Robison menerbitkan buku ini pada 1986, dan bukunya dilarang beredar di sini. Satu angkatan pembaca Indonesia mengenalnya lewat fotokopian, kalau sempat mengenalnya sama sekali.
Pertanyaan yang ia ajukan pendek. Menjelang pertengahan 1980-an sudah berdiri perusahaan swasta yang besar-besar di negeri ini. Yang belum jelas, apakah pemiliknya kelas pemodal yang sungguhan, atau cuma perantara yang mengurus urusan modal asing dengan imbalan bagian.
Dua jawaban sudah tersedia waktu itu, dan dua-duanya punya pembela. Satu pihak bilang kelas pengusaha di sini sedang tumbuh normal, seperti yang terjadi di mana-mana. Pihak lain bilang di negeri pinggiran hal semacam itu tidak mungkin, dan yang kelihatan seperti modal dalam negeri sebenarnya lapisan perantara saja.
Robison tidak mengambil satu pun dari keduanya, dan justru karena itu bukunya masih berdiri.
Modal yang dibagikan, bukan yang dikumpulkan
Kelas pemodal dalam negeri memang benar-benar lahir. Bukan khayalan, bukan pula modal asing yang berganti baju.
Yang melahirkannya negara, dengan sengaja, dari sumber daya negara. Orang-orang di dalamnya jadi besar bukan karena punya mesin, bukan karena punya keahlian, dan bukan karena punya tabungan yang dikumpulkan dua puluh tahun. Mereka besar karena bisa masuk ke ruangan yang pintunya tertutup buat orang lain.
Alatnya gampang dihafal: izin, hak tunggal mengimpor, konsesi hutan dan tambang, jatah kredit murah dari bank negara, dan proyek pemerintah yang pemenangnya sudah diketahui sebelum lelangnya dibuka. Semua itu barang yang dibagikan negara, dan semua itu bisa ditarik lagi.
Semua ini bisa berjalan karena harga minyak meledak pada 1970-an. Uang sebesar itu memberi pemerintah kemampuan membuat pengusaha besar, bukan cuma memungut pajak dari pengusaha yang sudah besar.
Lapisan yang kebagian juga tidak muncul mendadak. Sepuluh tahun sebelumnya perangkat negara sudah membengkak dan cabang militernya yang paling untung dari pembengkakan itu, sesuatu yang sudah dicatat orang sejak 1967 di Sukarno's Guided Indonesia. Robison berangkat dari tanah yang sudah disiapkan di situ.
Mitra yang tidak mungkin berubah jadi saingan
Robison membagi pemainnya jadi tiga.
Perusahaan negara, dengan Pertamina yang terbesar, yang selain menghasilkan uang juga jadi tempat jatah dibagikan. Kelompok usaha Tionghoa yang berjalan bersama pelindung dari kalangan politik dan tentara. Dan pengusaha pribumi yang ditumbuhkan lewat kebijakan yang terang-terangan memberi keistimewaan, umumnya lebih kecil, dan sering berakhir jadi pihak kedua dalam kerja sama yang seharusnya mereka pimpin.
Uraian tentang yang kedua paling tajam di seluruh bukunya, dan yang dibedah di situ susunannya, bukan watak orangnya.
Pengusaha Tionghoa waktu itu tertutup jalannya ke kekuasaan politik, dan sekaligus rentan terhadap tindakan negara. Dua keadaan itu justru yang membuat mereka jadi mitra paling aman: sebesar apa pun usahanya, mereka tidak akan pernah bisa berubah jadi pesaing politik. Ketergantungannya berjalan satu arah, dan memang begitu yang dikehendaki.
Susunan seperti itu punya ekor yang tidak ikut dibahas di babnya. Mitra yang tidak bisa membalas juga mitra yang paling gampang ditunjuk waktu keadaan memburuk. Yang menunjuk bukan orang yang selama ini menikmati hasilnya, dan yang kena bukan orang yang pernah duduk di ruangan tadi.
Di atas ketiga-tiganya berdiri pejabat dan perwira. Kuasa mereka datang dari jabatan, bukan dari harta, dan jabatan bisa ditukar jadi harta kapan saja mereka mau.
Negara kertas
Saya membaca buku ini sebagai keterangan tentang negara kertas.
