Jawaban "bisa, Pak" bukan kebohongan, dan buku ini menerangkan kenapa. Lalu keterangan yang sama disuruh menanggung dua ribu tahun sejarah Barat.

McGilchrist mengambil judul bukunya dari sebuah cerita Nietzsche, dan bilang sendiri bunyinya kurang lebih begini (hal 58).

Ada penguasa bijak yang wilayahnya makin luas, sampai ia terpaksa mengirim utusan ke daerah-daerah jauh. Salah satu utusan, karena cuma melihat bagiannya sendiri dan mengira bagian itu keseluruhannya, akhirnya merasa dirinya yang penguasa. Ia mengambil alih, dan wilayahnya hancur.

Kata McGilchrist, itu sudah terjadi di dalam diri kita, dan ia memakai satu buku tebal untuk membuktikannya.

Perhatian, bukan pembagian tugas

Ia terang-terangan menolak versi populer yang beredar di mana-mana: otak kiri logis, otak kanan kreatif. Itu salah, dan penelitian sudah berkali-kali menunjukkan salahnya.

Dalilnya soal cara memperhatikan. Dua belahan otak sama-sama mengerjakan hampir semuanya. Yang berbeda cara masing-masing memperhatikan.

Belahan kanan memberi perhatian yang lebar, siaga, dan terbuka. Bagian itulah yang mengurus keadaan sekeliling, melihat keutuhan sebelum bagian-bagiannya, menghadapi yang baru, dan menangkap maksud yang tersirat, kiasan, dan lelucon. Belahan kiri memberi perhatian yang sempit dan terpusat, untuk memegang dan mengutak-atik: bagian-bagian, penggolongan, dan hal-hal yang sudah dikenal.

Contoh yang ia pakai untuk memperlihatkan bedanya sederhana sekali. Kalimat "agak panas ya di sini hari ini" ditangkap belahan kanan sebagai permintaan supaya jendelanya dibuka. Belahan kiri menerimanya sebagai keterangan cuaca (hal 113).

Gambar anjing dalmatian dipakainya untuk hal yang lain lagi. Kalau kita melihat satu halaman penuh bercak hitam, anjing itu tidak muncul pelan-pelan dari potongan-potongannya. Anjingnya datang sekaligus, utuh, atau tidak datang sama sekali (hal 109).

Gajah yang cuma punya ekor, belalai, dan satu telinga

Halaman yang paling meyakinkan datang dari ruang praktik, dan itu masuk akal sebab di situlah pekerjaan sehari-harinya.

Pasien yang belahan kanannya rusak kehilangan kemampuan menangkap maksud yang tersirat. Kalimat percakapan biasa mereka artikan apa adanya. Mereka juga kehilangan lelucon, dan kesulitan membedakan mana orang yang sedang bercanda dan mana yang sedang berbohong. Yang belahan kirinya rusak justru lebih jago menangkap kebohongan daripada orang biasa (hal 144).

Lalu ada pasien yang diminta menggambar gajah. Yang keluar cuma ekor, belalai, dan satu telinga. Diminta menyusun bentuk gajah dari potongan pun sama saja, dan menurut catatan dokternya, berakhir sebagai kekacauan total: ia mengenali semua bagian pentingnya, dan tidak sanggup menaruh satu pun di tempat yang kira-kira benar terhadap yang lain (hal 110).

Bagian-bagiannya semua ada. Keutuhannya tidak.

Kesimpulan McGilchrist: keutuhan itu tidak dibikin dari bagian-bagian. Keutuhan itu datang lebih dulu.

"Bisa, Pak" dan kolom isian

Contoh jendela tadi yang paling sering saya pakai dari seluruh bukunya, dan versi kita jauh lebih tebal daripada satu kalimat soal cuaca.

Orang luar yang bekerja di sini sering mengeluh soal jawaban yang katanya tidak bisa dipercaya. "Pak, ini bisa selesai Jumat?" "Bisa, Pak." Lalu Jumat lewat dan belum selesai. Buat yang mendengarnya dari luar, itu bohong.

