Smil membuka bukunya dengan mengutip Feynman, dan kutipannya lebih telanjang daripada yang biasa orang sangka:
"it is important to realize that in physics today, we have no knowledge of what energy is. We do not have a picture that energy comes in little blobs of a definite amount."
Penting disadari bahwa dalam ilmu fisika hari ini, kita tidak punya pengetahuan tentang apa itu tenaga. Kita tidak punya gambaran bahwa tenaga datang dalam gumpalan kecil sebesar tertentu.
Tujuh ratus halaman dibuka dengan pengakuan bahwa pokok bahasannya sendiri belum betul-betul dimengerti. Sesudah itu Smil menceritakan ulang seluruh sejarah manusia sebagai rangkaian perubahan bentuk tenaga, dan menolak hampir tiap kesempatan untuk membuatnya seru.
Saya tidak membacanya sebagai buku sejarah, tapi sebagai alat ukur, dan akibat dari bacaan itu berbeda.
Dari otot ke delapan belas ribu watt
Urutannya sederhana. Otot manusia, lalu otot hewan yang dibatasi berapa banyak yang sanggup dimakan hewannya, lalu air dan angin yang gratis tapi tidak bisa dipindah tempatnya, lalu kayu dan arang, lalu batu bara, lalu minyak dan gas. Lalu listrik, yang sebenarnya cuma pengangkut dan bukan sumber, dan justru karena itu tempat tenaga bisa dipakai berubah total.
Angkanya yang bikin urutan itu terasa. Orang dewasa tidak sanggup mengeluarkan tenaga terus-menerus di atas 80 watt dan cuma sesekali menembus 150 watt, sementara seekor kuda sanggup 500 watt terus-menerus, setara dengan selusin orang (hal 115).
Lalu satu kalimat yang meringkas satu abad. Di awal abad kesembilan belas, seorang petani Amerika, 80 watt, dibantu sekitar 800 watt tenaga tarik berupa dua ekor sapi. Di ujung abad yang sama, petani yang memanen gandum di California punya 18.000 watt di tangannya, yaitu tiga puluh ekor kuda (hal 157).
Satu keterangan kecil menunjukkan betapa ganjil riwayat ini. Kita lebih dulu tahu cara melepaskan tenaga inti atom daripada tahu bagaimana tumbuhan mengolah cahaya matahari. Reaktor pertama menyala pada 1943, dan urutan fotosintesis baru terurai pada tahun 1950-an.
Yang sebenarnya dibeli dengan tenaga tambahan
Tabel di ujung bukunya yang paling sering saya buka, sebab yang diukur di situ bukan tenaga yang masuk tapi jasa yang keluar.
Antara 1750 dan 2000 di Inggris, menurut hitungan Fouquet yang ia kutip, tenaga untuk seluruh keperluan industri naik tiga belas kali lipat. Pemanas ruangan empat belas kali. Angkutan penumpang hampir sembilan ratus kali. Dan cahaya sebelas ribu kali (hal 533).
Angka terakhir itu membalik gambaran umum tentang Revolusi Industri. Yang paling banyak berubah bukan pabriknya. Yang paling banyak berubah malam hari.
Urutan itu bisa diperiksa di kampung mana pun yang baru dapat listrik. Yang pertama berubah bukan bengkelnya dan bukan penggilingan padinya. Yang pertama berubah warung yang buka sampai malam, anak yang bisa mengerjakan PR sesudah magrib, dan televisi yang menyala di ruang tamu. Pekerjaannya menyusul belakangan, kalau menyusul.
Arang, dan hutan yang jadi harganya
Bab kayu dan arangnya yang paling bikin kaget pembaca.
Arang dibuat dengan menumpuk kayu potong mengelilingi tiang tengah, menutupinya dengan tanah liat, lalu membakarnya pelan-pelan. Itu bahan bakar untuk melebur bijih logam dan membakar batu bata, yang artinya tiap potong logam di masyarakat sebelum zaman industri dibayar dengan hutan.
Ongkosnya bisa dihitung sampai ke barangnya. Di Jerman, satu kilogram kaca butuh sampai dua ton kayu, dan satu kilogram garam butuh sampai empat puluh kilogram kayu untuk menguapkan air asinnya.
