Ada pepatah Sumeria kuno yang dikutip James Scott di tengah bukunya, dan bunyinya sudah selesai menerangkan seluruh perkara:
"You can have a king and you can have a lord, but the man to fear is the tax collector."
Kamu boleh punya raja, boleh punya tuan tanah, tapi yang patut ditakuti penarik pajak.
Scott menghabiskan sebagian besar kariernya pada orang yang mengakali negara. Di buku ini ia mundur ke masa sebelum ada negara yang bisa diakali, ke Mesopotamia antara 4.000 sampai 2.000 sebelum Masehi, dan menanyakan satu hal yang jarang ditanyakan: kenapa ada orang mau tinggal di kota-kota pertama itu.
Cerita yang kita hafal dari sekolah bunyinya lurus. Manusia menemukan cara bertani, lalu menetap, lalu punya kelebihan hasil, lalu membangun kota, lalu menemukan tulisan, dan sepanjang jalan itu jadi makin sehat dan makin santai.
"The narrative of this process has typically been told as one of progress, of civilization and public order, and of increasing health and leisure. Given what we now know, much of this narrative is wrong or seriously misleading."
Cerita tentang proses ini biasanya disampaikan sebagai cerita kemajuan, cerita peradaban dan ketertiban umum, cerita orang yang makin sehat dan makin punya waktu senggang. Dengan apa yang sekarang kita ketahui, sebagian besar cerita itu keliru atau menyesatkan.
Ini sebenarnya buku pajak yang menyamar jadi buku sejarah, dan itu pujian.
Yang bisa dihitung dari pematang
Satu gagasan menopang seluruh bukunya, dan bentuknya sederhana sekali.
"The key to the nexus between grains and states lies, I believe, in the fact that only the cereal grains can serve as a basis for taxation: visible, divisible, assessable, storable, transportable, and 'rationable.'"
Kunci hubungan antara biji-bijian dan negara, menurut saya, terletak pada kenyataan bahwa cuma biji-bijian yang bisa jadi dasar pemungutan pajak: kelihatan, bisa dibagi, bisa ditaksir, bisa disimpan, bisa diangkut, dan bisa dijatah.
Biji-bijian tumbuh di atas tanah dan masak berbarengan. Penarik pajak cukup berdiri di pematang dan sudah bisa menaksir hasilnya sebelum sabitnya turun, atau menunggu sampai gabahnya masuk lumbung lalu mengangkut seluruh isinya sekaligus.
Kacang-kacangan tidak begitu. Buahnya matang terus-menerus dan dipetik seiring matangnya, jadi petugas yang datang kepagian tidak mendapat apa-apa dan yang datang kesorean juga tidak. Umbi lebih parah lagi: diam di bawah tanah, tahan berbulan-bulan tanpa dipanen, dicabut sedikit-sedikit sesuai kebutuhan.
Lalu Scott menjejerkan daftar yang bagi pembaca di sini terbaca seperti isi dapur sendiri.
"History records no cassava states, no sago, yam, taro, plantain, breadfruit, or sweet potato states."
Sejarah tidak mencatat satu pun negara singkong, tidak ada negara sagu, ubi, talas, pisang, sukun, atau ubi jalar.
Alasannya bukan gizi. Ia menyebut sendiri bahwa banyak tanaman itu justru menghasilkan lebih banyak kalori per satuan lahan daripada gandum dan jelai. Yang menentukan justru pembukuan.
Dan bentuk yang sama masih ada di depan mata. Gaji karyawan dipotong di sumber, tanggalnya sama tiap bulan, jumlahnya sudah diketahui sebelum uangnya sampai ke tangan orangnya. Penghasilan warung tidak pernah punya satu saat pun ketika seluruhnya terlihat sekaligus. Yang dipungut bukan yang paling besar, tapi yang paling gampang dihitung, dan itu bukan kebijakan siapa-siapa. Itu bentuk tanamannya.
