Ratu Adil paling terkenal dalam sejarah kita pernah memohon supaya dibebaskan dari tugas itu.

Perang Jawa yang saya hafal dari sekolah bunyinya begini: seorang pangeran dijebak di meja perundingan, melawan lima tahun, lalu dibuang ke Makassar. Cerita yang sudah tertutup rapat, dengan satu pahlawan di tengahnya.

Peter Carey menghabiskan empat puluh tahun di arsip, dan yang keluar bukan bantahan atas cerita itu. Yang ia pasang justru bingkai yang jauh lebih lebar di sekelilingnya, dan bingkainya mengubah arti gambarnya.

Angkanya dulu, lalu tagihannya

Perang Jawa berlangsung 1825 sampai 1830. Carey membuka bukunya dengan hitungan, bukan dengan duka.

"Dua juta orang Jawa—sepertiga jumlah seluruh penduduknya—menderita akibat perang, seperempat luas seluruh daerah pertanian Jawa rusak, dan sekitar 200.000 orang Jawa menjadi korban."

Di pihak Belanda tujuh ribu serdadu pembantu dari kalangan pribumi tewas, delapan ribu serdadu Belanda tewas, dan kas mereka terkuras dua puluh juta gulden.

Yang terjadi sesudahnya lebih penting daripada angka-angka itu sendiri. Belanda keluar sebagai penguasa tunggal Pulau Jawa, dan pada 1830 Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch memasang tanam paksa. Sistem itu terbukti sangat menguntungkan mereka.

Jadi urutannya begini. Dua puluh juta gulden dikeluarkan untuk mengalahkan Diponegoro, lalu uang itu ditarik kembali berlipat-lipat dari petani yang sawahnya baru saja rusak oleh perang yang sama.

Kalah itu satu perkara. Kalah lalu ditagih ongkos perang yang mengalahkanmu, selama empat puluh tahun berikutnya, itu perkara lain.

Jawa yang belum jadi jajahan

Di akhir abad kedelapan belas, Jawa belum jadi tanah jajahan seperti yang kita bayangkan sekarang. Belanda justru negara yang sedang merosot di Eropa. VOC ambruk dengan utang seratus tiga puluh empat juta gulden, dan hartanya diambil alih negara Belanda pada 1 Januari 1800. Para penguasa Jawa tengah-selatan waktu itu benar-benar berdaulat, dan Batavia tahu persis.

Pada 1781, lalu sekali lagi pada 1793, ibu kota kolonial malah meminta bantuan pasukan kepada raja-raja Jawa untuk menjaga dirinya sendiri dari kemungkinan serangan Inggris.

Justru detail kecil di catatan kakinya yang paling banyak menerangkan. Hamengkubuwono II bersikeras seribu prajuritnya diperlakukan sebagai pasukan pembantu, bukan sebagai serdadu bayaran. Padahal tiap orang tetap dibayar VOC empat ringgit Spanyol sebulan.

Uangnya jalan persis seperti bayaran. Yang diperebutkan sebutannya. Siapa pun yang pernah ikut rapat soal siapa menandatangani duluan dan siapa disebut mitra akan mengenali bentuk pertengkaran itu.

Peralihan ke yang Carey sebut "kolonial tinggi", ketika keraton berubah dari mitra diplomatik jadi pihak yang tunduk, baru dimulai di bawah Daendels sejak 1808 dan tuntas oleh Perang Jawa. Angka tiga setengah abad yang kita hafal sejak SD memampatkan dua hal berbeda: kehadiran dagang yang memang panjang, dan kekuasaan sesungguhnya yang jauh lebih pendek.

Bukan untuk mengurangi berat penjajahannya, tapi supaya tahu kapan persisnya kita kehilangan apa.

Bandar, dan siapa yang kena maki

Pemicu perangnya sengketa tanah di Tegalrejo. Yang membuatnya melebar ke separuh pulau bukan sengketa itu.

Sejak awal abad kesembilan belas, kesulitan ekonomi menumpuk di desa. Salah satu penyedotnya gerbang cukai jalan raya, yang di sini disebut bandar. Hak memungutnya disewakan keraton, dan yang menyewa sebagian besar pedagang Tionghoa, orang yang punya uang dan tidak punya perlindungan politik sama sekali.

Carey mencatat akibatnya lewat kacamata para jago di daerah perbatasan:

"Majikan dan pejabat pemerintah yang kejam, terutama orang Tionghoa pemungut cukai jalan raya atau bandar, merupakan musuh bebuyutan mereka."

Perhatikan siapa yang berdiri di garis depan kemarahan orang. Bukan keraton yang menyewakan haknya, bukan Batavia yang mengambil bagiannya. Yang berdiri di situ orang yang disuruh menagih.

Menyerahkan pekerjaan menagih kepada pihak yang tidak punya siapa-siapa di belakangnya itu susunan yang rapi sekali buat yang di atas, dan sampai sekarang masih rapi. Yang dimaki orang di jalan tol petugas gardu, bukan pemegang konsesinya.

