Mushola di mal itu satu-satunya ruangan di gedung itu tempat semua orang melepas sepatu, dan Eliade menulis buku tentang kenapa.

Mushola di mal itu satu-satunya ruangan di seluruh gedung tempat semua orang melepas sepatu. Tidak ada yang menyuruh, tidak ada yang lupa, dan lantainya keramik yang sama dengan lantai di luar pintunya. Eliade menulis buku tentang ruangan seperti itu.

Pengamatannya berangkat dari ruang. Buat orang yang hidup di dalam dunia yang beragama, ruang tidak sama rata. Ada bagian yang berbeda dari yang lain, dan bedanya bukan soal hiasan.

"Draw not nigh hither; put off thy shoes from off thy feet, for the place whereon thou standest is holy ground."

Jangan mendekat; tanggalkan alas kakimu, sebab tempat kamu berdiri itu tanah yang kudus.

Saat yang keramat menampakkan diri di satu tempat tertentu ia sebut hierophany, penampakan keramat, dan yang dikerjakannya menancapkan satu titik tetap di tengah luasan yang tadinya tidak punya pembeda apa pun. Tanpa titik tetap tidak ada arah. Ruang menurut ilmu ukur bisa dipotong ke mana saja dan tidak ada satu arah pun yang lebih berarti. Supaya bisa tinggal di suatu tempat, bukan sekadar menempatinya, harus ada pusatnya dulu.

Yang ditawarkan bukunya uraian tentang cara kerja, bukan tentang kebenaran, dan begitu saya memakainya. Dan cara kerjanya kelihatan dari mana pun kita berdiri, termasuk dari luar.

Tiang yang patah

Bukti favorit Eliade cerita tentang orang Achilpa di Australia. Dalam mitos mereka, Numbakula membuat tiang keramat dari batang pohon karet, mengolesinya dengan darah, memanjatnya, dan hilang ke langit. Tiang itu poros dunia, dan orang Achilpa membawanya ke mana pun mereka berpindah. Lalu Eliade mengutip dua peneliti: sekali waktu tiangnya patah, seluruh kelompok kebingungan, berkeliaran tanpa arah, lalu berbaring bersama di tanah dan menunggu mati.

Dari situ ia menarik kesimpulan besar: manusia tidak bisa hidup di dalam kekacauan; begitu hubungan dengan yang di atas putus, hidup di dunia tidak lagi mungkin.

Dari pusat itu seluruh susunan menyusul sendiri. Bangunan ibadah jadi gambaran alam semesta, begitu juga rumah, begitu juga kota. Pondok keramat orang Dakota mewakili alam semesta sekaligus satu tahun, dengan empat pintunya sebagai empat arah. Di India, mendirikan altar api berarti mengulang penciptaan, dan tiga ratus enam puluh batu batanya sepadan dengan tiga ratus enam puluh malam. Waktu yang keramat bukan garis tapi lingkaran, dan upacara cara sebuah masyarakat kembali ke awal lalu mulai lagi.

Eliade mampir ke sini empat kali

Bukunya tidak melewatkan tempat kita, dan itu jarang di rak ini.

Borobudur ia sebut candi yang dibangun sebagai gunung buatan: mendakinya sama dengan perjalanan ke pusat dunia, dan di teras tertinggi peziarah menembus dari satu tingkat ke tingkat lain. Di Flores, ia mencatat, tiang kurban orang Nad'a disebut Tiang Langit dan dipercaya menyangga langit. Di Bali, kalau desa baru mau dibangun, orang mencari persimpangan alami tempat dua jalan berpotongan tegak lurus, dan bujur sangkar dari titik tengah itu gambaran dunia. Dan perkawinan Langit dengan Bumi sebagai mitos penciptaan ia sebut tersebar dari Indonesia sampai Mikronesia.

Yang tidak ia sebut justru yang paling telak, dan itu wajar, sebab ia mengumpulkan contoh dari buku orang.

Di Bali arah tidak disebut dengan utara dan selatan. Yang dipakai kaja dan kelod, arah ke gunung dan arah ke laut. Dari dua kata itu hampir semuanya menyusul: tempat suci di sisi kaja, kandang dan tempat pembuangan di sisi kelod, kepala orang tidur menghadap kaja, letak dapur, letak pintu. Gunung Agung pusatnya.

