Buku ini tidak punya judul. Yang tertulis di naskah Yunaninya cuma keterangan "untuk dirinya sendiri", dan memang itu bentuknya: catatan yang ditulis seorang kaisar Romawi dalam bahasa Yunani, di tenda, di tepi Danube, di sela perang yang tidak kunjung selesai. Dua babnya masih menyimpan keterangan tempat. Buku dua ditulis "di antara orang Quadi di tepi Granua", buku tiga "di Carnuntum".
Tidak ada kata pengantar, tidak ada argumen yang disusun untuk diperdebatkan, tidak ada pembaca yang dibayangkan. Karena itu ukurannya juga lain. Yang ditanya bukan seberapa dalam filsafatnya, tapi apakah penulisnya konsisten dengan dirinya sendiri, dan bagian mana dari catatannya yang bocor.
Kesimpulan Marcus soal waktu saya setujui, dan untuk sampai ke sana saya tidak butuh langitnya.
Buku satu isinya daftar utang
Sebelum satu pun kalimat filsafat, Marcus menulis daftar. Dari kakeknya Verus ia belajar menjaga watak. Dari Rusticus ia dapat salinan ceramah Epictetus, dan sadar wataknya perlu diperbaiki. Dari Severus, yang ia sebut saudaranya, ia dapat gagasan tentang negara yang hukumnya sama untuk semua orang. Belasan nama, satu per satu, dengan apa yang diterimanya dari masing-masing.
Orang yang paling berkuasa di dunianya membuka catatan pribadinya dengan mengakui ia tidak membuat dirinya sendiri. Itu bukan basa-basi pembuka. Seluruh buku sesudahnya berdiri di atas pengakuan itu: watak itu barang yang ditanamkan orang lain, dan yang bisa dikerjakan sendiri cuma merawatnya.
Waktu ditanya soal cara memimpin, orang di atas biasanya menjawab dengan apa yang ia capai. Marcus mulai dari apa yang ia terima. Dari situ saja sudah kelihatan siapa yang sedang menulis.
Providence atau atom, dan latihannya harus jalan di dua-duanya
Kutipan yang beredar hampir tidak pernah membawa bagian ini.
Marcus tidak pernah memutuskan alam semesta ini diatur atau tidak. Ia menulisnya sebagai dua kemungkinan yang sama-sama terbuka, dan menyebutnya berkali-kali dengan kata yang sama: providence atau atom.
"Alexander the Macedonian and his groom by death were brought to the same state; for either they were received among the same seminal principles of the universe, or they were alike dispersed among the atoms."
Alexander dari Makedonia dan tukang kudanya dibawa kematian ke keadaan yang sama, sebab entah keduanya diterima kembali ke benih asal alam semesta yang sama, atau keduanya sama-sama terurai jadi atom.
Perhatikan bentuknya. Kesimpulannya tidak bergantung pada mana yang benar. Kalau ada kehidupan sesudah ini, katanya di tempat lain, dewa-dewa ada di sana juga. Kalau tidak ada rasa apa pun, tidak ada lagi sakit dan senang yang mengikat. Latihannya disusun supaya tetap jalan di dua kemungkinan itu.
Di sini saya berdiri. Selesai ya selesai, tidak ada babak berikutnya, dan justru karena itu yang ada sekarang jadi satu-satunya yang dihitung. Marcus tidak sampai memutuskan sejauh itu, tapi ia menulis kalimat yang persis sama akibatnya:
"For the present is the only thing of which a man can be deprived, if it is true that this is the only thing which he has, and that a man cannot lose a thing if he has it not."
Sebab yang sekarang ini satu-satunya yang bisa dirampas dari seseorang, kalau memang benar cuma ini yang ia punya, dan orang tidak bisa kehilangan sesuatu yang tidak ia pegang.
Banyak buku di rak ini kehilangan sandarannya begitu hasilnya ditunda ke luar hidup ini. Yang ini tidak, dan bukan karena penulisnya tidak percaya apa-apa. Ia sengaja memastikan bukunya tidak bersandar ke sana.
