Bagian diri yang merasa sedang memutuskan itu direktur yang cuma dipanggil kalau ada yang meleset.

Eagleman membuka dengan mengutip Carl Jung dan Pink Floyd berdampingan, dan dari situ ketahuan nada bukunya. Anehnya, jadi.

Dalilnya: hampir tidak ada bagian dari hidup batin kita yang benar-benar dikendalikan secara sadar, dan itu bukan cacat. Kesadaran itu bagian yang dikabari belakangan, dan biasanya telat.

"The conscious mind is not at the center of the action in the brain; instead, it is far out on a distant edge, hearing but whispers of the activity."

Pikiran sadar tidak duduk di pusat kegiatan otak. Letaknya jauh di tepi, dan yang sampai ke sana cuma bisik-bisiknya.

Gambaran itu tidak asing buat saya, dan bukan dari buku ini kenalnya. Nanti sampai ke situ.

Coba sendiri, dan jangan dipikir

Pegang dua spidol, satu di tiap tangan. Tanda tangani nama sendiri dengan tangan kanan seperti biasa, sambil tangan kiri menuliskan nama yang sama terbalik seperti di cermin. Cuma ada satu cara supaya berhasil: jangan dipikir. Begitu gerakannya diperhatikan, tulisannya langsung berantakan.

Contoh yang lebih ekstrem lemparan bola bisbol. Lemparan Nolan Ryan pada 1974 tercatat 162 kilometer per jam, dan bolanya sampai ke pemukul dalam empat persepuluh detik. Cahaya harus sampai ke mata, diolah, diteruskan ke bagian otak yang menggerakkan otot, dan tongkatnya harus sudah bergerak, semuanya di dalam waktu itu. Kesadaran butuh sekitar setengah detik. Jadi pemukulnya sudah mengayun sebelum ia tahu bolanya dilempar.

Yang lebih aneh: orang bisa mahir tanpa tahu caranya. Pemilah anak ayam terbaik di Jepang membedakan jantan dan betina dalam sekejap dan tidak bisa menerangkan dari mana tahunya. Pengintai pesawat Inggris di masa perang sama. Disuruh melatih orang baru, mereka gagal menerangkan, dan yang akhirnya mempan cuma latihan menebak lalu dikoreksi, ribuan kali. Meneropong ke dalam diri, kata Eagleman, tidak ada gunanya untuk program yang sudah terbakar ke dalam rangkaian.

Contoh bisbol tidak akan terasa buat kebanyakan orang di sini. Yang terasa naik motor di tengah macet. Antara satu lampu merah dan berikutnya ada ratusan keputusan: celah selebar sejengkal antara bus dan trotoar, mobil yang lampu seinnya menyala tapi belum tentu belok, anak kecil di pinggir jalan yang badannya sudah condong, aspal yang warnanya sedikit lebih gelap karena berpasir. Semua itu jalan tanpa dipikirkan, dan kalau dipikirkan justru bahaya. Pengendara yang menimbang tiap celah akan tersendat, dan tersendat di tengah arus lebih berbahaya daripada bergerak. Orang di sini punya sebutan sendiri untuk itu: feeling. Kata yang biasanya dianggap tidak ilmiah, padahal justru itu yang dijelaskan Eagleman sepanjang buku.

Direktur yang cuma dipanggil kalau gagang pintunya pindah

Gambaran Eagleman untuk kesadaran: direktur sebuah perusahaan besar. Pekerjaan hariannya dikerjakan bagian-bagian yang tidak bisa ia tengok, yang ia sebut sistem zombi, program yang jalan sendiri tanpa perlu mengabari siapa pun.

"The CEO keeps the subroutines unified; it is the warden of the zombies."

Direktur menjaga semua bagian tetap satu arah; dialah sipir para zombi.

Kapan direkturnya dipanggil? Eagleman meminjam pengalaman Jeff Hawkins: pulang ke rumah, Hawkins sadar tidak ingat sama sekali meraih dan memutar gagang pintu. Tapi kalau ada yang diam-diam memindahkan gagang itu tujuh senti ke kanan, ia akan langsung tahu. Kesadaran menyala persis waktu harapan meleset. Perusahaan kecil tidak butuh direktur bergaji besar. Perusahaan besar butuh, dan cuma itu bedanya.

Di sinilah saya mengenali gambarannya. Dua layar di meja dibagi delapan kotak, tiap kotak satu agen AI mengerjakan bagian aplikasi yang berbeda, dan tugas orang di depannya cuma satu: mengawasi. Tidak ada satu baris pun yang ditulis sendiri. Yang datang ke meja laporan bahwa sesuatu sudah selesai, dan yang dibaca sungguh-sungguh cuma laporan yang tidak sesuai harapan. Persis direkturnya Eagleman, cuma kali ini zombinya kelihatan.

