Film The Great Escape bercerita tentang dua ratus lima puluh tawanan perang yang kabur lewat terowongan dari kamp Jerman. Yang tidak tertangkap lagi cuma tiga. Deaton meminjam judul itu, dan yang ia perhatikan justru bagian yang tidak diurus filmnya: tawanan yang tetap di dalam kamp jauh lebih banyak daripada yang kabur, dan tidak seorang pun dari mereka jadi tokoh.
Bukunya sendiri tentang pelarian yang berhasil. Orang tua, tulis Deaton, tidak lagi rutin menyaksikan seperempat anaknya mati. Angkanya ia terima, dan saya juga.
Yang membedakan buku ini dari buku kemajuan yang lain ada di kalimat yang ia tulis waktu bercerita tentang ayahnya sendiri, yang lahir di desa tambang batu bara dan lolos dari situ lewat serangkaian kebetulan:
"Escapes leave people behind, and luck favors some and not others; it makes opportunities, but not everyone is equally equipped or determined to seize them. So the tale of progress is also the tale of inequality."
Yang kabur meninggalkan orang lain, dan keberuntungan memihak sebagian orang saja. Keberuntungan membuka kesempatan, tapi tidak semua orang sama siapnya, atau sama nekatnya, untuk mengambilnya. Jadi cerita tentang kemajuan sekaligus cerita tentang ketimpangan.
Perhatikan kata keberuntungan di situ. Saya membaca bukunya dari kalimat itu: sebagai rapor tentang siapa yang sempat ikut, bukan sebagai kabar gembira.
Yang kabur duluan hampir tidak pernah yang paling butuh
Cerita yang biasa kita dengar: negara jadi kaya, lalu penduduknya jadi sehat. Deaton membongkar urutan itu dengan satu grafik lama milik ahli kependudukan Samuel Preston: negara dengan pendapatan yang sama persis hidup lebih lama pada 2010 daripada pada 1960. Preston menaksir kurang dari seperempat kenaikan harapan hidup antara 1930-an dan 1960-an datang dari taraf hidup. Sisanya dari cara baru: obat, pemberantasan nyamuk, imunisasi.
Jadi yang menyelamatkan orang pengetahuan, dan pengetahuan tidak turun rata.
Deaton punya satu bukti kecil yang telak. Sebelum teori kuman diterima, anak para dokter mati dengan laju yang sama seperti anak orang biasa. Sesudah teori kuman dipahami, anak dokter jauh lebih jarang mati. Yang tahu duluan selamat duluan. Kaum bangsawan lebih dulu lepas dari orang kebanyakan, lalu negara kaya lepas dari negara miskin. Jurangnya melebar dulu, baru menyempit puluhan tahun kemudian waktu pengetahuannya sampai ke semua orang.
Kita baru saja mengalaminya. Waktu vaksin datang, yang duluan terlayani orang kota yang paham mendaftar lewat aplikasi, punya kuota, dan bisa izin kerja untuk antre. Yang di pelosok menunggu giliran berbulan-bulan. Tidak ada yang berniat begitu. Urutannya jalan sendiri.
Ada satu keterangan lagi dari bab yang sama, dan justru ini yang paling saya pegang. Di kota-kota Revolusi Industri air bersih sudah tersedia, tapi untuk menggerakkan pabrik, bukan untuk diminum penduduknya. Pemilik pabrik, yang juga pembayar pajak, tidak punya alasan membiayai air minum buruhnya. Air itu baru sampai ke rumah waktu kaum buruh punya suara politik untuk menuntutnya. Pengetahuannya sudah ada puluhan tahun. Yang mengantarkannya aturan main.
Tulang mencatat yang tidak dicatat BPS
Deaton memakai tinggi badan sebagai arsip. Orang dewasa membawa di tulangnya catatan tentang gizi dan penyakit satu dua generasi sebelumnya.
