Semua hitungan di buku ini sekarang tinggal ditekan. Yang tersisa buat orangnya menilai apakah angkanya masuk akal.

Bernstein menaruh dalilnya di halaman pertama, lalu menghabiskan sisa bukunya untuk membuktikannya.

"The revolutionary idea that defines the boundary between modern times and the past is the mastery of risk: the notion that the future is more than a whim of the gods and that men and women are not passive before nature."

Gagasan yang memisahkan zaman modern dari masa lalu bukan mesin, tapi kemampuan menguasai risiko: anggapan bahwa masa depan lebih dari sekadar kehendak dewa, dan bahwa manusia bukan penonton di hadapan alam.

Selama risiko belum bisa diukur, tiap usaha cuma soal nekat atau tidak.

Isi bukunya riwayat orang-orang yang menemukan cara mengukurnya, satu per satu, dan hampir semuanya sedang mengerjakan soal lain. Bukunya terbaca lain sekarang justru karena itu: tiap hitungan yang lahirnya susah setengah mati di dalamnya sekarang tinggal ditekan.

Kedai kopi di Tower Street

Tahun 1687 Edward Lloyd membuka kedai kopi dekat Sungai Thames. Ramai oleh orang-orang kapal yang bersandar di pelabuhan London.

Waktu itu belum ada koran yang beredar luas, dan kedai kopi tempat kabar berkumpul. Lloyd memelihara jaringan pengirim kabar di pelabuhan-pelabuhan Inggris dan daratan Eropa, melelang kapal di tempatnya, dan menyediakan kertas dan tinta untuk mencatat transaksinya. Samuel Pepys datang mencari kabar kapal ke sana, dan menganggapnya lebih bisa dipercaya daripada kabar dari kantornya sendiri di Angkatan Laut.

Cara menutup kesepakatannya yang melahirkan istilahnya. Orang yang bersedia menanggung kerugian membubuhkan namanya di bawah syarat-syarat perjanjian, dan penanggung satu orang semacam itu lama-lama disebut underwriter, penjamin. Dari satu ruangan tempat orang minum kopi dan bertukar gosip pelayaran, lahir perusahaan asuransi paling terkenal dalam sejarah.

Penjaminnya mau menanggung hampir apa saja. Bernstein mengutip satu daftar: pembongkaran rumah, perampokan di jalan, mati karena minum gin, kematian kuda, dan jaminan atas kesucian perempuan. Semuanya masih bisa diasuransikan sampai hari ini, katanya, kecuali yang terakhir.

Tahun 1675 Charles II menutup semua kedai kopi, karena penguasa memang biasanya curiga pada tempat orang bertukar kabar. Ributnya begitu besar sampai ia mencabut sendiri perintahnya enam belas hari kemudian.

Menanggung bersama, jauh sebelum ada yang menghitungnya

Gagasan di bawahnya sederhana. Asuransi dan judi urusan yang sama dilihat dari dua ujung: perusahaan asuransi membayar klaim dari premi orang yang tidak kena musibah, dan meja judi membayar yang menang dari uang yang terus disetor yang kalah. Dua-duanya terasa berbeda cuma karena ada lembaga yang berdiri di tengah, jadi orang yang sebenarnya kita ajak bertukar tidak kelihatan.

Ada satu hal yang tidak masuk ke buku ini, padahal dasarnya sama persis. Arisan.

Sepuluh orang setor jumlah yang sama tiap bulan, dan tiap bulan satu orang membawa pulang seluruhnya. Dilihat dari uangnya saja, tidak ada yang untung dan tidak ada yang rugi. Yang dipindahkan bukan uangnya, tapi waktunya. Orang yang butuh sekarang bisa dapat sekarang.

Yang menjamin bukan hitungan dan bukan surat perjanjian. Yang menjamin ketidakmungkinan kabur. Anggotanya tetangga sendiri, dan orang yang membawa lari uang arisan kehilangan sesuatu yang jauh lebih mahal daripada uangnya. Bentuk yang sama muncul waktu ada rumah kebakaran di kampung, waktu ada yang meninggal, waktu ada yang harus dioperasi. Tidak ada premi, tidak ada polis, tapi ada kewajiban yang semua orang tahu bunyinya.

Ini menerangkan sesuatu yang sering dianggap aneh: kenapa asuransi susah sekali dijual di sini, bahkan ke orang yang mampu membayar. Bukan karena orangnya tidak paham risiko. Mereka sudah punya penanggungnya, dan penanggung itu punya wajah. Yang laku belakangan pun bentuknya bukan pemindahan risiko, tapi asuransi syariah yang dijelaskan sebagai iuran tolong-menolong dan dana yang dikelola bersama. Susunannya arisan, dengan buku besar.

