Pada akhir Juni 1861, di tepi sungai kering di tengah Australia, William John Wills menulis di buku hariannya bahwa ia sedang kelaparan dengan perut kenyang.
"I cannot understand this nardoo at all; it certainly will not agree with me in any form.… Starvation on nardoo is by no means unpleasant, but for the weakness one feels and the utter inability to move oneself, for as far as appetite is concerned, it gives me the greatest satisfaction."
Saya sama sekali tidak mengerti nardoo ini; dalam bentuk apa pun tidak cocok buat saya. Kelaparan karena nardoo sebenarnya tidak menyiksa, kecuali lemasnya dan sama sekali tidak sanggupnya menggerakkan badan; soal rasa kenyang, justru inilah yang paling memuaskan saya.
Seminggu kemudian Wills mati. Robert O'Hara Burke, pemimpin rombongannya, mati juga.
Joseph Henrich, antropolog yang bertahun-tahun hidup dari singkong di Amazon dan di sebuah pulau di Pasifik, membuka bukunya dari situ. Dalilnya pahit: keberhasilan manusia sebagai jenis makhluk tidak berdiri di atas kepintaran orangnya satu per satu.
Saya membacanya bukan sebagai buku tentang otak, tapi sebagai buku tentang aturan yang menyelamatkan orang tanpa pernah menerangkan diri.
Nardoo memang makanan orang Yandruwandrha di sekeliling mereka, dan orang Yandruwandrha baik-baik saja. Bedanya cara mengolah. Nardoo mentah mengandung thiaminase, zat yang menghabiskan cadangan vitamin B1, dan cara setempat punya tiga langkah yang menetralkannya: tepungnya dicuci dengan air berlimpah, adonannya dipanggang menempel abu, dan buburnya cuma disantap memakai cangkang kerang.
Satu keterangan kecil menutup ceritanya. Waktu orang Yandruwandrha datang meminta hadiah, Burke menembakkan senapan ke atas kepala mereka. Mereka menghilang.
Resep yang tidak bisa ditemukan dengan mencoba
Singkong pahit di Amazon memperlihatkan bentuk persoalannya lebih terang. Umbinya mengandung senyawa yang melepas sianida, dan racunnya punya dua wajah. Yang mendadak gampang dikenali siapa pun. Yang menahun tidak, dan ujungnya bisa gangguan saraf, gondok, sampai lumpuh pada kaki.
"Chronic poisoning, because it emerges only gradually after years of consuming manioc that tastes fine, is particularly insidious."
Keracunan menahun, karena baru muncul pelan-pelan sesudah bertahun-tahun makan singkong yang rasanya tidak apa-apa, itu yang paling licik.
Henrich mengajak pembacanya membayangkan seorang ibu Tukano yang memutuskan berpikir sendiri. Ia memeriksa cara pengolahan yang makan waktu berhari-hari itu, menyimpulkan tujuannya cuma membuang rasa pahit, lalu memotong langkah yang kelihatan mubazir. Hasilnya enak, tidak ada yang langsung sakit, dan waktunya jadi lebih banyak untuk mengurus anak.
"Thus, the unwillingness of this mother to take on faith the practices handed down to her from earlier generations would result in sickness and early death for members of her family."
Jadi keengganan ibu ini menerima begitu saja cara yang diwariskan kepadanya dari angkatan sebelumnya akan berujung pada sakit dan kematian dini di keluarganya sendiri.
Bukan soal ibu itu pintar atau tidak. Ganjarannya datang sepuluh tahun terlambat, dan tidak ada kepala manusia yang sanggup menyambungkan sebab dan akibat yang jaraknya sepuluh tahun. Keterangan macam ini cuma bisa selamat kalau ditiru habis-habisan, termasuk bagian yang kelihatannya tidak ada gunanya.