Laki-laki Eropa yang lahir pertengahan abad sembilan belas rata-rata 166,7 sentimeter. Yang lahir seratus tahun lebih kemudian, 178,6. Kira-kira satu sentimeter tiap sepuluh tahun, dan orang Cina sekarang tumbuh dengan laju yang sama. India cuma separuhnya, dan itu untuk laki-laki. Perempuan India butuh enam puluh tahun untuk bertambah satu sentimeter. Deaton mengaku tidak tahu persis sebabnya, dan cuma menunjuk kebiasaan mengutamakan anak laki-laki di India utara.
Buat kita ini bukan bacaan sejarah. Kita menyebutnya stunting, dan angkanya diumumkan tiap tahun. Anak yang tingginya di bawah seharusnya membawa catatan tetap tentang apa yang tersedia di dapur ibunya waktu ia dalam kandungan, dan apakah air di kampungnya layak.
Anak yang tidak mati dihitung sebagai ancaman
Tahun 1960-an negara kaya panik melihat angka kelahiran di Asia dan Afrika, dan dari kepanikan itu mengalir uang untuk pengendalian penduduk. Banyak keburukan, tulis Deaton, dan yang lebih parah dari itu, dilakukan atas namanya. Yang paling buruk di India, tempat sterilisasi sukarela sering sama sekali tidak sukarela. Yang menjalankan pejabat India sendiri, tapi USAID dan Bank Dunia, katanya, ikut menanggung tanggung jawabnya.
Kita menjalani versi kita sendiri. Program KB Orde Baru dijalankan sampai ke tiap kelurahan, lengkap dengan target dan lomba antardaerah. Sebagian benar-benar menolong perempuan yang tidak ingin hamil lagi. Sebagian dijalankan dengan tekanan yang jarang diceritakan, dan sebagian dananya dari lembaga asing yang punya kecemasannya sendiri.
Yang ditakuti itu, menurut Deaton, justru bukti keberhasilan. Jutaan anak yang di generasi sebelumnya pasti mati kena diare atau campak tiba-tiba selamat. Mereka tidak mati. Dan itu dihitung sebagai ancaman.
Bantuan tidak mengalir seperti air ledeng
Sepertiga terakhir bukunya tentang bantuan luar negeri, dan di sini Deaton paling keras.
Ia mulai dari hitungan yang beredar: sebuah koran tahun 2000 mengklaim UNICEF bisa menyelamatkan satu anak di Mozambik dengan tujuh belas pence, jadi tinggal kalikan. Deaton menyebut cara berpikir ini pendekatan hidraulik: air dipompa di satu ujung, air keluar di ujung lain. Kemiskinan dianggap urusan ledeng yang bocor.
Bantuan tidak jalan begitu, dan sebabnya bukan korupsi dalam arti biasa. Sebagian besar bantuan diberikan pemerintah ke pemerintah, bukan orang ke orang, dan uangnya bisa dipindah-pindah. Tapi soal yang paling dalam ada di cara kerja yang jarang disebut orang yang memuji bantuan:
"It is this need to raise taxes, and the difficulty of doing so without the participation of those who are taxed, that places constraints on the government and to some extent protects the interests of taxpayers."
Justru keharusan memungut pajak, dan susahnya memungut tanpa persetujuan yang dipungut, yang mengekang pemerintah dan sedikit banyak melindungi kepentingan pembayar pajaknya.
Pemerintah yang uangnya datang dari donor tidak perlu persetujuan warganya. Kabel antara negara dan orang yang seharusnya dilayaninya putus, dan Deaton menyimpulkan bantuan bisa membuat pemerintah makin tidak peduli pada orang miskinnya sendiri.
Kabel yang sama bisa putus di dalam satu negara. Sebagian besar anggaran kabupaten di sini datang dari transfer pusat, bukan dari pajak warganya, jadi yang harus dipuaskan bupati bukan orang di pasar, tapi yang menandatangani transfer. Dan kalau Deaton benar, ada kabar yang tidak terasa seperti kabar baik: negara yang menyatukan NIK dengan nomor pajak dan mulai menagih dari semua orang akan, cepat atau lambat, harus mulai menjawab semua orang.