Pagi hari, dan alasan yang jarang ikut dibawa
Latihan yang paling terkenal ada di pembukaan buku dua.
"Begin the morning by saying to thyself, I shall meet with the busy-body, the ungrateful, arrogant, deceitful, envious, unsocial. All these things happen to them by reason of their ignorance of what is good and evil."
Mulailah pagi dengan berkata pada dirimu sendiri: hari ini aku akan bertemu orang yang usil, yang tidak tahu terima kasih, yang sombong, yang suka menipu, yang iri, yang tidak mau bergaul. Semua itu terjadi pada mereka karena mereka tidak tahu mana yang baik dan mana yang buruk.
Kalimat pertamanya beredar di mana-mana. Kalimat keduanya hampir tidak pernah ikut, padahal di situ seluruh isinya. Tanpa kalimat kedua, latihan ini cuma cara supaya tidak kaget. Dengan kalimat kedua, yang disiapkan bukan ketahanan, tapi arah reaksinya: yang muncul waktu kejadian itu kasihan, bukan dendam.
Siapa pun yang pernah mengurus surat di kantor pemerintahan tahu bedanya berangkat dengan kepala sudah siap dan berangkat dengan harapan semuanya lancar. Yang kedua pulang dengan marah. Yang pertama pulang dengan surat.
Pasangannya ada di malam hari. Marcus memeriksa dirinya sendiri: bagaimana ia memperlakukan orang tua, saudara, anak, guru, kawan, sampai budaknya, apakah hari ini ada yang dirugikan olehnya. Latihan itu punya nama di sini, muhasabah, dan bentuknya nyaris sama. Marcus menjalankannya tanpa kitab dan tanpa janji apa pun sesudah mati.
Bulu domba yang dicelup darah kerang
Untuk mematikan keinginan, Marcus punya cara yang kasar.
"this Falernian is only a little grape juice, and this purple robe some sheep's wool dyed with the blood of a shell-fish"
Anggur Falernia ini cuma sedikit perasan buah, dan jubah ungu ini cuma bulu domba yang dicelup darah kerang.
Daging di meja ia sebut bangkai ikan dan bangkai babi. Jubah ungu kekaisaran, lambang kedudukannya sendiri, ia lucuti sampai tinggal bulu domba dan darah kerang. Caranya memang manjur: lapisan makna yang kita tempelkan ke benda dikupas sampai tinggal bahannya.
Ongkosnya juga ada. Terlalu mahir memakainya, dunia jadi kosong. Rindu jadi urusan hormon, cinta jadi urusan keturunan.
Tapi keberatan saya bukan di situ. Nasihat menerima keadaan harus diperiksa dulu satu hal: keadaannya memang tidak bisa diubah, atau cuma tidak bisa diubah oleh orang yang disuruh menerimanya? Marcus menulis semua ini untuk satu orang, yaitu dirinya, dan dirinya justru orang yang paling banyak bisa mengubah keadaan di seluruh kekaisaran. Buat orang itu, nasihat menerima itu rem yang tepat.
Bocornya terjadi waktu bukunya dipinjamkan. Sabar dan ikhlas itu ilmu yang bagus, dan sudah menyelamatkan banyak orang dari marah yang tidak ada gunanya. Dua kata yang sama juga yang paling sering dipakai untuk mendiamkan orang yang punya alasan sah untuk marah, dan biasanya yang mengucapkannya bukan yang sedang disuruh sabar. Marcus tidak pernah menyuruh siapa pun selain dirinya. Yang meminjam bukunya untuk menyuruh orang lain memakai buku yang tidak pernah ia tulis.
Domba jantan di depan kawanan
Konsistensinya diuji paling keras di dua tempat, dan hasilnya berbeda.
