Tuyul, pocong, dan pesan berantai lolos lewat saringan yang sama: aneh satu langkah, sisanya biasa saja.

Langkah pertama Boyer menolak pertanyaan yang selalu ditanyakan orang.

Tidak ada asal usul agama, karena agama bukan satu barang. Tidak ada satu kebutuhan yang dipenuhinya, tidak ada satu saat mulainya, tidak ada satu tugas yang dikerjakannya. Berbagai hal yang kita kumpulkan di bawah kata itu punya sumber yang berbeda dan alasan bertahan yang berbeda.

Yang bisa ditanyakan lebih sempit dan ada jawabannya: kenapa sebagian gagasan tentang yang gaib menyebar dan bertahan, sementara sebagian besar sisanya tidak?

Saya membacanya dengan daftar makhluk halus yang sudah lengkap di kepala sejak kecil, dan itu ternyata bahan uji yang bagus.

Aneh persis satu langkah

Tiap gagasan masuk ke satu golongan besar, dan tiap golongan datang lengkap dengan dugaan bawaan yang kita pakai tanpa pernah diajari. Manusia punya badan, lahir, tumbuh, cuma tahu yang pernah dialaminya, dan mati. Benda buatan tidak bergerak sendiri, tidak punya pikiran, dibuat seseorang.

Gagasan keagamaan yang selamat, kata Boyer, melanggar satu dugaan itu dan membiarkan sisanya jalan seperti biasa. Patung yang mendengar doa itu benda buatan ditambah satu pelanggaran: punya pikiran. Hantu itu manusia dikurangi satu hal: badannya. Penunggu pohon itu manusia dengan alamat yang tidak lazim.

"Counterintuitive is a technical term here. It does not mean strange, inexplicable, funny, exceptional or extraordinary."

Berlawanan dengan intuisi di sini istilah teknis. Maksudnya bukan aneh, bukan tidak bisa diterangkan, bukan lucu, bukan luar biasa.

Sisanya justru yang bikin gagasan begini kaya. Karena penunggu itu tetap "manusia", kita bisa bertanya ia mau apa, sedang marah atau tidak, dan apa yang bisa meredakannya. Semua pertanyaan itu disediakan gratis oleh golongan "manusia".

"Cultural transmission is cheap; it does not require much effort at communication, as long as templates in our mind provide order for free."

Penularan budaya itu murah. Tidak butuh banyak tenaga untuk menyampaikannya, selama cetakan di kepala kita sudah menyediakan keteraturannya cuma-cuma.

Boyer dan Justin Barrett mengujinya: cerita yang disisipi pelanggaran semacam itu diingat lebih baik daripada cerita yang cuma aneh biasa. Orang yang menembus tembok lebih diingat daripada orang yang punya enam jari. Diulang di Gabon, dengan orang Fang di kota dan di desa hutan, lalu dalam skala kecil di antara biksu Tibet di Nepal. Gagasan yang melanggar terlalu banyak justru tidak bisa diingat. Makhluk yang cuma ada pada hari Rabu, terbuat dari niat, dan punya empat masa lalu yang saling bertentangan bukannya lebih dahsyat daripada hantu biasa. Yang begitu cuma dilupakan.

Hantu-hantu kita cocok persis

Ramalan itu bisa diuji ke daftar makhluk halus mana pun, dan cocoknya hampir kelewat rapi.

Tuyul itu anak kecil. Anak kecil biasa dalam segala hal, kecuali dua: tidak kelihatan, dan mengambil uang. Semua hal lain tentangnya menyusul dari golongan "anak kecil". Itu sebabnya orang bisa berdebat soal ia diberi makan apa dan disimpan bagaimana.

Pocong itu orang mati yang masih berdiri, terbungkus kain kafan yang talinya belum dilepas. Seluruh keanehannya cuma satu rincian. Dan akibat yang terkenal itu, bahwa ia cuma bisa melompat, bukan aturan tambahan. Itu menyusul sendiri dari terbungkusnya: hukum badan biasa, diterapkan ke badan yang terikat.