Kenapa susunan itu bisa jalan, jawabannya ada di buku lain di rak ini. Deutsch, di The Beginning of Infinity, menerangkan pengetahuan tumbuh dari menebak lalu mengkritik. Mengkritik jauh lebih murah daripada membuat. Itu sebabnya satu orang bisa mengawasi delapan, dan itu juga sebabnya kesadaran yang lambat dan mahal cukup dipanggil sesekali.

Sidang, bukan singgasana

Otak, tulisnya, tim para pesaing, meminjam sebutan untuk kabinet Lincoln yang sengaja diisi lawan-lawan politiknya. Banyak bagian, dibangun pada zaman yang berbeda untuk keperluan yang berbeda, masing-masing mengajukan usul. Hasilnya lebih mirip pemungutan suara daripada perintah.

Contohnya Mel Gibson. Mabuk, ditilang, lalu memaki polisi dengan umpatan anti-Yahudi. Sadar, minta maaf dengan kalimat yang kedengaran tulus. Yang mana Gibson yang asli? Menurut Eagleman dua-duanya cerita yang tidak lengkap. Yang kelihatan cuma pihak yang sedang menang suara malam itu.

Dari situ keluar resep yang paling kepakai di buku ini. Ulysses minta diikat ke tiang kapal sebelum lewat pulau sirene, karena tahu Ulysses yang nanti tidak bisa dipercaya. Bank di Amerika pada 1909 menjual tabungan Natal yang kena denda kalau ditarik sebelum Desember, dan laku keras.

"The rule of thumb is this: when you cannot rely on your own rational systems, borrow someone else's."

Aturan praktisnya: kalau bagian rasional dirimu sendiri tidak bisa diandalkan, pinjam punya orang lain.

Di sini resepnya sudah lama jalan tanpa nama. Arisan itu tabungan yang tidak bisa ditarik. Uang yang dititipkan ke istri supaya tidak terpakai. Dana darurat yang dipisah ke rekening tanpa kartu, dipasang waktu kepala sedang dingin untuk diri yang nanti gampang ditawar. Kahneman menunjukkan orang memilih seratus sekarang daripada seratus sepuluh minggu depan, dan Eagleman mengutipnya; catatannya ada di Thinking, Fast and Slow. Yang ditambahkan Eagleman: diri yang nanti itu bukan diri yang lemah, tapi pihak lain di sidang yang sama, dan pihak itu tidak kalah tulusnya.

Pertanyaannya lebih baik, jawabannya belum bisa dipegang

Tahun 1966 Charles Whitman, teller bank dengan IQ 138 dan bekas anggota kepanduan bergelar tertinggi, menembak empat puluh delapan orang dari menara kampus Universitas Texas di Austin, sesudah lebih dulu membunuh istri dan ibunya. Sesudah ia mati, ditemukan tumor yang menekan bagian otak yang mengatur rasa takut dan marah. Begitu tumornya disebut, penilaian kebanyakan orang bergeser. Kata Eagleman, tumor itu istimewa cuma karena kelihatan. Tiap perilaku punya dasar wujudnya di tubuh. Sebagian bisa kita tunjuk sekarang, sebagian belum.

"The concept and word to replace blameworthiness is modifiability, a forward-looking term that asks, What can we do from here?"

Kata pengganti "pantas disalahkan" itu "bisa diubah", istilah yang menghadap ke depan dan bertanya: dari sini kita bisa apa?

Ia bahkan menulis satu bagian berjudul mitos kesetaraan manusia: di sumbu apa pun yang diukur orang tidak sama, dan hukum yang menganggap semua otak menanggapi hukuman yang sama sedang berpura-pura.

Kalau dibaca dari sini, pertanyaannya memang lebih baik. Di ruang sidang dan di kolom komentar hampir semuanya masih soal moral orangnya: tega atau tidak tega, khilaf atau sengaja. Soal apa yang bisa membuat orang itu tidak mengulangi hampir tidak pernah ditanya, dan lembaga yang mestinya menjawabnya kita beri nama lembaga pemasyarakatan.

Jawabannya yang belum bisa saya pegang, dan Eagleman sendiri yang menunjukkan lubangnya:

"Although it would be expensive now, societies in the future might experimentally derive an index to measure neuroplasticity."

Walau sekarang masih mahal, masyarakat di masa depan mungkin bisa menyusun indeks untuk mengukur seberapa lentur otak seseorang.

