yang tinggal di situ ribuan tahun sebelum penutur Austronesia menyebar ke kepulauan ini sekitar tiga ribu lima ratus tahun lalu.
Isi DNA-nya yang bikin repot. Kira-kira sepertiganya datang dari kelompok manusia purba yang sampai sekarang belum dikenali, yang berpisah jauh lebih awal daripada yang selama ini dipetakan orang. Sisanya berkerabat sejauh yang sama dengan penduduk asli Australia maupun Melanesia. Dan ia membawa jejak Denisova.
Cerita besar Diamond untuk kawasan ini sederhana: petani penutur Austronesia bergerak dari utara, membawa tanaman dan hewan dan alatnya, lalu menggantikan atau menyerap yang sudah ada. Kartu yang lebih baik menang, dan itu memang terjadi.
Bessé tidak membantah bagian itu. Ia menambahkan satu lapisan yang tidak masuk ke cerita mana pun: sebelum penggantian itu, di pulau ini sudah ada kelompok yang bahkan tidak punya nama di daftar siapa pun.
Buat saya di situ letak batas cara bercerita seperti punya Diamond. Cerita yang berhasil menerangkan arah besar selalu bekerja dengan menghapus yang tidak muat, dan yang tidak muat baru kelihatan waktu ada alat baru yang bisa membacanya.
Kartu memang dibagikan, dan kartunya memang tidak sama. Diamond benar soal itu, dan orang yang bilang dia sepenuhnya salah biasanya belum sampai ke bab kumannya.
Tapi di antara kartu dan hasil akhirnya ada dua hal lagi. Ada aturan main, siapa yang menyusunnya dan siapa yang diuntungkan olehnya. Dan ada fortuna, yang tidak bisa disusun siapa pun, termasuk oleh yang sedang menang.
Pertanyaan Yali belum selesai dijawab. Pertanyaannya cuma pindah alamat.
Infografis
Buka ukuran penuh
Susunan bukunya: bagiannya apa saja, mana jantungnya, mana yang boleh dilewat.
Bentuknya
Sembilan belas bab dalam empat bagian, dibuka prolog dan ditutup epilog. Susunannya rantai sebab-akibat, dan itu perlu diketahui: tiap bagian menjawab pertanyaan yang dimunculkan bagian sebelumnya, jadi melompat ke tengah membuat jawabannya terdengar seperti pernyataan tanpa dasar.
Rantainya: bentuk benua menentukan tanaman dan hewan yang tersedia, tanaman dan hewan menentukan siapa bisa bertani, bertani menghasilkan penduduk padat, penduduk padat menghasilkan kuman, tulisan, dan negara, dan ketiganya yang muncul di Cajamarca pada 1532.
Prolog dan Bagian Satu: dari Eden ke Cajamarca, bab 1 sampai 3
Prolognya memasang pertanyaan yang jadi alasan bukunya ditulis, dari seorang politikus Papua bernama Yali: kenapa orang kulit putih punya begitu banyak barang, dan kami tidak. Bab 1 menyamakan garis mulai semua benua sampai sebelas ribu tahun sebelum Masehi. Bab 2 memakai pulau-pulau Polinesia sebagai percobaan alami, karena penduduknya berasal dari satu asal yang sama tapi berakhir dengan bentuk masyarakat yang jauh berbeda. Bab 3 menceritakan pertemuan Pizarro dan Atahuallpa, dan itu adegan yang jadi sasaran seluruh penjelasan sesudahnya.
Bagian Dua: pangan, bab 4 sampai 10
Bagian paling tebal, dan tempat rantainya benar-benar diterangkan mata rantai per mata rantai.
- Bab 4 menerangkan kenapa bertani menghasilkan kuman, tulisan, dan tentara.
- Bab 7 dan 8 soal tanaman: kenapa sebagian tumbuhan liar bisa dijinakkan dan sebagian besar tidak.
- Bab 9 soal hewan, dan memuat gagasan yang paling sering dikutip dari buku ini. Dari sekian banyak mamalia besar, cuma belasan yang bisa dijinakkan, dan sisanya gagal bukan karena satu sebab. Cukup satu syarat tidak terpenuhi.
- Bab 10 soal sumbu benua. Eurasia membentang timur ke barat sehingga tanaman dan hewan bisa berpindah tanpa berganti musim, sementara Amerika dan Afrika membentang utara ke selatan. Ini gagasan yang paling bertahan dari seluruh bukunya.
Bagian Tiga: dari pangan ke senjata, bab 11 sampai 14
- Bab 11 soal kuman yang lahir dari hidup berdempetan dengan ternak, dan yang membunuh jauh lebih banyak daripada senjata.
- Bab 12 soal tulisan, termasuk cara sebuah bangsa meminjam bentuknya tanpa meminjam bahasanya.
- Bab 13 soal teknologi, dan di situ ada susunan papan ketik yang sengaja dibuat lambat lalu tidak pernah diganti selama seabad lebih.
- Bab 14 soal bagaimana kumpulan orang berubah jadi negara, dan bagaimana agama dipakai untuk membuat orang mau mati bagi orang yang tidak dikenalnya.
Bagian Empat: keliling dunia, bab 15 sampai 19
Lima bab yang memakai seluruh alat tadi ke lima wilayah: Australia dan Papua, Asia Timur, penyebaran Austronesia, benua Amerika, dan Afrika. Bab 17 yang paling menyangkut kita, karena di situ jalur Austronesia yang melewati Nusantara dilacak lewat bahasa dan tanaman.
Yang jadi jantungnya
- Bab 4 dan bab 10. Yang pertama memasang rantainya, yang kedua memberi jawaban yang paling tidak bisa dibantah.
- Bab 11, karena di situ letak koreksi terbesar atas cerita penaklukan yang biasa kita dengar: yang menghabisi penduduk Amerika bukan pedang.
- Bab 9, untuk cara berpikirnya. Bab itu mengajarkan sesuatu yang berlaku jauh di luar urusan hewan, yaitu bahwa kegagalan sering ditentukan satu syarat yang tidak terpenuhi, bukan satu sebab.
Yang boleh dilewat
- Bab 5 dan 6 boleh dibaca cepat; keduanya menyusun bukti untuk hal yang sudah disimpulkan di bab 4.
- Bab 15, 16, 18, 19 kalau wilayahnya tidak sedang dibutuhkan. Bentuknya sama persis: satu wilayah, alat yang sudah dikenal, kesimpulan yang sudah bisa ditebak.
- Kata pengantar edisi terbaru dan kata penutup 2003, kecuali kalau mau tahu bantahan apa saja yang diterima Diamond dan bagaimana ia menjawabnya.
Yang jangan ditelan bulat-bulat
Diamond menyebut kebetulan dan menamainya kartu liar, lalu menyatakannya nyaris tidak penting untuk keperluan bukunya. Jadi tuduhan bahwa ia melupakan peran kebetulan itu salah alamat. Yang benar, ia melihatnya, memberinya nama, lalu menyingkirkannya. Pembaca berhak menimbang ulang keputusan itu, dan bab 13 tempat paling gampang untuk mengujinya.
Kalau buru-buru
Prolog, bab 3, 4, 10, 11. Lima bagian, dan seluruh rantainya masih utuh: satu pertanyaan dari seorang Papua, satu sore di Cajamarca yang harus diterangkan, bertani sebagai pangkal segalanya, bentuk benua yang menentukan siapa bisa bertani lebih dulu, dan kuman yang mengerjakan sebagian besar penaklukannya.