Dua keterlambatan, dua jenis keterangan

Bernstein adil pada asal-usul angkanya. Sistem bilangan yang kita pakai lahir di India sekitar 500 Masehi, dibawa matematikawan Arab ke Barat, dan segitiga bilangan yang belakangan dikenal sebagai segitiga Pascal sudah ada di tangan mereka lebih dulu.

Lalu ia bertanya kenapa mereka berhenti di situ. Jawabannya, katanya, soal cara memandang hidup: siapa yang menentukan masa depan kita.

"Like the Greeks and the early Christians, the fatalistic Muslims were not yet ready to take the leap."

Seperti orang Yunani dan orang Kristen awal, kaum muslim yang pasrah pada takdir belum siap mengambil lompatan itu.

Bagian itu tidak saya ikuti, dan bukan karena kalimatnya menyinggung.

Keterangan yang sama ia pasang ke tiga kelompok sekaligus. Kalau satu sebab menerangkan orang Yunani, orang Kristen awal, dan orang Arab dengan sama baiknya, yang sebenarnya diterangkan cuma satu hal: sebelum Renaisans memang belum ada yang mengerjakannya. Kata pasrah pada takdir tidak menambah apa pun, dan cuma ditempelkan ke satu dari tiga kelompoknya.

Padahal dua puluh halaman kemudian ia menerangkan keterlambatan yang lain dengan cara yang jauh lebih baik. Angka India-Arab itu sendiri ditolak Eropa sampai awal 1500-an, tiga ratus tahun sesudah masuk. Untuk yang satu ini, tulisnya, keterlambatannya bisa diterangkan, lalu ia menyebut dua sebab yang bisa diperiksa: kebiasaan lama yang susah diganti, dan angka baru yang ternyata lebih gampang dipalsukan.

Dua keterlambatan, dua jenis keterangan. Yang satu diberi sebab yang bisa dicek, yang satu lagi diberi sifat bangsanya. Untuk keadaan yang saya kenal, sebab yang bisa dicek juga tersedia: perjanjian yang untungnya bergantung pada hal yang belum jelas memang dilarang, dan yang tumbuh justru bentuk perkongsian yang membagi untung dan rugi bersama. Bukan orang yang menolak menghitung. Aturannya yang tidak menyediakan barang yang perlu dihitung harganya.

Hitungannya sudah jadi tombol sejak 1973

Kalau bukunya dibaca sebagai daftar pekerjaan, isinya rangkaian sesuatu yang dulu berat dan sekarang tidak.

John Graunt, penjual kain berumur empat puluh dua tahun yang bukan matematikawan dan bukan apa-apa, menghitung daftar kematian yang dikumpulkan gereja-gereja London, lalu menyusun tabel berapa orang dari seratus yang masih hidup di tiap umur. Jacob Bernoulli menyusun hukum bilangan besar. Markowitz pada 1952 menulis empat belas halaman, sepuluh di antaranya berisi rumus dan grafik, yang menggantikan tebakan kasar soal ketidakpastian dengan satu tata cara memilih.

Lalu 1973, dan bukunya sendiri mencatat detail yang paling menerangkan. Enam bulan sesudah rumus Black-Scholes terbit, Texas Instruments memasang iklan setengah halaman di koran: sekarang Anda bisa menghitung nilai Black-Scholes dengan kalkulator kami.

Enam bulan. Rumus yang ditolak dua jurnal besar sebelum akhirnya dimuat, dan setengah tahun kemudian sudah jadi tombol.

Sisanya sudah bisa ditebak, dan sekarang kita ada di dalamnya. Menaksir sebaran, menghitung nilai wajar, menyusun kelompok pinjaman menurut kemungkinan macetnya, semuanya dikerjakan mesin, dan dikerjakan lebih cepat daripada yang sanggup diperiksa orangnya. Urutan tebak dan kritik yang jadi soalnya sendiri ada di The Beginning of Infinity.

Yang tersisa buat orangnya menilai apakah angkanya masuk akal.

Cara memeriksa angka yang sudah jadi

Bernstein sudah menyediakan alat periksanya, dan alat itu ada di bab yang paling sering dilewati pembaca.

Kecenderungan angka kembali ke rata-rata cuma berguna kalau rata-ratanya sendiri diam di tempat. Kalau iklimnya memang sedang memanas, deretan tahun panas tidak akan disusul deretan tahun dingin.

"Finally, the mean itself may be unstable, so that yesterday's normality may be supplanted today by a new normality that we know nothing about."

Rata-ratanya sendiri bisa goyah, sehingga keadaan yang kemarin dianggap normal hari ini sudah diganti keadaan normal baru yang sama sekali belum kita kenal.

Contohnya ia ambil dari 1930, waktu Presiden Hoover berkata kemakmuran sudah di depan mata. Hoover tidak sedang membohongi siapa pun. Sejarah memang selalu mendukung kalimat itu: depresi datang, dan depresi selalu pergi.