Tembok itu punya dua sisi
Uruk punya tembok yang melingkupi 250 hektare, dua kali luas Athena klasik hampir tiga ribu tahun sesudahnya. Penduduknya ditaksir dua puluh lima sampai lima puluh ribu orang, dan jumlah itu jadi tiga kali lipat dalam dua ratus tahun.
Pertumbuhan itu justru soalnya. Angka kematian di kota awal tinggi sekali, jadi tambahan sebanyak itu tidak mungkin datang dari kelahiran. Nama Ur, Uruk, dan Eridu ternyata bukan berasal dari bahasa Sumeria, yang menunjukkan ada gelombang pendatang yang menggusur atau menyerap penghuni sebelumnya. Dan ada relief yang menggambarkan tawanan perang dengan belenggu di leher.
Maksud Scott bukan bahwa negara awal itu luar biasa kejam. Maksudnya mereka terus-menerus kekurangan tenaga kerja, sebab orang terus kabur. Meminjam Owen Lattimore, ia menunjukkan Tembok Besar Cina dibangun sama banyaknya untuk menahan petani pembayar pajak tetap di dalam seperti untuk menahan orang luar tetap di luar.
Perkara ini punya kelanjutan di kawasan kita, dan Scott menuliskannya tanpa pelunak: di Asia Tenggara semua negara awal adalah negara budak sekaligus negara pemburu budak, dan sampai akhir abad kesembilan belas muatan paling berharga pedagang Melayu di kepulauan ini adalah manusia.
Kantor catatan yang dibakar lebih dulu
Tulisan, dalam cerita ini, tidak lahir sebagai puisi. Lahirnya sebagai pembukuan: daftar, takaran, timbangan, jumlah kepala menurut tempat, umur, dan jenis kelamin.
Scott menaruh satu keterangan kecil yang menerangkan lebih banyak daripada satu bab. Petani yang sudah lama berurusan dengan negara paham betul bahwa yang datang bersama juru ukur dan pencatat itu wajib militer, kerja paksa, dan pungutan baru. Karena itu, tulisnya, tindakan pertama banyak pemberontakan petani adalah membakar kantor catatan setempat.
Sasaran pertama sebuah pemberontakan menunjukkan tempat kuasanya duduk. Waktu kuasa itu duduk di sebuah gedung, yang dibakar gedungnya. Bukunya yang lain, Seeing Like a State, meneruskan cerita yang sama sampai ke abad kedua puluh. Yang berubah sekarang cuma satu hal: tidak ada lagi gedung yang bisa dibakar, dan itu sendiri sudah keterangan.
Negara yang berhenti waktu hujan
"In a good part of the world, the state, even when it was robust, was a seasonal institution. Until very recently, during the annual monsoon rains in Southeast Asia, the state's ability to project its power shrank back virtually to its palace walls."
Di sebagian besar dunia, negara, bahkan waktu sedang kuat sekali pun, itu lembaga musiman. Sampai belum lama ini, selama musim hujan di Asia Tenggara, kesanggupan negara memancarkan kekuasaannya menyusut sampai kira-kira sebatas tembok istananya sendiri.
Ia menambahkan satu ukuran yang bikin duduk perkaranya jelas. Kerajaan-kerajaan klasik Asia Tenggara baru muncul sezaman dengan Charlemagne, lebih dari enam ribu tahun sesudah orang mulai bertani.
Jadi selama ribuan tahun, negara itu bukan keadaan yang berlaku terus, melainkan sesuatu yang jangkauannya naik-turun mengikuti hujan, jarak, dan biaya angkut. Yang menghentikan negara di batas tertentu bukan undang-undang, tapi gesekan.
Sekarang gesekan itu hilang di satu sisi saja. Setoran warung yang memakai QRIS tercatat sampai ke rupiah terakhir, nomor induk kependudukan sudah tersambung ke pajak, dan tidak perlu ada petugas yang datang. Tapi jalan yang putus di kilometer dua belas tetap putus, dan puskesmas yang petugasnya tidak masuk tetap kosong. Kesanggupan menghitung dan kesanggupan mengantar sudah lama tidak berjalan beriringan, dan yang tumbuh cepat cuma yang pertama.
