Soalnya cuma punya dua pintu, dan jawaban yang paling mungkin di sini ada di pintu ketiga.

Hampir seluruh penelitian psikologi selama berpuluh tahun dikerjakan pada satu jenis orang: mahasiswa sarjana di kampus Amerika dan Eropa. Hasilnya ditulis sebagai sifat dasar manusia, lalu diajarkan ke seluruh dunia, termasuk ke kita.

Joseph Henrich menunjukkan kelompok itu justru yang paling menyimpang kalau diukur dengan seluruh isi bumi. Ia menyingkatnya WEIRD, dari Western, Educated, Industrialized, Rich, Democratic, dan lelucon getirnya ada di singkatan itu sendiri: dalam bahasa Inggris kata itu berarti aneh.

Di satu tempat ia menyapa pembacanya langsung:

"...if all this business about incest taboos, cousin marriage, and communal rituals seems weird, it's not. These practices are all commonplace in many or most human societies. You are the WEIRD one."

Kalau semua urusan pantangan kawin sedarah, nikah sepupu, dan ritual bersama itu terdengar aneh bagimu, sebenarnya tidak. Praktik seperti itu lumrah di banyak, bahkan sebagian besar, masyarakat manusia. Kamulah yang aneh.

Kalimat itu ditujukan ke pembaca Barat. Buat kita bacanya jadi terbalik: kita bukan penyimpangan yang perlu dijelaskan. Kita keadaan biasanya.

Dari larangan nikah sepupu ke jenis manusia baru

Rantainya begini.

Gereja Katolik abad pertengahan melarang nikah dengan sepupu, lalu larangannya melebar ke kerabat yang makin jauh, lalu poligami ikut dilarang. Kelihatannya urusan agama biasa.

Tapi yang mengikat klan justru perkawinan di dalam lingkaran kerabat. Larangan itu, dijalankan berabad-abad, membubarkan klan di Eropa.

Tanpa kerabat sebagai sandaran, orang terpaksa membangun yang lain. Perkumpulan tukang yang mengatur upah dan mutu. Kota yang mengurus diri sendiri lewat perjanjian tertulis. Universitas. Semuanya mengikat orang lewat kesepakatan, bukan lewat darah.

Hidup begitu selama berabad-abad melahirkan jenis manusia yang lain. Lebih percaya orang yang tidak dikenal, lebih tipis kewajibannya ke kerabat, dan yakin aturan mestinya berlaku sama untuk semua orang.

Dan orang jenis itulah yang selama berpuluh tahun jadi bahan percobaan psikologi.

Paradoksnya besar. Aturan itu dibuat Gereja untuk mengencangkan kendali atas umatnya, bukan untuk memajukan siapa-siapa. Enam ratus tahun kemudian, dari situ lahir sains dan pemerintahan sekuler yang berkali-kali berbalik melawan Gereja itu sendiri.

Soal yang dipakai mengukurnya

Henrich memakai satu soal yang diujikan ke manajer dan pelaku usaha di banyak negeri.

Kawan dekatmu menyetir jauh di atas batas kecepatan, lalu menabrak pejalan kaki. Tidak ada saksi kecuali kamu. Pengacaranya bilang, kalau kamu bersaksi di bawah sumpah bahwa kawanmu sedang dalam batas kecepatan, ia bisa selamat dari hukuman berat.

Pilihannya dua. Kawanmu punya hak menuntut kesaksian itu dan kamu akan memberikannya. Atau kawanmu tidak punya hak menuntut apa pun dan kamu tidak akan bersaksi palsu.

Di Kanada, Swiss, dan Amerika, lebih dari sembilan puluh persen memilih yang kedua. Lalu jawaban tiap negeri itu ia bandingkan dengan satu hal lain: seberapa lumrah nikah sepupu di negeri itu. Makin kuat ikatan kerabatnya, makin banyak yang membela kawannya.

Pintu ketiga yang tidak disediakan

Saya tidak akan berbohong di bawah sumpah. Tapi saya juga tidak akan mau jadi orang yang menjatuhkan kawan sendiri.

Jadi yang akan saya lakukan menghindar. Tidak bersaksi palsu, tidak pula maju sebagai saksi.

Perhatikan bahwa jawaban itu tidak ada di soalnya. Soal itu cuma punya dua pintu, dan dua-duanya menuntut orangnya berdiri di depan pengadilan. Yang paling mungkin terjadi di sini pintu ketiga: tidak ada yang berbohong, tidak ada yang bersaksi, perkaranya selesai di luar, dan yang menabrak menanggung dengan cara lain.

Ini bukan permainan kata. Kalau alat ukurnya cuma menyediakan dua kotak, maka orang yang jawabannya di luar kedua kotak itu akan dipaksa masuk salah satunya, dan angka yang keluar sesudahnya bukan lagi gambaran orangnya.