Bentuk negara di sini lengkap sampai ke desa. Ada peraturannya, ada kantornya, ada laporan bulanannya, ada stempelnya, ada anggarannya. Yang sering tidak ada cuma satu, yaitu benar-benar jalan. Kelengkapan itu warisan pemerintahan tidak langsung zaman Belanda: yang menghadap orang kampung tetap orang setempat, yang memutuskan tetap surat dari atas. Pramoedya menaruh mesin yang sama di tengah novelnya, Bumi Manusia, dan di situ pun yang menang selalu suratnya.
Kalau bentuknya lengkap dan jalannya tidak, barang paling berharga di negeri seperti ini bukan mesin dan bukan keahlian. Yang paling berharga orang yang bisa membuat kertasnya bergerak.
Dan orang yang bisa membuat kertasnya bergerak hampir selalu orang yang sudah ada di atas. Itu sebabnya saya lebih percaya pada aturan main daripada pada watak orangnya. Watak manusia kira-kira sama di mana-mana; yang bikin hasilnya jauh berbeda itu susunan yang menentukan siapa boleh masuk ke ruangan mana.
Alatnya sudah berganti dan bentuknya belum. Lelang sekarang lewat aplikasi, dan syaratnya masih bisa disusun supaya cuma satu merek yang sanggup memenuhinya. Nomor induk kependudukan sudah disambungkan ke urusan pajak, dan yang paling terbaca oleh sambungan itu tetap orang yang gajinya dipotong di muka tiap bulan.
Suharto, dan selisih yang tetap tinggal
Buku ini menilai mesinnya, bukan orangnya. Cara itu benar, dan tetap ada satu hal yang selalu tersisa di luar mesin.
Di luar negeri nama Suharto hampir selalu diucapkan berdempet dengan kata kleptokrasi, dan daftarnya memang ada, lengkap dengan taksiran angkanya, di The Dictator's Handbook. Yang jarang ikut disebut, mesin yang bentuknya sama persis di tempat lain menghasilkan negeri yang jauh lebih rusak. Di sini harga beras dijaga sampai ke pasar kecamatan, listrik masuk sampai ke desa yang jauh, dan angka kematian bayi turun jauh dalam dua dasawarsa. Orang yang hidup di kampung waktu itu merasakan selisihnya, dan selisih itu tidak hilang dengan disebut propaganda.
Menyebut sumbangsih bukan pembelaan. Menutupinya juga bukan kejujuran, cuma cara lain untuk tidak melihat mesinnya.
Satu rem lagi perlu dipasang waktu memakai kacamata Robison. Bedah kelas membuat semuanya kelihatan dirancang, padahal banyak hal yang terjadi sesudah uang minyak datang lebih mirip reaksi sesaat. Pertamina sendiri hampir menyeret jatuh negara yang membesarkannya, gara-gara utang jangka pendek yang tidak dihitung siapa pun di atas. Sebelum menuduh rancangan, kelalaian perlu dicoba dulu, dan di sini kelalaian sering sudah cukup menerangkan.
Ujiannya datang pada 1998
Dari dalil Robison bisa ditarik satu ramalan yang bisa dicek. Kalau modal ini memang dibuat oleh akses politik, maka hilangnya pusat politik seharusnya ikut membubarkannya.
Sebagiannya memang bubar. Kelompok usaha yang seluruh susunannya bertumpu pada satu hubungan tidak selamat waktu hubungan itu putus, dan penyehatan perbankan sesudahnya menghabisi cukup banyak dari mereka.
Sebagian besarnya tidak bubar. Robison bersama Vedi Hadiz belakangan berargumen bahwa oligarki tidak ikut jatuh bersama pemerintahan yang membuatnya. Yang terjadi penyusunan ulang: masuk ke partai, masuk ke pemerintahan daerah yang baru dibentuk lewat otonomi, dan masuk ke pembiayaan pemilihan. Hubungan yang sama dipasang kembali, cuma sekarang di dalam lembaga yang dipilih orang banyak. Tarikan semacam itu sudah dinamai Robert Michels hukum besi oligarki, dan bentuknya sesudah penjajahan berakhir dibahas di Why Nations Fail.
Buat saya 1998 bukan kejutan, tapi peringatan yang diabaikan. Angkanya sudah ada di laporan jauh sebelum krisisnya sampai: utang jangka pendek dalam dolar yang menumpuk, dan bank yang meminjamkan uang kepada perusahaan milik pemiliknya sendiri. Yang kurang bukan datanya. Yang kurang orang yang punya kepentingan membacanya, dan itu bukan kelalaian teknis.