Kue, resep, dan Poor Economics
Kalau bantuan antarnegara gagal, jawaban yang sekarang paling laku: ukur tiap proyek dengan percobaan terkendali, lalu perbesar yang terbukti. Itu metode Poor Economics, dan Deaton menyerangnya persis di sambungan yang paling lemah.
"Without understanding these mechanisms—what it takes to bake a cake—it is not possible to get to 'what works' from 'this project worked'; indeed the whole idea of an unqualified 'what works' is unhelpful."
Tanpa mengerti cara kerjanya, apa yang dibutuhkan untuk membuat kue, kita tidak bisa sampai dari "proyek ini berhasil" ke "yang begini berhasil". Gagasan tentang "yang berhasil" tanpa syarat apa pun malah tidak menolong.
Penyuluhan pertanian bisa jalan di desa yang petaninya tinggal berdekatan dan sering mengobrol, lalu gagal total di daerah yang rumahnya berjauhan. Mengulang percobaannya di sepuluh tempat tidak menyelesaikan itu, sebab yang perlu diketahui bukan hasilnya, tapi resepnya.
Deaton sampai ke soal yang sama dengan Poor Economics: petugas kesehatan yang tidak ada di tempatnya. Di Rajasthan, tulisnya, orang susah diajak mengakui bahwa perawat tertentu sudah berminggu-minggu tidak muncul, karena memang begitu yang mereka harapkan dari negara. Di Kerala kemangkiran jarang, sebab klinik yang tutup langsung diprotes. Kalau saja kita tahu cara memindahkan sikap Rajasthan ke sikap Kerala, katanya, sebagian besar soalnya selesai. Ia tidak tahu caranya, dan percobaan sekecil apa pun juga tidak.
Di sini saya tidak sepenuhnya ikut Deaton, dan juga tidak sepenuhnya ikut Duflo. Dua-duanya benar untuk jarak yang berbeda. Percobaan kecil itu satu-satunya yang bisa dikerjakan satu orang dengan anggaran di mejanya, dan Deaton tidak menyediakan gantinya. Yang Deaton sediakan berlaku untuk jarak yang lebih jauh: yang menentukan hasil bukan proyeknya, tapi apakah ada orang yang menanggung akibat kalau proyeknya tidak jalan. Daftar bantuan yang menurut Deaton sendiri berhasil, cacar yang dihapus dari muka bumi, kebutaan sungai yang nyaris habis di Afrika, oralit yang sampai ke jutaan anak, hampir semuanya punya satu ciri yang sama: tidak lewat kas pemerintah penerima.
Kolam yang tidak ada
Peter Singer mengumpamakan kemiskinan sebagai anak yang tenggelam di kolam dangkal tepat di depan kita. Kalau tinggal mengulurkan tangan, tidak ada alasan untuk tidak melakukannya. Deaton mengutip filsuf Leif Wenar yang menjawabnya dengan tiga kata:
"poverty is no pond"
Kemiskinan bukan kolam.
Yang mengganjal dari perumpamaan kolam bukan niatnya, tapi susunan orangnya. Yang mengulurkan tangan, yang mengatur uangnya, dan yang menanggung kalau hasilnya meleset, tiga kelompok berbeda, dan kelompok ketiga tidak pernah ditanya. Deaton menulis bahwa orang yang tulus dan bermoral sedang merugikan orang yang sudah paling susah. Ia tidak menuduh ada rancangan. Tidak perlu ada. Cukup janji yang tidak pernah ditagih oleh orang yang bergantung padanya, dan janji seperti itu kendur sendiri dalam beberapa minggu.