Indeks itu harus dipegang seseorang. Dan di sini keterangan tentang isi kepala terdakwa sudah lama jadi barang yang dibawa pengacara ke sidang, disusun ahli yang dibayar salah satu pihak. Alat ukurnya sendiri netral. Yang perlu ditakuti pemegangnya, dan di negeri yang bentuk lembaganya lengkap sampai desa tapi banyak yang tidak benar-benar jalan, indeks kelenturan otak tinggal jadi satu surat keterangan lagi yang bisa diurus. Sapolsky di Behave mundur lebih jauh lagi, sampai menghapus kata salah sama sekali, dan keberatannya sama: siapa yang memegang bengkelnya.

Radio di bab terakhir, dan Dennis yang jadi dokter gigi

Bab terakhirnya keliru. Eagleman membangun perumpamaan: seseorang yang belum pernah mendengar gelombang radio membongkar sebuah pesawat radio, lalu menyimpulkan musiknya dibuat di dalam kotak itu. Lalu ia mengusulkan, mungkin otak juga cuma penerima.

"...but I am pointing out that it could be true. There is nothing in our current science that rules this out."

Tapi yang mau ditunjukkan di sini, itu bisa saja benar. Tidak ada apa pun dalam ilmu kita sekarang yang menutup kemungkinan itu.

Belum ada yang membantah bukan alasan untuk menyimpan sebuah gagasan. Keterangan radio itu bisa dibengkokkan ke mana saja tanpa berubah bentuk, dan itu tanda paling cepat sebuah keterangan tidak sedang menerangkan apa-apa. Satu bagian ini melemahkan tiga ratus halaman yang sebelumnya tertib.

Bukunya juga lebih ringan daripada tampangnya. Ada bagian yang mengutip Pelham: orang bernama Dennis lebih sering jadi dokter gigi, Laura jadi pengacara, dan orang yang lahir tanggal dua lebih sering pindah ke kota yang namanya memuat angka dua. Waktu angkanya dihitung ulang dengan pembanding yang benar, efeknya menguap. Beberapa bahan lain datang dari dasawarsa psikologi sosial yang paling banyak gagal diulang. Dan gambaran otak sebagai sidang itu sebenarnya lukisan, bukan keterangan tentang cara kerjanya.

Usulnya sudah masuk ruang sidang, dan bentuknya tidak seperti di bukunya

Bab hukum di buku ini menyodorkan satu usul besar: berhenti bertanya seberapa bersalah orangnya, dan mulai bertanya seberapa besar kemungkinan ia mengulanginya. Eagleman sendiri mengurus lembaga yang mengerjakan sambungan antara ilmu saraf dan hukum.

Lima belas tahun sesudah bukunya, sebagiannya memang sudah masuk pengadilan, dan yang masuk bukan bagian yang ia harapkan.

Pemindaian otak sekarang lazim dipakai di Amerika, terutama pada tahap penjatuhan hukuman, dan hampir selalu dibawa pihak pembela untuk meminta hukuman lebih ringan. Pada 2025 sebuah pengadilan tinggi negara bagian memutus perkara yang di dalamnya ada hasil pindaian yang menunjukkan kelainan bentuk otak yang cocok dengan skizofrenia.

Jadi yang benar-benar berjalan bukan susunan baru untuk menakar kemungkinan mengulang. Yang berjalan alat lama dengan bahan bukti baru: tetap soal seberapa bersalah, cuma sekarang dibantah pakai gambar.

Keberatan yang menempel di situ juga sudah lama disebut orang. Gambar otak meyakinkan sekali di mata juri, dan kemampuannya menerangkan kelakuan seseorang jauh lebih kecil daripada kesannya. Sebuah kelainan yang muncul di pindaian bisa ada juga pada ribuan orang yang tidak pernah melukai siapa pun.

Yang tidak tersedia tetap yang paling dibutuhkan usulnya: alat yang benar-benar bisa menaksir kemungkinan seseorang mengulangi perbuatannya. Tanpa alat itu, ajakan mengganti pertanyaan berhenti jadi ajakan mengganti kata.

Yang berubah buat saya kecil saja, tapi kepakai.

Begitu diterima bahwa memutuskan terjadi lebih dulu daripada menyadari, pertanyaan "kenapa tadi saya begitu" berhenti punya jawaban yang bisa dipegang. Yang keluar dari mulut sesudahnya cerita yang baru disusun belakangan, oleh bagian diri yang paling telat dikabari. Simler dan Hanson memakai gambar yang sama untuk hampir seluruh kelakuan sosial kita di The Elephant in the Brain.

Dan cerita itu perlu dicurigai justru pada saat terdengar paling meyakinkan. Direkturnya sedang membaca laporan yang disusun orang lain, dan menandatanganinya sebagai laporannya sendiri.

Baca berikutnya