Yang bertahan paling lama di kota itu bukan perjanjian, tapi kebiasaan yang tidak pernah ditulis.

Tiap pagi, pintu gereja paling suci dalam Kristen dibuka oleh seorang Muslim.

Gereja Makam Kudus dipercaya berdiri di tempat Yesus disalib dan dimakamkan, dan dipakai bersama beberapa mazhab sekaligus: Ortodoks Yunani, Armenia, Katolik, Koptik. Mereka bertengkar berabad-abad soal siapa berhak atas bagian mana, dan pertengkarannya sampai ke titik mereka tidak bisa dipercaya memegang pintu depannya sendiri.

Jadi waktu Salahuddin al-Ayyubi memutuskan mereka harus berbagi gereja itu di bawah pengawasannya, dia mengangkat seorang Muslim sebagai penjaganya, Syekh Ghanim al-Khazraji. Di bukunya namanya ditulis Saladin, bentuk Latin yang dipakai penulis Barat sejak zaman Perang Salib, dan pergeseran nama itu sendiri sudah menceritakan sesuatu tentang siapa yang menuliskan riwayat ini. Keturunannya, keluarga Nusseibeh, masih menjalankan tugas itu sampai sekarang.

Delapan ratus tahun. Tidak ada perjanjian besar, tidak ada yang menandatangani apa pun.

Montefiore bahkan menyebutnya sambil lalu, di tengah kekacauan runtuhnya Utsmaniyah: gerejanya, seperti biasa, dikunci dan dibuka oleh Nusseibeh turun-temurun.

Simpan gambaran itu. Nanti kita kembali ke sana.

Kota yang menang tanpa satu pun alasan yang biasa

Kota besar biasanya tumbuh karena alasan yang gampang ditunjuk di peta. Pelabuhan, sungai, jalur dagang, tambang. Yerusalem tidak punya satu pun. Terkurung pegunungan, kering, jauh dari laut, di luar jalur perdagangan besar. Kalau cuma tanahnya yang dilihat, tidak ada alasan kota itu jadi pusat apa-apa.

Yang menggantikannya sesuatu yang jauh lebih kuat: cerita yang bisa dibawa pergi.

Waktu kota fisiknya hancur, orang Yahudi kuno tidak kehilangan kotanya. Seluruh klaim dan jati dirinya sudah dipindahkan ke dalam teks. Montefiore mengutip Heinrich Heine, yang menyebut Alkitab sebagai "the portable fatherland of the Jews, the portable Jerusalem", tanah air yang bisa dibawa ke mana-mana, Yerusalem yang bisa dilipat dan dimasukkan ke tas.

Lalu kalimat Montefiore sendiri, dan ini yang menutup perkaranya. Tidak ada kota lain yang punya kitabnya sendiri, dan tidak ada kitab lain yang begitu menentukan nasib sebuah kota.

Agama yang datang sesudahnya mengerjakan hal yang sama. Mengambil cerita yang sudah ada, mengubah bagian yang perlu diubah, lalu menyatakan versinya yang asli. Bukan mencuri. Lebih mirip lagu lama yang dinyanyikan ulang, dan tiap penyanyi bersikeras versinya yang benar.

Perkamen yang ditulisi berkali-kali

Istilah yang dipakai Montefiore palimpsest, lembar perkamen tua yang ditimpa tulisan baru berkali-kali tanpa tulisan lamanya pernah benar-benar hilang.

Tapi dia sendiri merasa gambaran itu kurang. Tempat-tempat sucinya, tulisnya, bukan lapisan sejarah yang bisa dipisah-pisah, melainkan sulaman yang benang suteranya sudah saling menembus sampai mustahil diurai lagi.

Dan ada satu istilah yang bagus sekali di situ: perebutan untuk memiliki kesucian menular milik orang lain. Justru perebutan itu yang membuat beberapa tempat akhirnya jadi suci bagi ketiga agama sekaligus.