Yang pertama lolos. Di buku sepuluh ia menulis tentang kebanggaan:
"A spider is proud when it has caught a fly, and another when he has caught a poor hare, and another when he has taken a little fish in a net, and another when he has taken wild boars, and another when he has taken bears, and another when he has taken Sarmatians. Are not these robbers, if thou examinest their opinions?"
Laba-laba bangga waktu menangkap lalat, yang lain waktu menangkap kelinci, yang lain ikan kecil dengan jala, yang lain babi hutan, yang lain beruang, dan yang lain lagi waktu menangkap orang Sarmatia. Bukankah semuanya perampok, kalau kamu periksa isi kepalanya?
Yang sedang menangkap orang Sarmatia waktu itu dia sendiri. Ia menaruh perangnya sendiri di deretan yang sama dengan laba-laba, dan menyebut semuanya perampok. Ia juga menulis pengingat yang tidak butuh tafsir: hati-hati, jangan sampai kamu dijadikan Caesar, jangan sampai kamu ikut tercelup warna itu, sebab hal begitu memang terjadi.
Yang kedua tidak lolos. Di buku sebelas, sesudah memeriksa dirinya dari asas pertama, ia sampai ke kalimat ini:
"I was made to be set over them, as a ram over the flock or a bull over the herd."
Aku diciptakan untuk ditempatkan di atas mereka, seperti domba jantan di depan kawanan atau banteng di depan gerombolan.
Kalimat sebelumnya lebih telak lagi: yang rendah ada untuk yang tinggi. Di tempat lain ia menulis kalau negara tidak dirugikan, aku pun tidak dirugikan. Alexander dan tukang kudanya sama di dalam kematian, tapi selagi hidup ada domba jantan dan ada kawanan, dan kepentingan negara dan kepentingan dirinya boleh ditulis sebagai satu hal.
Buat kaisar, dua kalimat itu memang benar. Buat orang yang hidupnya diatur kaisar, kalimat yang sama berbunyi lain sekali. Catatan ini tidak pernah menoleh ke arah mereka. Tidak ada satu halaman pun tentang apa yang harus dikerjakan orang yang keadaannya diputuskan dari atas, dan penulisnya orang yang paling sering memutuskan dari atas.
Jangan berharap Republiknya Plato
Satu kalimat di buku sembilan terpakai jauh di luar Roma.
"Do not hope for Plato's Republic: but be content if the smallest thing goes on well, and consider such an event to be no small matter. For who can change men's opinions? And without a change of opinions what else is there than the slavery of men who groan while they pretend to obey?"
Jangan berharap Republiknya Plato. Cukup senang kalau hal yang paling kecil berjalan baik, dan anggap itu bukan perkara kecil. Siapa yang bisa mengubah pendapat orang? Dan tanpa pendapat yang berubah, apa lagi yang tersisa selain perbudakan orang-orang yang mengeluh sambil berpura-pura patuh?
Yang menulis ini orang yang paling bisa mencoba mewujudkan The Republic, dan ia yang bilang jangan. Bukan karena rancangannya jelek, tapi karena perintah dari atas tidak mengubah isi kepala, dan tanpa itu yang didapat cuma orang yang mengangguk.
Saya kenal bunyi yang ia maksud. Rapat mingguan yang tugasnya menagih janji bisa jalan beberapa minggu dengan rapi, lalu kendur jadi rapat laporan: semua hadir, semua melapor, tidak ada yang menolak, dan yang ditagih tetap tidak jadi. Tidak ada yang membangkang. Yang ada persis seperti kalimat Marcus, patuh di ruangan, mengeluh di luar. Negara kertas juga berbentuk begitu: susunannya lengkap sampai ke desa, yang berubah pendapatnya sedikit.
Dan ia menulis kalimat itu waktu semuanya sedang di puncak. Harari di Sapiens mencatat masa dari Trajan sampai Marcus lazim disebut zaman emas kekaisaran, dan The Fate of Rome mencatat wabah Antoninus datang justru di masa itu. Orang yang menulis "jangan berharap" sedang memegang alat paling besar yang pernah ada, dan ia tahu batasnya lebih dulu daripada siapa pun.