Panji yang bisa dipakai semua orang sekaligus

Diponegoro menyebut dirinya Ratu Adil Jawa, dengan gelar Sultan Erucokro yang ia sandang pada Agustus 1825.

Yang penting, harapan itu tidak ia ciptakan. Harapan itu sudah ada duluan, sudah tersebar, dan sudah menunggu orangnya. Beberapa versi ramalan yang bernuansa Islam bahkan sudah menyebut tahunnya, 1200 Hijriah, sebagai saat Ratu Adil Jawa akan muncul.

Carey menyusun seluruh bukunya untuk menopang satu dalil: pertemuan antara keluhan perut dan pembenaran dari langit itu, dalam beberapa segi, cikal bakal gerakan kebangsaan abad kedua puluh. Di bawah satu panji Islam-Jawa, dengan seruan perang sabilillah, seorang pangeran bisa menghimpun bangsawan, pejabat daerah yang dipecat, guru agama, jago, kuli, buruh harian, petani penggarap, dan perajin sekaligus. Sebelum itu belum ada yang sanggup.

Jadi ramalan di sini bukan tempelan pada politik. Ramalan justru yang mengubah sengketa tanah jadi perang yang melahap separuh pulau.

Frans Gerhardus Valck, pejabat Belanda yang bertugas dua puluh tahun di Jawa tengah-selatan, menulis pada 1840:

"Kendati segala keuntungan yang ia dapat dari kita, ia tidak dapat meniadakan hasrat untuk diperintah oleh penguasanya sendiri meski mereka mungkin akan memerintah dengan lebih buruk [daripada kita]."

Yang menulis itu orang yang sedang ikut memerintah, jadi kepentingannya jelas. Tapi yang ia laporkan bukan kemarahan atas perlakuan buruk. Yang ia laporkan sesuatu yang tidak bisa ditawar dengan perbaikan pelayanan.

Ratu Adil yang minta dibebaskan

Bacaan yang paling gampang atas semua ini: seorang pangeran memakai ramalan sebagai alat politik. Rapi, masuk akal, dan hampir selalu keliru.

Pada Mei 1824 Diponegoro berjumpa dengan Ratu Adil dalam mimpi, di Gunung Rosomuni, dan yang ia kerjakan di situ bukan menerima mandat. Ia memohon dibebaskan dari ajakan memimpin bala tentara Ratu Adil, dengan alasan ia "tidak dapat berkelahi" dan "tidak tega melihat kematian".

Sejarawan militer Belanda E.S. de Klerck bahkan meragukan kepantasannya sebagai panglima. Dan meski ia dianggap ahli perkara hukum Islam-Jawa, di awal peperangan ia justru mengundang para ulama yang menurutnya benar-benar menguasai Alquran ke markasnya di Selarong, untuk dimintai nasihat.

Orang yang senang membaca kuasa punya satu kesalahan langganan, dan saya termasuk di dalamnya: mengira orang lebih terencana daripada aslinya. Sebelum menyebut siasat, kebingungan dan kelalaian perlu dicoba dulu. Di sini dua-duanya sudah cukup menerangkan.

Kelebihan Carey, ia tidak menyelesaikan itu untuk pembacanya. Arsipnya dibuka, dua bacaan sama-sama boleh berdiri, dan yang menimbang tetap pembacanya sendiri.

Lowongan yang tidak pernah kosong

Yang paling awet dari buku ini bukan Diponegoro, tapi bentuk harapannya.

Tiap menjelang pemilihan, selalu ada yang disebut-sebut sebagai Ratu Adil, dan yang menyebut biasanya bukan orangnya. Lowongannya memang selalu terbuka. Yang berganti cuma pelamarnya.

Di sinilah pendirian saya. Yang paling susah diubah di negeri ini bukan siapa yang berkuasa, tapi kebiasaan menyerahkan semuanya kepada satu orang lalu pulang. Menaruh harapan pada satu figur itu murah dan bikin lega. Mengawasinya tiap tahun sesudah dia menang itu mahal, membosankan, dan tidak ada yang bertepuk tangan untuk itu. Mengganti pemain jauh lebih gampang daripada mengganti mesin, dan bentuk kegagalan itu dibedah panjang di Why Nations Fail.

Tan Malaka pernah menjejer ramalan Joyoboyo satu per satu di Madilog, menandai mana yang gagal dan mana yang meleset, lalu mengakui bahwa nama itu tetap sanggup membangunkan orang lewat tengah malam. Ditulisnya pada 1943. Delapan puluh tahun berikutnya tidak membantahnya.