Abu, kapur, dan gadung
Contoh kedua Henrich itu jagung. Makan jagung sebagai makanan pokok bisa berujung pelagra, penyakit kekurangan niasin yang membawa luka kulit, pikun, lalu mati. Niasinnya sebenarnya ada di dalam jagung, cuma terikat dan tidak lepas oleh masakan biasa. Yang melepaskannya bahan alkali, dan orang di seluruh benua Amerika menemukan cara memasukkannya ke adonan: di sebagian tempat dari abu jenis kayu tertentu, di tempat lain dari cangkang kerang yang dibakar.
Cangkang kerang yang dibakar itu kapur sirih.
Kapur sirih di sini ada di dapur dan di mulut nenek yang nyirih, dan yang kedua bukan kebiasaan kosong. Kapurnya yang membuat zat di dalam pinang benar-benar terserap. Tanya kenapa harus pakai kapur, jawabannya memang begitu caranya.
Dan ada gadung, umbi liar yang mentahnya beracun sungguhan. Umbinya dikupas dan diiris tipis, irisannya dilumuri abu atau kapur, didiamkan semalam sampai beberapa hari, direndam di air mengalir satu sampai tiga hari sambil sesekali diganti airnya, baru dijemur sampai kering betul. Tanya kenapa harus abu, kenapa harus air mengalir, kenapa harus sekian hari. Jawabannya sama persis dengan jawaban di Amazon. Dari dulu memang begitu.
Pantangan yang sudah diukur
Bab tujuh bukunya berjudul "On the Origin of Faith", dan isinya bukan agama.
Henrich sedang makan belut moray besar di Yasawa waktu ia melihat perempuan di sebelahnya tidak menyentuh belut itu sama sekali. Ditanya kenapa, jawabannya pendek: tabu, saya sedang hamil.
Daftar pantangan perempuan hamil dan menyusui di sana isinya belut moray, barakuda, hiu, kerapu besar, dan beberapa ikan karang besar lain. Semuanya ikan yang di jurnal kedokteran tercatat paling sering membawa racun ciguatera, racun yang lahir dari jasad renik di karang mati lalu menumpuk makin pekat makin ke atas rantai makanan. Daftarnya diturunkan dari ibu, ibu mertua, dan nenek, dan waktu ditanya kenapa, jawaban para perempuan itu ke mana-mana.
Lalu Henrich mengukurnya. Angka keracunan ikan pada mereka selama hamil dan menyusui dibandingkan dengan angka pada sisa hidup mereka, dan hasilnya turun sepertiga.
Buat saya di situlah sumbangan bukunya yang paling telak, dan telaknya justru karena ada angkanya. Marvin Harris dulu berdalil bahwa aturan makanan yang suci hampir selalu menyimpan hitungan alam yang masuk akal, dan keberatan terberat terhadapnya datang dari sesama antropolog: keterangan macam itu terlalu gampang disusun mundur dari hasilnya. Catatannya ada di Cows, Pigs, Wars, and Witches. Henrich menambalnya dari dua sisi. Mekanismenya tidak menuntut ada orang yang pernah menghitung apa pun, dan untuk satu kasus angkanya sudah dihitung betulan.
Kita punya daftar sendiri, dan yang menyampaikannya ke perempuan hamil di sini juga bukan dokter, tapi ibu dan mertua. Sebagian larangannya bisa ditunjukkan sebabnya sekarang, sebagian tidak, dan di dalam daftar itu tidak ada tanda yang memisahkan mana yang mana.
Burung yang ikut memilih ladang
Sekali ini kita ada di dalam bukunya.
Orang Kantu di Kalimantan memilih letak ladangnya dengan membaca burung. Lewat penelitian Michael Dove, Henrich menunjukkan dua hal yang mendorong petani ke petak terlalu berisiko: sesat pikir penjudi, merasa sesudah beberapa tahun buruk giliran tahun bagus sudah dekat, dan kebiasaan menyalin pilihan tetangga, yang membuat sekampung menaruh telurnya di satu keranjang. Membaca burung memutus dua-duanya, sebab penentu letak ladang jadi sesuatu yang tidak bisa dipengaruhi kepala siapa pun. Dalam empat ratus tahun cara itu menyebar ke hampir seluruh penduduk bertani di wilayah itu, dan tetap tidak tumbuh di kelompok peramu maupun di daerah utara yang sawahnya sudah berpengairan.