Sesudahnya kita dapat pemilu, media yang ramai, dan lembaga pengawas. Yang tidak ikut berganti kebiasaan mengawasinya. Acemoglu dan Robinson menyebut perlombaan itu Efek Ratu Merah di The Narrow Corridor: berhenti mengawasi tidak membuat kita diam di tempat, tapi mundur.
Empat puluh tahun kemudian, ditanya lagi
Awal Juni 2026 Robison menerbitkan lagi, bersama Vedi Hadiz, dengan judul Oligarchy and the End of Reformasi in Indonesia. Itu terbitan baru dari buku mereka tahun 2004, dan isinya jawaban atas soal yang ditinggalkan bukunya sendiri pada 1986.
Jawabannya pendek, dan Robison mengucapkannya sendiri: oligarki tidak pernah pergi, yang berganti lembaganya, sedangkan jaringan persekutuannya tidak pernah dibongkar. Hadiz menambahkan bahwa kuasa politik dan ekonomi sekarang sedang ditarik kembali ke tengah, sementara perkakas demokrasinya tetap lengkap berdiri.
Waktu buku itu terbit, kebetulan ada badan yang bentuknya pas betul dengan pertanyaan 1986 tadi. Danantara berdiri Februari 2025 lewat undang-undang, dan kepemilikan pemerintah di Pertamina, PLN, Telkom, Mandiri, BRI, dan BNI dipindahkan ke situ. Pada 16 Mei 2026, di sela peresmian koperasi desa di Nganjuk, Prabowo menyebut asetnya seribu miliar dolar, sekitar tujuh belas ribu triliun rupiah, dan menempatkannya di urutan keenam dunia, di atas Qatar, Arab Saudi, dan Singapura.
Angka sebesar itu belum ada laporan keuangannya. Sebuah koalisi warga mengajukan permohonan informasi ke Danantara dan BPK pada 3 Juni 2026, meminta laporan keuangan dan laporan tahunan 2025 sekalian laporan triwulan pertama 2026. Awal Juli ketiganya masih tertutup.
Yang menyambungkan ini ke bukunya arah uangnya. Robison membaca 1986 sebagai negara yang sanggup membuat pengusaha besar karena kebetulan sedang memegang uang minyak, dan negara yang memungut pajak dari pengusaha yang sudah besar duluan bentuknya lain sama sekali. Sekarang uangnya sudah berbentuk perusahaan, dan yang dikumpulkan perusahaannya sendiri, ke satu badan yang bukunya belum bisa dibaca orang luar.
Saya tidak tahu apakah itu berarti hal yang sama sedang terulang. Yang jelas alat untuk memeriksanya persis yang tidak tersedia.
Yang belum selesai bukan dalilnya, tapi urutannya.
Bahan terbaik tentang susunan kekuasaan ekonomi kita sendiri ditulis di luar, dalam bahasa yang bukan bahasa kita, dan sampai ke pembaca di sini paling belakangan. Robison bertahun-tahun bekerja bersama peneliti Indonesia, dan sebagian dari mereka kemudian menulis versinya sendiri. Tapi urutannya telanjur begitu.
Saya belum punya jawaban untuk soal itu. Yang bisa dipegang cuma satu hal kecil: tiap kali ada izin baru dibagikan, yang antre paling depan bukan orang yang punya mesin.
Catatan tentang catatan ini
Salinan buku yang saya pakai hasil pindaian tanpa lapisan teks. Berbeda dengan catatan lain di sini, tidak ada satu pun kutipan langsung di atas. Semuanya ringkasan argumennya, bukan kutipan halaman, dan angka-angka yang khusus sengaja ditinggalkan daripada disusun ulang dari ingatan.
Kalau buku ini mau dipakai untuk sesuatu yang serius, cari salinan yang isinya bisa dicari.
Susunan bukunya: bagiannya apa saja, mana jantungnya, mana yang boleh dilewat.
Bentuknya
Buku kajian, terbit 1986, dan sasarannya satu pertanyaan: dari mana datangnya golongan pemilik modal besar di Indonesia, dan apa yang membuatnya berbeda dari golongan yang sama di tempat lain.
Susunannya mengikuti waktu, dari masa penjajahan sampai pertengahan tahun delapan puluhan, tapi tiap bagian sebenarnya memeriksa satu jenis pemilik modal: yang tumbuh di masa penjajahan, yang dicoba dibesarkan negara pada tahun lima puluhan, perusahaan negara, pemilik modal keturunan Tionghoa yang bekerja di bawah perlindungan, dan pengusaha pribumi yang hidup dari izin.