Hutannya habis, dan itu tercatat. Pada awal abad kedelapan belas sekitar delapan puluh lima persen wilayah Massachusetts tertutup hutan, dan pada 1870 tinggal sekitar tiga puluh persen. Thoreau menulis di jurnalnya pada Maret 1855 bahwa hutan mereka sudah begitu berkurang sampai penebangan musim dingin itu terasa seperti mengiris daging yang masih hidup.
Batu bara biasanya diceritakan sebagai kisah pencemaran. Smil menambahkan bahwa batu bara juga alasan hutan yang tersisa di Eropa dan Amerika Utara masih ada.
Di sini urusannya lain, dan bukan karena penulisnya keliru. Kita masuk daftarnya sebagai lima besar penghasil batu bara dunia sekaligus salah satu pengekspor terbesarnya (hal 373). Batu baranya tidak menggantikan kayu bakar dan tidak menyelamatkan hutan, tapi digali dari bawah hutan lalu diangkut keluar.
Dan kita masuk satu daftar lagi. Smil mencatat Cina dan India sebagai pemakai bahan bakar hayati tradisional terbesar di dunia, disusul Brasil dan Indonesia (hal 386). Angka yang ia pakai untuk kampung-kampung termiskin di daerah tropis kurang dari 500 kilogram bahan bakar hayati per orang setahun. Taksirannya sendiri untuk rata-rata Kekaisaran Roma sekitar tahun 200 sudah 650 kilogram, dan untuk London sekitar tahun 1300 sekitar 1,75 ton.
Jadi bab arang di buku ini bukan bab sejarah buat semua orang.
Dapur yang pindah dalam tiga tahun
Dalil Smil yang paling sering ia ulang di luar buku ini: perpindahan bahan bakar itu lambat menurut wataknya, butuh berpuluh tahun sampai beberapa keturunan, dan harapan akan perubahan cepat itu naif.
Kita punya kejadian yang menguji dalil itu langsung. Mulai 2007, program konversi minyak tanah ke elpiji memindahkan puluhan juta rumah tangga dari kompor minyak tanah ke tabung tiga kilogram, dibagikan gratis lengkap dengan kompor dan selangnya. Bagian terbesarnya selesai dalam tiga tahun, bukan tiga puluh tahun.
Pendorongnya bukan kesadaran lingkungan, tapi subsidi minyak tanah yang membengkak: memindahkan orang ke gas lebih murah daripada terus menanggung selisih harganya.
Contoh ini berguna justru karena tidak membantah Smil. Yang pindah cepat cara orang memakai, bukan dari mana bahan bakarnya datang. Gasnya tetap harus digali, dan susunan besar di belakangnya tidak ikut berubah dalam tiga tahun. Lapisan paling atas bisa cepat, lapisan di bawahnya tidak.
Smil punya satu angka lagi yang kepakai untuk perkara kita berikutnya. Perbandingan antara tenaga yang didapat dan tenaga yang dikeluarkan untuk mendapatkannya, yang ia singkat EROEI, untuk bahan bakar fosil berkisar dari 10 sampai jauh di atas 100. Untuk sel surya, waktu itu, tidak lebih dari 2. Untuk bahan bakar nabati seperti etanol dan biodiesel paling bagus cuma 1,5, dan sering justru rugi, 0,9 sampai 1,0 (hal 44).
Porsi wajib minyak sawit di dalam solar di sini naik bertahap dari tahun ke tahun, dan yang diperdebatkan biasanya harga, devisa, dan kuota. Angka Smil menyodorkan pertanyaan yang lain: berapa banyak tenaga yang habis untuk menghasilkan tenaga itu, dan berapa luas lahan yang dipakai untuk tiap satuannya. Itu pertanyaan yang bisa dijawab dengan hitungan, dan hitungannya jarang ikut masuk ruang rapat.
Angka EROEI sendiri masih ditawar orang, terutama soal batas mana yang ikut dihitung dan mana yang tidak. Tapi selisih antara puluhan dan satu koma lima terlalu besar untuk habis oleh perbedaan cara menghitung.
Bukan dalil, tapi alat ukur
Buku ini sering dibaca sebagai buku yang bilang tenaga menentukan segalanya. Bab terakhirnya bilang sebaliknya.
Smil justru menghabiskan halaman untuk menolak pembacaan itu. Ia menyebut Leslie White, yang menjadikan tenaga hukum pertama perkembangan kebudayaan, lalu menyatakan bahwa pembacaan seperti itu mengabaikan tumpukan bukti yang berlawanan. Satu-satunya cara yang berguna, menurutnya, tidak menyerah pada keterangan tenaga yang serba menentukan, dan tidak juga mengecilkannya jadi sekadar faktor sampingan di sebelah perubahan iklim dan wabah penyakit (hal 546-547).