Satu batu yang sama bisa punya riwayat kuil pagan, gereja Bizantium, masjid, markas Ksatria Templar, lalu masjid lagi. Tidak ada yang dibangun dari nol. Hampir semua pihak berdiri di atas alas yang dulu dipasang orang lain, yang dulu juga mengaku paling berhak.

Montefiore merangkumnya dalam satu kalimat: di Yerusalem, kebenaran sering jauh kurang penting daripada mitosnya.

Lalu dia menyerahkan kalimat berikutnya kepada Dr. Nazmi al-Jubeh, sejarawan Palestina:

"In Jerusalem, don't ask me the history of facts. Take away the fiction and there's nothing left."

Di Yerusalem, jangan tanya saya riwayat faktanya. Cabut ceritanya, tidak ada yang tersisa.

Yang bikin buntu, dan yang ternyata menahan

Kalau yang diperebutkan tanah, sebenarnya ada jalan keluarnya. Tanah bisa diukur, dibagi, ditukar, dibeli. Ada angkanya, dan angka bisa ditawar.

Cerita tidak bisa. Tidak ada cara membagi sebuah cerita jadi enam puluh dan empat puluh. Selama yang diperebutkan cerita, tidak ada pembagian yang akan terasa masuk akal buat siapa pun, dan itu sebabnya saya tidak yakin perkara ini bisa diselesaikan lewat perundingan.

Tapi bukunya sendiri menyodorkan hal yang membuat kesimpulan itu tidak bulat.

Sebab tempat-tempat yang jadi suci bagi tiga pihak sekaligus itu memang ada, dan sebagiannya bertahan sangat lama. Yang menahannya bukan perjanjian. Yang menahannya aturan kecil yang tidak pernah ditulis di mana pun: siapa masuk jam berapa, tangga mana milik siapa, pintu mana tidak boleh disentuh, kunci dipegang siapa.

Kesepakatan besar tidak pernah tercapai di kota itu. Yang jalan justru kebiasaan harian yang tidak seorang pun pernah menandatanganinya, dan yang justru karena itu tidak bisa dibatalkan siapa-siapa.

Kota yang kita bicarakan hampir tiap minggu

Yerusalem bukan kota asing buat orang di sini. Namanya disebut di mimbar Jumat, dipasang di spanduk, dan jadi alasan orang mengumpulkan sumbangan di perempatan. Sebelum kiblat dipindah ke Mekah, ke sanalah orang Islam menghadap. Al-Aqsa masuk pelajaran sekolah dasar. Buat sebagian besar dari kita, kota itu lebih dulu dikenal sebagai urusan iman daripada sebagai tempat yang punya alamat.

Dan justru dari kursi itu bukunya paling berguna.

Yang berubah sesudah membacanya bukan di pihak siapa kita berdiri. Keberpihakan tidak digeser oleh seribu halaman sejarah, dan menurut saya memang tidak seharusnya digeser oleh itu.

Yang bergeser dasarnya.

Sejarah tidak bisa lagi dipakai sebagai kartu penutup, sebab semua pihak memegang kartu yang sama panjangnya. Klaim yang terasa paling jelas ternyata bukan yang paling tua, dan yang paling tua ternyata sudah berpindah tangan berkali-kali sebelum sampai ke siapa pun yang memegangnya sekarang.

Itu tidak membatalkan pendirian siapa pun. Yang dibatalkan cuma satu cara membelanya.

Yang tidak dijanjikan bukunya, dan diakuinya sendiri

Ini riwayat penguasa. Raja, jenderal, khalifah, gubernur, dan hampir tiap bab ada darahnya. Tukang roti dan penjahit yang tinggal di kota itu berabad-abad nyaris tidak muncul.

Tapi saya tidak bisa menyebutnya kelalaian. Yang tercatat selama tiga ribu tahun memang catatan istana dan catatan perang. Menuntut riwayat tukang roti berarti menuntut sesuatu yang arsipnya tidak pernah ada.