Bukunya berhenti sebelum 1998, dan itu justru membuatnya menarik untuk dibaca sekarang: dalilnya bisa diuji dengan apa yang benar-benar terjadi sesudahnya.
Bagian masa penjajahan dan tahun lima puluhan
Bagian yang menerangkan titik awalnya. Waktu Belanda pergi, hampir seluruh perusahaan besar dipegang orang asing, dan yang tersisa untuk orang Indonesia sebagian besar usaha kecil dan perdagangan perantara.
Di bagian ini juga ada usaha pemerintah tahun lima puluhan untuk membesarkan pengusaha pribumi dengan memberi mereka izin impor dan kemudahan. Hasilnya jadi pelajaran yang terus berulang di sisa bukunya: yang tumbuh bukan perusahaan, tapi kebiasaan menjual izin.
Bagian perusahaan negara
Bagian tentang perusahaan-perusahaan yang diambil alih dari Belanda dan diserahkan kepada negara, dan bagaimana perusahaan-perusahaan itu jadi sumber uang dan jabatan bagi orang-orang tertentu.
Bagian pemilik modal dan pelindungnya
Bagian inti bukunya, dan yang paling banyak menerangkan.
Dalilnya: yang membuat seseorang jadi besar di sini pada masa itu bukan mesin yang ia beli dan bukan uang yang ia kumpulkan, tapi hubungannya dengan orang yang bisa memberi izin, kredit murah dari bank negara, dan perlindungan dari saingan.
Dari situ juga diterangkan kenapa hubungan itu bertahan lama: pihak yang diberi kemudahan berada dalam kedudukan yang membuatnya tidak mungkin berubah jadi saingan politik pelindungnya, dan itu justru yang membuatnya jadi mitra yang aman.
Bagian pengusaha pribumi
Bagian tentang pengusaha pribumi yang tumbuh di bawah keadaan yang sama, dan tentang keluhan mereka bahwa mereka kalah bersaing. Robison memeriksa keluhan itu dan menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka juga hidup dari sumber yang sama, yaitu izin dan kredit negara.
Yang jadi jantungnya
- Bagian tentang usaha membesarkan pengusaha lewat pemberian izin pada tahun lima puluhan, karena di situ bentuk yang berulang selama empat puluh tahun sesudahnya sudah kelihatan utuh.
- Bagian tentang hubungan antara pemilik modal dan pelindungnya, karena di situ diterangkan kenapa hubungan macam itu stabil, bukan cuma menyebutnya ada.
- Bagian tentang perusahaan negara, karena di situ terlihat bahwa perangkat negara sendiri jadi sumber kekayaan, bukan cuma pengaturnya.
Yang boleh dilewat
- Bagian yang berdebat dengan teori-teori tentang negara di dunia ketiga, yang porsinya cukup besar dan menuntut mengenal perdebatannya.
- Daftar nama perusahaan dan pemiliknya, kecuali kalau memang sedang menelusuri satu kelompok usaha.
- Bagian pengantar teoretis, yang bisa dilewati tanpa kehilangan alurnya.
Yang jangan ditelan bulat-bulat
Terbit 1986, dua belas tahun sebelum semuanya diuji. Karena itu bukunya tidak bisa menjawab pertanyaan yang paling penting: apa yang terjadi pada golongan pemilik modal semacam itu waktu pelindungnya jatuh.
Yang terjadi pada 1998 sebagian membenarkan dalilnya dan sebagian membantahnya. Sebagian kelompok usaha memang runtuh bersama pelindungnya, dan sebagian lagi ternyata sudah cukup besar untuk bertahan sendiri, berpindah pelindung, atau memindahkan uangnya ke luar. Itu menunjukkan bahwa ketergantungan yang diterangkan Robison nyata dan tidak semutlak yang ia gambarkan.
Buku ini juga memakai kerangka golongan sosial yang jelas asalnya, dan kadang bahannya dipaksa muat ke dalam kerangka itu. Yang paling kuat dari bukunya justru bagian yang menyusun bukti tentang siapa mendapat izin apa, bukan bagian yang menyimpulkan golongan mana sedang naik.
Kalau buru-buru
Bagian tahun lima puluhan, bagian tentang hubungan pemilik modal dan pelindungnya, dan bagian tentang perusahaan negara. Tiga potong, dan yang tersisa cukup: bentuk yang lahir pada tahun lima puluhan dan berulang selama empat puluh tahun, alasan kenapa hubungan pelindung dan yang dilindungi begitu tahan lama, dan cara perangkat negara sendiri berubah jadi sumber kekayaan.