Kuntilanak itu perempuan dengan satu hal yang salah, dan hal yang mana berbeda menurut daerahnya. Genderuwo besar, berbulu, tinggal di tempat tertentu, dan selebihnya menginginkan apa yang diinginkan manusia.

Keris masuk dari sisi benda buatan. Barang, dibuat orang, biasa dalam hampir semua hal, kecuali punya kesukaan, bisa tersinggung, dan minta diperhatikan pada hari-hari tertentu.

Perhatikan apa yang tidak ada di daftar itu. Tidak ada cerita tentang makhluk yang sekaligus tujuh makhluk dan tersusun dari angka empat. Gagasan seperti itu bisa diucapkan, tapi tidak bisa diteruskan, karena begitu didengar, tidak ada yang bisa dikerjakan pikiran dengannya.

Saringan yang sama jalan di luar makhluk halus. Pesan berantai yang paling jauh menyebar hampir selalu satu benda sehari-hari ditambah satu sifat yang mustahil: air rebusan yang menyembuhkan segala penyakit, nomor yang kalau diangkat menyedot pulsa. Sisanya biasa, jadi gampang diteruskan. Yang dibumbui terlalu banyak keajaiban berhenti di orang kedua.

Boyer pernah mampir ke Jawa

Bab tentang ritual dibuka di sebuah desa di Jawa. Pada hari yang ditentukan, penduduk berkumpul di dekat tempat keramat Buyut Celi, pahlawan yang sudah lama tiada dan sekarang roh yang kuat, kadang menampakkan diri sebagai kepala harimau raksasa. Juru kuncinya mengeluarkan pusaka yang terbungkus kain putih: mata tombak, gelang, lempeng tembaga, cawan perunggu. Pusaka dibersihkan menurut urutan bahan yang tidak boleh ditukar, diedarkan berlawanan arah jarum jam, dan perempuan baru boleh memegangnya sesudah laki-laki selesai.

Kenapa berlawanan arah jarum jam? Karena, kata orang, arah itu memusatkan berkahnya, sedangkan searah jarum jam menyebarkannya. Boyer mencatat keterangan itu, lalu mencatat bahwa keterangan itu tidak menerangkan apa-apa. Yang diterangkannya satu hal dengan hal lain yang sama-sama perlu diterangkan. Ritual, menurutnya, jerat buat pikiran: rangkaian perbuatan yang urutannya terasa mutlak justru karena tidak ada alasannya.

Ia kembali ke Jawa di bab tentang doktrin, dan di situ tulisannya paling dekat ke kita. Ada yang terutama mengurus kultus leluhur dan tempat keramat, yang orang luar sebut abangan. Ada Islam yang berabad-abad lebih kuat di kota dan di kalangan pedagang. Ada yang mendaku Hindu. Ada kebatinan yang sebagian orang anggap Islam yang eksentrik dan sebagian anggap bukan Islam sama sekali. Slametan ada di tengah semuanya.

"The people who perform a slametan or attend various Muslim rites or visit Hindu temples are anything but confused."

Orang yang menyelenggarakan slametan, atau ikut berbagai ibadah Islam, atau datang ke pura Hindu, sama sekali tidak sedang kebingungan.

Secara resmi, tulisnya, semua orang termasuk ke salah satu golongan itu. Ia menaruh kata "resmi" dalam tanda kutip, karena garis antara Muslim, kebatinan, dan Hindu sebagian besar justru ada di dalam diri satu orang yang sama. Kolom agama di kartu tanda penduduk, yang sudah dibahas di catatan Breaking the Spell, persis kolom "resmi" yang ia maksud. Boyer sampai ke pembedaan pengakuan dan keyakinan dari arah lain lagi, dan tanpa perlu ke Denmark seperti di Society without God.

Yang tahu apa yang kita perbuat

Cetakan pikiran menerangkan gagasan mana yang gampang diingat. Cetakan itu belum menerangkan kenapa sebagian gagasan itu jadi penting, dan yang lain cuma dongeng.