Satu kalimat yang paling lama mengendap:
"Such as are thy habitual thoughts, such also will be the character of thy mind; for the soul is dyed by the thoughts."
Seperti apa pikiran yang kamu biasakan, seperti itu pula watak kepalamu jadinya, sebab jiwa ikut terwarnai oleh apa yang dipikirkannya.
Tidak ada janji bahwa pikiran baik mendatangkan rezeki. Cuma keterangan bahwa watak itu endapan dari apa yang tiap hari memenuhi kepala.
Dan yang paling manusiawi dari seluruh bukunya justru pengulangannya. Pengingat yang sama ditulis lagi bertahun-tahun, jangan jadi Caesar, jangan marah, ingat kamu akan mati, seolah tidak satu pun pernah selesai dipegang. Stoa di buku ini bukan tingkat yang dicapai lalu disimpan. Latihan harian yang tidak ada tamatnya.
Ia juga menulis bahwa nama cuma bunyi dan gema, dan sebentar lagi ia jadi abu, entah masih bernama atau tidak. Naskahnya sendiri nyaris tidak selamat: dicetak pertama kali di Zurich sekitar 1558 dari satu salinan yang sesudah itu hilang, dan salinan lengkap yang tersisa cuma satu, di Vatikan. Dari benang setipis itu, catatan yang tidak dimaksudkan untuk siapa pun sampai ke rak orang yang tidak pernah ia bayangkan, dua ribu tahun kemudian, dan dibaca persis sebagai gema.
Saya belum memutuskan itu membantah kalimatnya atau membenarkannya.
Yang terjadi pada bukunya dua ribu tahun kemudian
Catatan ini sekarang salah satu buku yang paling laku di rak pengembangan diri, dan itu kejadian yang perlu ditaruh di sebelah isinya.
Ada satu penerbit dan penulis yang membangun usaha besar di atasnya: kutipan harian, buku turunan, siniar, sampai koin yang bisa dikantongi. Sebagian besar dikerjakan dengan baik dan bahannya benar.
Yang kemudian tumbuh sendiri di sekitarnya beda urusan. Di beranda media sosial, Stoa berubah jadi bahan untuk laki-laki muda yang sedang mencari cara jadi keras: jangan menunjukkan perasaan, jangan bergantung pada siapa pun, kuasai dirimu supaya bisa menang. Sampai orang yang paling banyak menjualnya pun ikut berkeberatan, dan berdebat terbuka dengan seorang peneliti Stoa soal versi yang menyimpang itu.
Isi buku ini kebalikannya dan gampang diperiksa. Buku satunya seluruhnya daftar utang kepada orang lain. Latihan paginya bukan latihan mengeras, tapi bersiap bertemu orang yang menyebalkan supaya tetap bisa bekerja dengan mereka. Dan pengulangannya menunjukkan penulisnya tidak pernah selesai, bukan bahwa ia sudah kebal.
Saya tidak sedang menjaga kemurnian apa pun. Bukunya juga sudah lama tidak punya penjaga. Yang bikin ganjil cuma satu: naskah yang ditulis orang paling berkuasa di dunia untuk menahan dirinya sendiri, sekarang dipakai orang untuk melatih diri jadi lebih kuat dari orang lain.
Infografis
Buka ukuran penuh
Susunan bukunya: bagiannya apa saja, mana jantungnya, mana yang boleh dilewat.
Bentuknya
Dua belas jilid pendek, dan tidak satu pun ditulis untuk dibaca orang lain. Marcus Aurelius menulisnya untuk dirinya sendiri, sebagian di tenda selama bertahun-tahun perang di perbatasan utara, dan tidak pernah memberinya judul. Judul yang kita pakai sekarang datang belakangan dari orang lain.