Perubahan iklim dan wabah penyakit itu persis dalil The Fate of Rome. Smil menyebut buku semacam itu sebagai saingan, lalu menolak mengalahkannya.
Di situ letak jenis bukunya buat saya. Ini bukan buku dalil, dan buku yang tidak punya dalil memang tidak bisa dibantah. Itu kelemahannya sekaligus gunanya.
Sebab yang disediakannya satu satuan. Tiap kali ada yang bilang zaman dulu lebih hemat, atau desa itu dulu mandiri, atau pabrik yang mengubah hidup orang, klaim itu sekarang punya alat ukurnya: berapa joule, per orang, per tahun, dan datangnya dari mana. The Great Divergence berdiri di atas satu jawaban dari alat itu, yaitu batu bara Inggris yang kebetulan letaknya dekat dengan yang membutuhkannya.
Dan Smil memasang peringatan atas alatnya sendiri:
"Using standard units to measure energy storages and flows is physically straightforward and scientifically impeccable—yet these reductions to a common denominator are also misleading."
Memakai satuan baku untuk mengukur simpanan dan aliran tenaga itu lurus secara fisika dan tidak bercacat secara ilmiah, dan penyederhanaan ke satu satuan yang sama itu juga menyesatkan.
Peringatan itu perlu dibaca dua kali oleh siapa pun yang senang pada angka.
Yang paling gampang basi dari bukunya justru hal yang paling sering ia ulang di luar bukunya. Ramalannya soal kecepatan pemasangan tenaga surya dan angin sudah dilewati kenyataan, angka 2 untuk sel surya di halaman 44 termasuk yang paling ditawar sekarang, dan ia tergolong enggan meninjau ulang cara berpikir yang menghasilkan taksiran itu. Bukunya juga berat dibaca berurutan. Ini buku rujukan yang berpakaian buku sejarah.
Kuota yang dipotong, dan alasan potongnya
Dalil Smil yang paling sering diabaikan: perpindahan sumber tenaga berjalan lambat, dan sumber yang baru biasanya menumpuk di atas yang lama, bukan menggantikannya.
Angka kita mengikutinya dengan patuh. Produksi batu bara mencapai 836 juta ton pada 2024, seratus tujuh belas persen dari sasarannya sendiri yang 710 juta ton. Bauran energi terbarukan sampai Desember 2025 baru 15,7 persen, sementara sasaran untuk 2025 dipasang di 23 persen.
Yang paling enak dibaca kabar berikutnya. Kuota batu bara 2026 dipangkas jadi sekitar enam ratus juta ton, dan alasan yang disebutkan bukan urusan iklim: pasokannya dikurangi supaya harga batu bara dunia naik lagi sesudah tertekan beberapa bulan.
Jadi angka yang kalau dikutip sendirian terbaca sebagai kemajuan sebenarnya keputusan dagang. Smil menghabiskan lima ratus halaman menyuruh pembacanya berhenti membaca angka tenaga sebagai cerita moral, dan ini contohnya dalam satu berita.
Sisi lainnya juga perlu ditaruh. Tiga belas unit pembangkit batu bara disebut berpeluang dipensiunkan lebih awal, seluruhnya 4,8 gigawatt. Berapa yang benar-benar berhenti, dan siapa yang menanggung sisa utang pembangunannya, itu yang belum ada angkanya.
Smil menaruh garis kemakmuran tenaga di 120 gigajoule per orang setahun. Yang hidup di atas garis itu kira-kira 18 persen penduduk dunia pada 2015, dan kalau rumah tangga kaya di Cina, India, Indonesia, dan Brasil ikut dihitung, angkanya naik jadi sekitar 20 persen (hal 545). Kita muncul di kalimat itu bukan sebagai negara di atas garis, tapi sebagai negara yang punya sebagian rumah tangga di atas garis.
Delapan puluh watt tenaga satu orang. Lima ratus watt tenaga satu kuda. Delapan belas ribu watt tiga puluh kuda. Motor bebek yang diparkir di depan rumah mengeluarkan puluhan kali lipat tenaga orang yang mengendarainya, dan tidak ada yang memikirkannya sampai bensinnya habis di tengah jalan.