Di Jawa bentuknya lebih tegas lagi: garis lurus. Merapi di utara, Tugu, Kraton Yogyakarta, Panggung Krapyak, Parangkusumo, lalu Laut Selatan. Semuanya berdiri di satu sumbu, sumbu itu dirancang, dan tidak perlu memercayai apa pun untuk mengeceknya. Garisnya ada di peta mana saja, dan sejak 2023 tercatat di daftar warisan dunia dengan nama Sumbu Filosofi. Itu poros dunia yang dimaksud Eliade, dalam bentuk yang bisa ditapaki kaki sendiri dalam satu hari.

Tapi kalau Eliade benar-benar datang ke sini, satu hal akan merepotkannya. Kaja di Bali utara menunjuk ke selatan. Kaja di Bali selatan menunjuk ke utara. Yang tetap hubungannya dengan gunung, bukan arahnya. Orientasi itu bukan hal yang berlaku semesta seperti yang disiratkan bukunya. Orientasi itu hasil dari satu tempat tertentu dengan gunung tertentu, dan berubah begitu tempatnya berubah. Justru itu inti bantahan terhadap seluruh cara kerjanya.

Orang yang mengaku tidak beragama masih membawa polanya

Ini yang paling kepakai dari seluruh bukunya, dan Eliade menulisnya tentang kita.

Bahkan orang yang paling terang-terangan tidak beragama, katanya, tetap punya tempat yang tidak sama rata dengan tempat lain: tempat lahirnya, tempat cinta pertamanya, sudut tertentu di kota asing yang pertama kali ia datangi waktu muda. Semua itu tempat keramat di alam semesta pribadinya, seolah di situ ia pernah menerima penampakan dari kenyataan yang lain.

Lalu daftarnya memanjang. Pesta waktu pindah ke rumah baru masih menyimpan ingatan tentang perayaan memulai hidup baru. Tahun baru, meski sudah tanpa agama, masih berbentuk mengakhiri dan memulai lagi. Bioskop, "pabrik mimpi", memakai motif mitos: pahlawan melawan raksasa, ujian, tokoh teladan. Bahkan membaca, katanya, menjalankan tugas mitos, dan psikoanalisis mempertahankan pola inisiasi: pasien disuruh turun ke dalam dirinya, menghidupkan lagi masa lalunya, menghadapi lukanya, lalu keluar sebagai orang baru.

Syukuran rumah baru di sini tidak pernah ditanya alasannya. Rumahnya sudah dibayar, sertifikatnya sudah balik nama, dan tetap saja tidak ada yang berani menempatinya sebelum tetangga diundang makan. Eliade memberi nama untuk yang sudah semua orang kerjakan: rumah itu gambaran dunia, dan menempatinya berarti memulai dunia dari awal. Holloway di A Little History of Religion menutup bukunya dengan pertanyaan besar sebagai alasan agama bertahan. Eliade menunjukkan alasan yang jauh lebih dekat: yang bertahan bukan jawabannya, tapi bentuknya, dan bentuk itu tetap dijalankan orang yang jawabannya sudah lama beda.

Bantahannya mendasar, dan ia menyerahkannya sendiri

Eliade menyebutkan cara kerjanya terus terang, dan waktu menyebutkannya ia sekaligus menyerahkan senjata kepada pengkritiknya.

"But it is not a study in the history of religions in the strict sense, for the writer, in citing examples, has not undertaken to indicate their historico-cultural contexts."

Ini bukan kajian sejarah agama dalam arti yang ketat, karena penulisnya, waktu mengutip contoh, tidak mengambil tugas menerangkan latar sejarah dan kebudayaan tiap contohnya.

Di situ seluruh masalahnya. Kebiasaan diangkat dari Dakota, Weda, Australia, dan Mesopotamia, dijajarkan berdasar kemiripan bentuk, sementara semua yang membuat masing-masing jadi dirinya sendiri ditinggal. Jonathan Z. Smith yang paling sering dirujuk untuk bantahan ini, dan bantahannya susah dijawab: kemiripannya dihasilkan oleh cara memilih contohnya, dan homo religiosus, manusia beragama semesta yang digambarkan Eliade, tidak cocok dengan satu pun masyarakat yang benar-benar ada. Tiang Achilpa yang patah pun contoh yang dipilih, satu cerita dari satu laporan, dan di atasnya dibangun kalimat tentang seluruh umat manusia.