Buat dua orang yang benar-benar ada di percakapan itu, jawaban tadi bukan janji soal hari Jumat. Jawaban itu soal hubungan mereka: bahwa yang ditanya menghormati yang bertanya, bahwa ia akan berusaha, dan bahwa menolak langsung di depan orang ongkosnya lebih besar daripada terlambat. Yang bertanya, kalau ia orang sini, tahu bahwa "bisa" dengan nada tertentu artinya lain dengan "bisa" dengan nada lain, dan ia akan menanyakannya lagi hari Rabu.

"Sudah makan?" bukan pertanyaan soal makanan. "Nanti kita atur" bukan janji. "Sebenarnya begini" biasanya pembuka penolakan. Semuanya arti yang cuma ada kalau seluruh keadaannya ikut dipegang, dan hilang begitu kalimatnya dicabut lalu diperiksa satu per satu.

Kebalikannya juga ada di sini, dan bentuknya loket.

Berkas ditolak karena nama di kartu keluarga pakai gelar sementara di akta tidak. Orangnya sama, alamatnya sama, dan yang di balik kaca tahu persis orangnya sama. Yang menolak bukan orangnya. Yang menolak kolom isian, yang cuma mengenal cocok atau tidak cocok, dan tidak punya tempat untuk keterangan bahwa dua nama ini orang yang sama.

Itu utusan yang mengira dirinya penguasa. Bagian kecil yang dipisahkan dari keseluruhannya, lalu diperlakukan sebagai satu-satunya yang nyata.

Dan yang bikin susah dilawan: kolom itu memang ada gunanya. Tanpa kolom yang ketat, yang berlaku cuma kenalan siapa. Kita mengetatkannya justru untuk melawan itu. Persoalannya bukan memilih salah satu, tapi siapa yang melayani siapa. Dan itu pertanyaan yang tidak pernah muncul selama kolomnya masih dianggap satu-satunya yang nyata.

Kalau salah pun katanya tetap kiasan yang berharga

Bagian pertama bukunya tinjauan yang serius atas penelitian tentang perbedaan dua belahan otak. Bagian kedua riwayat kebudayaan Barat dari zaman Yunani sampai sekarang, dibaca sebagai kisah utusan yang pelan-pelan merebut kedudukan tuannya. Bagian kedua itu memakan lebih dari separuh bukunya.

Separuh kedua itu tidak saya ikuti, dan bukan karena isinya kurang menarik.

Watak sebuah zaman tidak bisa dibaca lewat ilmu saraf. Dan argumennya tidak menyediakan satu pun kemungkinan bukti yang bisa membantahnya: gejala apa pun bisa ditempelkan ke belahan otak mana pun sesudah kejadian, dan penempelannya selalu tersedia.

McGilchrist tahu itu, dan menuliskannya sendiri. Bukunya, katanya, jalan seperti anjing dalmatian tadi.

"If I am wrong, the picture I discern in the dots and splashes will simply not be recognised by others; if there is any truth in it, it may awaken thoughts."

Kalau dalilnya keliru, gambar yang ia lihat di antara bercak-bercak itu tidak akan dikenali orang lain; kalau ada benarnya, gambar itu mungkin membangunkan pikiran orang (hal 727).

Itu terus terang, dan tetap bukan ujian. Dikenali orang lain dan benar itu dua hal berbeda, dan bukunya sendiri yang menerangkan kenapa orang sanggup melihat bentuk di tempat yang tidak ada bentuknya.

Ada satu pagar lagi yang ia pasang, dan pagar itu yang paling menyulitkan. Menanggapi orang yang mempersoalkan ilmu sarafnya, ia menulis begini:

"I followed that commonplace observation with words to the effect that, in the worst possible case, the hemisphere distinction at least provided a valuable metaphor, metaphor being how we come to understand the world."

Sesudah pengamatan yang biasa saja itu ia menambahkan kira-kira begini: dalam keadaan yang paling buruk sekalipun, pembagian dua belahan otak setidaknya menyediakan satu kiasan yang berharga, dan lewat kiasanlah kita mengerti dunia (hal 30). Sekali pagar itu terpasang, tidak ada temuan apa pun yang bisa merugikan dalilnya. Penelitian yang cocok jadi bukti; penelitian yang tidak cocok tidak apa-apa, sebab yang tersisa masih kiasan yang berharga.