Lalu datang kalimat yang bikin saya berhenti:
"...not only do people often not understand what their cultural practices are doing, but sometimes it may even be important that they don't understand what their practices are doing or how they work."
Bukan cuma orang sering tidak mengerti apa yang sedang dikerjakan kebiasaannya sendiri; kadang justru penting bahwa mereka tidak mengerti. Begitu ketahuan burungnya tidak meramal apa-apa, orang akan kembali memakai firasatnya sendiri, dan firasat itulah yang tadi mau dihindari.
Kepintaran yang tersimpan di antara orang
Paruh kedua bukunya memindahkan pertanyaan dari orang ke kumpulan orang. Kemampuan menemukan hal baru, kata Henrich, itu sifat sebuah populasi, dan besarnya mengikuti berapa banyak orang yang tersambung dan seberapa lancar keterangan berpindah di antara mereka.
Bukti yang paling rapi datang dari orang Inuit di ujung barat laut Greenland. Sebuah wabah pada abad kesembilan belas menewaskan justru orang yang paling tahu, dan bersama mereka hilang kayak, tombak ikan bermata tiga, dan busur majemuk. Tanpa kayak mereka terputus dan tidak bisa lagi belajar ulang dari kelompok Inuit yang lain. Pada 1820 mereka masih bisa membuat kayak. Pada 1860 tidak lagi. Begitu orang dari Pulau Baffin kebetulan lewat dan sambungannya pulih, semuanya diambil kembali. Bentuk yang sama kelihatan di tiap kampung yang keahliannya tinggal dipegang beberapa orang tua: tiap satu meninggal, sebagian caranya ikut.
Contoh keduanya Tasmania, yang terputus dari daratan Australia sekitar sepuluh ribu tahun lalu waktu permukaan laut naik, dan perkakasnya justru makin sederhana sesudah itu. Dalil ini yang paling banyak dibantah arkeolog, dan Henrich sendiri mencatat di catatan kakinya bahwa satu bagian ceritanya, soal orang Tasmania kehilangan kemampuan membuat api, memang masih diperdebatkan.
Tiga tempat saya berhenti mengikuti
Yang dihitung Henrich cuma yang selamat. Kita melihat resep yang kelompoknya bertahan, dan belum ada yang menghitung berapa banyak pantangan memotong sumber protein satu kampung tanpa menukarnya dengan apa pun. Satu daftar pantangan di satu pulau sudah diukur dan hasilnya bagus. Itu satu pengukuran.
Yang kedua lebih menentukan. Mesin ini cuma jalan selama umpan baliknya masih menutup. Gadung masih diuji tiap tahun oleh orang yang kurang merendam lalu keracunan. Aturan yang sudah menyeberang enam ribu kilometer dan masuk jadi bagian agama tidak lagi diuji oleh apa pun; sejak titik itu aturannya berpindah mengikuti orangnya, bukan mengikuti tanahnya, dan seleksi yang diandalkan Henrich berhenti persis di situ. Bukunya menerangkan dengan sangat baik kenapa resep yang bagus bisa bertahan tanpa ada yang paham, dan tidak punya alat untuk memisahkannya dari resep yang berhenti mengerjakan apa-apa tiga keturunan lalu.
Dan kalimat "kita tidak pintar" itu gaya bicara, didorong lebih jauh daripada yang dituntut buktinya. Menalar sendiri tetap mengerjakan sesuatu yang nyata, dan bukunya contohnya. Henrich melawan pandangan Richard Dawkins dan Steven Pinker bahwa kerja sama manusia sudah cukup diterangkan oleh seleksi kerabat dan balas-membalas. Gantinya justru gagasan yang di The Selfish Gene diperkenalkan lalu dibiarkan menggantung setengah abad, bahwa budaya berevolusi dengan hukumnya sendiri. Bedanya, di tangan Henrich gagasan itu akhirnya punya angka.