Ada juga penilaian yang berjalan diam-diam di bawah uraiannya. Hidup modern yang sudah kehilangan sisi keramatnya terus-menerus disajikan sebagai kehilangan, sebagai kejatuhan dari keadaan yang lebih penuh, dan orang modern yang tidak beragama, tulisnya, memikul hidup yang tragis. Di sini saya tidak ikut. Yang ia uraikan perubahan, dan perubahan tidak butuh arah untuk bisa diuraikan. Menyebutnya kejatuhan sudah menempelkan cerita pada sesuatu yang tidak ia buktikan, dan tidak pernah ia ajukan sebagai argumen. Keterlibatannya dengan gerakan kanan jauh di Rumania pada 1930-an bagian dari catatan yang ikut ditimbang para peneliti waktu membaca kerinduannya pada masyarakat tradisional yang katanya lebih asli.

Harari di Sapiens menguraikan hal yang sama dari luar: sebuah perusahaan ada karena seorang pengacara menjalankan tata cara yang tepat dan orang bersedia memperlakukannya sebagai ada. Eliade menguraikan dari dalam, dari orang yang mengalami tempat itu sebagai nyata. Mesin yang mereka gambarkan satu, dan jalan entah kita percaya atau tidak.

Buku yang ditulis dalam bahasa Prancis dan terbit dalam bahasa Jerman

Riwayat naskahnya sendiri ganjil. Eliade menulisnya dalam bahasa Prancis dan menanggalinya April 1956. Yang pertama terbit justru terjemahan Jermannya, 1957, dengan judul Das Heilige und das Profane, dan judul itu sengaja mengangguk ke buku Rudolf Otto dari 1917, Das Heilige, yang ia sebut di halaman pertama sebagai titik berangkatnya. Terjemahan Inggris oleh Willard Trask menyusul 1959. Naskah Prancisnya baru terbit 1965. Buku tentang titik tetap ini beredar delapan tahun tanpa naskah aslinya.

Perjalanan ke pusat, dan kantor yang mengurusnya

Perjalanan ke satu titik yang dianggap pusat dunia salah satu bahan tetap Eliade, dan kita punya bentuknya yang paling besar: lebih dari dua ratus ribu orang berangkat dari sini tiap tahun ke satu kota, pada tanggal yang tidak bisa digeser, mengelilingi satu bangunan yang jadi sumbunya.

Yang berubah bukan perjalanannya. Yang berubah kantor yang mengurusnya.

Sejak 2026 penyelenggaraan haji dipindahkan dari Kementerian Agama ke badan tersendiri yang disiapkan jadi kementerian sendiri. Alasannya perbaikan tata kelola: penginapan, makan, angkutan, dan layanan kesehatan di Mekah, Madinah, dan di hari-hari puncaknya. Yang jadi catatan orang keterbukaan pengelolaan dananya dan pembagian kuotanya, dan perkara kuota tambahan pada 2024 masih jadi rujukan tiap kali soal itu dibahas.

Eliade menulis seolah pemisahan antara yang keramat dan yang biasa itu urusan cara memandang. Tempatnya keramat karena dianggap keramat, dan sisanya menyusul.

Yang tidak masuk ke bukunya bagian yang jadi soal di sini. Perjalanan ke pusat itu perlu penerbangan, penginapan, jadwal, dan antrean yang panjangnya berpuluh tahun. Semua itu diurus kantor, dan kantor punya anggaran, punya kuota, dan punya orang yang bisa mendahulukan orang lain.

Jadi sumbunya memang tetap sumbu. Yang menentukan siapa yang sampai ke situ, dan pada tahun keberapa, bukan hal yang keramat sama sekali.

Yang selamat dari semua bantahan itu cuma gagasan tentang sumbunya. Sebuah masyarakat menempatkan dirinya dengan mengacu pada satu titik, dan semua yang lain, bangunan, perjalanan, tempat mengubur, arah kepala orang tidur, mendapat artinya dari letaknya terhadap titik itu. Itu uraian, bukan teori, dan uraiannya bisa dicek ke tempat-tempat tertentu.

Di tempat yang cocok, cocoknya sampai mengubah cara membaca peta. Contoh-contoh Eliade jauh-jauh. Yang paling telak justru ada di pulau tempat saya tinggal, sudah berdiri di situ jauh sebelum ada yang menuliskan teorinya, dan masih dijalankan tiap kali ada yang melepas sepatu di depan satu pintu di dalam mal, tanpa ada yang bisa menerangkan kenapa lantai di dalamnya beda.

Baca berikutnya