Ditulis tanpa pernah ke lapangan, dan bagian yang paling tahan justru bagian yang berhenti bicara soal watak.

Juni 1944, Benedict ditugasi kantor penerangan perang Amerika untuk menerangkan orang Jepang. Batasnya ia tulis sendiri di bab pertama:

"It meant that I had to forego the most important technique of the cultural anthropologist: a field trip. I could not go to Japan and live in their homes and watch the strains and stresses of daily life, see with my own eyes which were crucial and which were not."

Artinya ia harus melepaskan cara kerja terpenting seorang antropolog budaya: turun ke lapangan. Ia tidak bisa pergi ke Jepang dan tinggal di rumah orang, melihat sendiri ketegangan hidup sehari-hari, dan memilah mana yang menentukan dan mana yang tidak.

Yang ia punya: novel dan film terjemahan, tawanan perang, dan orang Amerika keturunan Jepang yang waktu itu ditahan di kamp. Rekan kerja yang paling ia sebut, Robert Hashima, lahir di Amerika, besar di Jepang, dan sedang ditahan waktu mereka bertemu.

Bukunya terbit 1946, ikut masuk ke pertimbangan pendudukan, dan sampai sekarang masih dicetak. Saya membacanya sebagai laporan lapangan yang penulisnya dilarang ke lapangan, jadi ukurannya cuma satu: apa yang benar-benar ditunjukkan bahannya, dan sampai mana.

Halaman yang dibalik

Teka-teki yang jadi titik berangkatnya soal menyerah.

Prajurit Jepang tidak menyerah. Tertangkap berarti hidupnya sebagai orang Jepang sudah tamat, bukan jeda. Mereka heran, catat Benedict, pada tawanan Amerika yang minta namanya dilaporkan ke pemerintahnya supaya keluarganya tahu ia masih hidup. Bagi mereka permintaan itu memalukan.

Lalu kebalikannya. Begitu tertangkap, banyak yang justru bekerja sama habis-habisan: menunjukkan gudang amunisi, menulis selebaran propaganda, ikut terbang memandu pengebom.

"It was as if they had turned over a new page; what was written on the new page was the opposite of what was written on the old, but they spoke the lines with the same faithfulness."

Seperti membalik halaman. Yang tertulis di halaman baru kebalikan dari yang di halaman lama, dan mereka membacakannya dengan kesetiaan yang sama persis.

Kalimat berikutnya jarang ikut dikutip: ini bukan gambaran semua tawanan, sebagian memang tidak bisa didamaikan, dan perilaku itu cuma muncul di kamp yang memang mau memakai tenaga mereka.

Keterangan Benedict: yang mengatur bukan aturan tentang perbuatan, tapi kedudukan yang pantas dan apa yang dituntut kedudukan itu. Ganti keadaannya sama sekali, tuntutannya ikut berganti, dan orang yang mengikutinya tidak sedang berubah pendirian.

Perhatikan apa yang sebenarnya sedang ia terangkan di situ. Aturan main, bukan watak. Orang yang sama, dengan watak yang sama, mengeluarkan perbuatan yang berlawanan begitu kedudukannya pindah. Bagian terbaik buku ini justru bagian yang berhenti bicara soal orang Jepang dan mulai bicara soal aturannya.

Utang yang tidak lunas sepersepuluh ribunya

Aturan itu ia susun jadi lapisan utang.

On itu yang sudah kita terima: dari orang tua, dari kaisar, dari siapa pun yang pernah menolong. Gimu pelunasan yang tidak ada batas jumlah dan batas waktunya, dan di dalamnya ada chu, kesetiaan kepada kaisar, serta ko, bakti kepada orang tua. Giri pelunasan yang ada takarannya dan ada tenggatnya: membalas hadiah, membalas hinaan, menjaga nama.

"One never repays one ten-thousandth of (this) on."

Orang tidak pernah melunasi sepersepuluh ribu pun dari utang itu.

Utang begini kita kenal betul, dan namanya sudah ada: utang budi. Tidak ada angkanya, tidak ada tanggal jatuh temponya, dan tidak ada cara melunasinya. Di catatan Fluid Iron utang jenis ini jadi bahan dasar kerajaan-kerajaan awal Asia Tenggara: yang berutang selamanya, selamanya butuh dilindungi, dan justru karena tidak bisa lunas, utang itu bisa dipakai memerintah orang seumur hidup. Benedict sampai di tempat yang sama dari arah lain.

Catatannya tentang chu yang paling besar akibatnya. Kaisar sudah tujuh abad tidak memerintah. Yang dikerjakan negarawan Meiji, tulisnya, cuma memindahkan chu dari Shogun ke kaisar yang tetap di belakang layar, lambang persatuan dan bukan kepala pemerintahan.

Bacaan itu ikut masuk ke keputusan Amerika untuk tidak menyingkirkan kaisar. Bab terakhirnya, ditulis sesudah perang, menilai sendiri hasilnya:

"It has worked. The retention of the Emperor has been of great importance."