Dari tiga orang yang masih hidup di bulan Juni itu, satu selamat. Namanya John King. Ia tidak pernah mengerti nardoo, sampai kapan pun. Yang ia kerjakan cuma berhenti berusaha mengerti, lalu membiarkan orang Yandruwandrha memberinya makan dan mengajarinya membuat tempat berteduh yang benar. Tiga bulan kemudian rombongan penolong menemukannya masih hidup.
Buku Henrich berikutnya mengambil satu aturan tunggal, larangan menikahi sepupu, lalu menariknya sampai ke cara berpikir orang Eropa; soal itu ada di The WEIRDest People in the World. Yang ini berdiri di atas satu syarat yang tidak pernah ia sebut: masih ada orang yang tahu, dan orang itu masih bisa ditanya.
Yang tidak dijawabnya, apa yang terjadi pada sebuah resep waktu penurunnya tinggal satu, dan orang itu tidak pernah ditanya karena tidak kelihatan seperti orang yang tahu apa-apa.
Tasmania, dan angka yang tidak pernah ada
Salah satu contoh yang paling sering dipakai untuk dalil otak bersama datang dari Tasmania. Ceritanya begini: sesudah air laut naik dan pulaunya terputus dari daratan Australia sekitar sepuluh ribu tahun lalu, penduduknya pelan-pelan kehilangan alat yang dulu mereka punya, dari alat tulang sampai pakaian penahan dingin dan alat pancing. Penjelasan Henrich, jumlah orangnya terlalu sedikit untuk merawat resep sebanyak itu.
Contoh itu dibantah keras oleh arkeolog, dan bantahannya menyentuh sambungan yang paling menentukan.
Angka penduduk Tasmania sebelum orang Eropa datang tidak pernah ada yang tahu. Yang dipakai taksiran dari catatan zaman kolonial, dan tidak ada cara yang bisa dipertanggungjawabkan untuk menghitung jumlah penduduk masa lalu dari sisa galian. Kesimpulan yang mereka tarik lebih keras lagi: hubungan antara jumlah penduduk dan kerumitan alat tidak berlaku umum, dan justru gagal di kasus yang paling terkenal itu sendiri.
Yang perlu ditandai, dalil pokoknya tidak ikut jatuh. Bahwa manusia bertahan lewat resep yang diwariskan, bukan lewat kepintaran perorangan, masih ditopang banyak hal lain, termasuk cerita nardoo di atas tadi.
Yang jatuh bagian angkanya. Dan itu mengubah cara memakainya. Kalau jumlah orang tidak menentukan sebanyak yang disebut, maka yang menentukan bukan berapa banyak yang tahu, tapi apakah yang tahu masih diajak bicara.
Dan pertanyaan yang saya tinggalkan di atas tadi justru jadi lebih tajam karenanya.
Susunan bukunya: bagiannya apa saja, mana jantungnya, mana yang boleh dilewat.
Bentuknya
Tujuh belas bab tanpa pembagian bagian, tapi susunannya sebenarnya tiga gerakan. Bab 1 sampai 4 membuktikan bahwa yang membuat manusia menang bukan kepintaran perorangan. Bab 5 sampai 14 menerangkan bagaimana keterangan yang menumpuk lintas keturunan itu bekerja, dan apa yang berubah pada tubuh dan otak kita karenanya. Bab 15 sampai 17 menariknya jadi satu.
Tiap bab bentuknya sama: satu contoh lapangan yang mengejutkan, lalu penjelasannya. Contoh-contohnya yang membuat bukunya enak dibaca meski panjang.
Bab 1 sampai 4: bukan kepintaran kita
Bagian yang paling menentukan, dan yang paling memukul.
- Bab 2 membandingkan anak manusia dengan simpanse dalam berbagai ujian. Untuk hampir semua ujian yang tidak melibatkan meniru orang lain, hasilnya kira-kira sama. Yang jauh berbeda cuma satu: kemampuan belajar dari orang lain.