Satu hal lagi yang membuat saya memegang Deaton lebih erat daripada buku kemajuan yang meminjam judulnya. Enlightenment Now memakai istilah Great Escape lalu menambahkan anak kalimat yang tidak ada di Deaton: harapan hidup naik dan tidak menunjukkan tanda melambat. Deaton menulis sebaliknya, tidak ada yang menjamin pelarian ini berlanjut selamanya, dan ia memberi contoh. Harapan hidup Botswana naik dari 48 ke 64 tahun lalu jatuh kembali ke 49 pada 2000-an. Zimbabwe pada 2005-10 lebih rendah daripada 1950-55. Angka boleh naik dua ratus tahun dan tetap bukan arah.
Ia menarik sebagian pendiriannya sendiri
Maret 2024 Deaton menulis esai pendek untuk majalah IMF, judulnya menyebut dirinya sendiri: memikirkan ulang ekonomi saya. Ia sudah delapan puluh tahun lebih waktu itu, dan sudah lima puluh tahun lebih bekerja sebagai ekonom.
Yang ia tarik cukup banyak. Bidangnya, katanya, agak berantakan. Mereka tidak meramalkan krisis keuangan, dan mungkin ikut menyumbang terjadinya, gara-gara terlalu bersemangat percaya pada kemanjuran pasar, terutama pasar keuangan yang susunannya mereka pahami kurang dari yang mereka kira.
Buat catatan ini, yang penting bukan pengakuannya. Yang penting apa yang tetap ia pegang.
Bagian tentang pengetahuan murah yang menyelamatkan lebih banyak nyawa daripada pertumbuhan tidak ia tarik. Keberatannya pada bantuan luar negeri juga tidak. Yang ia tarik justru kepercayaan bahwa pasar, kalau dibiarkan, akan membereskan hasilnya sendiri.
Susunan itu enak sekali dibaca berdampingan dengan penutup di bawah nanti. Kalau orang yang paling banyak mengukur ketimpangan akhirnya menyimpulkan bahwa sebagian keyakinannya sendiri ikut memperlebar jaraknya, maka menarik tangga memang tidak pernah terasa seperti menarik apa-apa, termasuk buat orang yang seumur hidup menghitung tangganya.
Tawanan yang tetap di kamp, tulis Deaton, mungkin justru dirugikan oleh pelarian itu: dihukum, jatahnya dicabut, dan penjaganya bikin kabur berikutnya lebih susah.
Bentuk modernnya ia sebut di halaman pembuka. Yang baru kaya bisa memakai uangnya untuk mempengaruhi politisi supaya membatasi sekolah negeri dan layanan kesehatan yang mereka sendiri tidak butuhkan lagi. Tangganya ditarik ke atas.
Bentuk itu ada di sini. Yang sudah lolos ke sekolah swasta dan rumah sakit swasta berhenti punya alasan mengurus puskesmas, dan berhenti tanpa merasa memutuskan apa-apa. Antrean di puskesmas subuh-subuh isinya orang yang belum sempat ikut kabur.
Saya termasuk yang sudah lolos dari sebagian antrean itu. Yang belum saya temukan caranya: memastikan diri sendiri tidak ikut menarik tangga, sebab menariknya tidak pernah terasa seperti menarik apa-apa.
Infografis
Buka ukuran penuh
Susunan bukunya: bagiannya apa saja, mana jantungnya, mana yang boleh dilewat.
Bentuknya
Tipis untuk ukuran buku ekonomi, dan susunannya tiga bagian yang sangat jelas: hidup dan mati, uang, lalu bantuan. Satu bab pembuka memasang alatnya, tujuh bab isi, satu catatan penutup.
Judulnya diambil dari film tentang tahanan perang yang melarikan diri, dan perumpamaan itu dipakai serius sepanjang buku: sebagian orang berhasil kabur dari kemiskinan dan penyakit, dan tiap pelarian selalu meninggalkan orang di belakang. Jadi ini bukan buku tentang kemajuan atau tentang ketimpangan. Isinya keduanya sekaligus, dan tentang kenyataan bahwa keduanya lahir dari kejadian yang sama.