Cara itu jalan. Mempertahankan kaisar sangat menentukan.

Apa pun kekurangan buku ini, akibat yang satu itu nyata.

Kata yang berganti menurut lawan bicara

"Every time a man says to another 'Eat' or 'Sit down' he uses different words if he is addressing someone familiarly or is speaking to an inferior or to a superior. There is a different 'you' that must be used in each case and the verbs have different stems."

Tiap kali orang bilang "makan" atau "duduk" kepada orang lain, katanya berbeda menurut ia sedang bicara akrab, kepada yang di bawah, atau kepada yang di atas. Kata "kamu" berbeda untuk tiap keadaan, dan kata kerjanya berbeda akarnya.

Saya tidak perlu membayangkan itu. Di rumah, kata untuk menyuruh makan berganti beberapa kali dalam satu sore, tergantung yang diajak bicara anak sendiri, kawan sebaya, atau orang yang lebih tua, dan bukan cuma katanya, seluruh bentuk kalimatnya ikut berganti. Orang yang salah tingkat tidak ditegur. Cukup dianggap belum tahu diri. Benedict menyebut ini bahasa hormat, yang menurutnya dimiliki banyak bangsa lain di Pasifik. Kita salah satunya.

Rasa sungkan pun ada di bukunya, dengan nama lain. Perantara dipakai di hampir semua urusan yang bisa membuat orang malu kalau gagal: melamar, meminjam, menyampaikan niat berhenti kerja. Tata krama disusun supaya keadaan yang bisa mempermalukan tidak pernah sempat terjadi.

Dan justru di sini bacaannya jadi genting. Bagian ini benar, dan benarnya juga di Jawa. Tapi Jawa punya tingkatan bahasa, hormat kepada yang lebih tua, dan rasa malu yang sama tebalnya, dan Jawa tidak pernah menghasilkan pilot yang menabrakkan pesawatnya ke kapal musuh. Kalau aturan yang sama ada di dua tempat dan hasilnya sejauh itu, aturan tata krama menerangkan cara orang menyapa, bukan cara sebuah negara berperang. Yang menerangkan perangnya ada di tempat lain: di negarawan Meiji tadi, di apa yang mereka pasang di atas tata krama itu.

Dua kotak yang diekspor

Barang ekspor paling terkenal dari buku ini pembedaan antara masyarakat yang diatur rasa malu dan masyarakat yang diatur rasa bersalah.

"True shame cultures rely on external sanctions for good behavior, not, as true guilt cultures do, on an internalized conviction of sin. Shame is a reaction to other people's criticism."

Budaya malu yang sejati bersandar pada hukuman dari luar untuk menjaga perilaku, bukan, seperti budaya rasa bersalah yang sejati, pada keyakinan berdosa yang sudah tertanam di dalam. Malu itu tanggapan atas kecaman orang lain.

Benedict sendiri memasang rem beberapa kalimat sebelumnya: orang Amerika juga malu, orang Jepang kadang menumpuk rasa bersalah seperti kaum Puritan, yang berbeda cuma titik beratnya. Rem itu tidak ikut diekspor. Yang beredar dua kotak, dan satu bangsa masuk satu kotak.

Pembedaannya tidak mati. Joseph Henrich mengangkatnya lagi dalam The WEIRDest People in the World dengan data 2.921 mahasiswa di 37 negara: di kebanyakan masyarakat bukan-Barat, malu yang berkuasa, bukan rasa bersalah. Bedanya di siapa yang ditaruh di kotak aneh. Bagi Benedict, Jepang yang perlu diterangkan. Bagi Henrich, orang Barat yang dikuasai rasa bersalah itulah penyimpangannya, dan sisa dunia keadaan biasanya. Kotak yang sama, cuma dibalik.

Menurut saya dua-duanya masih terlalu kasar untuk dipakai menerangkan satu orang, dan buktinya ada di satu kata kita. Malu di sini dipakai untuk nama keluarga dan omongan tetangga, tapi juga untuk malu bertanya, malu menyusahkan orang, malu duluan makan, malu menagih piutang yang jelas-jelas sah. Satu kata, takarannya berganti menurut keadaan. Yang benar dari Benedict cuma soal takaran: rasa mana yang paling sering dipakai untuk menertibkan orang. Yang keliru: mengira sebuah bangsa bisa dimasukkan ke satu kotak.

Sampai mana bahannya berlaku

Ian Buruma, yang menulis kata pengantar edisi 2005, memasang peringatan yang tepat: bahaya uraian budaya adalah mengandaikan dunia yang terlalu diam dan terlalu seragam. Benedict tahu bahayanya, dan tetap percaya pola tertentu akan bertahan lama.

Yang paling ia yakini justru yang paling cepat hilang. Chu kepada kaisar ia tulis seolah tidak akan berubah. Kesetiaan itu, catat Buruma, pada 1945 masih dipegang hampir semua orang Jepang, dan sekarang tidak lagi.