Yang justru layak dicatat, Montefiore terus terang soal batas-batasnya sendiri, dan itu jarang.

Dia menyebutkan sendiri kenapa bagian utama bukunya berhenti pada 1967: Perang Enam Hari yang membentuk keadaan sekarang, dan itu memberi titik berhenti yang tegas. Epilognya membawa politiknya sampai kini, lalu ditutup bukan dengan kesimpulan, melainkan dengan gambaran satu pagi biasa di tiga tempat suci itu.

Dia juga mengakui menulis di bawah bayang-bayang Orientalism karya Edward Said, dan menyebutnya di pengantarnya sendiri.

Dan soal tebalnya, yang bikin sebagian besar isinya menguap dari kepala pembaca beberapa bulan kemudian. Saya kira itu memang yang dia mau. Buku ini riwayat, bukan dalil. Yang mestinya tersisa bukan kesimpulan yang bisa dihafal, tapi rasa panjangnya waktu dan betapa polanya berulang-ulang. Kalau yang tinggal cuma beberapa gambaran, gambaran itulah hasilnya.

Penulisnya sendiri memilih pihak

Pada 27 Oktober 2023, tiga minggu sesudah serangan 7 Oktober, Montefiore menulis di The Atlantic. Judulnya menyebut cara pandang dekolonisasi berbahaya dan keliru secara sejarah, dan di dalamnya ia menyebutnya campuran beracun antara teori Marxis, propaganda Soviet, dan kebencian pada Yahudi yang sudah tua umurnya. Dalilnya, begitu keberadaan orang Yahudi di sana digolongkan sebagai penjajahan pemukim, penghapusan negaranya jadi tujuan yang terdengar sah, dan sebagian kalangan kiri memakai jalan itu untuk membenarkan 7 Oktober.

Yang membantah menjawab dari arah lain. Menurut mereka penjajahan pemukim di Palestina keadaan yang bisa ditunjuk, bukan istilah yang dipakai berdebat, dan sebuah gambaran tidak berhenti benar gara-gara ada yang memakainya untuk hal yang keji.

Dua-duanya punya bagian yang susah dibantah, dan saya tidak akan berpura-pura bisa memutuskannya dari sini.

Buat catatan ini, soal siapa yang benar justru bukan bagian yang penting. Enam ratus halaman bukunya dipakai memperlihatkan bahwa tiap kelompok yang pernah memegang kota itu mendapatkannya lewat penaklukan, lalu menulis ulang sejarahnya supaya kepemilikannya terdengar wajar. Perkamen yang ditulisi berkali-kali, seperti di bagian atas tadi. Lalu penulisnya sendiri masuk ke perdebatan tentang penguasaan siapa yang boleh disebut penjajahan.

Saya tidak membacanya sebagai penulis yang membatalkan bukunya. Lebih mirip bukti tambahan untuk isi bukunya sendiri: di kota ini tidak ada orang yang berhasil berdiri di luar.

Jadi kembali ke pintu itu.

Selama tiga ribu tahun kota itu direbut, dirobohkan sampai habis, dibangun ulang, dan direbut lagi. Perjanjian ditandatangani lalu batal. Kerajaan datang dan hilang. Hampir tidak ada satu pun kesepakatan besar di kota itu yang umurnya lebih dari beberapa keturunan.

Yang bertahan delapan ratus tahun tanpa putus justru satu kebiasaan yang tidak pernah ditulis: satu keluarga membuka pintu tiap pagi, dan menguncinya lagi tiap sore.

Bukan karena semua pihak sepakat. Justru karena tidak ada yang sepakat, dan tidak ada yang cukup berani mengubahnya.

Infografis

Infografis Jerusalem: The Biography bahasa Indonesia Buka ukuran penuh

Baca berikutnya