Bentuknya di sini gampang ditunjuk. Skor kredit disusun dari kelakuan membayar beberapa tahun ke belakang, lalu dipakai menilai orang di tahun yang belum tentu mirip tahun-tahun itu. Selama keadaannya tenang, skornya bagus sekali. Yang tidak bisa dijawab skor mana pun cuma pertanyaan Bernstein tadi: rata-ratanya masih di tempat yang sama atau sudah pindah.

Dan orang yang tersisa untuk menjawabnya bukan hakim yang jernih. Bernstein sendiri memberi satu bab penuh untuk Kahneman dan Tversky, dan temuan yang ia angkat justru bahwa orang yang sedang rugi lebih memilih bertaruh daripada menerima kerugian yang sudah pasti. Catatannya ada di Thinking Fast and Slow. Jadi pekerjaan yang ditinggalkan mesin buat kita justru pekerjaan yang paling gampang miring, dan bukunya sendiri yang bilang begitu:

"Both objective measurement and subjective degrees of belief are essential; neither is sufficient by itself."

Ukuran yang objektif dan kadar keyakinan yang subjektif dua-duanya perlu, dan tidak satu pun cukup sendirian.

Terbit 1996

Halaman-halaman terakhirnya hangat sekali terhadap derivatif sebagai alat yang membagi risiko ke pihak yang paling sanggup menanggungnya. Long-Term Capital Management ambruk dua tahun sesudahnya, dan 2008 datang dua belas tahun sesudah itu.

Soal derivatif membagi risiko ia tidak salah. Yang ia perkecil seberapa jauh derivatif juga membagi akibat dari salah menghitungnya, dan bahannya ada di dalam bukunya sendiri: Markowitz mengandaikan hasil investasi tersebar rapi mengikuti lonceng Gauss, dan seluruh bangunan sesudahnya berdiri di atas pengandaian itu. Bantahan Taleb nyaris ditujukan langsung ke halaman penutup Bernstein, di The Black Swan.

Yang paling saya pegang dari seluruh bukunya bukan satu pun rumus, tapi satu keberatan yang dikirim Leibniz kepada Jacob Bernoulli pada 1703.

"Nature has established patterns originating in the return of events, but only for the most part. New illnesses flood the human race, so that no matter how many experiments you have done on corpses, you have not thereby imposed a limit on the nature of events so that in the future they could not vary."

Alam memang menetapkan pola-pola yang lahir dari berulangnya kejadian, tapi cuma sebagian besarnya. Penyakit baru terus mendatangi manusia, jadi sebanyak apa pun jenazah yang sudah kamu periksa, kamu belum dengan begitu memasang batas pada apa yang bisa terjadi, sehingga di masa depan kejadiannya tetap bisa berbeda.

Cuma sebagian besarnya. Bernstein bilang keterangan tambahan itu kunci seluruh ceritanya, dan itu benar. Tanpa itu tidak ada risiko, sebab semuanya bisa ditebak.

Yang belum saya temukan cara menaruh keterangan tambahan itu ke dalam angka yang keluar dari layar. Angkanya selalu keluar utuh, tanpa catatan kaki, dan selalu terdengar seperti tahu.

Perusahaan asuransi yang berhenti menjual

Bukunya bercerita tentang orang yang pelan-pelan menemukan cara menaruh angka pada hal yang belum terjadi, dan asuransi salah satu buah pertamanya. Menanggung bersama jalan selama kejadiannya jarang, tersebar, dan tidak menimpa semua orang sekaligus.

Tiga syarat itu sekarang sedang lepas satu per satu, dan tempatnya paling kelihatan di Amerika.

Perusahaan asuransi menarik diri dari negara bagian yang risiko kebakaran hutan atau badainya besar. Beberapa perusahaan besar mengumumkan berhenti menjual polis rumah baru di California, dan di Florida ada yang tidak memperpanjang polis lama. Yang tidak kebagian pasar biasa berpindah ke penanggung terakhir yang disediakan negara bagian, dan di California jumlah polis di situ naik dari sekitar empat ratus ribu pada 2020 jadi 1,2 juta pada 2026. Sesudah kebakaran besar di Los Angeles awal 2025, dengan kerugian tertanggung ditaksir empat puluh miliar dolar, penanggung terakhir itu sendiri harus minta suntikan satu miliar dolar.

Itu bukan kegagalan menghitung. Justru sebaliknya: perusahaan-perusahaan itu berhenti menjual karena hitungannya benar.

Dan di situ letak yang menempel dengan kalimat penutup di atas tadi. Bernstein menutup bukunya dengan pengakuan bahwa pola yang diambil dari masa lalu cuma berlaku sebagian besar, sebab kejadian yang belum pernah ada tetap bisa datang.

Yang sedang terjadi bentuk lain lagi. Polanya bukan gagal ditemukan. Polanya ketemu, lalu ternyata pola yang baru itu tidak bisa ditanggung bersama-sama, dan yang tersisa negara sebagai penanggung yang tidak bisa menolak.

Baca berikutnya