Mati lampu tiga jam sudah cukup untuk mengingatkan seisi rumah berapa banyak yang selama ini menumpang di satu kabel. Yang tidak pernah kita hitung berapa banyak yang menumpang di kabel yang belum pernah sampai.
Susunan bukunya: bagiannya apa saja, mana jantungnya, mana yang boleh dilewat.
Bentuknya
Tujuh bab, dan susunannya urut menurut sumber tenaga yang dipakai manusia: otot, api, hewan penarik, angin dan air, lalu bahan bakar fosil. Bab terakhir menarik semuanya jadi satu bacaan atas sejarah dunia.
Yang membuat buku ini beda dari buku sejarah lain, isinya angka. Berapa watt yang bisa dikeluarkan orang dewasa yang bekerja seharian, berapa yang bisa dikeluarkan seekor sapi, berapa efisiensi kincir air abad kelima belas, berapa banyak kayu yang dibutuhkan untuk melebur satu ton besi. Angkanya di mana-mana, dan itu memang isi bukunya.
Karena itu bukunya berat dibaca berurutan dan sangat berguna dibuka menurut keperluan.
Bab 1: alat ukurnya
Bab pembuka memasang cara menghitungnya, dan sebaiknya dibaca meski terasa seperti pelajaran fisika. Tanpa itu, angka di enam bab berikutnya tidak berbunyi apa-apa.
Bab 2 sampai 4: sebelum bahan bakar fosil
- Bab 2 soal masa sebelum bertani, waktu satu-satunya tenaga yang tersedia otot dan api.
- Bab 3 soal bertani cara lama, dan ini bab yang paling menyangkut sebagian besar sejarah manusia. Di situ kelihatan betapa sempitnya batas yang dihadapi tiap masyarakat yang tenaganya cuma datang dari otot manusia dan hewan.
- Bab 4 soal penggerak sebelum mesin uap: hewan penarik, kincir air, kincir angin, layar. Di situ juga dibahas arang kayu dan harganya, yaitu hutan yang habis.
Bab 5 dan 6: bahan bakar fosil
Dua bab tentang batu bara, minyak, gas, listrik, lalu peradaban yang berdiri di atasnya. Di sini letak angka-angka yang paling mengubah cara memandang: berapa lipat tenaga yang tersedia untuk satu orang sekarang dibanding dua ratus tahun lalu, dan berapa lipat lagi kalau yang dihitung cahaya.
Bab 7: sejarah dunia lewat tenaga
Bab penutup yang mencoba membaca seluruh sejarah lewat satu ukuran. Ini bab yang paling menarik dan paling perlu dibaca hati-hati, karena di situ Smil sendiri berkali-kali memasang rem.
Yang jadi jantungnya
- Bab 3, karena di situ terlihat betapa keras batas yang dihadapi hampir seluruh sejarah manusia, dan berapa sedikit yang tersisa sesudah semua orang diberi makan.
- Bab 6, untuk angka lipatannya, yang mengubah cara membaca dua ratus tahun terakhir.
- Bab 7, dibaca bersama remnya.
Yang boleh dilewat
- Sebagian besar tabel dan hitungan rinci, kecuali yang menyangkut hal yang sedang dicari.
- Bab 4 bagian yang merinci jenis-jenis kincir dan susunan giginya.
- Lampiran dan catatan bibliografi, yang panjangnya luar biasa.
Yang jangan ditelan bulat-bulat
Smil sendiri yang memasang peringatannya, dan itu perlu ikut dibaca: tenaga yang tersedia menerangkan apa yang mungkin, dan tidak menerangkan apa yang dipilih. Dua masyarakat dengan tenaga yang sama bisa memakainya untuk hal yang sangat berbeda, dan angka tidak bisa memutuskan itu.
Jadi buku ini paling baik dipakai sebagai alat ukur, bukan sebagai dalil. Yang memakainya sebagai dalil akan menyimpulkan bahwa tenaga menentukan segalanya, dan penulisnya sendiri menolak kesimpulan itu.
Kalau buru-buru
Bab 1, 3, 6. Tiga bab, dan bentuk bukunya sudah kelihatan: cara menghitungnya, batas yang dihadapi manusia selama ribuan tahun waktu tenaganya cuma otot, dan seberapa besar lipatan yang datang begitu bahan bakar fosil dipakai.