Zaman gelap itu sebutan siapa
Negara awal, kata Scott, gampang sekali runtuh, dan yang datang sesudahnya belum tentu bencana.
"Just as the meaning of collapse merits close and critical inspection, so the term 'dark age' needs to be queried: 'dark' for whom and in what respects?"
Sama seperti arti kata keruntuhan yang layak diperiksa dengan teliti, sebutan zaman gelap juga perlu ditanyai: gelap buat siapa, dan gelapnya dalam hal apa.
Lalu ia menyebut yang biasanya tidak disebut. Sebutan itu, tulisnya, sering berbentuk propaganda: sebuah dinasti yang sedang memusatkan kekuasaan memakainya untuk membandingkan pencapaiannya sendiri dengan kekacauan dan tercerai-berainya masa sebelum ia berkuasa.
Buktinya yang paling telak datang dari Yunani. Antara kira-kira 1.200 dan 800 sebelum Masehi negara-kotanya bubar, dan aksara Linear B lenyap sama sekali. Waktu tulisan muncul lagi, bentuknya sudah lain, dipinjam dari Fenisia. Tapi kebudayaan Yunani tidak ikut hilang, cuma pindah ke mulut. Odyssey dan Iliad justru lahir persis di zaman gelap itu, dan baru dituliskan jauh belakangan.
Yang hilang di zaman gelap sering cuma catatannya. Dan yang mencatat memang negara.
Sebutan itu masih dipakai sampai sekarang, dan mekanismenya tidak berubah sedikit pun. Sebuah pemerintahan yang menamai dirinya Orde Baru sudah menetapkan nama untuk yang sebelumnya di kalimat yang sama.
Yang tersisa kalau arahnya dicabut
Scott sedang melawan satu cerita, dan bukunya jadi berbunyi seperti orang yang sedang berdebat. Negara awal selalu ditampilkan dalam rupanya yang paling buruk, pinggiran selalu dalam rupanya yang paling baik, dan pembaca yang belum sepaham akan merasa timbangannya berat sebelah.
Keberatan yang lebih berat ada di tempat lain.
Cerita kemajuan yang ia robohkan punya satu arah. Cerita yang ia pasang di tempatnya juga punya satu arah, cuma menghadap ke belakang. Tidak ada arah di sejarah, cuma perubahan, dan itu berlaku sama ke buku yang bilang kita naik terus maupun ke buku yang bilang kita sudah lama turun.
Cabut arahnya dan yang tersisa buat saya justru barang yang paling berharga. Kekuasaan mengendap di tempat panennya bisa dihitung dan orangnya tidak bisa pergi. Kalimat itu tidak bilang apa-apa soal dulu lebih baik atau lebih buruk, cuma bilang siapa yang kena tagih.
Lalu neracanya cuma punya satu lajur. Scott menghitung apa yang diambil negara dan hampir tidak pernah menghitung apa yang diberikannya. Untuk 4.000 sebelum Masehi itu adil, sebab yang bisa diberikan memang hampir tidak ada. Tapi pembacanya akan membawa neraca itu terus ke depan, dan sejak entah kapan lajur kedua mulai terisi.
Dan satu hal yang paling perlu dijawab justru dilewati: kalau negara memang seburuk itu, kenapa negara menang di mana-mana, dan menangnya untuk selamanya. Fukuyama menyinggung bahan yang sama, kekuasaan yang lahir dari keadaan orang terkurung, lalu meninggalkannya karena bukunya lebih tertarik pada bagaimana negara jadi baik; catatannya ada di The Origins of Political Order. Buku yang menarik gagasan Scott paling jauh, The Dawn of Everything, mengutipnya justru untuk kalimat soal negara musiman itu, dan berhenti di lubang yang sama.
Soal buktinya, Scott terus terang sekali. Ia mengaku berburu di ladang orang lain dan menambal dengan perbandingan dari Cina, Mesir, Yunani, Romawi, sampai Maya waktu bukti Mesopotamianya habis. Itu terus terang, dan itu juga berarti beberapa tiang utamanya berdiri di atas perumpamaan, bukan di atas temuan.