Antropolog memang bukan peramal. Tapi hilangnya chu justru membuktikan bagian lain dari bukunya. Kesetiaan itu dipasang negarawan Meiji ke sosok yang tidak memerintah, sebagai aturan. Waktu aturannya dicabut, kesetiaannya ikut pergi. Kalau itu watak, mestinya bertahan. Karena itu aturan, hilangnya wajar.

Jadi batas berlakunya bisa ditarik cukup rapi. Yang tahan: mekanismenya, yaitu perbuatan mengikuti kedudukan, dan utang yang tidak lunas dipakai memerintah. Yang tidak tahan: klaim bahwa susunan itu milik satu bangsa dan akan terus begitu. Bahannya, tawanan perang dan orang yang sedang ditahan di kamp, cukup untuk yang pertama. Untuk yang kedua tidak ada bahan yang akan pernah cukup.

Ditulis untuk yang mau memerintah

Alasan buku ini masih layak dibaca sekarang bukan untuk belajar tentang Jepang.

Alasannya supaya kelihatan terang-terangan jenis tulisan apa ini: uraian tentang satu bangsa, dibuat untuk dipakai kekuasaan yang berniat memerintah mereka, oleh orang yang tidak pernah hidup di antara mereka. Benedict menulisnya dengan niat yang bisa dibela. Ia mau, tulisnya, dunia yang aman bagi perbedaan, bukan dunia yang tiap bangsanya cetakan dari klise yang sama. Niat itu tidak mengubah untuk siapa laporannya dikirim.

Kita punya rak sendiri yang penuh dengan ini. Snouck Hurgronje tinggal di Aceh dan menulis tentang orang Aceh, lalu tulisannya jadi dasar siasat menaklukkannya. Buku pegangan pejabat kolonial berisi bab tentang watak orang Jawa, orang Bugis, orang Batak, lengkap dengan saran cara memperlakukan masing-masing. Day menyebut nama-namanya: laporan penyelidikan pemberontakan petani di Hindia Belanda ditulis ahli bahasa Arab dan ahli Jawa, bukan tentara, sebab membuat sebuah tempat bisa dibaca dan membuatnya bisa diperintah itu satu pekerjaan.

Sebagian pengamatannya tajam. Itu justru yang bikin repot. Uraian seperti ini tidak pernah seluruhnya salah, dan tidak pernah cuma uraian.

Perempuan pertama yang duduk di kursi itu

21 Oktober 2025 Sanae Takaichi terpilih jadi perdana menteri, perempuan pertama di Jepang. Umurnya enam puluh empat, dan ia menang di majelis rendah dengan 237 suara lawan 149.

Kalau kejadian itu dipasang ke buku ini, hasilnya dua bacaan yang bertabrakan, dan itu bagian yang bagus.

Bacaan pertama membantah bukunya. Benedict menyusun Jepang sebagai tempat yang tiap orangnya menempati kedudukan yang sudah ditentukan, dan perempuan menempati kedudukan yang paling jelas batasnya. Kursi tertinggi diisi perempuan berarti garis itu bisa dilewati, dan bukunya tidak menyediakan tempat untuk itu.

Bacaan kedua justru memperkuatnya, dan lebih tidak enak. Yang pertama melewati garis itu bukan orang yang ingin membongkar susunannya. Takaichi datang dari sayap yang paling menjaga bentuk lama, murid politik Shinzo Abe, dan pendiriannya soal pertahanan dan kedudukan Jepang termasuk yang paling keras di partainya. Ia lewat karena susunan yang ada membuka pintu untuk orang yang paling tidak mengancamnya.

Saya condong ke bacaan kedua, dan bukan karena Benedict benar soal Jepang. Bentuk itu kelihatan di mana-mana, termasuk di kantor yang saya tempati. Orang pertama dari kelompok yang selama ini tidak pernah dapat giliran biasanya orang yang paling meyakinkan orang lama bahwa tidak ada yang akan berubah.

Yang tidak bisa dijawab bukunya bagian sesudahnya. Apakah pintu yang sudah terbuka begitu tetap terbuka buat orang berikutnya yang datangnya bukan dari sayap itu.

Orang Jepang sendiri membaca buku ini, dan sudah tujuh puluh tahun lebih berdebat dengannya. Sebagian kalimatnya sudah mereka pakai untuk menerangkan diri sendiri kepada diri sendiri, tanpa ingat lagi siapa yang menuliskannya dan untuk keperluan apa.

Kita juga. Kalimat tentang orang Jawa yang halus dan pasrah, orang Batak yang keras, orang Bugis yang pemberani, semuanya pernah ditulis orang lain untuk keperluan lain, dan sekarang keluar dari mulut kita sendiri seperti hasil pengamatan sendiri.

Tawanan di bab pembuka membalik halaman dan membacakan baris yang baru dengan kesetiaan yang sama. Saya belum menemukan cara memastikan baris yang saya bacakan tentang diri sendiri itu ditulis siapa.

Baca berikutnya