Akibatnya, buku ini tidak punya alur, tidak punya bab yang membangun bab berikutnya, dan mengulang-ulang hal yang sama dengan sengaja. Pengulangan itu bukan kelemahan; itu memang bentuk latihan. Membacanya dari depan ke belakang dalam sekali duduk adalah cara paling cepat kehilangan seluruh gunanya.
Jilid Satu: daftar utang
Jilid pertama sendirian, dan bentuknya sama sekali berbeda dari sebelas lainnya. Isinya daftar orang, satu per satu, dan apa yang ia pelajari dari masing-masing. Kakeknya, ayah angkatnya, gurunya, saudaranya. Tidak ada satu pun ajaran di dalamnya, cuma pengakuan bahwa hampir semua yang ia punya datang dari orang lain.
Karena bentuknya begitu, jilid ini sering dilewat pembaca yang buru-buru mencari kalimat bijak. Padahal ia yang menjelaskan kenapa sebelas jilid sesudahnya berbunyi seperti itu.
Jilid Dua sampai Dua Belas: latihannya
Sebelas jilid sisanya berisi catatan pendek, dari satu baris sampai satu halaman, dan temanya berputar pada beberapa hal yang sama.
- Yang bisa diatur dan yang tidak. Pendapat orang, kejadian, tubuh, dan umur bukan urusan kita; yang jadi urusan kita cuma tanggapan kita sendiri.
- Latihan pagi. Beberapa jilid dibuka dengan menyiapkan diri bahwa hari ini akan bertemu orang yang menyebalkan, dan alasannya supaya tidak terkejut, bukan supaya kebal.
- Ukuran waktu. Berulang kali ia mengingatkan diri sendiri bahwa semua orang besar sudah lupa, dan yang mengingat mereka juga akan lupa.
- Melihat sesuatu apa adanya. Latihan memecah barang mewah jadi bahan mentahnya, misalnya kain ungu kekaisaran yang cuma bulu domba dicelup darah kerang.
- Kewajiban pada orang lain. Ini yang paling sering hilang waktu bukunya dikutip potongan. Menahan diri bukan supaya tenang sendiri, tapi supaya sanggup mengerjakan bagiannya.
Satu hal yang khas dan jarang disebut: Marcus berulang kali menyiapkan dua kemungkinan sekaligus, ada yang mengatur alam semesta atau semuanya cuma atom yang berserakan, lalu memastikan latihannya tetap masuk akal di dua-duanya.
Yang jadi jantungnya
- Jilid satu, karena isinya menjelaskan orangnya, dan tanpa orangnya kalimat-kalimat itu berubah jadi tempelan kalender.
- Jilid dua, tiga, dan empat, yang paling padat dan paling sedikit mengulang.
- Jilid lima, untuk latihan pagi harinya.
Yang boleh dilewat
- Tidak ada yang benar-benar bisa dilewat, karena tidak ada bagian yang menyangga bagian lain. Justru cara membacanya yang perlu dihindari: sekali habis dalam beberapa malam.
- Kata pengantar penerjemah di sebagian besar terbitan, kalau ia sudah lebih dulu memberi tahu apa yang harus dirasakan pembaca.
Cara membacanya
Beberapa halaman sekali duduk, diulang, dan tidak usah berurutan. Bukunya memang dipakai penulisnya begitu selama bertahun-tahun, bukan diselesaikan.
Satu peringatan yang perlu dibawa: kalimat-kalimatnya sekarang beredar sebagai bahan penyemangat orang yang mau menaklukkan dunia, dan itu justru kebalikan dari isinya. Yang menulis catatan ini seorang kaisar yang sedang mengingatkan dirinya sendiri supaya tidak jadi kaisar yang biasa.
Kalau buru-buru
Jilid satu, dua, dan empat. Tiga jilid, dan yang tersisa justru alur yang paling utuh: siapa yang membentuknya, cara menyiapkan diri sebelum hari dimulai, dan ukuran waktu yang membuat hampir semua yang kita ributkan mengecil sendiri.