Jawaban Boyer: dewa dan arwah yang penting hampir selalu dibayangkan sebagai pihak yang punya akses penuh pada keterangan yang menentukan secara sosial, yaitu siapa yang berbuat apa kepada siapa. Bukan tahu segalanya. Leluhur orang Kwaio di Kepulauan Solomon tidak dibayangkan tahu jumlah daun di hutan. Yang mereka lihat, kata orang Kwaio sendiri, hal-hal kecil yang disembunyikan orang. Yang menyebar yang tahu persis hal-hal yang kita sendiri cemaskan diketahui orang.

Dari situ gagasan gaib menempel ke penalaran moral yang sudah ada duluan, dan Boyer memakai kata yang keras: parasit. Naluri kita tentang curang dan adil tidak datang dari agama. Agama menumpang di atasnya, dan karena menumpang, jadi terasa sebagai sumbernya.

Di sini yang kepakai sehari-hari. Kalimat "Tuhan melihat" mempan persis di keadaan waktu tidak ada manusia lain yang melihat, dan tidak berguna di keadaan lain. Itu bukan kelemahan kalimatnya, itu tugasnya.

Robert Wright sampai ke tempat yang bertetangga dari sejarah teks, dan catatannya ada di The Evolution of God: jangkauan moral sebuah gambaran tentang Tuhan mengikuti keadaan politik penyembahnya. Boyer bekerja di lapisan bawahnya: apa pun keadaan politiknya, gambaran yang menang selalu yang menumpang pada naluri sosial yang sama.

Mayat dulu, baru arwah

Boyer tidak sabar pada keterangan bahwa agama ada untuk menghibur.

"Anthropologists are generally unimpressed by the idea that religion provides comfort, and for good reason."

Para antropolog umumnya tidak terkesan pada gagasan bahwa agama memberi penghiburan, dan alasannya kuat.

Alasannya: di banyak tempat, gambaran agama tentang kematian justru jauh dari melegakan, dan arwah orang yang baru mati lebih sering ditakuti daripada dirindukan. Lalu ia memeriksa ritual kematian dari seluruh dunia, dan menemukan satu hal yang tetap: sesuatu harus dikerjakan pada jenazah, sejak manusia purba mengubur orang mati.

"The rituals are all about corpses. What we call funerary rituals are overwhelmingly about what to do with the body."

Ritualnya seluruhnya tentang jenazah. Yang kita sebut upacara kematian hampir semuanya tentang apa yang harus dilakukan pada badan.

Keterangannya dua sistem di kepala yang bertabrakan. Yang satu membaca jenazah sebagai benda dan sumber penularan, yang satu masih membaca orangnya sebagai pihak yang punya niat dan ingatan. Dari tabrakan itu lahir kewajiban yang terasa mendesak dan tidak bisa dijelaskan orangnya sendiri.

Kesimpulan itu tidak saya ikuti, dan bukan karena saya percaya agama melegakan. Menurut saya Boyer menang di pertanyaan yang ia pilih sendiri, dan pertanyaan itu bukan pertanyaan yang menahan agama. Waktu ada yang meninggal jam dua pagi, yang menahan bukan gambaran tentang akhirat dan bukan pula rasa ngeri pada jenazah. Yang menahan tetangga yang datang, yang tahu harus mengerjakan apa dalam urutan yang sudah ada sejak dulu. Boyer menerangkan kenapa harus ada urutannya. Ia hampir tidak menerangkan kenapa orang-orang itu datang. Keterangan yang lebih sederhana sudah ada di catatan A Little History of Religion: lahir, mati, menikah, dan orang yang perlu ditemani waktu susah.

Doktrin mengikuti pengurusnya

Bab kedelapan yang menjawab sebagian, dan menjawabnya dengan cara yang tidak diduga.

Gambaran umumnya: mula-mula ada ajaran, lalu orang berkumpul di sekitarnya, lalu dibentuk lembaga untuk menjaganya. Boyer membaliknya.

"Doctrines are the way they are because of the organization of religious institutions, not the other way around."