Henrich mengecam psikologi karena mengukur mahasiswa Barat lalu menyebutnya manusia pada umumnya. Keberatan itu benar. Tapi soal kawan menabrak tadi lahir di tempat yang sama, dengan anggapan yang sama tentang bagaimana perkara diselesaikan, dan dipakai untuk mengukur kita.

Yang melindungi dan yang membebani orang yang sama

Buku ini menempatkan ikatan kerabat sebagai sesuatu yang perlu dibubarkan supaya jenis manusia yang lain bisa lahir.

Dari sini bacanya tidak sesederhana itu.

Waktu susah, yang benar-benar datang kerabat, bukan lembaga. Selama lembaganya belum bisa diandalkan, jaringan itu bukan sisa masa lalu, tapi penopang yang masih bekerja setiap hari.

Tapi bantuan yang pernah datang selalu punya tagihannya, dan tagihannya jatuh tempo justru waktu kita sedang berada di posisi bisa memberi. Yang melindungi dan yang membebani itu orang yang sama, lewat hubungan yang sama persis.

Tidak ada cara mengambil satu tanpa yang lain, dan saya tidak percaya pada siapa pun yang menawarkan caranya.

Sebelum ceritanya dipakai menjelaskan segalanya

Rantai Henrich rapi sekali, dan kerapian itu yang perlu dicurigai.

Seribu tahun itu waktu yang lama, dan banyak hal lain terjadi di dalamnya: wabah yang membunuh sepertiga penduduk Eropa, hukum Romawi yang tidak pernah benar-benar hilang, mesin cetak, perak dari Amerika, dan tenaga orang yang diangkut menyeberangi Atlantik. Menaruh sebab utamanya pada larangan nikah sepupu berarti memilih satu benang dari kain yang sangat tebal.

Dan satu hal yang hampir tidak ia sentuh: saling percaya di luar kerabat bukan cuma milik Barat. Jaringan dagang Gujarat, Hokkian, dan Hadramaut berjalan berabad-abad di antara orang yang tidak sedarah, lintas laut, dengan utang yang dibayar tanpa pengadilan mana pun yang bisa dipanggil. Pelabuhan kita hidup dari jaringan seperti itu. Kalau percaya pada orang asing memang produk khas Gereja abad pertengahan, jaringan itu mestinya tidak pernah ada.

Rantai sebabnya diperiksa dengan alat yang lain

Sesudah catatan ini disusun, ada bantahan baru yang bentuknya beda dari bantahan yang biasa.

Bantahan yang biasa berbunyi: satu kebijakan gereja terlalu ringan untuk menahan beban sebesar seluruh sejarah Barat. Itu keberatan tentang masuk akal atau tidak, dan bisa diperdebatkan tanpa ujung.

Yang baru memeriksa datanya. Sekelompok peneliti membaca DNA dari ratusan kerangka Eropa lama dengan alat yang sanggup mengenali hubungan keluarga sampai derajat keenam. Kalau perkawinan antarsepupu memang lazim sebelum gereja melarangnya, tandanya harus kelihatan di situ. Dari sekitar tiga ratus orang yang diperiksa, yang ketemu satu kemungkinan perkawinan sepupu pertama, dan tidak ada tanda perkawinan sepupu di derajat yang lebih jauh.

Itu memukul tepat di sambungan pertama rantainya. Kalau yang dilarang gereja ternyata jarang dikerjakan orang sejak awal, larangannya tidak mungkin mengubah susunan keluarga sebesar yang dibutuhkan bukunya.

Henrich masih menjawab, dan urusan ini belum selesai. Bahannya juga terbatas: kerangka yang bisa dibaca DNA-nya tidak tersebar rata, dan sebagian besar berasal dari tempat dan lapisan tertentu saja.

Yang membuat saya menaruhnya di sini bukan hasilnya. Bukunya sendiri berdalil bahwa yang kita anggap sifat manusia sebenarnya potret satu kelompok yang diukur dengan alat tertentu. Alat baru datang, diarahkan ke bukunya, dan hasilnya bagian yang paling sering diceritakan orang justru yang paling goyah.

Yang tetap berdiri sesudah semua bantahan itu justru bagian yang paling berguna buat kita.

Bahwa yang selama ini diajarkan sebagai sifat dasar manusia ternyata potret satu kelompok yang kecil dan tidak biasa. Buku ajar yang kita pakai, program bantuan yang masuk ke desa, dan cara lembaga internasional menyusun kebijakan untuk negeri seperti ini, semuanya berdiri di atas anggapan yang belum tentu berlaku di sini.

Bagian itu tidak butuh seluruh rantai sebab-akibatnya benar.

Dan buat saya itu yang tersisa: bukan kesimpulan tentang siapa yang lebih maju, tapi kecurigaan yang sehat setiap kali ada yang menyodorkan hasil penelitian tentang manusia pada umumnya. Manusia yang mana, diukur di kampus mana, dan dengan soal yang punya berapa pintu.

Infografis

Infografis The WEIRDest People in the World bahasa Indonesia Buka ukuran penuh

Baca berikutnya