Mesin yang dipasang supaya semuanya bisa dihitung, dan tahun pertamanya
Dalil pokok buku ini soal apa yang bisa ditaksir. Gandum jadi tulang negara-negara awal karena tumbuh di atas tanah, matang pada waktu yang bisa diperkirakan, dan bisa dihitung dari pematang tanpa perlu masuk ke rumah orang.
Negara sekarang mengejar hal yang lebih susah dilihat, dan pada awal 2025 kita memasang mesin untuk itu.
Sistem pajak yang baru mulai jalan Januari 2025, dan tahun pertamanya berat. Direktorat pajaknya mengakui sedikitnya dua puluh dua persoalan pada sistemnya dan meminta maaf kepada umum. Penerimaan negara Januari sampai Februari 2025 turun 30,2 persen dibanding tahun sebelumnya. Sepanjang 2025 penerimaan pajak terkumpul 1.917,6 triliun rupiah, sekitar 87,6 persen dari sasaran 2.189,3 triliun. Sistem lamanya terpaksa dibiarkan hidup berdampingan selama masa peralihan.
Kejadian itu enak sekali ditaruh di sebelah dalil bukunya. Yang mau dilihat negara pindah dari gandum ke aliran uang, dan aliran uang tidak matang pada waktu tertentu, tidak berdiri di satu tempat, dan tidak bisa dihitung dari pematang.
Yang paling Scott dari seluruh urusan ini bagian yang jarang disebut. Selama mesinnya tersendat, yang tetap terbaca sempurna tetap gaji yang dipotong di muka. Yang jadi susah ditagih justru penghasilan yang bentuknya tidak seragam.
Jadi tiap kali alat baca negara terganggu, yang paling dirugikan bukan yang paling susah dibaca. Yang paling dirugikan yang selama ini paling gampang dibaca, sebab merekalah yang tetap membayar sementara yang lain menunggu sistemnya beres.
Pepatah Sumeria tadi mengandaikan satu hal yang tidak lagi berlaku. Penarik pajak itu orang, dan orang bisa dilihat datang dari jauh, ditawar, disuguhi kopi, atau dihindari dengan pergi ke sawah yang lain.
Yang menaksir sekarang tidak datang, tidak bisa ditawar, dan tidak berhenti waktu hujan.
Apakah itu barang lama yang cuma berganti baju, atau barang yang sama sekali lain, saya belum bisa menjumlahkannya. Bukunya berhenti empat ribu tahun terlalu awal untuk menolong.
Susunan bukunya: bagiannya apa saja, mana jantungnya, mana yang boleh dilewat.
Bentuknya
Tujuh bab, tipis, dan tiap bab menyerang satu bagian dari cerita yang sudah telanjur jadi bawaan tentang lahirnya peradaban. Ditulis orang yang mengaku terang-terangan di pengantarnya bahwa ia mulai menulis dengan gambaran lama di kepalanya, lalu menemukan bahwa penelitian dua puluh tahun terakhir sudah membongkar hampir semuanya tanpa ia sadari.
Pengakuan itu bagian dari isi bukunya, dan sebaiknya dibaca.
Dalilnya: bertani, menetap, dan bernegara bukan satu paket yang datang bersamaan. Jarak antara mulai bercocok tanam dan lahirnya negara pertama ribuan tahun, dan kekosongan panjang itu yang harus diterangkan.
Bab 1 dan 2: menjinakkan, termasuk diri sendiri
Bab 1 soal api, tanaman, hewan, dan manusia yang sama-sama berubah karena hidup berdampingan. Bab 2 soal tempat tinggal yang isinya manusia, ternak, tanaman, hama, dan kuman sekaligus, dan apa yang terjadi pada semuanya waktu dikurung bersama.