Doktrin berbentuk seperti itu karena susunan lembaga keagamaannya, bukan sebaliknya.

Ahli agama, tulisnya, berkelakuan seperti serikat tukang mana pun: menyamakan tarif, menyamakan mutu, dan menghalangi orang luar menawarkan jasa yang sama. Yang dijual layanan berhubungan dengan yang gaib, dan pesaing terberatnya dukun setempat yang menawarkan hal serupa lebih murah. Untuk menang, serikat butuh ajaran yang seragam, tertulis, bisa diajarkan di mana saja dengan bunyi yang sama, dan butuh dekat dengan kekuasaan. Ajaran yang rapi itu akibat, bukan sebab.

Dan yang rapi itu tidak pernah benar-benar masuk. Boyer menyebutnya fatamorgana ketepatan teologis: apa pun yang diajarkan serikat, gagasan yang sebenarnya dipakai orang tetap yang dibangun cetakan lama, leluhur yang melihat hal kecil yang disembunyikan orang. Ahli agama tahu ini, dan memberantasnya tanpa pernah selesai.

Ini yang paling gampang dikenali dari sini. Yang bertahan di negeri ini bukan tafsir yang paling hati-hati, tapi yang punya pesantren, punya kader, punya cabang sampai kecamatan. Boyer memberi mesinnya: serikat yang paling rapi mengurus dirinya yang menang, dan doktrinnya menyesuaikan diri belakangan.

Yang masih tersisa, dan Boyer mengakuinya, dua hal. Gampang diingat tidak sama dengan dipegang sungguh-sungguh, dan jarak antara keduanya belum ia jembatani. Dan kenapa agama ini di sini dan agama itu di sana bukan pertanyaan yang bisa dijawab dengan alat yang ia pakai.

Dari Boyer yang terbawa bukan penjelasan tentang agama, tapi kecurigaan yang jauh lebih umum: gagasan yang bertahan di kepala orang banyak belum tentu yang paling benar, dan sering justru yang paling gampang diingat dan paling gampang diceritakan ulang. Itu berlaku ke pocong, ke pesan berantai, dan ke apa pun yang saya sendiri yakini tanpa pernah memeriksa asal usulnya.

Dennett menyerukan supaya ada ilmu tentang agama. Boyer sedang mengerjakannya, dan sampai di tepi pertanyaan yang justru paling saya tunggu: bukan kenapa hantu diingat, tapi kenapa orang datang.

Gagasan yang paling gampang disalin, dan mesin penyalinnya

Dalil Boyer soal apa yang bertahan di ingatan: gagasan yang aneh persis satu langkah, dan yang gampang diceritakan ulang tanpa perlu dihafal.

Selama ini penyalinnya orang. Sekarang ada penyalin yang lain.

Mesin bahasa menghasilkan kalimat dengan cara memilih apa yang paling mungkin menyusul apa. Diperas jadi satu kalimat, itu mesin yang menghasilkan yang paling lazim, paling enak dibaca, dan paling mirip dengan yang sudah banyak beredar.

Dua ukuran itu berbeda, dan bedanya penting. Ukuran Boyer soal apa yang menempel di ingatan manusia. Ukuran mesin soal apa yang sering muncul di tulisan manusia. Kadang dua-duanya menunjuk hal yang sama, dan kadang tidak.

Yang bikin ini ada gunanya buat bukunya, kita jadi punya alat untuk memisahkan keduanya. Kalau sebuah cerita bertahan karena bentuknya cocok dengan cara ingatan manusia bekerja, mesin yang cuma menghitung kelaziman tidak akan menghasilkannya lebih baik. Kalau ia bertahan karena sering diulang, mesin justru akan menghasilkannya berlimpah.

Saya belum tahu hasilnya yang mana. Yang saya tahu, sepanjang sejarah manusia baru sekarang ada penyalin yang tidak punya ingatan, tidak punya rasa takut, dan tidak pernah bosan mengulang, dan Boyer menulis bukunya waktu penyalin satu-satunya masih kepala orang.

Baca berikutnya