Bab 1: alatnya
Bab yang memasang cara mengukur kesejahteraan, dan yang paling penting dibaca utuh. Deaton memakai dua ukuran berdampingan, yaitu uang dan kesehatan, lalu menunjukkan bahwa keduanya sering bergerak ke arah yang berbeda. Di situ juga dipasang kehati-hatiannya terhadap angka, dan kehati-hatian itu yang membedakan buku ini dari buku kemajuan lain.
Bagian Satu: hidup dan mati, bab 2 sampai 4
- Bab 2 menelusuri kesehatan dan umur dari zaman prasejarah sampai 1945. Di situ ada bukti dari tulang dan tinggi badan, jenis bukti yang masih tercatat waktu tidak ada satu pun lembaga yang mencatat.
- Bab 3 soal turunnya kematian di daerah tropis, dan bagian ini yang paling menyangkut kita. Yang menurunkannya bukan kekayaan, tapi barang dan cara yang murah: air bersih, kelambu, imunisasi, garam oralit.
- Bab 4 soal kesehatan di negara kaya, dan di situ Deaton menunjukkan bahwa uang yang lebih banyak tidak otomatis membeli umur yang lebih panjang.
Bagian Dua: uang, bab 5 dan 6
Bab 5 soal Amerika, dan boleh dibaca cepat oleh pembaca di sini. Bab 6 yang penting, dan isinya pertumbuhan Asia yang mengeluarkan ratusan juta orang dari kemiskinan sekaligus melebarkan jarak dengan yang tertinggal. Di bab ini juga Deaton membedah dengan hati-hati sekali angka kemiskinan dunia, dan menunjukkan seberapa rapuh angka yang biasa dikutip orang.
Bagian Tiga: bantuan, bab 7
Satu bab, dan yang paling banyak diperdebatkan. Dalilnya, bantuan luar negeri sering merusak justru hal yang paling dibutuhkan negara penerima, yaitu keharusan pemerintahnya bertanggung jawab kepada rakyatnya sendiri. Pemerintah yang uangnya datang dari luar tidak perlu memungut pajak, dan yang tidak memungut pajak tidak perlu mendengarkan.
Yang jadi jantungnya
- Bab 3. Kalau satu bab saja yang muat di waktunya, ambil yang ini, karena di situ diterangkan bahwa yang menyelamatkan paling banyak nyawa pengetahuan yang murah disebarkan, bukan pertumbuhan ekonomi.
- Bab 1, karena tanpa pembedaan uang dan kesehatan, seluruh bukunya terbaca seperti buku kemajuan biasa.
- Bab 7, karena di situ ada cara kerja yang menerangkan hal yang biasanya cuma jadi keluhan.
Yang boleh dilewat
- Bab 5 hampir seluruhnya. Isinya pendapatan dan ketimpangan di Amerika sejak perang, dan hampir tidak menyangkut keadaan di sini.
- Bagian tengah bab 6 yang berisi perdebatan teknis soal cara menghitung daya beli antarnegara, kecuali kalau memang sedang mengurus angkanya.
- Catatan penutup, yang isinya ramalan pendek dan tidak menambah apa pun.
Yang jangan ditelan bulat-bulat
Bantahannya terhadap bantuan luar negeri kuat alasannya dan lemah jalan keluarnya. Deaton menutup dengan anjuran yang sebagian besar berupa hal yang harus berhenti dilakukan, bukan hal yang bisa dimulai. Pembaca yang mencari apa yang harus dikerjakan akan keluar dengan tangan kosong, dan itu memang diakui penulisnya.
Kalau buru-buru
Bab 1, 3, 7. Tiga bab, dan seluruh dalilnya berdiri: kesejahteraan harus diukur dengan dua alat sekaligus karena uang dan umur tidak selalu bergerak bersama, yang paling banyak menyelamatkan nyawa justru barang murah dan pengetahuan yang menyebar, dan uang yang datang dari luar bisa memutus satu-satunya alasan pemerintah mendengarkan rakyatnya.