- Bab 3 bab paling terkenal di seluruh buku, dan isinya para penjelajah Eropa yang mati kelaparan di tempat yang penduduk aslinya hidup nyaman selama ribuan tahun. Orangnya dewasa, sehat, terlatih, dan tetap mati, karena yang dibutuhkan resep yang dikumpulkan puluhan keturunan, bukan kepintaran.
- Bab 4 menerangkan syarat-syarat supaya keterangan bisa menumpuk lintas keturunan.
Bab 5 sampai 14: bagaimana bekerjanya
- Bab 5 soal apa gunanya otak besar, dan jawabannya: menyimpan dan menyalin.
- Bab 7 soal asal-usul kepercayaan pada hal yang tidak bisa dibuktikan, dan kaitannya dengan aturan makan.
- Bab 8 soal dua cara orang mendapat kedudukan: ditakuti atau dikagumi, dan kenapa manusia punya yang kedua sementara kera cuma punya yang pertama.
- Bab 9 soal pantangan kawin dan upacara, diperlakukan sebagai alat yang punya akibat terukur.
- Bab 11 soal manusia yang menjinakkan dirinya sendiri.
- Bab 12 soal otak bersama, yaitu gagasan bahwa kepintaran sebenarnya tersimpan di antara orang. Kelompok yang lebih besar dan lebih sering bertemu menghasilkan alat yang lebih baik, bukan karena orangnya lebih pintar.
Di bagian ini juga ada bahasan yang paling terpakai untuk pembaca di sini: cara mengolah bahan makanan beracun. Ada resep berlapis-lapis, memakan waktu berhari-hari, yang tidak mungkin ditemukan orang dengan mencoba-coba, dan yang tidak bisa diterangkan alasannya oleh orang yang menjalankannya. Mereka cuma tahu begitulah caranya.
Bab 15 sampai 17: kesimpulannya
Tiga bab yang menarik semuanya jadi satu dalil: yang membuat manusia jadi makhluk yang berbeda kesanggupannya menyalin dengan setia dari orang lain, termasuk menyalin hal yang tidak ia mengerti alasannya.
Yang jadi jantungnya
- Bab 3. Kalau satu bab saja yang muat di waktunya, ambil yang ini. Ceritanya sendiri sudah membuktikan seluruh dalil bukunya.
- Bab 12, untuk gagasan bahwa kepintaran tersimpan di antara orang.
- Bagian tentang cara mengolah bahan beracun, karena di situ letak koreksi terbesar atas cara kita biasa memandang kebiasaan lama yang tidak ada alasannya.
Yang boleh dilewat
- Bab 6 dan 14 kalau perubahan tubuh dan hormon bukan yang dicari.
- Bab 13 soal bahasa, yang isinya paling teknis dan tidak menyangga dalil pokoknya.
- Bab 16 dan 17 boleh dibaca cepat; keduanya merangkum yang sudah dibangun sebelas bab sebelumnya.
Yang jangan ditelan bulat-bulat
Bukunya menerangkan dengan sangat meyakinkan kenapa menuruti kebiasaan lama sering lebih pintar daripada menalar sendiri. Yang tidak ikut ditimbang, kebiasaan yang sama juga bisa bertahan lama sesudah alasannya hilang, dan yang paling dirugikan biasanya orang yang tidak boleh menolaknya. Henrich menerangkan kenapa sebuah aturan bertahan; ia jarang menanyakan siapa yang menanggung ongkosnya.
Kalau buru-buru
Bab 2, 3, 12. Tiga bab, dan seluruh dalilnya sudah berdiri: yang membedakan kita dari kera kemampuan meniru, bukan kepintaran, orang paling terlatih pun mati di tempat yang penduduknya hidup nyaman karena tidak punya resepnya, dan kepintaran manusia sebenarnya tersimpan di antara orang, bukan di dalam kepala satu orang.