Perdebatan di kalangan ahli saraf sendiri belum reda dan masih ramai sampai sekarang. Yang dipersoalkan bukan ada tidaknya perbedaan antara dua belahan, sebab perbedaannya memang ada dan sudah lama diukur. Yang dipersoalkan seberapa jauh perbedaan itu boleh dibawa. Semuanya perbedaan kadar, diukur pada rata-rata sekelompok orang, dan di banyak tugas kedua belahan sama-sama menyala dengan selisih yang tipis. Perbedaan kadar tidak sanggup menopang dalil sebesar peradaban, dan keberatan itu sudah berkali-kali diajukan ahli saraf sendiri.

Ada bandingan yang menolong. Peterson menulis hal yang hampir sama di Maps of Meaning sepuluh tahun lebih dulu, dan ia memakainya satu alinea saja lalu jalan terus. Gagasan yang sama, satu dipakai secukupnya, satu lagi disuruh menanggung dua ribu tahun sejarah.

Dan gambaran yang lebih banyak dipegang ahli saraf sekarang bukan dua, tapi banyak. Eagleman di Incognito menyebut otak tim para pesaing: banyak bagian, dibangun pada zaman berbeda untuk keperluan berbeda, hasilnya lebih mirip pemungutan suara daripada pembagian dua. Sapolsky di Behave membuka bukunya justru dengan menolak memilih satu ember penjelasan, dan seluruh buku ini satu ember yang sangat besar.

Bukunya yang berikutnya, dan jawaban dari kamar sebelah

Pada 2021 McGilchrist menerbitkan lanjutannya, dua jilid, jauh lebih tebal, dan dalilnya melebar: bukan cuma soal kebudayaan Barat, tapi soal cara kita mengetahui apa pun.

Keberatan yang datang sesudahnya menyempit ke satu titik, dan titik itu perlu diketahui pembaca bukunya yang pertama.

Beda kerja antara dua belahan otak memang ada, dan sudah lama diukur orang. Yang dipersoalkan lompatan dari beda yang sedang-sedang saja itu ke keterangan tentang arah sebuah peradaban. Menurut yang membantah, kerja dua belahan itu di hampir semua hal berjalan bersama-sama, bukan sebagai dua cara hidup yang berbeda.

Satu keberatan yang paling susah dijawab datang dari ruang praktik. Orang yang satu belahan otaknya diangkat seluruhnya, biasanya untuk mengobati kejang yang parah, tidak berubah jadi gambaran manusia yang seharusnya muncul kalau dalil bukunya berlaku sekuat itu.

McGilchrist tidak menyangkal keberatan itu, dan menjawabnya dengan memindahkan letak dalilnya: menurut dia yang membedakan bukan apa yang dikerjakan tiap belahan, tapi bagaimana ia mengerjakannya.

Jawaban itu mungkin benar. Yang jelas ia membuat dalilnya lebih susah dibantah, dan sesuatu yang makin susah dibantah tidak otomatis jadi makin benar. Itu keberatan yang sama yang saya tulis di bawah nanti soal kiasan yang katanya tetap berharga meski salah.

Yang layak disimpan tetap bedanya antara mengenali sesuatu dan mencengkeramnya, dan bagian itu tidak bergantung pada benar tidaknya seluruh dalil besarnya.

Ada hal-hal yang cuma bisa dipegang dengan perhatian yang terbuka. Cengkeramannya dikencangkan sedikit saja, barangnya hilang. Itu berlaku buat lelucon, buat musik, dan buat sebagian besar hal yang berjalan di antara dua orang yang sudah lama saling kenal.

Yang belum bisa saya jawab bagian sesudahnya. Kalau kolom isian memang perlu, dan orang yang sanggup membaca keadaan memang perlu, siapa yang berhak memutuskan kapan yang satu mengalah pada yang lain? Buku ini menjawabnya dengan menunjuk tuan dan utusan. Di loket, yang berdiri di balik kaca bukan tuan siapa-siapa, dan kolomnya juga bukan utusan siapa-siapa. Dua-duanya cuma menjalankan aturan yang disusun orang lain, di ruangan lain, yang tidak pernah antre di situ.

Baca berikutnya