Bab 3: kuman
Bab tentang penyakit yang lahir dari hidup berdempetan dengan ternak dan dengan air yang tergenang. Kesimpulannya keras: permukiman awal itu tempat yang buruk untuk hidup, dan sebagian ditinggalkan bukan karena diserang tapi karena penghuninya sakit dan mati.
Bab 4: kenapa harus biji-bijian
Bab paling penting di seluruh buku, dan yang paling banyak dipakai orang sesudahnya.
Pertanyaannya: kenapa semua negara awal yang kita tahu berdiri di atas gandum, padi, jagung, atau jelai, dan tidak satu pun di atas umbi-umbian atau sagu. Jawabannya bukan gizi. Biji-bijian tumbuh di atas tanah, matang serentak, bisa dilihat dari kejauhan, bisa ditakar, bisa disimpan, dan bisa dibawa. Umbi-umbian diam di bawah tanah, bisa dipanen kapan saja, dan busuk kalau dicabut terlalu awal.
Yang bisa dihitung dari pematang itu yang bisa dipajaki. Negara tidak bisa memungut dari yang tidak kelihatan.
Bab 5 dan 6: orang dan keruntuhan
Bab 5 soal cara negara awal mendapatkan penduduk, dan jawabannya tidak enak: sebagian besar lewat perang dan perbudakan. Di situ juga tembok kota dibaca ulang, bukan cuma sebagai penahan serangan dari luar tapi juga sebagai penahan orang di dalam supaya tidak kabur.
Bab 6 soal keruntuhan negara awal, dan mengusulkan supaya kata runtuh diganti. Yang terjadi sering pembubaran, bukan bencana: orang bubar ke tempat yang lebih longgar, dan hidup mereka sering justru membaik.
Bab 7: zaman keemasan orang barbar
Bab penutup yang membalik sebutan. Yang selama ini disebut zaman gelap adalah sebutan yang diberikan orang yang punya juru tulis, dan yang punya juru tulis cuma negara. Bagi orang di luar tembok, zaman itu sering justru zaman terbaiknya.
Yang jadi jantungnya
- Bab 4. Kalau harus memilih satu bab saja, ambil yang ini, karena satu pengamatan sederhana tentang mana tanaman yang bisa ditakar menerangkan bentuk hampir semua negara awal.
- Bab 6, untuk gagasan bahwa keruntuhan sering berarti pembubaran, bukan bencana.
- Bab 7, untuk pertanyaan siapa sebenarnya yang menamai sebuah zaman gelap.
Yang boleh dilewat
- Bab 1 dan 2 boleh dibaca cepat kalau sudah membaca buku lain tentang beralih ke bercocok tanam.
- Catatan kaki yang panjang, kecuali kalau memang menelusuri buktinya.
- Bagian yang membandingkan dirinya dengan bukunya sendiri yang terdahulu.
Yang jangan ditelan bulat-bulat
Scott menulis dengan simpati yang jelas pada orang yang berada di luar tembok, dan simpati itu kadang mendahului buktinya. Sebagian klaimnya tentang seberapa baik hidup di luar negara berdiri di atas bukti yang jauh lebih tipis daripada klaimnya tentang cara kerja negara.
Kesimpulan bahwa keruntuhan sering berarti pembaikan juga tidak berlaku merata. Bagi sebagian orang, bubarnya sebuah tertib memang berarti bebas, dan bagi sebagian lain berarti tidak ada lagi yang menahan tetangganya yang bersenjata.
Satu hal berdiri kokoh tanpa bergantung pada simpati itu: negara memungut dari yang bisa dilihat dan ditakar, dan itu menentukan tanaman apa yang ditanam orang, tempat orang boleh tinggal, dan apa yang dicatat.
Kalau buru-buru
Pengantar, bab 4, bab 6, bab 7. Empat potong, dan alurnya utuh: pengakuan penulisnya bahwa gambaran lama sudah dibongkar tanpa ia sadari, alasan kenapa tidak pernah ada negara yang berdiri di atas sagu, keruntuhan yang ternyata sering cuma pembubaran, dan sebutan zaman gelap yang ternyata datang dari pihak yang punya juru tulis.