Diponegoro juga bukan satu-satunya yang menuliskan versinya sendiri tentang dirinya. Di pengasingan ia menyusun Babad miliknya. Seratus tiga puluh tahun kemudian seorang presiden mendiktekan riwayatnya kepada wartawan Amerika, dan hasilnya ada di catatan Bung Karno. Dua-duanya bahan yang berharga, asal dibaca sebagai apa yang ingin dipercayai orang tentang dirinya, bukan sebagai catatan peristiwa.

Kerisnya pulang, babadnya diam

10 Maret 2020, di Istana Bogor, Raja Willem-Alexander menyerahkan sebilah keris kepada Presiden Joko Widodo. Namanya Kiai Naga Siluman, dan disebut milik Diponegoro. Keris itu sempat hilang di gudang museum di Belanda, ketemu lagi pada 2019, dan diperiksa ahli dari tiga negeri sejak 2017.

Carey ikut memeriksa dan menerima bahwa itu memang pusaka Diponegoro. Yang ia tinggalkan terbuka bagian yang tidak bisa ditutup ahli logam mana pun. Babad Diponegoro tebalnya seribu seratus halaman, ditulis orangnya sendiri, dan keris ini tidak disebut satu kali pun di dalamnya, padahal keris lain disebut. Bagaimana benda itu berpindah ke tangan Belanda juga tidak ada catatannya. Dugaan Carey, keris itu diserahkan sendiri kepada Kolonel Cleerens waktu perundingan Februari 1830, sebagai tanda bahwa ia sungguh-sungguh percaya.

Sebelumnya sudah ada yang pulang duluan. Tombak Kiai Rondhan dan pelana Kiai Gentayu diserahkan Ratu Juliana pada 1978, dan tongkat Kanjeng Kiai Cokro pada 2017, dari keluarga keturunan seorang gubernur jenderal. Keempatnya sempat dipamerkan bersama di Galeri Nasional akhir 2023.

Susunan pengetahuannya yang menempel di kepala saya. Benda-benda itu bertahan hampir dua abad karena ada yang menyimpannya, memberinya nomor, dan mencatat dari mana asalnya, dan yang menyimpan pihak yang menang. Waktu bendanya pulang, yang bisa memastikan ia milik siapa tetap arsip pihak yang sama, sebab tulisan orangnya sendiri kebetulan diam soal itu.

Empat puluh tahun riset Carey dipakai untuk membongkar susunan seperti itu. Dan di ruang upacara penyerahan, susunan itu berdiri lagi, kali ini sambil ditepuktangani semua orang.

Saya belum tahu bagaimana itu bisa dibetulkan. Yang jelas menolak menerima bendanya kembali bukan pembetulannya.

Empat puluh tahun arsip, dan batasnya

Ini biografi ilmiah, dan bacanya memang begitu. Jilid pertamanya lewat empat ratus halaman, banyak isinya silsilah, pengangkatan pejabat keraton, dan perpindahan residen Belanda. Ada halaman yang catatan kakinya lebih berat daripada teksnya.

Carey juga terpaksa bersandar terutama pada arsip Belanda. Ia sadar dan mengimbanginya sebisanya, terutama lewat Babad tulisan Diponegoro sendiri. Tapi karena sumbernya kebanyakan Eropa, ada batas yang jelas antara apa yang bisa ia katakan dengan yakin dan apa yang cuma bisa ia duga.

Dan ini biografi, bukan tafsir untuk hari ini. Pembaca yang mencari kesimpulan tentang apa artinya semua ini bagi kita sekarang harus menyusunnya sendiri.

Tanggal 7 Maret 1837, Pangeran Hendrik dari Belanda, umur enam belas, sedang berkeliling Hindia dengan kapal perang, menyempatkan diri menengok bekas pemimpin Perang Jawa. Ia mendapati orang itu di dua kamar yang panas dan menyedihkan di Benteng Rotterdam, Makassar.

Orang yang pernah menyebut dirinya Ratu Adil, ditengok sebagai barang tontonan oleh seorang remaja Eropa, di dalam dua kamar.

Ada satu hal kecil dari hari itu yang tidak mau lepas dari kepala saya. Diponegoro sebenarnya bisa bahasa Melayu dan enggan memakainya di depan orang Eropa, dan waktu terpaksa memakainya, ia menyapa sang pangeran dengan "lu", sebutan yang lebih kasar daripada "jouw" dalam bahasa Belanda. Yang tumbuh di lingkungan Jawa tahu apa yang sedang dikerjakan orang itu. Kalah boleh, kedudukan tetap diurus, dan urusannya diselesaikan di dalam kata ganti.

Nama yang kita hafal pun sudah ia tanggalkan lebih dulu. Begitu tiba di pengasingan pertamanya di Manado, ia minta dipanggil Pangeran Ngabdulkamit saja.

Dan kita tahu hari itu pernah terjadi cuma karena satu pihak menuliskannya: sehalaman catatan harian, lalu sepucuk surat tiga hari kemudian kepada ayahnya, yang kebetulan seorang raja. Dari kamar sebelah tidak ada catatan apa pun.

Baca berikutnya